
Bayu menyuruh Fredi datang ke kantornya. Bukan tanpa alasan, pasti ada suatu tugas besar dan penting jika Bayu sudah memanggil pentolan dari Red Wine itu.
Semua berkaitan dengan permintaan Prita. Katanya, Prita mau menikah dengannya jika dia bisa menyembuhkan Daniel.
"Fred, tolong carikan donor sumsum tulang belakang yang cocok dengan anakku. Carikan juga rumah sakit dan dokter terbaik dimanapun dan berapapun biayanya tidak jadi masalah."
Bayu memberikan map berisi informasi mengenai darah dan DNA serta perkembangan riwayat pengobatan leukemia yang telah dijalani Daniel kepada Fredi. Selain Alex, Fredi memang kaki tangannya yang bisa diandalkan.
"Kalau susah mendapatkannya, cari juga di black market. Datangi tempat lelang atau apapun juga yang berkaitan dengan itu. Hubungi orang-orang yang biasa berkecimpung di sana. Jangan sampai tertipu. Kamu tau kan, siapa saja yang harus kamu hubungi?"
"Saya mengerti, Tuan."
Terkadang Fredi juga kangen masa-masa bersantai, saat tak ada tugas apapun dari bosnya. Akhir-akhir ini dia dan teman-temannya sangat lelah menghadapi masalah yang diciptakan musuh bosnya secara bertubi-tubi. Setelah kasus di club terungkap, berganti lagi dengan kasus penembakan yang dialami bosnya. Sekarang, ditambah lagi masalah mencarikan donor sumsum tulang belakang yang mirip dengan milik anak bosnya.
"Aku mau secepatnya ada. Pokoknya, anakku harus segera mendapatkan donor itu bagaimanapun caranya."
Kata-kata 'secepatnya' itu yang menjadi momok menakutkan baginya. Bayu pasti akan marah kalau dia tidak segera menyelesaikan tugasnya dengan baik.
"Baik, Tuan."
"Untuk orang yang menembakku apa kamu bisa mengira-ngira siapa pelakunya?"
"Belum bisa dipastikan, Tuan. Kami masih menyelidiki."
"Kalau begitu kamu boleh pergi."
Bayu menggigit jarinya. Ia berpikir keras dengan perubahan sikap Prita yang tiba-tiba meminta bantuannya. Jika dilihat dari wataknya, sepertinya sampai matipun dia seharusnya tidak akan pernah memohon-mohon padanya. Wanita itu sangat keras kepala. Meskipun salah, dia tetap akan mempertahankan egonya.
Apa karena mantan suaminya? Awal-awal hubungan mereka juga tetap baik. Perceraian sepertinya hanya formalitas karena mereka tetap saja dekat layaknya masih suami istri. Ketika mengetahui suaminya menikah lagi, sikapnya juga masih baik di depannya meskipun di belakang menangis tersedu-sedu. Kepada istri baru mantan suaminya juga sikapnya biasa saja.
Kemarin saat mengantarnya ke rumah sakit, sikapnya menjadi dingin. Pasti ada masalah antara Prita dan mantan suaminya. Entah apa masalahnya jangan harap Prita akan bercerita padanya.
Seharusnya dia tak perlu berpikir. Prita datang sendiri padanya, meminta bantuannya, dan mau menikah dengannya jika Daniel bisa sembuh. Itu kesempatan yang harus ia perjuangkan. Artinya, Prita telah memberinya kesempatan besar. Mungkin dia tau hanya Bayu yang bisa membantunya.
__ADS_1
Klek
Pintu ruangannya terbuka. Shuwan muncul dari balik pintu dengan penampilannya yang selalu menawan. Bayu menepuk dahinya sendiri, ia lupa menyelesaikan urusannya dengan wanita yang satu itu.
"Halo, Sayang." Shuwan langsung melabuhkan pelukan pada Bayu yang masih enggan beranjak dari kursi kerjanya.
"Sudah aku bilang, Shu. Kalau mau datang beri tahu aku dulu."
"Ya, aku suka lupa soal itu. Maafkan aku."
"Kenapa datang kemari? Ada yang kamu ingin minta dariku?"
"Hem, apa di matamu aku selalu meminta-minta sesuatu saat menemuimu?"
"Tidak juga. Tapi, jika ada yang kamu inginkan mungkin aku bisa memberikannya."
"Bagaimana kalau aku minta waktumu? Aku mau kita pergi jalan-jalan." Shuwan mempererat pelukannya.
"Bukannya Moreno sudah kembali dari luar negeri? Kamu tidak menghabiskan waktu dengannya?"
Shuwan manyun, "Kenapa membahas Moreno? Aku jadi merasa seperti wanita tidak tau diri di depanmu."
Bayu tersenyum smirk. Shuwan di matanya memang seperti itu. Dia kira dirinya bersikap biasa karena mencintainya? Bayu bahkan tak pernah peduli dengannya sedetikpun. Mau dia bersama Moreno selamanya juga bukan urusannya. Dia mendekati Shuwan hanya sebatas untuk menghadapi ayahnya, Zetian Yan.
"Shuwan, ada yang ini aku katakan padamu."
"Apa?"
"Mulai sekarang, jangan dekati aku lagi."
Shuwan ternganga. Dia tak mengerti maksud Bayu. "Maksudnya?"
"Aku tidak mau berperan lagi menjadi pacar yang baik untukmu."
__ADS_1
"Berperan?" tanya Shuwan. Apa memang selama ini Bayu hanya berpura-pura baik padanya?
"Masalah rumor itu sudah selesai, kan? Aku ingin mengakhirinya. Aku ingin hubungan kita juga berakhir."
Shuwan menggelengkan kepala, "Kamu jangan bercanda, Bayu. Hubungan kita selama ini baik-baik saja, kan?"
Bayu melayangkan tatapan pada Shuwan, "Kamu pikir ada lelaki yang akan tetap bertahan setelah melihat wanitanya dinaiki lelaki lain di atas ranjang? Itu konyol." Bayu terkekeh.
Tubuh Shuwan terasa gemetar. Ia kira Bayu lelaki langka yang benar-benar berhati malaikat. Saat ia ketahuan tidur bersama Moreno, katanya Bayu bisa memaklumi kekhilafannya. Dia menyadari kekurangannya dan memaafkan perbuatannya. Bahkan, katanya jika dia tetap berhubungan dengan Moreno itu tak jadi masalah asalkan cintanya tetap untuk Bayu.
"Aku sudah membantumu mendapatkan hotel ayahku. Kamu pikir bisa melakukannya jika tanpa bantuanku?" bibir Shuwan sampai bergetar mengucapkan kata-kata itu.
Seluruh saham yang ia miliki, beberapa kenalan yang memiliki saham di Holly Hotel sudah Shuwan perkenalkan waktu itu kepada Bayu untuk mau mendukungnya mengakuisisi hotel milik ayahnya sendiri. Seakan ia tak percaya, setelah Bayu mendapatkan semuanya, ia tega membuangnya begitu saja.
Bayu menendang tepi mejanya hingga kursinya mundur ke belakang. Ia naikkan kedua kakinya di atas meja sambil memperhatikan Shuwan yang terlihat sangat kesal.
"Kamu mau hitung-hitungan bantuan? Memangnya kamu tidak pernah mengambil manfaat dariku? Kamu pikir uang ratusan miliyar yang pernah aku berikan padamu gampang cara mendapatkannya? Lalu siapa yang membantumu membersihkan rumor tentang perselingkuhanmu dengan Moreno kalau bukan aku?"
"Kamu anggap aku apa? Pacar cadangan yang bisa didatangi saat dibutuhkan? Bukannya memang sebenarnya kamu hanya mencintai Moreno, kan? Aku juga tau kalian sudah sering tidur bersama."
"Bayu!" geram Shuwan.
"Kalau kamu tidak terima, akan aku munculkan kembali rumor itu."
"Lagipula Holly Hotel jatuh juga karena kesalahanmu sendiri. Siapa yang menciptakan rumor sampai membuat para pemegang saham kalang kabut?"
Shuwan tidak bisa berkata-kata. Dia memang bersalah. Tapi perbuatan Bayu juga tidak bisa dibenarkan. Shuwan juga sudah banyak berkorban demi Bayu.
"Aku belum bisa menerima ini, Bayu. Aku akan membuatmu memaafkanku dan meminta kembali padaku."
Setelah mengucapkan hal itu, Shuwan lekas keluar dari ruangannya.
Bayu bernapas lega. Setidaknya wanita itu tidak akan mengganggunya lagi. Kalau Prita sampai tau ia masih berhubungan dengan Shuwan, mungkin juga dia akan marah. Ia tidak mau kalau hubungan yang sudah sangat dekat itu dihancurkan oleh hal-hal tidak penting.
__ADS_1