ANTARA CEO DAN MAFIA 2

ANTARA CEO DAN MAFIA 2
Takdir Seorang Mafia


__ADS_3

Vote masih sepi bund.... 😳


Tambahin asupan semangatnya buat author 😳


 ---------------------------------xxxxx----------------------------------


"Kenapa?"


"Supaya ayahku menganggapku telah mati."


Prita masih belum percaya Samuel sang mertua bisa sekejam itu. Ia jadi bertanya-tanya, apakah kehidupan suaminya menjadi semakin sulit karena keberadaan dia dan anaknya? Seandainya tidak ada mereka, Bayu tak perlu khawatir untuk melakukan hal yang ia sukai. Tanpa harus khawatir dengan ancaman terhadap orang yang dia sayangi.


Prita belum sepenuhnya memahami seperti apa kehidupan yang suaminya jalani. Ia juga ingin tahu, agar suaminya tak perlu merasa sendiri menjalaninya. Ada dia yang akan menemani.


"Sayang.... Sebentar lagi ayahku pasti akan tahu kalau aku masih hidup."


"Dia akan kembali mencariku. Jika aku melawannya, kemungkinan dia akan mencarimu atau Daniel."


"Aku tidak menginginkan hal itu terjadi."


"Ayah menggunakan Daniel dan aku untuk mengancammu?"


"Iya."


"Kalau begitu, bukankah kita bisa melawannya bersama?"


"Jangan, jangan melawan ayahku. Tetap diam jika dia mendatangimu. Berpura-puralah untuk tidak tahu apapun.Biarkan aku saja yang menghadapinya."


"Apapun yang akan terjadi nanti, aku hanya berharap kamu akan tetap mempercayaiku."


Prita membalikkan tubuh menghadap suaminya seraya memeluk pinggangnya dengan erat. Merebahkan kepala pad dada bidang lelaki itu menjadi tempat ternyaman yang kini selalu ia rindukan.


"Aku akan berusaha untuk terus mempercayaimu. Jangan kecewakan aku."


"Maafkan aku.... Sudah membawamu ke duniaku. Tapi aku tidak bisa menyerah untukmu."


Prita mengangkat wajahnya, menatap wajah suaminya dalam-dalam. "Akupun sama, aku tidak akan menyerah untukmu."


Ucapan itu mengakhiri perbincangan di antara mereka berdua. Selanjutnya hanya ada ungkapan kata yang tersirat melalui bahasa tubuh. Dekapan mesra serta ciuman bibir yang mendalam menggambarkan dua insan yang tengah melepas kerinduan.


Orang mungkin akan bertanya-tanya, mengapa hubungan fisik antara sepasang suami istri itu perlu? Karena cinta.... tidak selamanya bisa diungkapkan lewat kata-kata.


Istri yang beruntung adalah dia yang dikaruniai seorang suami penyabar dan penyayang. Penuh kelembutan dan kehangatan. Suka menolong dan berhati tulus.


Jika dia pergi, istri akan merindukannya. Dan jika dia ada, istri ingin terus berdekatan dengannya.


*****


Samuel geram mendapatkan laporan dari Ben. Bayu belum juga ditemukan padahal sudah sebulan lebih ia mengerahkan Ben beserta anak buahnya untuk mencari anaknya di Kota A Pulau S.


"Jadi kamu belum menemukannya?"


"Belum, Tuan."

__ADS_1


"Apa kamu sudah benar-benar memakai matamu? Ingat baik-baik, Ben. Tugasmu melindungi anakku, bukan anakku yang harus melindungimu."


"Maafkan saya." Ben hanya bisa menunduk saat Samuel memarahinya.


"Tuan, ada telepon."


Seorang anak buah Samuel menyerahkan ponselnya yang berdering.


"Halo."


"Saya melihat Tuan Muda Bayu masuk ke dalam sebuah hotel bersama istrinya."


Samuel mencengkeram erat ponselnya. Urat-urat di lehernya terlihat jelas menandakan ia sedang marah.


"Apa kamu sudah memastikannya?"


"Sudah, Tuan. Saya sangat yakin itu Tuan Mudabdan Nona Prita. Akan saya kirimkan foto mereka."


Samuel mematikan sambungan telepon. Ia membuka foto-foto yang dikirimkan anak buahnya. Benar, itu memang anaknya dan menantunya.


Samuel sengaja menyuruh beberapa anak buahnya untuk menjadi mata-mata di sekitar Prita. Dia yakin anaknya tidak akan bisa jauh-jauh dari istrinya.


Samuel sudah mulai curiga kalau Bayu sebenarnya sudah kembali sejak ia melihatnya di acara perjamuan waktu itu. Lelaki yang menolong Putri Tuan Saddam sangat mirip dengan anaknya. Rupanya Bayu sedang berusaha bersembunyi darinya.


Samuel mengalihkan pandangan pada Ben yang masih tertunduk di hadapannya.


"Ben.... Apa selama ini kamu sudah berbohong?" selidiknya. "Kamu sudah tahu kan kalau Bayu sudah kembali?"


"Aku tahu, beberapa kali kamu terbang ke Kota S tanpa meminta izinku. Aku yakin kamu ke sana untuk menemui Bayu."


"Maafkan saya." Ben tidak membantah maupun mengakui perbuatannya. Dia hanya mampu untuk mengucapkan permintaan maaf.


"Bawa dia ke ruanganku!" perintah Samuel.


Dua orang bodyguard menyeret paksa Ben menuju ruangan yang biasa digunakan Samuel untuk menyiksa anak buahnya yang bersalah. Ben tidak melawan. Ia mau saja mengikuti kemana keduanya akan membawanya.


Ben disuruh berdiri di tengah ruangan.


"Buka pakaianmu." perintah Samuel.


Ben menurutinya. Tidak ada perlawanan sama sekali. Ia membuka kemejanya lalu membuangnya sembarang. Tubuh miliknya terekspose, menampilkan bekas-bekas luka yang selama ini didapatkannya.


Samuel melepaskan sabuknya, "Aku tidak menyukai orang yang mengkhianatiku, Ben. Seharusnya kamu tahu hal itu."


Samuel berjalan mendekat ke arah Ben sembari memegangi sabuk di tangannya.


Ctak!


Samuel mulai mencambuk Ben dengan sabuk miliknya. Bagian yang terkena cambuk langsung berwarna kemerahan. Ben menahan kesakitannya.


"Katakan, sebenarnya kamu sudah tahu kan tentang keberadaan Bayu?"


Samuel menunggu jawaban dari Ben. Ben tetap diam tak mau bicara.

__ADS_1


"Ben!"


Ctak!


Sekali lagi Samuel mengayunkan sabuknya lebih keras hingga Ben tampak meringis kesakitan. Melihat Ben yang masih tidak mau mengaku, amarah Samuel kian memuncak. Ia lecutkan sabuknya berkali-kali ke tubuh Ben tanpa belas kasihan.


Ben semakin tidak kuat menahan kesakitannya. Ia jatuh tersungkur ke lantai dengan punggung yang berlumuran darah. Sampai sejauh itu, Ben masih tak mau membuka mulut.


"Apa sekarang kalian sedang bermain sahabat-sahabatan?"


"Aku ingin lihat, apa anakku akan peduli saat melihat kondisimu seperti ini."


Samuel mengarahkan kameranya kepada Ben. Ia mengambil potret Ben yang sedang sekarat lalu ia kirimkan kepada Bayu.


"Aku sudah mengirimkan fotomu padanya. Kita tunggu, apa yang akan ia lakukan." Samuel menyeringai kepada Ben.


Tak berapa lama, ponsel Samuel berbunyi. Panggilan telepon dari Putra kesayangannya. Ia tidak menyangka Bayu akan langsung merespon pesan yang dikirimkannya.


"Anakku, aku senang kamu masih hidup." ucap Samuel kepada Bayu yang ada di seberang telepon.


"Apa yang sudah kamu lakukan pada Ben!?" suara Bayu terdengar sangat emosi.


"Aku belum melakukan apapun. Aku hanya memberinya hukuman karena telah membohongiku."


"Ben tidak tahu apa-apa. Urusanmu denganmu, Bangsat! Kenapa kamu membawa-bawa Ben!?"


"Hahaha.... Apa kamu peduli dengan nasibnya? Apa yang akan aku lakukan pada Ben juga bukan urusanmu."


"Aku benar-benar tidak akan memaafkanmu jika terjadi apa-apa kepada Ben."


"Oh, iya? Apa yang bisa kamu lakukan untuk menentangku? Bukankah keahlianmu hanya melarikan diri?"


"Tolong berhenti sekarang selagi aku masih menganggapmu sebagai seorang ayah."


"Aku memang ayahmu selamanya aku adalah ayahmu."


"Aku akan melawanmu."


"Kelemahanmu sangat banyak, melihat Ben mati saja kamu ketakutan. Bagaimana bisa kamu ingin mengalahkan ayahmu?"


"Ayah!"


"Aku tidak akan berhenti sampai akhir."


"Kembali ke mansion jika kamu masih ingin melihat Ben hidup. Kamu lebih tahu seperti apa ayahmu."


Samuel mematikan sambungan teleponnya.


"Ben, ternyata anakku sangat menyayangimu. Seharusnya kamu juga begitu."


"Aku melakukan semua ini juga untuknya. Hidupnya akan bahagia jika ada kekuasaan besar di tangannya."


"Tuan Muda sudah bahagia dengan jalan hidupnya sendiri." ucap Ben sembari menahan sakit di sekujur tubuhnya.

__ADS_1


"Hahaha.... Itu hanya pandangan anak muda yang naif."


"Tidak ada keturunan penjahat yang bisa menjalani hidup normal. Takdirnya adalah menjadi penerusku. Menjadi seorang mafia."


__ADS_2