
Rumah besar milik Bayu dihias sedemikian rupa dengan indahnya. Hari ini, Bayu mengadakan pesta untuk putranya yang baru lahir dan berusia satu bulan. Dylan Bagaskara, putra keduanya yang begitu ia cintai. Putra yang memberikannya pengalaman sebagai seorang ayah siaga, merasakan begadang setiap malam.
Bayu menyuruh semua pelayannya untuk mempersiapkan pesta yang akan dihadiri oleh teman-teman dekatnya. Sehingga semua orang tampak sibuk, bahkan para bodyguard juga kebagian tugas untuk ikut mendekorasi rumah dengan aneka balon dan pita yang didominasi warna biru. Foto Dylan berukuran besar sudah terpasang di area ruang tengah.
Para pelayan yang bertugas mempersiapkan masakan sudah mulai menata makanan di bagian meja prasmanan. Ada aneka minuman, kue-kue, camilan, hingga makanan berat dengan tampilan yang menggoda selera.
Sementara, di kamar bagian atas, anggota keluarga masih sibuk berdandan. Paling susah mendandani ketiga anak kecil yang baru saja menjadi kakak. Para pengasuh mereka sampai kewalahan karena mereka susah diatur. Apalagi Dean, dia sibuk berlari kesana kemari.
Prita duduk di depan meja rias sembari memulaskan bedak tipis-tipis ke wajahnya. Untuk acara malam ini, ia hanya mengenakan dress hitam lengan pendek selutut dengan belt warna gold. Penampilannya sangat sederhana, namun tak mengurangi pesonanya. Ia memang tipe wanita yang tidak terlalu suka bold make up.
Dari arah belakang, tiba-tiba Bayu menghampiri dan memeluknya dengan mesra. Sepertinya dia juga baru saja menyelesaikan mandinya. Ia sudah rapi memakai setelan jas berwarna hitam yang senada dengan baju Prita.
"Kamu cantik sekali, Sayang. Aku jadi ingin menguncimu di dalam kamar." ucapnya setengah berbisik.
Semenjak kelahiran Dylan, tentu saja Bayu harus merelakan jika perhatian Prita banyak tersita untuk anggota baru keluarga mereka. Sebenarnya itu bukan masalah yang besar untuk Bayu, hanya saja terkadang ia merindukan momen-momen tidur bersama sambil memeluk istrinya.
Kalau sekarang, istrinya lebih sering tidur bersama Dylan dan anak-anak. Apalagi Dean yang sejak adiknya lahir malah jadi manja kepada mamanya. Ia terkadang melarang mamanya menggendong Dylan dan harus menggendongnya.
Prita dan Bayu memilih untuk mengalah. Memang, setiap anak pasti ingin diperhatikan. Kalau Dean sedang ingin bermanja, Bayu mengalah untuk menggendong Dylan sementara Prita menggendong Dean. Jika Bayu sedang berada di kantor, ada pengasuh yang membantu mengurusi Dylan.
"Perasaan setiap malam kita juga selalu tidur bersama di kamar, Mas."
"Hm, tapi kan banyak anak-anak.... Aku maunya berduaan saja denganmu."
"Siapa coba yang sudah membuatku hamil dan melahirkan? Dan siapa sekarang yang merengek minta diperhatikan?" sindir Prita.
"Ah.... Aku sudah berpuasa sebulan lebih? Bukankah itu wajar kalau aku sudah merindukanmu?"
"Setiap hari hanya bisa memandangimu, apalagi jika melihatmu sedang menyusui Dylan.... Aku jadi merasa iri."
Prita terkekeh, "Kenapa kamu jadi seperti anak kecil? Apa kamu juga mau bersaing manjanya dengan Dean?"
"Kenapa kamu selalu terlihat cantik setiap hari, Sayang.... Bahkan setelah sebulan melahirkan perutmu sudah kembali rata lagi. Apa aku juga sudah bisa bertamu ke bagian bawah sana?"
Prita tercengang dengan suaminya yang sudah berani menjadi sangat mesum. Anak mereka sudah empat dan dia masih memikirkan untuk bermesraan lagi? Padahal katanya dia sudah kapok untuk membuatnya hamil, tidak tega melihatnya kesakitan saat melahirkan. Ucapannya waktu itu benar-benar tidak sesuai dengan perbuatannya malam ini.
"Mas.... Perutku baru saja kempes. Kalau kamu rajin bercocok tanam lagi, perutku akan menggembung dan kita akan panen anak lagi."
"Katanya tidak mau melihatku kesakitan saat melahirkan.... "
Bayu merasa tersindir dengan ucapan Prita. Dia memang pernah mengatakan hal itu kepada Prita.
"Tapi aku sangat menginginkanmu.... Aku akan mengeluarkannya di luar agar kamu tidak hamil. Mau, ya.... " rayunya.
Ia mulai menciumi bagian tengkuk leher Prita dengan sensual. Membuat Prita merasa kegelian.
"Mas.... Malam ini kita ada acara, kan.... "
__ADS_1
"Tidak apa-apa, paling hanya lima belas menit." Bayu meneruskan perbuatannya menciumi daun telinga Prita yang sensitif sembari tangannya meraba-raba ke bagian dada yang sudah lama tidak ia jamah.
"Oke, oke.... Nanti bisa kita bahas lagi di kamar kalau acara sudah selesai. Kalau kamu seperti ini nanti dandananku rusak dan lebih lama lagi memperbaikinya."
"Hm, aku maunya sekarang.... "
"Ini sudah jam setengah tujuh, sebentar lagi tamu-tamu sudah datang.... "
"Aku tidak peduli."
Bayu sudah membuka resleting gaun yang Prita kenakan. Kaitan Bra yang ada di belakang ia lepaskan dengan cepat. Tangannya menggapai gundukan benda padat dan kenyal yang selama ini sangat ingin ia pegang.
Payu*dara istrinya kembali mengencang karena penuh dengan asi. Bentuknya jadi lebih besar dan berisi daripada sebelumnya. Mungkin itu juga yang membuat Prita terlihat lebih sek*si.
Tok tok tok
Terdengar suara pintu diketuk. Dengan terpaksa ia menghentikan aktivitasnya.
"Ah, sh*it!" pekiknya.
"Buka dulu, Mas.... " pinta Prita sembari membenarkan kembali pakaiannya.
"Kenapa ada saja yang mengganggu. Menyebalkan!" gumamnya.
Bayu membukakan pintu kamar dengan kesal. Di depan pintu sudah ada Alex dengan penampilannya yang telah rapi.
Bayu mende*sah lesu. Padahal ia baru saja mau bermesraan dengan istrinya, namun tamu-tamu sudah mulai datang.
"Ada apa, Mas?" Prita yang sudah menyelesaikan dandannya ikut menghampiri suaminya. Ternyata ada Alex di sana.
"Sayang, ayo kita turun sekarang untuk menemui para tamu."
"Ah, iya.... "
Bayu menuntun istrinya menuju lantai bawah menuruni satu per satu anak tangga. Kehadiran mereka menarik perhatian para tamu yang sudsh datang di ruang tengah. Mereka seperti sepasang raja dan ratu yang sangat serasi. Seolah acara malam itu untuk mereka berdua, padahal acaranya mereka buat khusus untuk Dylan.
Bayu membawa Prita menemui rekan-rekan bisnisnya. Sebagian sudah Prita kenal, sebagian lagi merupakan wajah-wajah yang baru Prita lihat.
Mereka yang datang bersama istri atau pasangannya, membawakan banyak hadiah untuk Dylan. Hadiah-hadiah yang mereka bawa tentu saja bukan barang biasa, melainkan barang mewah brand ternama yang harganya mahal. Padahal Prita sendiri mungkin akan sayang kalau harus membeli benda-benda yang terkesal sepele tapi harganya mahal hanya karena brand.
"Prita.... "
Raeka yang baru pulang dari Singapura juga turut datang ke sana bersama Cilla dan Irgi. Ia membawakan oleh-oleh yang sangat banyak, hadiah untuk keempat anak Prita tentunya.
"Halo, Cilla.... Sudah tambah besar saja.... " Prita mencubit gemas pipi Cilla yang montok. Bayi itu sekarang sudah berusia tujuh bulan.
"Aku juga ada berita bahagia untukmu."
__ADS_1
"Apa, Ir?" Prita terlihat penasaran.
"Raeka sedang hamil dua bulan.... " bisiknya.
Prita membulatkan mata seolah belum percaya dengan berita yang baru ia dengar.
"Benar, Ra?" tanyanya untuk memastikan.
Raeka menggangguk sembari tersenyum.
"Oh, selamat, ya.... " Prita memeluk Raeka dengan perasaan turut gembira. Akhirnya setelah sekian lama Raeka bisa merasakan rasanya hamil.
"Tapi aku harap nanti kamu tetap akan menyayangi Cilla, ya.... Kasihan dia sudah tidak punya ibu."
"Siapa bilang dia tidak punya ibu, Ta? Sudah jelas kan, aku ini mamanya dan Irgi adalah papanya."
"Ah, iya. Aku yakin kalian tetap akan menyayanginya."
"Lalu, Ayash dimana?" tanyanya sembari mengarahkan pandangan ke segala arah.
"Kamu tanya begitu nanti kalau Bayu dengar bisa digantung, loh.... Masa menanyakan mantan suami.... " ucap Irgi menakut-nakuti.
"Ih, sumpah ya, Ir.... Kamu manusia paling ingin aku jahit mulutnya. Aku bertanya karena dia juga temanku." omel Prita.
"Dia belum pulang, Ta. Masih di Singapura. Masalah di perusahaan masih belum beres. Sementara, Irgi juga butuh pulang ke tanah air untuk mengurusi perusahaan Ayash."
"Jadi kalian tukar perusahaan lagi?"
"Iya.... Tapi sebenarnya alasan utama ya, supaya dia bisa dapat wanita lah. Kamu jangan marah ya kalau Ayash pulang bawa calon istri."
"Oh, Ya Tuhan, Tuan Irgi.... Benar-benar sadis ya, kata-kata Anda."
"Tentu saja aku akan senang kalau Ayash bisa bahagia. Siapapun wanita pilihannya nanti, aku harap bisa membuat Ayash bahagia."
"Sayang, acaranya mau dimulai."
Bayu di arah depan sudah siap bersama anak-anaknya. Ada Dylan juga yang diletakkan di dalam box bayi.
"Aku ke depan dulu, ya." Prita minta ijin meninggalkan Raeka dan Irgi.
Bayu memberikan sambutan di hadapan para tamu undangan. Ia memperkenalkan satu persatu anggota keluarganya mulai dari Prita, Daniel, Dean, Livy, dan juga Dylan.
Belum semua rekan bisnisnya tahu kalau Bayu sudah menikah. Malam ini, ia beritahukan kepada semua orang jika ia telah menikah dan memiliki empat orang anak yang sangat dicintainya. Meskipun ada dua anak sambung, namun kasih sayang yang ia berikan tidak dibedakan.
Inilah potret keluarga kecil yang dibangun oleh Bayu. Keluarga yang penuh cinta dan kasih sayang antar sesamanya. Dengan seorang istri yang baik dan lembut serta anak-anak yang lucu, Bayu yakin bisa menjalani hidup ke depannya dengan lebih baik dan bahagia.
Keluarga Bagaskara.
__ADS_1
----Selesai----