
"Please, aku benar-benar tidak bisa menahannya." rajuknya.
"Kamu mabuk."
"Aku hanya sedikit mabuk. Tapi, kesadaranku masih ada."
"Aku mau melakukannya kalau kita sudah menikah."
Bayu mendengus, "Aku bisa gila kalau harus terus menunggu sampai kita menikah. Bagaimana kalau besok kita menikah?"
"Kesepakatannya sampai Daniel pulang dari rumah sakit. Bukan waktu yang lama, kan?"
Bayu memejamkan mata sambil menggigit bibirnya. Ingin sekali dia langsung menyalurkan keinginannya pada wanita di bawahnya.
"Kamu tidak tahu selama apa aku menantikan hal seperti ini. Aku sudah tidak pernah tidur dengan wanita lain setelah terakhir bersamamu."
"Kamu harus tahu, aku impotensi karenamu. Aku stres kamu tinggal nikah. Puas mendengar ini?"
"Kamu benar-benar harus bertanggung jawab. Aku tidak akan membiarkanmu tidur sampai aku puas."
Prita membelalak mendengar pengakuan Bayu. Jadi benar kalau selama ini dia impotensi seperti yang dikatakan Shuwan. Lalu kenapa sekarang bisa bangun lagi? Sepertinya benda itu selalu membesar saat mereka sedang berduaan.
"Kamu jangan gila, ya. Kita belum menikah."
"Apa pentingnya menikah? Kita sudah pernah melakukannya berkali-kali."
"Aku tidak mau yang seperti itu terulang lagi."
"Lalu bagaimana? Punyaku sudah terlanjur bangun dan tidak akan bisa tidur jika tidak diurus."
Bayu semakin menatapnya dengan memburu. Prita merasa kali ini dia tidak akan bisa lari lagi. Bayu tidak akan melepaskannya.
"Mama.... Mama di sini?"
Tiba-tiba terdengar suara Daniel dari arah pintu. Suara itu memberi Prita kekuatan super untuk menyingkirkan Bayu dari atasnya.
"Iya, Sayang, mama di sini."
Daniel sudah berdiri di ambang pintu, "Kenapa Mama ninggalin Daniel?"
Suasana kamar remang-remang karena yang menyala hanya lampu tidur. Daniel tidak bisa melihat secara jelas ke dalam.
"Maaf, Sayang. Ada yang sedang mama bicarakan dengan Daddy Bayu. Ini mama sudah selesai, ayo kembali ke kamarmu."
Bayu menahan tangan Prita saat ia ingin beranjak pergi.
"Selesaikan dulu, baru pergi."
Bayu sepertinya memang sedang mabuk. Dia tidak akan bertingkah seperti itu jika tahu ada anaknya.
"Kamu jangan gila. Ada anakmu di depan pintu."
__ADS_1
"Hem."
"Mandi air dingin supaya pikiranmu ikut dingin. Dasar!"
Prita meninggalkannya begitu saja dan berjalan menghampiri Daniel. Bayu hanya bisa menghela nafas. Ia benar-benar perlu berendam air dingin.
*****
Pagi itu semua berkumpul di meja makan untuk menyantap sarapan. Seperti tadi malam, hidangan yang dipersiapkan begitu banyak hingga memenuhi meja makan. Entah mulai jam berapa para pelayan mempersiapkan itu semua.
"Setelah ini aku akan mengajak mereka pulang." ucap Bayu.
"Jangan dulu, ada yang belum aku bicarakan denganmu."
"Daniel masih harus menjalani pemeriksaan di rumah sakit, Ayah jangan gila!"
"Ben yang akan mengantar Daniel dan Prita kembali ke rumah sakit. Sementara kamu dan Alex tetap di sini."
Alex sudah merasa tidak enak mendengar hal itu. Tapi untunglah dia masih bersama dengan bosnya.
Bayu hanya geleng-geleng kepala dengan kemauan ayahnya. Lelaki tua itu pasti menginginkan sesuatu darinya. Tidak mungkin dia memanggilnya jika tidak untuk melakukan sesuatu.
"Alex, apa kamu sudah meneruskan sekolah selama bersama Bayu?"
Alex menggeleng. Samuel memang pernah menyuruhnya untuk kembali bersekolah. Namun, sebelum itu terjadi, lebih dulu terjadi perselisihan antara ayah dan anak yang menyebabkan ia akhirnya memilih bersama Bayu. Dan Bayu tidak pernah memaksanya untuk sekolah karena pada dasarnya dia tak menyukai sekolah.
"Seharusnya kamu lebih memerhatikan pendidikan anak buahmu. Alex itu anak yang cerdas, kenapa tidak kamu masukkan ke sekolahan?"
Acara makan pagi terus berlanjut dengan diselingi beberapa percakapan ringan. Hingga akhirnya mereka semua menyelesaikan sarapannya.
Waktu sudah menunjukkan pukul delapan pagi. Prita dan Daniel sudah siap untuk diantar kembali ke rumah sakit. Mereka akan diantar oleh Ben.
"Ben, antarkan mereka berdua dengan selamat. Kalau tidak, aku akan menghabisimu!" ancam Bayu.
"Anda bisa mempercayakannya kepada saya." Ben menyunggingkan senyum.
"Kalau sudah sampai, jangan lupa hubungi aku." Bayu mencium pipi kanan dan kiri Prita sebelum mengijinkannya masuk ke dalam mobil.
Saat ia ingin memeluk Daniel, anak itu berlari dan sembunyi di balik Prita. Daniel sepertinya memang sedang membencinya. Dia tidak mau disentuh olehnya sejak kemarin.
"Apa aku membuat kesalahan?" tanyanya pada Prita.
"Kenapa?"
"Daniel seperti menghindariku."
"Ah, itu.... Aku juga tidak tahu. Nanti saja kamu tanyakan sendiri padanya. Kami harus segera kembali ke rumah sakit."
Prita mengakhiri percakapannya dan masuk ke dalam mobil audi hitam yang semalam juga digunakan untuk menjemputnya dari rumah sakit.
Setelah mobil yang membawa Prita pergi, Bayu kembali masuk ke dalam mansion. Di ruang kerja, ayahnya sudah duduk bersama Alex. Dia ikut bergabung di sana.
__ADS_1
"Apa mau ayah sebenarnya?" Bayu tak mau berbasa basi. Dia tahu, ada yang ayahnya inginkan darinya.
"Hem, kenapa kamu tiba-tiba mengambil kesimpulan seperti itu?"
"Ayah menjemput paksa Prita dan Daniel untuk mengancamku, kan? Kalau sewaktu-waktu aku menentangmu, mereka yang akan menjadi incaranmu."
Samuel tertawa, Bayu memang pandai membaca niat yang ada di otaknya.
"Mana mungkin aku seperti itu, mereka adalah keluargaku. Aku tak akan menyakiti mereka."
"Kapan ayah menganggap orang lain sebagai keluarga? Aku yang anak kandungmu saja tega ayah jadikan senjata menghadapi musuh-musuhmu. Memangnya ayah pernah peduli aku mau hidup atau mati?"
Samuel merasa tidak bisa berbasa-basi lagi kepada Bayu. Mereka sudah saling mengerti tabiat masing-masing.
"Oke, akan aku katakan dengan jujur apa yang aku ingin kamu lakukan."
"Bantu selundupkan ganja dari Kota A ke Kota J."
"Hahaha.... " Bayu tertawa terbahak-bahak. Sifat asli ayahnya akhirnya keluar juga. Sepertinya dia tidak bisa berbisnis jika tidak menggunakan anaknya sebagai alat. "Aku tidak mau melakukannya." Bayu sudah bertekad untuk meninggalkan dunia itu. Ternyata ayahnya masih juga betah menjadi bandar narkoba.
Samuel terdiam sejenak mendengarkan anaknya menertawakannya, "Kamu pikir darimana donor sumsum tulang belakang yang anakmu peroleh?"
Giliran Bayu yang terdiam mendengar masalah donor yang dibawa-bawa.
"Pasti Fredi tidak berani mengatakan yang sebenarnya." tebak Samuel.
"Kamu pikir dia bisa mendapatkannya tanpa bantuanku?"
"Rumah sakit dan dokter yang merawat Daniel kamu pikir siapa yang mengaturnya kalau bukan ayahmu yang sudah tua ini."
"Kenapa ayah ikut campur dengan urusanku?" Bayu tampak marah. Ia harus memarahi Fredi untuk hal ini.
"Daniel juga cucuku, tentunya aku juga berharap yang terbaik untuknya."
"Seharusnya donor itu untuk orang lain, tapi aku merebutnya. Orang yang seharusnya mendapatkan donor itu sekarang sudah mati, sedangkan anakmu masih bisa hidup."
"Jika kamu bersyukur karena hal itu, seharusnya kali ini kamu akan mau membantuku. Apalagi client kali ini juga sudah membantu mendapatkan donor itu."
"Berapa?"
"Berapa yang harus aku bayar untuk mengganti usahamu mendapatkan donor itu? Apa cukup dengan 1 miliyar? 10 miliyar? Sebutkan saja." Bayu merasa terhina jika harus dituntut balas budi. Itu sesuatu yang hampir tidak ada dalam kamusnya.
"Ini bukan sekedar masalah uang, tapi tentang menjaga hubungan baik dengan client maupun mitra bisnis."
"Silakan kamu pikirkan ulang. Lagipula ini bukan tugas yang sulit. Kamu sudah sering melakukannya dengan baik."
"Kamu boleh pergi dan akan aku tunggu keputusanmu."
"Jika ceritaku masih belum bisa menggerakkanmu mengambil keputusan, mungkin aku harus menahan wanita itu dan anaknya supaya kamu lebih bersemangat."
Bayu mengepalkan tangannya. Saat ini, ayahnya tidak memberi pilihan. Dia harus mengikuti kemauan ayahnya, suka atau tidak suka.
__ADS_1