ANTARA CEO DAN MAFIA 2

ANTARA CEO DAN MAFIA 2
Telepon dari Suami


__ADS_3

Terima kasih yang sudah vote 😘


Yang belum masih ditunggu ya, partisipasi votenya 😍


----------------------------‐---------‐---------------------------------------


Prita menggeliatkan tubuhnya di atas kasur. Tangan dan kakinya diregangkan untuk membuat tubuhnya yang kaku sedikit rileks. Badannya masih terasa pegal karena kelakuan Bayu semalam. Ia sampai tidak kuat bangun. Seperti biasa, mandi pagi saja harus dibantu dimandikan oleh Bayu.


Tingkah laku Prita setelah menikah seperti bayi. Waktu sarapan dia malas-malasan sampai harus disuapi beberapa suap dan kembali tertidur. Sampai siang tiba, akhirnya ia baru bisa terbangun.


Beruntung dia tidak tinggal bersama mertua di rumahnya. Prita yang biasanya rajin bangun pagi sudah mengerjakan semua pekerjaan rumah, sekarang lebih sering bangun siang. Semenjak menikah dengan Bayu, Prita jadi sering lembur kalau malam. Urusan dinas malam tidak pernah terlewatkan uleh suaminya. Makanya kalau pagi dia suka kelelahan.


Bisa dibayangkan kalau Prita tinggal bersama mertuanya, terutama mertua perempuan. Melihat menantunya setiap hari bangun kesiangan, pekerjaan rumah tidak ada yang beres, dia pasti sudah kena omelan. Tidak banyak mertua yang tahu kelakuan anaknya kalau di kamar setiap malam biasa membuat istrinya kelelahan. Pekerjaan itu bukan hanya sebatas memasak, beberes rumah, atau mengurus anak. Ada pekerjaan lain yang bersifat privasi, tapi juga menguras tenaga. Apalagi kalau suaminya seperti Bayu.


Sejak awal menikah, Bayu sudah mengatakan kalau tugas utama Prita hanya untuk mendampinginya saja. Dia tidak mewajibkan istrinya untuk memasak, membereskan rumah, bahkan mengurusi anaknya. Dia hanya perlu fokus mengurus dirinya sendiri. Bahkan, kalau dia tidak bisa mengurus diri sendiri, Bayu yang akan mengurusnya. Seperti tadi pagi, Bayu yang membantu memandikannya bahkan menyuapinya.


Terkadang Prita berpikir, apa suaminya akan terus bersikap sayang seperti itu? Apa semuanya akan memudar seiring berjalannya waktu? Saat ini mereka masih terhitung pengantin baru, wajar kalau gairah masih tinggi. Entah nanti jika sudah memasuki lima tahun, sepuluh tahun, dan seterusnya.


Perlakuan Bayu sudah membuatnya jatuh cinta. Rasanya membahagiakan mendapat perlakuan sayang darinya, seorang suami yang sangat perhatian. Seolah dia mengerti apa yang istrinya butuhkan tanpa harus bertanya.


Prita baru menyadari cinta dan sayangnya setelah menikah. Kalau dia bisa bersikap sebaik itu, kenapa dulu cara mendekatinya terkesan sangat arogan dan memaksa? Apakah mereka Bayu yang sama?


Prita meraih ponsel dari atas nakas. Sudah hampir pukul dua belas siang. Tapi, rasanya dia masih malas untuk turun dari atas ranjang.


Jadi ingat dulu sebelum menikah kalau sedang malas bangun, ia akan menghabiskan waktu untuk menonton Drama Korea. Tapi, setelah menikah dan punya anak, jangankan untuk menonton drama, santai sebentar aja susah. Rasanya sudah lama dia tidak melihat drama. Tontonannya sekarang kartun, nyanyian anak-anak yang biasa anaknya tonton di you*tube.


"Mama.... "


Muncul Livy di depan pintu bersama pengasuhnya, Leta.


"Oh, Livy Sayang.... Kemari!" Prita menyuruh Livy masuk.


"Leta, kamu boleh istrirahat dulu. Biar Livy bersamaku."


"Baik, Nyonya."


Prita membantu Livy menaiki ranjang. Ia peluk dan ciumi gemas anak perempuannya itu.


"Mama, ne*nen." ucap Livy dengan polos.

__ADS_1


"Livy mau ne*nen?"


Anak itu mengangguk.


Prita merebahkan tubuhnya bersama Livy, membiarkan anak itu meny*usu padanya. Ia belai-belai rambut anak kesayangannya. Pasti anak itu sudah menunggunya sejak pagi tapi baru berani masuk karena mamanya masih tidur.


Sejak usia satu tahun, Livy sudah tidak terlalu meny*usu padanya. Dia sudah mulai beralih ke susu formula. Namun, terkadang masih minta meny*usu apalagi kalau mau tidur.


Hubungannya dengan Livy sedikit jauh saat ia harus berfokus mengurusi Daniel yang saat itu sakit. Aura wajahnya seperti anak yang tidak bahagia karena sering ditinggal mamanya. Tapi, tidak ada yang bisa Prita perbuat. Dia memang harus menentukan prioritas yang harus ia dahulukan.


Setelah Daniel sembuh, ia bisa kembali memperbaiki hubungan dengan anak bungsunya itu. Tapi, sekarang giliran Daniel yang jadi tidak dekat dengannya. Saat di rumah sakit, hampir 24 Prita mendampingi Daniel. Namun yang anak itu rindukan tetap papanya. Itu juga karena saat kecil Daniel tidak terlalu dekat dengannya, Ayash yang lebih banyak mengurusnya, karena Prita harus mengurus Dean. Begitulah kira-kira dilema yang dihadapi ibu beranak tiga dengan jarak kelahiran yang cukup dekat.


Drrtt.... Drrtt....


Prita meraih ponselnya yang bergetar. Suaminya meminta panggilan video call. Prita mengerutkan dahinya, tidak biasanya dia menelepon. Apa siang ini tidak bisa pulang?


"Halo.... " Prita mengarahkan kamera pada wajahnya. Tampak di seberang sana Bayu dengan pakaian kerja yang tadi pagi ia kenakan.


"Sudah bangun?" Tanyanya.


"Sudah.... "


Seperti dugaan Prita, Bayu tidak bisa makan siang di rumah.


"Kenapa? Ada rapat?"


"Ya, ada banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan."


"Kamu sedang apa?"


"Menyusui Livy." Prita mengarahkan kameranya pada Livy yang tampak mulai memejamkan mata namun mulutnya masih bergerak menghisap put*ingnya.


"Ah.... Aku jadi iri. Apa aku harus pulang?"


Prita membelalakkan mata, "Mas.... Aku baru bangun, loh. Mau kamu buat aku tidur lagi?"


"Hahaha.... Dikasih enak kok nggak mau."


"Badanku masih pegal-pegal aku nggak mau."

__ADS_1


"Nanti biar aku pijit."


"Pokoknya semuanya akan beres kalau kamu menurut dengan suami."


Prita memutar bola matanya malas, "Sudah mas, lanjut kerja sana biar cepat beres."


"Kamu tidak sabar menunggu suamimu pulang? Mau nambah lagi?"


"Iihh.... Mas! Sudah, sudah.... tutup teleponnya!"


"Tidak mau! Perlihatkan dulu baru aku tutup."


"Apa?" Prita tidak tahu apa yang suaminya maksud.


"Itu, punyaku yang satu. Buka! Aku mau lihat."


Prita ternganga. Apa dia bilang? Menyuruhnya memperlihatkan sebelah dadanya? Ok, julukan suami romantis dan penuh cinta seketika lenyap dan berganti sebagai suami me*sum. Sungguh, sepertinya tingkat keme*sumannya sudah akut dan tidak bisa disembuhkan.


"Nggak.... nggak....!"


"Kalau tidak mau aku pulang sekarang. Kita ulang lagi yang semalam."


"Ish! Kenapa aku punya suami gila sepertimu."


"Harusnya kan bangga, punya suami yang tergila-gila dengan istrinya sendiri."


"Buka.... Biar suami semangat kerja. Kasih lihat, dong."


Bayu memang tidak akan puas mengganggu istrinya.


"Mas.... Aku marah nih. Kalau masih dilanjutin, nanti malam nggak aku layanin." Prita balik mengancam.


"Hahaha.... Iya, iya, Sayang.... Aku mau lanjut kerja dulu. Sampai jumpa nanti malam. I love you."


"I love you too."


Prita menaruh kembali ponselnya. Ia juga menjauhkan dadanya dari mulut Livy. Anak itu sudah tidur.


Prita beringsut turun dari atas ranjang. Kondisi tubuhnya sudah lebih enak daripada tadi pagi. Sepertinya agenda siang ini dia akan memasak sembari menunggu Dean pulang dari sekolah.

__ADS_1


__ADS_2