
Bayu terbangun tengah malam. Hari ini ia harus pergi. Dia lirik ke samping, istrinya masih tertidur dengan lelap. Melihat wajah istriya, rasanya ia tidak rela pergi apalagi untuk waktu beberapa hari.
Mengingat beberapa hari akan meninggalkan istri tercintanya, tiba-tiba ia jadi ingin melakukannya. Sebelum tidur ia tidak sempat mendapatkan jatahnya karena Prita lebih dulu tertidur. Sekarang, dia juga masih tidur dan dia harus pergi. Sepertinya dia tidak akan bisa menahannya lagi. Ia akan mengganggu tidur istrinya sebentar.
Disibakkannya selimut yang menutupi tubuh istrinya hingga terpampang tubuh sek*si berbalut lingerie warna pink. Bayu menyukai seragam dinas malam istrinya yang bisa membuat gairahnya naik.
Ia kasihan juga malam ini tidur istrinya pasti akan terganggu, tapi dia memang sedang sangat menginginkannya. Hitung-hitung untuk mengurangi kangen saat ia tidak bisa menjamah istrinya.
Ia mulai menciumi wajah istrinya sembari mengusapkan tangannya pada permukaan lembut paha istrinya. Ketika ciumannya menyisir arah telinga dan memberikan gigitan kecil di sana, Prita bereaksi dalam tidurnya. Sepertinya ia mulai terganggu dengan yang Bayu lakukan.
Ciumannya semakin turun ke area leher, lalu berakhir pada area dada. Ia membenamkan kepalanya di sana, mulutnya menyesap salah satu puncaknya sementara tangannya memainkan yang satunya. Tangan kanannya turun ke bawah, melepaskan tali g-str*ng yang dikenakan istrinya sehingga ia leluasa untuk memberikan usapan di bawah sana.
"Hngg.... Uh.... Mas.... "
Prita kira ia sedang bermimpi. Saat membuka mata, ternyata suaminya sudah ada di atasnya. Ia masih mengantuk, tapi apa yang dilakukan suaminya terasa enak.
"Maaf ya, Sayang, tidurmu jadi terganggu. Mas pengin banget."
Seakan mengerti kemauan suaminya, Prita membiarkannya melakukan apa yang diinginkannya. Ia hanya pasrah karena rasa kantuk.
Sekitar lima belas menit, akhirnya Bayu selesai menuntaskan hasratnya. Prita kembali tidur pulas setelah orgasm*e, lebih nyenyak karena kelelahan dan mengantuk.
Bayu menuju kamar mandi, membersihkan diri lalu berganti pakaian. Ia kembali memandangi wajah istrinya sebelum pergi. Diciumnya sekilas bibir istrinya lalu perlahan berjalan keluar kamar. Malam ini ia benar-benar akan pergi meninggalkannya tanpa pamit demi menjalankan perintah ayahnya.
Mobil Ben sudah menunggunya di halaman depan rumah.
"Alex, jaga istri dan anakku selama aku pergi."
"Kalau dia bertanya, bilang saja aku ada urusan bisnis di luar kota."
"Sementara ponsel akan aku matikan. Kamu bisa menghubungiku lewat Ben jika ada masalah yang sangat serius."
"Baik, Bos."
Bayu masuk ke dalam mobil Ben meninggalkan Alex yang ia suruh menginal di rumahnya untuk menjaga Prita dan anaknya.
"Apa Anda sudah ijin kepada Nona Prita?"
"Tidak, Ben. Dia tidak akan mengijinkan kalau aku bilang akan menyelundupkan narkoba."
__ADS_1
Bayu menyandarkan kepalanya sembari memejamkan mata. Aktivitasnya yang tadi masih terngiang di otaknya. Momen intim bersama istrinya selalu menjadi hal favorit baginya. Ia mengehela nafas. Beberapa hari nanti ia tak akan bisa menikmatinya.
Mobil yang membawa Bayu sampai di area Bandara. Ben mengajaknya menuju ke private jet yang sudah dipersiapkan untuknya. Beberapa orang Tiger King juga ikut bersama mereka. Perjalanan yang akan mereka tempuh akan memakan waktu lama, sekitar lima jam. Bayu melanjutkan tidurnya di sana.
*****
"Bos, kita sudah sampai." Ben membangunkan Bayu yang masih tertidur.
Bayu mengusap matanya. Saat berangkat langit terlihat gelap dan ketika sampai langit sudah mulai terang. Ia mengikuti Ben berjalan keluar dari pesawat. Sudah ada rombongan orang yang menjemput mereka dengan mobil jeep.
Ben memberikan sebuah pistol kepada Bayu. Sudah lama ia tidak menggunakan benda itu dan dia berharap sebenarnya tidak akan lagi bersentuhan dengan benda itu lagi. Waktu itu Bayu juga menyimpan sebuah pistol di kamarnya, tapi entah kemana perginya pistol itu. Sepertinya istri tercintanya yang menyembunyikannya.
"Daerah yang akan kita lewati terkenal sebagai tempat persembunyian gerakan separatis."
"Meskipun aksinya sudah tidak pernah diberitakan lagi, tapi sebenarnya mereka masih ada dan sering mengganggu penduduk sekitar."
Ben menceritakan detil kondisi daerah yang akan mereka tuju. Medan yang mereka tempuh daerah pegunungan yang cukup terjal. Jalanannya tidak begitu bagus karena masuk ke wilayah daerah pinggiran yang sepertinya belum terlalu terjamah oleh pembangunan. Memang, tempat seperti itu sangat cocok sebagai tempat budidaya ganja. Tentu saja alasannya karena jarang ada polisi di sana.
Adapun yang sering mengetahui adanya ladang ganja, biasanya polisi hutan. Mereka juga biasanya gampang disogok atau diajak kerjasama. Kalaupun mereka nekad melaporkan ke kepolisian kota, akan memakan waktu yang lama dan pemilik ladang ganja bisa lebih dulu melarikan diri sebelum tertangkap. Apalagi itu adalah daerah pegunungan, cocok sebagai tempat persembunyian. Makanya gerakan separatis juga membangun kekuatannya di sana.
"Bawa M-16 juga, Ben?"
"Berapa?"
"Lima. Memangnya kenapa, Bos?"
Bayu menyeringai, "Sekalian kalau ketemu para pengkhianat negara itu kita tembaki saja sampai habis. Hitung-hitung membantu negara mengurangi pengacau di negeri ini."
Kalau orang jahat rasanya tidak ada beban bagi Bayu untuk langsung membunuh mereka. Meskipun dirinya memang bukan orang baik yang juga seharusnya pantas ditembak mati.
"Tapi ayah Anda juga pernah memasok persenjataan untuk mereka, Bos."
"Hah! Sudah aku duga, dimana ada keuntungan, disitu ada ayahku. Tidak peduli perbuatannya baik atau tidak yang penting menguntungkannya."
"Setiap orang berjuang demi mempertahankan hidupnya, Bos. Begitupula dengan ayah Anda."
"Ya, aku juga tahu. Musuhnya banyak dan sekutunya orang-orang yang mencari keuntungan darinya. Kalau dia tidak mau menuruti kemauan mereka, maka mereka juga tidak akan membantu saat dia kesulitan menghadapi musuh-musuhnya."
"Seharusnya dia berhenti saja karena sudah tua dan tinggalkan semuanya. Kenapa dia sangat berambisi sekali."
__ADS_1
"Beliau ingin mewariskan kekuatan dan kejayaannya kepada Anda."
"Hahaha.... Yang selalu dia berikan hanya masalah saja selama ini."
"Aku tak mengharapkan apa-apa darinya selain melepaskanku dan membiarkanku hidup tenang."
Suasana menjadi hening. Mobil yang mereka tumpangi terus melaju menembus kesunyian hutan pada pagi itu. Meskipun hari sudah semakin beranjak siang, namun rimbunnya hutan membuat cahaya matahari hanya samar-samar bisa menembusnya.
"Ben.... Bisa kamu ceritakan bagaimana ayahku tahu tentang Daniel?"
"Saya yang memberitahunya."
Mata Bayu langsung melotot ke arah Ben, "Kamu ini.... Bangsat kamu, Ben!"
"Apa selama ini kamu memata-mataiku?"
Padahal Ben sudah jujur mengatakan yang sebenarnya tapi Bayu justru memarahinya.
"Tidak."
"Saya bertemu dengan Fredi di tempat pelelangan black market."
"Dia yang menceritakan semuanya, kalau Anda memiliki seorang putra dan membutuhkan donor sumsum tulang belakang."
"Lalu, kamu menyampaikan pada ayahku?"
"Iya."
"Beliau sangat senang mendengar Anda memiliki seorang anak."
"Jadi, ayah Anda sendiri yang langsung mencarikan donor untuk Daniel dengan menghubungi kenalan-kenalannya."
"Beliau sampai harus bermusuhan dengan salah seorang rekan bisnisnya, karena mengincar hal yang sama."
"Orang yang seharusnya mendapatkan donor itu akhirnya meninggal karena diambil oleh ayah Anda."
"Sepertinya musuh Beliau sudah bertambah satu."
"Untuk meredam permusuhan, beliau menerima kerjasama ini, untuk menyelundupkan ganja sebagai balas budi bagi pihak yang sudah membantu ayah Anda."
__ADS_1
"Baiklah, aku harap ini yang terakhir akan aku lakukan dengan sebaik mungkin."