ANTARA CEO DAN MAFIA 2

ANTARA CEO DAN MAFIA 2
Mencoba Hal Baru


__ADS_3

"Aku tidak menyangka bisa memiliki teman yang gila seperti kalian."


"Keputusanmu benar-benar tidak masuk akal."


Sepanjang perjalanan menuju apartemen, Irgi terus mengoceh mengomentari pernikahan Ayash dan Andin. Dia tidak habis pikir saja ada orang menikah untuk menggantikan orang lain. Kehidupan pernikahan macam apa yang akan mereka jalani tanpa cinta.


"Apa kamu sudah mengatakan semuanya pada Andin?"


"Sudah."


"Bagaimana tanggapannya?"


"Dia tidak masalah. Lagipula dia melakukan ini untuk membuat ayahnya bisa hidup dengan tenang."


"Aku khawatir saja dia tidak bisa menyesuaikan diri dengan kondisimu dengan mamamu yang seperti itu dan dua anakmu yang masih kecil-kecil."


"Mama sepertinya tidak mengganggu Andin. Dia sendiri merasa malu karena Kak Arga tidak bertanggung jawab. Kalau untuk anak-anakku, Andin sudah bisa dekat dengan mereka."


"Oh, iya? Aku kira dia tidak akan bisa menjadi seorang ibu."


"Sekarang dia keibuan.... "


"Kira-kira dimana kakakmu yang bajingan itu bersembunyi? Kalau aku pikir-pikir dia memang lelaki yang brengsek. Apa yang terjadi pada Prita juga dulu gara-gara dia. Harusnya kita cincang saja kakakmu itu."


"Sudahlah, mengumpat juga tidak akan bisa mengubah keadaan."


"Berapa lama rencananya status pernikahan kalian?"


"Itu terserah Andin."


"Yakin? Kalau dia mau seumur hidup denganmu apa tidak masalah? Kamu tidak mencintainya, kan?"


Ayash diam sejenak memikirkan pertanyaan Irgi. Dia juga tidak tahu. Dia hanya menjalani hidupnya mengalir begitu saja. Baginya, hidup sudah tak terlalu menarik setelah ia memutuskan bercerai dengan Prita. Apapun yang terjadi padanya sudah bukan masalah. Asalkan bisa melihat Prita hidup dengan baik itu sudah cukup. Prioritasnya kini membesarkan anak-anaknya sebaik mungkin.


"Kalau Andin tidak masalah dengan kondisiku, aku juga tidak masalah. Dia juga sudah tahu kalau aku tidak bisa memiliki anak lagi."


"Aku sudah lama mengenal Andin. Dia sahabat yang baik. Hidup dengannya tidak terasa berat untukku."


Irgi memandangi Ayash sekilas yang sedang fokus menyetir di sampingnya. Ia tahu kondisi mental temannya itu tak sebaik kelihatannya. Ayash tipe orang yang akan memendam masalah sendiri daripada bercerita kepada orang lain.

__ADS_1


Terkadang, keputusan-keputusan yang dia ambil terdengar aneh. Alasan yang digunakan selalu untuk kepentingan dan kebaikan orang lain. Sepertinya dia tidak pernah mengambil keputusan demi dirinya sendiri.


Mana ada orang di dunia ini yang mau mengorbankan perasaannya sendiri demi orang lain? Menurutnya itu hal bodoh. Setiap orang seharusnya hidup untuk kebahagiaan dirinya sendiri bukan untuk kebahagiaan orang lain. Memikirkan kebahagiaan diri sendiri bukanlah sesuatu hal yang berdosa.


Ayash melajukan mobilnya menuju basement apartemen. Sebentar lagi mereka akan sampai. Niatnya mereka pulang sebentar untuk mengambil dokumen yang tertinggal di apartemen.


"Jadi Andin tinggal di mansion ya?" tanya Irgi saat keduanya berjalan menuju lift yang ada di area basement.


"Iya. Aku sudah menawarkan padanya untuk aku belikan rumah atau apartemen baru jika dia tidak nyaman tinggal dengan orang tuaku. Tapi, dia menolak. Katanya tidak apa-apa."


"Aku takut hal yang sama dengan Prita terjadi juga dengan Andin."


"Hahaha.... Aku juga heran dengan mamamu. Dia wanita yang sangat baik. Tapi kenapa perlakuannya bisa begitu buruk kepada menantunya sendiri. Apa jangan-jangan dia terlalu mencintaimu sebagai anaknya? Sampai tidak boleh ada wanita lain di sisimu?"


"Pikiranmu aneh-aneh!"


"Tapi aku yakin, kalau mamamu berani memperlakukan Andin seperti Prita, Andin pasti tidak akan diam. Jaman di sekolah dulu kan hobinya jambak-jambakan kalau ada yang cati ribut dengannya. Kalau Prita beda lagi. Dari dulu perannya jadi orang yang teraniaya terus. Heran aku sama dia. Sesekali hajar gitu orang yang berani merendahkannya."


"Kamu senang ya kalau melihat mertua dan menantu ribut. Memangnya ini sinetron?"


"Hahaha.... Aku kan hanya membayangkan saja. Lagipula Andin wanita yang kuat, dia pasti bisa menghadapi mamamu."


"Mama tidak bilang apa-apa. Dia tak pernah membahasnya."


"Hubungan Mama dan Andin masih kaku. Mungkin mereka sama-sama belum bisa menyesuaikan diri saja. Yang penting Mama tidak berbuat aneh-aneh kepada Andin, aku sudah bersyukur."


"Bisa tidak sih kamu memikirkan dirimu sendiri sesekali? Mamamu memang orang yang seperti itu, tidak perlu kamu terlalu tunduk padanya. Nanti kejadian seperti Prita bisa terulang lagi."


"Kamu ini bicara apa? Aku bukan tunduk, tapi menghormati mamaku sendiri. Segala keputusan yang aku ambil tidak ada kaitannya dengan Mama. Semua atas kehendakku dan dan aku sudah tahu apa konsekuensinya."


Ting!


Pintu lift terbuka. Mereka sampai di apartemen Irgi.


"Welcome back, Master..... "


Langkah kaki Irgi terhenti ketika melihat Raeka berada di depannya dengan pakaian ala maid berwarna hitam putih pendek yang mengekspose area pahanya. Pakaian itu membuat penampilan Raeka terlihat imut dan seksi. Apalagi ditambah dengan bandana telinga kucing di kepala dan rambut yang diikat dua.


Irgi terpesona dengan kecantikan istrinya sendiri. Itu tampilan yang selama ini sangat ia ingin lihat dari istrinya. Dia imut dan rasanya ingin menerkamnya.

__ADS_1


Madih terasa seperti mimpi, apa yang ada di depannya sekarang benar-benar Raeka? Wanita pemalu yang bahkan akan marah jika ia goda dengan kata-kata yang sedikit vulgar.


Sementara, Raeka sebenarnya sedang menahan rasa malu. Tapi melihat respon Irgi dia menjadi sedikit percaya diri. Sepertinya dia berhasil membuat suaminya sendiri terpesona dengan hasil dandanannya. Ia harus mengucapkan terima kasih kepada Prita nanti.


"Jangan lama-lama ya, kita sudah ditung.... " Ayash yang menyusul Irgi ke dalam ikut tercengang melihat apa yang ada di depannya.


Raeka seketika panik melihat Ayash datang di belakang Irgi. Penampilannya saat ini sangat memalukan dan Ayash juga melihatnya.


"Aahh!" Raeka berteriak dan langsung berlari ke dalam kamar.


Irgi menepuk dahinya. Dia lupa kalau Ayash ikut bersamanya. Seharusnya tadi dia tidak menyuruh Ayash menemaninya pulang. Hal langka bisa melihat Raeka berdandan seperti itu. Dan dia harus kehilangan kesempatan menikmatinya lebih lama.


"Apa itu tadi? Kalian suka main cosplay, ya?"


"Tunggu di sini, aku ambil dokumennya dulu."


Irgi berjalan menuju ruang kerjanya dan mengambil dokumen yang dibutuhkan. Ia melirik ke arah kamarnya tempat Raeka masuk tadi. Ia menghela nafas. Ia harus kembali bekerja. Ini bukan saatnya bersenang-senang.


"Tidak aku sangka permainan kalian di rumah unik juga. Itu tadi konsepnya master and maid, ya?"


"Oh, Ya Tuhan.... Bisa-bisanya Raeka mau mengikuti kemauanmu. Hahaha.... " Ayash tertawa terpingkal-pingkal meledek Irgi.


"Aku bahkan baru melihatnya. Semua gara-gara kamu. Kenapa ikut masuk segala?"


"Ya siapa juga yang tahu kalian mau main seperti itu. Lagipula kamu sendiri yang menyuruhku menjadi sopirmu."


"Padahal ini masih siang. Pantas saja kamu sering pulang. Pasti karena ada yang menarik di rumah."


"Selain jadi maid, apa dia juga pernah jadi kucing?"


"Awas saja kalau nanti kamu masih membahasnya apalagi di depan Raeka. Pokoknya kalau rumah tanggaku jadi bermasalah, kamu yang akan aku salahkan."


"Hahaha.... pasti akan menyenangkan kalau bisa meledek Raeka langsung di depannya."


Pluk!


"Aduh!"


Irgi memukul kepala Ayash dengan keras. Ia masih menyayangkan harus meninggalkan istri tercintanya yang sangat imut itu demi pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan. Apalagi jam kerjanya sampai malam pula. Akan menjadi waktu yang panjang untuk bisa bertemu Raeka.

__ADS_1


__ADS_2