
Shuwan menatap dengan kesal ke arah Moreno yang sedang mengajari anak baru. Selalu saja seperti itu. Alasannya dia seorang pelatih, harus dekat dengan semua member. Tapi bukan kedekatan biasa yang ia lihat melainkan lebih ke arah ketertarikan.
Apalagi anak baru itu bukan termasuk orang yang bisa diremehkan. Wajahnya cukup cantik dan cukup untuk membuat Shuwan cemburu. Apalagi dia berteman juga dengan Raeka, orang yang pernah memegang rahasianya dan mereka juga pernah bertengkar. Satu Raeka sudah membuatnya kesal, kini dia mengajak dua temannya yang lain ikut bergabung dengan klab.
Shuwan mogok bicara ketika Moreno mendekatinya. Menurutnya, Moreno tak mengerti batasannya. Mereka sudah berkomitmen untuk berpacaran, tapi mata Moreno masih sering jelalatan ketika ada wanita cantik. Padahal katanya hanya Shuwan yang dia cintai sejak dulu. Bahkan dia juga tidak pernah mencintai mantan istrinya saat menikah. Semua terdengar omong kosong ketika melihat kelakuan Moreno seperti itu.
"Aku jadi bingung sendiri kalau kelakuanmu seperti ini, Shu."
"Seharusnya aku yang bingung, Kak. Apa kamu menyukai wanita itu?"
"Oh, ayolah, Shu.... Dia hanya member baru dan aku hanya mengajarinya saja. Dia sama sekali belum bisa memegang busur dan anak panah."
"Benarkah? Lalu kenapa yang kamu pegang-pegang justru bagian tubuhnya?"
"Mana ada aku seperti itu? Aku hanya memberitahu cara berdiri, postur tubuh yang benar saat memanah. Kamu hanya salah paham saja. Pikiranmu terlalu aneh, Shu."
"Sudahlah, lebih baik kita lupakan saja. Masalah kita kemarin baru selesai, masa sekarang kamu mau mempermasalahkan hal seperti ini."
"Percayalah, hanya kamu yang aku cintai sejak dulu."
Shuwan sudah terlanjur kesal. Ia membereskan peralatan memanahnya dan mau pulang. Sudah tidak ada minat lagi untuk latihan.
"Shu, dengarkan aku." Moreno mengikuti Shuwan di belakang. Susah kalau Shuwan sudah marah.
Saat hendak berjalan menuju ruang ganti, mata Shuwan menangkap sosok Bayu sedang duduk di area tribun penonton. Wajah kesalnya berubah menjadi senyuman. Mungkin Bayu menyesal mengatakan putus waktu itu. Makanya hari ini dia datang ke tempat latihan untuk meminta maaf padanya. Dia jadi merasa terharu.
Langkah kakinya dialihkan ke arah tribun. Perasaannya berbunga-bunga bisa melihat Bayu. Setidaknya ia ada pengalihan dari Moreno yang membuatnya kesal. Ia mengabaikan Moreno yang masih mengikutinya.
"Bayu." sapanya sembari menyunggingkan senyum termanis.
Bayu sendiri kaget Shuwan mengenalinya. Padahal, ia sengaja mengenakan pakaian biasa yang terlihat santai dan memakai topi. Sangat berbeda dengan penampilan biasanya agar tidak dikenali orang. Tapi Shuwan malah mengenalinya.
"Oh, Shuwan. Kamu latihan juga hari ini?"
"Hai, Moreno."
Bayu juga menyapa Moreno yang datang belakangan.
"Kamu datang ke sini untuk menjemputku, kan?" tanya Shuwan dengan percaya diri.
"Tidak."
Jawaban santai Bayu membuat Shuwan menelan ludah. Lalu dia sedang menunggu siapa?
Shuwan mengarahkan pandangan searah dengan mata Bayu. Di dean sana, ada Raeka dan kedua temannya. Jangan bilang salah satu dari mereka yang sedang Bayu tunggu.
__ADS_1
"Shu, ayo aku antar pulang." ucap Moreno.
Shuwan yang masih kesal tak menggubris kata-kata lelaki di belakangnya.
"Kamu kenapa, Shu? Moreno mengajakmu pulang itu." ucap Bayu.
"Kamu menunggu siapa?"
"Orang yang ada di bawah sana." Bayu menunjuk ke arah Prita.
"Ah, sepertinya mereka sudah selesai. Aku mau menemuinya dulu."
Bayu pergi begitu saja mengabaikan Shuwan. Hari ini, perasaan Shuwan benar-benar dibuat panas. Yang pertama tingkah Moreno dan sekarang Bayu juga sama. Orang yang dia sukai memberikan perhatian kepada wanita lain.
Sorot mata Shuwan terus memperhatikan langkah Bayu. Ketika ia melihat Bayu menggandeng tangan seorang wanita, ia jadi tau siapa yang Bayu maksud. Rasanya ia ingin tertawa. Ternyata itu wanita yang sama dengan yang tadi dekat dengan Moreno. Wanita yang bernama Prita. Shuwan mengeratkan genggaman tangannya. Ia jadi ingin tau, siapa Prita itu. Bisa-bisanya dia merebut perhatian dua lelaki idamannya sekaligus.
"Kalian.... Pacaran?"
Raeka ragu, melihat Bayu ada di sana menjemput Bayu. Tiba-tiba saja lelaki itu datang dan menggandeng tangan Prita dengan begitu santai. Setahu dia, Bayu berpacaran dengan Shuwan. Seharusnya Prita juga tau, mereka pernah melihatnya di TV waktu itu.
"Kamu belum mengatakan kepada teman-temanmu?"
Prita juga ikut gugup. Ia tidak ada persiapan untuk memberikan penjelasan tentang kedekatannya dengan Bayu. Hubungannya dengan Bayu adalah kesepakatan secara sepihak. Bayu ingin mereka berpacaran selama ia mengusahakan pengobatan untuk Daniel.
"Ah, iya. Kami memang baru mulai berpacaran." Prita menunjukkan ekspresi senyuman yang kaku.
"Ya, tentu." ucap Raeka.
"Aku duluan, ya."
Nada bicara Prita seperti orang yang tertekan. Ia mengikuti saja apa mau Bayu.
"Beneran mereka pacaran?" tanya Andin.
Andin yang masih berharap Prita bersatu kembali dengan Ayash jadi merasa bersalah. Mungkin Prita memutuskan untuk membuka hatinya kepada lelaki lain karena ada dirinya yang berstatus istri Ayash.
"Aku juga tidak tau. Aku juga kaget sepertimu."
"Ah, sudahlah! Kamu mau pulang denganku?"
"Tidak, sebentar lagi Ayash datang menjemput."
"Oh, oke."
"Kamu nggak minta dijemput Irgi?"
__ADS_1
"Nggak. Kalau aku mengajaknya bakal repot. Nanti fans-nya tambah banyak. Samiku terlalu ganteng kalau aku ajak ke tempat seperti ini."
"Hahaha.... Kamu bisa saja, Ra."
*****
Prita sudah lebih dulu keluar dari ruang ganti. Ia meminta Bayu untuk menunggu teman-temannya di area taman sampai mereka keluar. Karena mereka datang bersama, setidaknya pulang juga bareng.
"Darimana kamu tau kalau aku ada di sini?"
"Mata-mataku banyak."
Jawaban yang tak bisa terbantahkan. Dia tidak tau kalau Bayu mengikutinya.
"Jadi kamu sejak awal sudah ada di sini?"
"Ya. Aku menontonmu dari tribun. Kamu tidak tau?"
Prita menggeleng. Mana mungkin dia tau kalau ada Bayu di sana. Penampilannya benar-benar berbeda. Bayu yang ia lihat biasanya selalu berpenampilan rapi, tak pernah sesantai ini.
"Aku bahkan melihat saat Si Cabul itu memegang-megang tanganmu."
Ternyata Bayu juga menyadari kelakuan aneh Moreno.
"Mending kamu berhenti saja atau cari klab lain yang lebih bagus."
"Ini klab memanah terbaik, loh, di kota ini."
"Dengan pelatih cabul seperti itu?" Bayu memicingkan sebelah alisnya.
"Besok akan aku minta pelatih lain yang mengajariku."
"Aku tidak mau ada orang lain yang memegang-megangmu, terutama Si Cabul itu."
"Kalau kamu tetap mau latihan, aku juga bisa mengajarimu."
Prita menoleh ke arah Bayu, "Kamu juga bisa memanah?"
"Tidak, tapi aku jago memegang senjata."
"Ah, itu terlalu ekstrem untukku."
"Kalau sudah dijalani tidak semenakutkan yang kamu pikir. Aku bisa mengajarimu sambil memelukmu dari belakang, dan tanganku akan menuntun tanganmu menarik pelatuk hingga peluru melesat."
Prita merasa akan diajari menjadi partner seorang mafia. Baru membayangkannya saja sudah membuatnya geleng-geleng kepala.
__ADS_1
"Kamu sudah selesai, Ta?"
Obrolan kurang berarti itu terhenti oleh kedatangan Ayash.