ANTARA CEO DAN MAFIA 2

ANTARA CEO DAN MAFIA 2
Pertemuan Kalangan Atas


__ADS_3

Bantu vote ya bunda-bunda, kakak-kakak kesayangan, biar authornya makin semangat update.... 😳


 


"Apa putramu belum juga kembali?" tanya Tuan Saddam.


Tuan Samuel dan Tuan Saddam mengikuti acara perjamuan makan malam yang diadakan oleh Kepala Kepolisi Daerah Kota J, Irjen Pol. Hanung Abimayu, sebagai bentuk syukuran atas kelulusan putranya dari Akademi Kepolisian, Ipda Atala Dirga Abimayu. Selain mengundang rekan sesama profesinya, Tuan Hanung juga mengundang beberapa pengusaha yang dekat dengannya dan kenalannya dari profesi yang lain juga.


Tuan Saddam kenal baik dengan Tuan Hanung, begitu pula dengan Tuan Samuel yang bisa ikut mengenal seorang Kapolda berkat Tuan Saddam. Manfaat memiliki kenalan dari kalangan kepolisian, melancarkan segala urusan bisnis yang mereka lakukan.


"Putraku belum kembali. Anak buahku masih mencarinya."


"Benarkah putramu menghilang? Atau hanya alasan untuk menghindari perjodohan yang akan kita lakukan? Apa putramu sedang menolakku dengan berpura-pura hilang?"


Samuel memperlambat kunyahan makannya, "Aku bahkan belum memberitahunya tentang rencana perjodohan ini."


"Aku sendiri tidak tahu bagaimana dengan nasibnya entah masih hidup atau sudah mati setelah membantu pengiriman barangmu."


Samuel sedikit tersinggung dengan ucapan Saddam, namun ia tetap berusaha menahan kemarahannya. Andai saja Saddam bukan orang yang memiliki kuasa besar, dia tidak akan segan-segan menghabisinya. Samuel harus bersabar, menunggu waktu yang tepat untuk menjatuhkan orang yang selama ini mengendalikanya.


"Jangan tersinggung, aku hanya berasumsi saja. Semoga Bayu bisa segera ditemukan. Dan aku sangat berharap dia mau menerima putriku sebagai istrinya."


"Putrimu sangat cantik, anakku tidak mungkin akan menolaknya."


"Hahaha.... Kita lihat saja nanti, apakah putramu akan menurut padamu. Aku lihat dia tipe yang pembangkang."


"Selamat malam.... "


Tuan Hanung bersama putranya datang menghampiri meja Samuel dan Saddam.


"Oh, Tuan Hanung. Terima kasih atas undangannya." ucap Saddam.


"Selamat atas kelulusan putra Anda, Ipda Atala."


"Terima kasih, Tuan Saddam dan Tuan Samuel, atas kedatangannya."


"Putra Anda pasti nantinya akan menjadi orang yang hebat di dunia kepolisian seperti ayahnya."


"Hahaha.... Anda bisa saja, Tuan Saddam."

__ADS_1


"Kelak dia juga bisa menjadi Kapolda menggantikan ayahnya."


"Ada banyak polisi muda yang cakap, saingan anak saya banyak. Termasuk juga putra dari Wakapolda kita, Brigjen Pol. Inu Adhi Kusuma."


Samuel dan Saddam sama-sama mengalihkan pandangan kepada orang yang disebutkan Tuan Hanung.


"Tuan Inu juga sejak dulu menjadi saingan terberat Anda."


"Ya, begitulah. Karirnya juga bagus."


"Jadi persaingan antar orang tua akan berlanjut ke persaingan antar anak."


"Hahaha.... Anda bisa saja."


"Tapi saya yakin, putra Anda akan sehebat Anda."


"Harapan yang sama juga ada padaku."


"Selamat menikmati jamuannya, saya akan menemui tamu-tamu yang lain."


"Ya, silakan."


Hanung membawa putranya berjalan ke meja lain menemui tamu-tamunya.


"Seharusnya yang menjabat sebagai Kapolda adalah Tuan Inu, bukan dia."


"Sampai sekarang dia masih khawatir posisinya akan direbut oleh Tuan Inu."


Tepat di meja sebelah Tuan Saddam dan Tuan Samuel, ada Bayu yang duduk membelakangi mereka. Ia mengenakan pakaian yang rapi dengan masker yang menutupi wajahnya agar tidak ada yang mengenali. Ia bisa ikut masuk dalam perjamuan makan itu dengan mengikuti salah satu tamu undangan yang sudah Ben atur, Bayu berpura-pura menjadi putra dari salah seorang polisi yang diundang Tuan Hanung.


Dari meja tempat duduknya, Bayu bisa mendengarkan semua percakapan yang dilakukan oleh ayahnya dengan Tuan Saddam.


Tentu saja rasanya sangat geram, terutama pada bagian perjodohan. Bisa-bisanya mereka memutuskan sesuatu tanpa persetujuannya. Apa semua orang tua itu sama? Semuanya sangat egois terhadap anaknya.


Satu hal lagi yang Bayu dapatkan dari percakapan itu, dia jadi tahu ayah kandung Bara, polisi yang menyelamatkannya. Ternyata benar, Barakha Adhi Kusuma bukan polisi biasa, tetapi anak dari seorang Brigjen Polisi.


Kehidupan Bayu dan Bara benar-benar berbeda bahkan bertolak belakang. Bayu dibesarkan oleh seorang ayah yang hidup di dunia kriminal, sedangkan Bara tumbuh dalam keluarga yang menjunjung tinggi hukum serta mengabdikan diri untuk masyarakat luas. Mereka ibarat pahlawan dan penjahat.


Sepertinya karir Bara tidak akan mulus mengingat saingannya juga dari kalangan polisi yang sangat kuat kedudukannya. Apalagi polisi itu juga ada hubungan yang erat dengan Tuan Saddam dan ayahnya. Semakin sulit bagi Bayu untuk membongkar kebusukan mereka.

__ADS_1


Permainan orang atas sangat luar biasa. Untuk mendapatkan apa yang diinginkannya, segala macam cara kotor dilakukan. Bayu tidak ingin terjebak lebih jauh pada kehidupan seperti itu. Semakin ia tahu, semakin ia muak dan ingin segera menyingkir. Apakah ayahnya benar-benar sudah terbawa arus dan tidak bialsa diselamatkan lagi?


Merasa sudah cukup mendapatkan informasi hari ini, Bayu memutuskan untuk pergi. Ia akan mencari informasi lain yang bisa digunakan untuk memperkuat rencananya.


Kalau dipikir-pikir aneh juga. Bayu ikut terlibat pada beberapa kejahatan yang mereka lakukan, tapi dia juga berniat untuk menghancurkannya. Sikapnya itu bisa diibaratkan seperti remaja labil.


Saat berjalan melewati aula tengah, ia merasakan sesuatu yang tidak beres dengan lampu kristal besar yang tergantung di langit-langit. Benda itu seperti bergerak padahal tidak ada gempa.


Semakin diperhatikan, ia melihat ada retakan kecil pada plafon tempat lampu gantung itu terpasang. Sepertinya lampu gantung itu akan teejatuh. Sementara, tepat di bawahnya ada beberapa wanita yang sedang berdiri tanpa menyadari apa yang akan terjadi.


"Awas.... !" teriak Bayu memperingatkan mereka.


Ada yang menyadarinya, ada pula satu wanita yang yang justru mematung mendengar peringatan dari Bayu.


Bayu berlari sekuat tenaga mendorong wanita itu menjauh dari bawah lampu gantung.


Prang!


Keduanya jatuh tersungkur ke lantai bersamaan dengan jatuhnya lampu gantung itu. Serpihannya berserakan kemana-mana, membuat orang-orang yang ada di sana berteriak panik.


Masker yang dikenakan Bayu terlepas. Wanita yang tadi didorongnya baik-baik saja, namun terlihat masih syok. Mata keduanya bertemu pandang.


"Valerie!"


Bayu mendengar suara Tuan Saddam. Ia segera memasang kembali maskernya lalu pergi meninggalkan wanita yang sudah ditolongnya begitu saja.


Saddam berlari menghampiri putrinya, Valerie. Ya, wanita yang telah Bayu tolong adalah putrinya.


Valerie masih memandangi punggung lelaki yang baru saja menyelamatkannya. Ia bahkan belum sempat mengucapkan terima kasih, tapi lelaki itu lebih dulu pergi.


"Kamu tidak apa-apa, Sayang?" Saddam tampak sangat khawatir dengan putrinya. Namun, ia bersyukur putrinya tidak mengalami luka-luka.


"Iya, Papa. Aku tidak apa-apa."


"Syukurlah."


"Tuan Saddam, apa putrimu baik-baik saja?"


Tuan Hanung sebagai tuan rumah acara ikut khawatir dengan tamunya. Ia menyesalkan kejadian itu terjadi.

__ADS_1


"Iya, dia baik-baik saja."


Tak jauh dari mereka, Samuel berdiri memikirkan sosok lelaki yang berlari pergi itu. Ia merasa kalau dia adalah.... Bayu.


__ADS_2