
Prita menyandarkan tubuhnya pada dinding dapur menunggu air mendidih untuk menyeduh teh. Ingatannya kembali ke masa lalu memutar peristiwa-peristiwa yang mengawali perbedaan perlakuan Mama Maya pada Daniel.
Flashback on
"Kalian baru menikah enam bulan, mama kira kamu bercanda Ayash, saat bilang Prita akan melahirkan."
Begitu kata-kata Mama Maya saat pertama kali melihat Daniel yang baru lahir. Mama marah besar karena tidak pernah mengabari tentang kehamilan Prita sekalipun. Ia dibuat terkejut karena baru enam bulan menikah Prita sudah melahirkan bayi laki-laki.
"Prita, kamu sedang hamil saat menikah dulu?"
"Sudahlah, Ma... seharusnya kita ikut bahagia mendapat kabar kelahiran cucu pertama kita." Papa Reonal mencoba menenangkan.
Prita yang masih kesakitan setelah melahirkan hanya bisa diam. Ia tak berani mengatakan apapun. Ayash juga menyuruhnya agar tetap diam, tak perlu mengatakan apa-apa karena Ayash yang akan menangani semuanya.
"Ya Tuhan, aku bisa gila." Maya memegangi kepalanya. "Prita, apa itu anak Ayash?"
"Ma, kenapa bertanya begitu? Dia memang anakku."
"Kamu... apa benar-benar anak mama? Apa mama pernah mengajarimu menjadi lelaki kurang ajar? Kalian bilang bisa menjaga kepercayaan mama, kan? Kenapa jadi seperti ini!"
"Maaf, Ma. Kami memang pernah tidur bersama sebelum menikah. Aku tak ingin mengecewakan Mama. Makanya aku tidak pernah mengatakan tentang kehamilan Prita."
Plak!
Satu tamparan keras Maya mendarat di pipi Ayash. "Mama kecewa sama kamu!"
"Ma, sudah! Semua sudah terjadi. Tidak ada gunanya marah-marah."
"Mereka menyembunyikan hal sebesar ini dari kita, Pa! Jangan-jangan ada hal lain lagi yang mereka sembunyikan!"
"Saat mereka buru-buru minta pindah ke Singapura juga mama sudah merasa aneh. Belum lagi peristiwa setelah hari pernikahan. Mereka berdua sampai masuk rumah sakit dalam kondisi luka-luka tapi tak memberi penjelasan apapun pada kita."
"Ayash, katakan semua pada mama. Katakan sejujurnya!"
"Ma, maafkan aku tidak bisa menjadi anak yang sempurna untukmu. Aku tak bisa memegang kepercayaanmu. Aku lelaki normal yang tidak bisa menahan diri saat tinggal bersama seorang wanita. Tolong jangan perpanjang masalah ini lagi."
Flashback off
Air telah mendidih. Lamunan Prita terhenti. Ia segera menyeduh dua cangkir teh yang telah ia siapkan. Tak lupa ia membawakan kue camilan yang tadi padi sempat ia buat.
Di ruang tengah tampak Maya sedang menemani Livy dan Dean bermain. Kedua anak itu tertawa-tawa melihat mainan mereka yang bisa bergerak.
"Silakan diminum, Pa, Ma." Prita meletakkan minuman dan camilan di meja depan Papa Reonal.
"Terima kasih, Prita."
"Bagaimana usaha Papa di Indonesia?"
__ADS_1
"Ya, seperti biasa membuat papa harus sering pergi ke luar kota. Aku harap kamu bisa membujuk Ayash agar mau pulang ke Indonesia. Papa sudah semakin tua, sudah waktunya anak-anak yang menggantikan."
"Iya, Pa. Nanti aku coba bicarakan dengan Ayash."
*****
Di lain tempat, Ayash sedang menemani Daniel duduk di taman kota sambil memakan es krim. Ia menyayangkan sikap mamanya yang belum juga berubah sejak kelahiran Daniel. Mamanya selalu curiga kalau Daniel bukan anaknya.
"Mama tidak percaya kalau Daniel anak kamu. Semakin besar dia semakin berbeda denganmu. Mama hafal sekali bagaimana waktu kecil, Dean mirip sekali denganmu. Tapi Daniel? Apa dia tertukar saat di rumah sakit?"
"Daniel anakku, Ma."
"Begitu terus yang kamu ucapkan. Kalian tidak ada serasi-serasinya menjadi pasangan ayah dan anak. Apa jangan-jangan Prita berhubungan dengan lelaki lain sebelum menikah denganmu?"
"Ma, berhentilah curiga. Aku sudah bahagia dengan keluargaku. Nanti kalau Mama seperti ini terus, keluargaku bisa hancur."
"Mama tidak akan diam sebelum kalian mengatakan yang sebenarnya. Kamu melarang mama menanyakan ini kepada Prita, jadi harus kamu yang menjawabnya."
"Ayash, apa dulu Prita hamil dengan lelaki lain dan memintamu untuk bertanggung jawab? Pernikahan itu untuk menutupi aib Prita, kan?"
"Aku menikahi Prita karena aku mencintainya dan Prita hamil juga karena aku. Mama dulu juga sangat menyayangi Prita, kan?"
"Dulu Prita memang anak yang baik. Mama suka padanya. Tapi melihat dia melahirkan anak yang tak memiliki kemiripan denganmu, rasa sayang mama jadi pudar. Mama jadi curiga kalau dia tidak sebaik yang mama kira. Mungkin saja dia suka bermain dengan lelaki lain di belakangmu."
"Ma, itu tidak benar. Prita tetap wanita baik seperti dulu. Makanya aku menikahinya. Please, berhentilah untuk berpikir macam-macam kepada keluargaku. Aku sudah bahagia dengan keluarga ini, Mama senang kan melihatku hidup bahagia?"
"Ya, tentu saja mama senang. Tapi mama tak akan bisa menerima anak itu jika dia benar-benar bukan anakmu."
Panggilan Daniel membuyarkan lamunan Ayash, "Ya? Kenapa sayang?"
"Papa melamun? Es krimnya sampai meleleh."
Ayash melihat es krim di tangannya yang mulai meleleh mengotori jarinya.
"Ah, iya. Aduh, memeleh es krim papa."
Daniel memberikan tisu kepada papanya.
"Terima kasih, sayang."
"Papa.... "
"Hem?"
"Apa aku anak nakal?"
"Tidak, Daniel anak papa yang paling baik."
__ADS_1
"Tapi kenapa Oma tidak suka Daniel?" tanyanya polos.
Ayash terdiam. Anak sekecil itu juga bisa merasakan perlakuan berbeda yang Maya lakukan. Apakah Daniel paham kalau neneknya tidak menyukainya? Mungkinkah Daniel termasuk anak yang peka?
"Kenapa kamu bilang begitu? Apa karena Oma lupa memberimu hadiah?"
Daniel menggeleng, "Oma tidak pernah memelukku seperti dia memeluk Dean dan Livy."
"Tadi kan Daniel sedang papa gendong, jadi Oma tidak bisa memeluk. Lagipula Oma juga mencium Daniel, kan? Oma sayang kepada semua cucunya."
Daniel menunduk, "Daniel rasa Oma benci Daniel."
"Tidak, tidak ada yang benci Daniel. Semua sayang Daniel."
"Terkadang memang orang dewasa lebih menyukai satu orang dari orang lainnya. Tapi bukan artinya dia benci. Contohnya papa. Anak kesayangan papa itu Daniel, tapi bukan berarti papa tidak menyayangi Dean dan Livy."
Mata Daniel berubah berbinar, "Daniel anak kesayangan Papa?"
"Sstt... ini rahasia kita berdua ya, jangan sampai Dean dan Livy tahu."
Daniel mengangguk-angguk.
"Kamu adalah anak kesayangan papa."
Daniel langsung memeluk tubuh papanya. Dia senang sekali menjadi anak kesayangan papanya.
"Apa sekarang kamu sudah tidak sedih lagi?"
"Tidak. Daniel kan sudah tahu Papa paling sayang dengan Daniel. Daniel senang."
"Kamu jangan sedih lagi karena Oma, ya."
Daniel mengangguk.
"Kamu harus ingat kalau ada papa yang sangat menyayangimu."
"Iya, Papa."
"Sebelum pulang, papa ingin membelikanmu mainan. Kamu mau papa belikan mainan apa?"
Daniel menyunggingkan senyum, "Apapun yang Papa belikan tidak masalah."
"Kalau begitu, sepertinya kita harus membeli lego gedung-gedung tinggi. Nanti kita main bareng, membangun kota dengan banyak gedung-gedung tinggi seperti perusahaan papa."
"Aku mau aku mau.... "
"Ayo kita ke toko mainan!"
__ADS_1
"Let's go!"
Ayash bernapas lega. Hanya itu caranya mengalihkan perasaan sedih Daniel terhadap perlakuan mamanya. Dia heran, bagaimana mamanya tak jatuh cinta pada anak sehebat Daniel. Daniel itu anak yang cerdas, baik, dan peka terhadap orang sekelilingnya. Dia bisa bertindak dewasa dan bijaksana dibandingkan anak-anak seusianya.