ANTARA CEO DAN MAFIA 2

ANTARA CEO DAN MAFIA 2
Hampir Tertabrak


__ADS_3

"Ah iya, Ta. Kamu mau makan apa? Daritadi kok aku lupa menawarimu."


"Tidak perlu, Ray. Aku juga tidak bisa lama-lama karena ninggalin anak di rumah."


"Nona Prita?"


Terdengar sapaan familiar di telinga Prita. Ternyata Egi yang datang.


"Hai, Egi."


"Nona Prita datang sendirian?"


"Iya. Soalnya Ayash juga sedang kerja."


"Kamu kenapa tidak mau ditawari balik kerja lagi di perusahaan?"


"Ah, itu... saya sudah suka bekerja di sini."


Sebenarnya alasan Egi tidak mau lagi bekerja menjadi asisten Ayash, karena tugasnya terlalu berat. Dia sudah punya pengalaman jaman dulu. Meskipun jam kerja standar di perusahaan dari jam delapan sampai jam tiga sore, tapi lebih sering dia harus lembur sampai malam. Bahkan, akhir pekan terkadang dia masih harus bekerja. Belum lagi kalau Ayash menyuruhnya untuk melakukan pekerjaan yang tidak ada kaitannya dengan urusan kantor.


Memang, Ayash bukan bos yang pelit. Dia tidak segan-segan memberikan uang lembur yang besar untuknya. Tapi, setelah menikah, dia menyadari jika uang bukan segalanya. Dia bahagia bekerja di kafe meskipun gajinya sekarang jauh dari gajinya menjadi asisten Ayash. Dia bahagia karena sekarang waktunya lebih banyak untuk ia habiskan dengan Raya, wanita yang sangat agresif mendekatinya.


Raya, wanita pertama yang pantang menyerah untuk minta ia nikahi. Wanita pertama yang mampu mengalihkan kecintaannya pada dunia kerja menjadi suami yang penyayang.


Sekarang, Raya sedang hamil. Egi harus lebih mencurahkan waktunya untuk mendampingi anak dan istrinya kelak. Jadi, saat Ayash memintanya untuk kembali bekerja bersamanya, dia menolak.


Untuk masalah biaya hidup, tabungannya selama bekerja bersama keluarga Hartadi masih cukup. Raya juga bukan tipe istri yang boros dan banyak gaya. Raya tetap hidup apa adanya, meskipun tahu dirinya memiliki tabungan yang besar. Wanita itu tidak mengikuti gaya hidup teman-temannya. Dia tetap menjadi dirinya sendiri. Itu yang membuat Egi merasa beruntung menikah dengan Raya.


Selain itu, menikah dengan Raya membuatnya menjadi memiliki keluarga. Egi yang selama ini hidup sebatangkara menikah dengan Raya yang merupakan lima bersaudara. Keluarga Raya sangat ramah dan hangat, dia langsung diterima baik sebagai bagian dari keluarga.


Orang tua Raya mendidik anak-anaknya dengan sangat baik. Semuanya hidup dengan akur satu sama lain. Keluarga Raya tidak terlalu menuntut Egi untuk menopang kehidupan orangtua maupun adik-adik Raya. Seringkali bantuan Egi juga ditolak halus oleh orang tua Raya, karena mereka merasa masih mampu membiayai sekolah anak-anaknya.


"Tapi di sini kan gajinya kecil. Sebentar lagi kalian akan memiliki anak, banyak kebutuhan yang harus dicukupi nanti. Kamu butuh penghasilan yang lebih besar, Egi."


"Saya tahu, Nona Prita. Tapi saya rasa penghasilan kami saat ini cukup untuk kehidupan kami kedepannya."


"Haduh, kenapa sih kamu berbicaranya formal terus, Egi.... Masa masih memanggilku Nona? Panggil Prita saja."

__ADS_1


"Rasanya aneh.... Saya lebih nyaman seperti ini karena sudah biasa. Nona Prita jangan merasa terbebani."


"Aku yang jadi tidak enak dengan Raya. Dia kan temanku, masa kamu terus memanggilku nona."


"Halah, Ta! Ya nggak apa-apa. Memang dulu kan kamu Nonanya."


"Oh, Ya Tuhan. Aku sampai lupa harus membeli stok susu untuk anak-anak."


"Ayash nggak dibeliin sekalian, Ta?"


"Ah... kalau dia sih bisa langsung minum dari pabriknya."


"Hahaha.... " Raya tertawa puas mendengar lelucon Prita.


"Jangan salah paham, Egi. Kantor Ayash dekat dengan pabrik pengemasan susu kotak. Dia biasa beli langsung dari pabriknya." Prita melirik ke arah Egi yang mukanya tampak datar.


"Iya, iya.... Nas Egi juga sudah paham kok."


"Sudah ah! Capek melucu di depan bumil. Aku pulang sekarang."


"Biar saya antar!" Egi menawarkan diri.


"Raya, aku pamit dulu, jaga kesehatanmu dan bayimu. Kapan-kapan ayo kita ketemu lagi." Prita memeluk tubuh Raya.


"Jangan lupa nanti ajak anak-anakmu saat bertemu denganku."


"Oke!"


Prita melangkah pergi meninggalkan kafenya. Dia berjalan menyusuri trotoar menuju swalayan yang terletak sekitar 300 meter dari kafenya.


Ponsel yang ada di saku blazer Prita bergetar. Ada satu notofikasi pesan masuk. Dari Irgi. Temannya itu mengirimkan foto seperti sedang berada di butik baju pengantin.


Hal paling membosankan nungguin calon istri fitting baju pengantin. Ngantuk!


Begitu caption yang Irgi tuliskan di bawah fotonya. Prita hanya senyum-senyum membaca pesan itu. Akhirnya beberapa Bulan lagi Irgi juga akan menikah. Dia turut merasa senang.


"Awas!"

__ADS_1


Seseorang menarik dengan cepat tubuh Prita kembali ke tepi jalan saat ia hendak menyebrang. Jantung Prita rasanya mau copot. Ia hampir tertabrak karena menyebrang jalan sambil membaca pesan dari Irgi. Di saat yang bersamaan, ada kendaraan yang melintas dengan kecepatan tinggi. Untung ada orang yang sigap menyelamatkannya.


Prita mendorong sedikit tubuh orang yang menolongnya. Posisinya tadi orang itu memeluk Prita. Dia juga tidak bisa menyalahkan orang yang sudah menolongnya. Sudah beruntung dia diselamatkan, masa mau protes ada acara peluk-pelukan segala.


"Terima kasih, ya."


"Kamu berterima kasih padaku?"


Deg!


Suara itu.... Prita langsung mendongakkan kepalanya. Bayu. Orang yang menyelamatkannya adalah Bayu. Seketika ia merasa sesak nafas. Entah mengapa bertemu Bayu selalu membuatnya seperti itu. Mungkin karena terkejut.


"Kenapa ya, kamu selalu ceroboh begini? Apa kamu mau cepat mati? Menyeberang jalan sambil menatap layar ponsel. Memangnya nyawamu ada berapa?"


"Aku.... Aku.... Aku pergi dulu!"


Prita hendak kabur dari Bayu. Selain karena rasa gugup setiap bertemu Bayu, alasan lain dia tak mau ada masalah dengan Ayash. Dia tipe orang yang tidak pandai berbohong. Dia tidak mau mencari-cari alasan atau memberi penjelasan jika ia bertemu lagi dengan Bayu. Meskipun itu hanya kebetulan, ia tak mau. Tapi, semakin dia berusaha menghindari Bayu, mereka justru sering dipertemukan.


Sebelum Prita kabur dari hadapannya, Bayu berhasil meraih tangan Prita. Dia tak melepaskannya meskipun Prita berusaha menggeliat.


"Kenapa kamu selalu berusaha menghindar setiap bertemu denganku? Apa kamu anggap aku hantu?"


Bayu baginya lebih menakutkan dari hantu. Biasanya pertemuannya dengan Bayu tidak ada sisi positifnya, justru malah banyak sisi negatifnya. Bertemu dengan Bayu tidak mungkin tidak menimbulkan masalah. Maka dari itu, sebisa mungkin Prita harus berusaha menghindari Bayu.


"Please, lepaskan!"


"Begini ya, cara bersopan santun dengan orang yang baru saja menolongmu? Tadi kamu bisa kan mengucapkan terima kasih? Kenapa setelah tahu aku yang menolongmu kamu sepertinya tidak senang? Apa kamu lebih memilih tertabrak mobil kalau tahu aku yang akan menyelamatkanmu?"


Prita menghempaskan keras tangannya, hingga genggaman tangan Bayu terlepas. Ia menghela nafas dalam-dalam.


"Aku berterima kasih atas pertolonganmu. Aku ada urusan lain, please, jangan ganggu aku."


"Ada yang ingin aku bicarakan denganmu mumpung kita berdua bertemu di sini."


"Aku rasa tidak ada yang perlu kita bahas. Maaf, aku harus pergi."


Prita langsung berlari pergi meninggalkan Bayu. Dia takut Bayu akan kembali menangkapnya.

__ADS_1


Sementara, Bayu tampak kesal. Prita selalu melarikan diri darinya saat ia ingin membahas banyak hal dengannya.


__ADS_2