ANTARA CEO DAN MAFIA 2

ANTARA CEO DAN MAFIA 2
Arga dan Anak Perempuan


__ADS_3

Andin menemani Dean memilih mainan yang pedagang jual di area depan rumah sakit. Anak itu memang sangat suka mainan. Setiap hari selalu ada mainan baru untuknya meakipun keesokannya pasti sudah lupa dan meminta mainan yang baru. Kali ini dia sedang memegang-megang mobil truk crane dan excavator. Andin menggodanya untuk memilih salah satu saja, jadi, anak itu terlihat bingung memilih salah satunya. Dia menginginkan keduanya.


"Ayo, Dean pilih yang mana?"


Dean masih menimbang-nimbang. Dia suka keduanya.


"Tante.... Panggilkan Papa. Dean mau dua-duanya." raut wajah Dean seperti anak yang hampir menangis. Bibirnya menutup dan sedikit mengerucut. Matanya sudah berkaca-kaca. Membuat Andin jadi tidak tega.


"Oke, Baiklah, Dean bisa ambil dua-duanya." ucapnya.


"Hore.... " Dean berteriak kegirangan.


Andin memberikan empat lembar uang pecahan seratus ribuan untuk membayar dua mainan itu. Setelah selesai membeli mainan, Andin mengajak Dean kembali ke rumah sakit.


Ketika sampai di area lobi, dia sudah merasa ingin buang air kecil. Sayangnya dia masih membawa Dean dan harus mengantarnya dulu ke lantai atas. Padahal sepertinya dia sudah tidak kuat menahan hasratnya ke toilet.


Di area depan lift, ia melihat sosok yang familier. Leta yang sedang menggendong Livy ditemani dua orang bodyguard. Andin jadi punya ide untuk menitipkan Dean padanya.


"Leta!" serunya.


Leta menengok ke arah datangnya suara, "Nona Andin?"


"Kamu mau kemana?"


"Saya mau ke atas. Kata Nyonya Prita saya disuruh datang."


"Mereka siapa? Pengawal, ya?" Andin menunjuk pada dua orang wanita berpakaian serba hitam dan tampak galak yang berdiri di dekat Leta.


Leta mengangguk.


"Kamu ajak sekalian Dean bersamamu, ya! Aku mau ke toilet. Kamu mau, kan?"


"Iya, Nona Andin."


"Dean, kamu ikut Kak Leta dan Livy, ya. Tante Andin mau ke toilet."


"Oke." jawab Dean.


Ketika pintu lift terbuka, Leta dan orang-orang itu masuk. Dean juga ikut masuk. Setelah pintu lift kembali tertutup, barulah Andin berlari mencari toilet.


Beberapa saat kemudian, Andin keluar dari toilet dengan perasaan lega. Niatnya ia ingin langsung kembali ke lantai atas bertemu Ayash dan Prita. Namun, ketika sampai di depan lorong dekat lift, dia melihat seorang lelaki sedang berjalan menggandeng seorang anak perempuan.


Dilihat dari punggungnya, lelaki itu sepertinya adalah Arga. Ya, Arga. Lelaki yang sudah meninggalkannya begitu saja di hari pernikahan mereka. Tapi, dia juga belum yakin. Untuk apa juga Arga ada di sana? Dia bahkan selama ini menyuruh orang mencarinya namun belum juga ketemu. Hari ini, secara kebetulan mereka bisa bertemu?

__ADS_1


Mengingat Arga saja sudah membuat hatinya sakit. Entah umpatan apa yang harus ia keluarkan jika lelaki itu benar-benar Arga.


Tanpa pikir panjang lagi, Andin segera berlari mengejar lelaki itu.


"Kak Arga!" serunya.


Lelaki itu menghenghentikan langkah dan menoleh. Dia juga tampak kaget saat melihat Andin tepat berada di belakangnya.


Plak!


Satu tamparan keras tepat mendarat di pipi Arga. Lelaki itu hanya diam, tak berkomentar dengan apa yang Andin lakukan padanya. Mungkin dia juga merasa pantas mendapatkannya. Dia sudah menyakiti hati Andin. Tamparan itu tak sebanding dengan rasa sakit hati yang pernah ia berikan.


"Papa.... "


Suara anak kecil itu yang memanggilnya 'papa' semakin menghancurkan hati Andin. Ternyata Arga sudah memiliki anak dari wanita lain? Usianya juga sudah sekitar enam atau tujuh tahun, anak itu terlihat lebih tua dari Daniel. Artinya dia susah memiliki anak jauh sebelum memutuskan untuk menikah dengannya? Apa Arga selama ini hanya memainkan perasaannya saja?


Mata Andin sudah berkaca-kaca. Seandainya tidak ada anak kecil itu mungkin Andin sudah memukuli Arga berulang kali sampai dia puas. Tega-teganya Arga mencampakannya lalu kabur tanpa kabar, saat bertemu diam-diam dia sudah menggandeng seorang anak.


"Andin.... "


Mendengar namanya disebut bahkan membuat air matanya justru meleleh. Lututnya terasa lemas hingga ia tak sanggup berdiri. Andin menangis tersedu-sedu sambil berjongkok. Ia menutupi matanya karena malu. Untuk apa dia menangisi lelaki seperti itu? Lelaki yang sudah tega mencampakannya, seharusny sudah ia lupakan sejak malam itu. Tapi, logikanya tidak berjalan ketika disandingkan dengan rasa cinta yang masih dimiliki. Karena cinta itulah, melihat Arga hari ini terasa lebih menyakitkan.


Arga ikut merendahkan tubuhnya agar setara dengan Andin. Ia memeluk wanita yang masih menangis itu. Hatinya juga ikut sakit. Sebenarnya semua yang terjadi juga bukan keinginannya. Dia masih sangat mencintai Andin. Apa yang dia lakukan juga untuk kebaikan Andin. Karena, dia terlalu hina untuk bersanding bersama Andin.


*****


"Papa.... Kata dokter kondisi Daniel semakin baik. Nanti Daniel bisa bersekolah lagi dan bermain bersama Papa."


"Papa ikut senang mendengarnya, Sayang."


Ayash mengusap kepala Daniel. Anak itu tampak sehat sekarang. Dia merasa senang. Kesembuhan Daniel memang sesuatu yang dia harapkan selama ini.


Ada satu hal yang dia sesali dalam hidupnya. Yaitu, berpisah dengan Prita. Seandainya bisa, dia ingin tetap menjaga rumah tangganya dengan utuh selamanya. Nasi telah menjadi bubur. Sesuatu yang rusak sudah tak dapat diperbaiki meskipun egonya menolak kenyataan itu. Dia ingin Prita hidup bahagia. Karena selama hidup dengannya, Prita sudah banyak menderita. Jadi, apapun yang akan Prita ambil nanti, semoga itu menjadi jalan yang terbaik. Meskipun dirinya yang akan menderita.


"Papa.... "


"Ya?"


"Kenapa Papa jarang bersama Mama lagi? Kenapa Papa tidak bisa bersama Daniel terus seperti Mama?"


Ayash jadi ingat beberapa hari yang lalu Daniel marah karena ia tak bisa menemaninya operasi. Saat itu, dia juga sedang pusing mencari Dean yang hilang. Kalau bisa, dia juga ingin ada di sebelah Daniel terus.


"Maafkan Papa, ya. Papa banyak kerjaan." jawabnya sambil tersenyum menyembunyikan luka yang sebenarnya ada di dalam hatinya.

__ADS_1


"Daddy Bayu juga bekerja, tapi dia bisa sering menemani Daniel."


Ayash menghela nafas. Dia merasa cemburu dengan Bayu. Kedua anaknya suka bercerita menyanjung-nyanjungnya. Kemarin Dean, sekarang Daniel.


"Papa sudah menikah lagi, ya?"


Ayash langsung membelalakkan mata mendengar ucapan Daniel. Dia masih sangat kecil tapi bisa mengucapkan kata-kata seperti itu.


"Siapa yang sudah bilang seperti itu?"


"Daniel dengar dari orang-orang. Kadang ada yang cerita Daniel mendengarkan."


"Daniel, dengarkan papa.... Kamu tidak boleh mendengarkan pembicaraan orang dewasa, oke?" Ayash belum siap anak-anaknya tau apa yang terjadi sebenarnya. Dia tetap ingin mereka merasakan hari-hari yang indah sebagai anak-anak dengan memori kasih sayang kedua orang tua yang utuh.


"Temanku pernah bercerita, katanya mama dan papanya suka bertengkar. Setiap hari marah-marah. Akhirnya, mama papanya berpisah dan dia ikut mamanya. Lalu, papanya menikah lagi dan dia jadi punya mama baru."


"Papa sudah menikah dengan Tante Andin, kan? Jadi, Daniel harus memanggil dia Mama juga, ya?"


Ayash memegangi kepalanya. Daniel baru enam tahun, kenapa pemikirannya sudah sejauh itu?


"Kamu boleh tetap memanggilnya Tante Andin kalau tidak mau memanggilnya mama."


"Tidak apa-apa, Daniel mau kok memanggilnya mama. Tante Andin kan baik."


Ayash hanya bisa tersenyum.


"Papa.... kenapa Papa dan Mama berpisah? Daniel kan tidak pernah melihat Mama dan Papa bertengkar."


"Daniel, maafkan papa ya, papa belum bisa menjelaskannya padamu."


"Papa dan mama memang masih saling menyangi. Kasih sayang kami kepada Daniel, Dean, dan Livy juga masih sama, tidak ada yang berubah. Semuanya sama. Hanya saja, mama dan papa sekarang sudah tidak bisa tinggal satu rumah lagi. Tapi bukan karena bermusuhan."


Daniel diam sejenak, "Kalau Mama dan Papa tinggal terpisah, Daniel harus ikut siapa? Daniel sayang Mama Papa."


Ayash tersenyum, "Kamu boleh ikut siapapun yang kamu inginkan, Sayang. Kamu boleh tinggal bersama mama, atau tinggal bersama papa juga boleh. Mau gantian tinggal sama mama papa juga boleh."


"Kalau Daniel tinggal sama Papa, Oma benci Daniel nggak?"


Masih ada kenangan buruk tentang Maya dalam ingatan Daniel. Anak itu tau, jika Maya tidak menyukainya.


"Tidak ada yang benci Daniel. Semuanya sayang Daniel. Kalau Oma tidak suka, laporin papa. Biar papa marahin Oma."


"Jangan Papa.... Kasihan Oma sudah tua kalau dimarah-marah."

__ADS_1


__ADS_2