ANTARA CEO DAN MAFIA 2

ANTARA CEO DAN MAFIA 2
Pacar Pak Bayu 2


__ADS_3

"Nona Shu."


"Ah, hai, Alex."


Shuwan tersenyum lebar melihat kehadiran Alex. Sejak tadi dia merasa tak nyaman terus bertemu dengan orang-orang yang masih asing di matanya.


"Bos menyuruh saya mengantar Anda ke ruangannya. Mari ikut saya."


"Terima kasih, Alex."


Shu mengikuti Alex berjalan menuju lift. Sesampainya di lantai tujuh, Alex langsung mengarahkan Nona Shu untuk masuk ke ruang kerja Bayu. Alex hanya mengantar, ia tak ikut masuk ke dalam.


Shu menyunggingkan senyum saat melihat Bayu ada di ruangannya. Mereka langsung berpelukan seakan masalah di antara keduanya sudah terlupakan.


"Kenapa tidak mengabari dulu kalau mau datang?" Bayu telah mempersilakan Shu duduk di sofanya. Ia mengambil dua kaleng minuman ringan dari dalam kulkas.


"Aku malu untuk menghubungimu. Rasanya lebih sopan jika aku langsung menemuimu untuk minta maaf." Shu sedikit menundukan kepala. Raut wajahnya tampak memelas karena merasa bersalah.


"Kenapa minta maaf? Kamu tidak punya salah apa-apa padaku."


"Malam itu aku pergi tanpa pamit. Itu hal yang sangat tidak sopan."


"Ah, masalah itu. Aku sama sekali tidak marah. Jika kamu mau mengakhiri hubungan kita gara-gara malam itu juga aku akan menerimanya."


"Tidak, tidak... aku kemarin bukan untuk meminta putus. Aku hanya ingin minta maaf."


"Aku katakan sekali lagi, kamu tidak salah, Shu."


"Tapi mungkin tingkah dan ucapanku malam itu menyinggung perasaanmu. Aku sangat menyesal."


Mata Shu berkaca-kaca, membuat orang yang melihatnya tak tega. Dia wanita lembut yang sangat memperdulikan perasaan orang lain. Bayu menarik Shu ke dalam pelukannya. Ia mengusap punggungnya untuk menenangkan.


"Tolong jangan putus denganku." Shu berkata dengan nada yang memelas.


"Seharusnya aku yang mengucapkan kalimat itu. Aku tidak mau putus denganmu walaupun tahu kondisiku seperti ini."


Shu menatap dalam-dalam mata Bayu, "Aku bisa menerima kondisimu. Aku akan menunggu sampai kamu pulih kembali."


"Kamu yakin?"


Shu mengangguk. "Malam itu aku hanya terbawa emosi. Aku benar-benar marah mendengar ucapan wanita bernama Karla itu. Aku tidak suka dia lebih tau tentang dirimu daripada aku."


"Sudah aku bilang, jangan pernah dengarkan Karla. Sejak dulu dia sudah terobsesi padaku, jadi semua yang dia ceritakan hanya khayalannya saja. Dia suka mengada-ada, terutama di depan wanita yang aku anggap spesial."


"Kalau kamu termakan omongannya, berarti tujuannya telah tercapai."

__ADS_1


"Katakan sejujurnya, apa kamu benar-benar tidak pernah memiliki hubungan dengannya?"


"Tidak pernah."


"Yakin?"


"Ya... seumur hidup aku baru dua kali pacaran. Pertama dengan seorang wanita yang meninggalkanku karena lelaki lain dan yang kedua denganmu."


"Hah, lelaki sempurna sepertimu pernah dicampakan wanita?"


Bayu mengangguk, "Aku harap kamu tidak melakukan hal yang sama."


Shu langsung memeluk pinggang Bayu dan menyandarkan kepalanya pada dada bidang lelaki itu, "Aku tidak akan melakukannya. Aku sangat mencintaimu."


"Aku beruntung mendapatkan wanita baik sepertimu, Shu."


"Ngomong-ngomong, bagaimana dengan kondisi hotelmu saat ini?"


"Sepertinya ada orang yang ingin menjatuhkan hotel kami. Masalah terus terjadi belakangan ini sehingga menyebabkan nilai saham terus turun."


"Apa yang bisa aku lakukan untuk bisa membantumu?"


"Em, kita belum lama pacaran. Rasanya tidak pantas kalau aku sudah meminta bantuan. Nanti kamu bisa menganggapku sebagai wanita matre."


Shu diam. Ia segan mengatakan nominal yang diinginkan.


"Aku tahu, mengurus bisnis perhotelan bukan perkara gampang. Dibutuhkan networking dengan jaringan yang luas, pemahaman mengenI service performace, sampai ranah digitalisasi agar bisa menyesuaikan dengan perkembangan jaman. Anggap saja aku sebagai salah satu koneksimu, Shu. Aku akan senang hati membantumu."


"Ah, mungkin sebagai pengurus hotel aku belum memiliki Man Power yang memadahi. Seberapapun nilai investasi yang aku peroleh tidak akan memberikan pengaruh yang signifikan terhadap perkembangan bisnis ini. Aku juga butuh seseorang yang memiliki kemampuan untuk membaca situasi. Apa kira-kira kamu mau menjadi salah satu pemegang saham utama di hotel?"


Bayu membulatkan matanya. Permintaan Shun menjadi angin segar untuk dirinya agar semakin dekat dengan tujuannya. Entah apa yang sudah merasuki pikiran Shu, sampai dia menawarkan Bayu untuk menjadi bagian dari Holly Hotel. Padahal, ia mengira hubunganny dengan Shu akan segera berakhir setelah malam itu.


"Apa kamu yakin dengan ucapanmu?"


"Ya, aku sangat yakin. Salah satu pamanku yang memegang sepuluh persen saham perusahaan berencana menarik investasinya karena ingin membangun bisnisnya sendiri. Kalau ini terjadi pasti akan berimbas pada nilai saham yang anjlok. Aku harap kamu bisa mengcovernya agar hotelku tetap stabil."


Bayu terdiam sebentar. "Berapa yang kamu butuhkan?"


"Seratus miliyar."


Bayu menelan ludah mendengar angka yang disebutkan Shu. Ternyata nilai investasi di hotel itu cukup tinggi. Seratus miliyar bukan angka yang sedikit.


"Kalau kamu tidak bisa membantu juga tidak apa-apa. Aku tahu itu bukan nominal yang kecil. Aku akan berusaha mencari dengan cara lain."


"Aku akan melakukannya."

__ADS_1


"Apa?" Shu ingin memastikan apa yang ia dengar.


"Aku akan berinvestasi di hotelmu."


Mata Shu langsung berbinar-binar. Ia mendatangi orang yang tepat untuk mendapatkan solusi dari permasalahannya. Ayahnya pasti akan bangga ia menemukan kekasih yang bisa diandalkan di saat-saat krisis.


"Ah... terima kasih, Sayang. I love you so much." Saking senangnya Shu memeluk erat tubuh Bayu dan mendaratkan ciuman di pipi lelaki penolongnya.


"Minggu depan, datanglah ke rapat pemegang saham. Aku akan mengenalkanmu kepada ayahku dan keluargaku yang lain."


"Sure."


"Em, sepertinya aku harus pergi. Masih ada pekerjaan di hotel yang perlu aku selesaikan."


"Apa aku perlu mengantarmu?"


Shu menggeleng, "Aku membawa mobil sendiri."


"Baiklah, kalau begitu hati-hati di jalan."


Bayu mencium pipi kakan dan kiri Shu kemudian mencium bibirnya sekilas sebelum melepas Shu keluar dari ruangannya.


Bayu menghel nafas setelah Shu keluar. Ia memikirkan lagi nominal seratus miliyar. Ada rasa sayang saja memberikan uang sebanyak itu untuk orang lain. Tapi, demi melancarkan rencananya, ia harus berbesar hati merelakan uangnya.


Sementara, Shu tampak bahagia setelah keluar dari ruangan Bayu. Dia memang dipusingkan oleh ayahnya mencari suntikan dana untuk hotel. Shu bangga memiliki pacar seperti Bayu, walaupun belum lama pacaran, tapi Bayu sangat royal padanya.


"Halo, ayah sudah tidak perlu khawatir lagi tentang hotel. Aku sudah menemukan calon investor bagi hotel kita." Shu langsung menelepon ayahnya dengan girang.


"Benarkah? Secepat itu dia yakin untuk berinvestasi di hotel kita yang sedang bermasalah?"


"Ya, tentu."


"Bagaimana caramu merayunya?"


"Aku tidak merayunya. Untuk apa aku harus lelah merayu lelaki, ayah. Dari wajahku saja semua lelaki pasti akan mudah jatuh cinta dan menuruti semua mauku."


"Hahaha.... anakku memang paling bisa diandalkan."


"Lelaki akan menjadi bodoh jika sudah jatuh cinta padaku."


Sementara, di sisi lain, Reni sibuk memperhatikan tingkah aneh wanita bersama Shuwan itu setelah keluar dari ruangan Pak Bayu. Gaya bicara dan gesturnya tampak seperti wanita nakal tidak seperti yang ia lihat saat di lobi. Reni merasa wanita itu mengalami gangguan kepribadian, mungkin berkepribadian ganda.


Dari cara bicaranya, wanita itu terkesan meremehkan Pak Bayu. Reni jadi geram sendiri. Wanita itu berpura-pura sok manis tapi saat suasana sepi sifat aslinya akan muncul.


"Dasar wanita bermuka dua!" umpat Reni dari balik tembok.

__ADS_1


__ADS_2