
"Selamat siang."
Seorang lelaki berdiri di depan gerbang sekolah. Penampilannya cukup rapi, memakai kemeja warna biru muda dan celana bahan warna hitam. Dilehernya tergantung kartu identitas yang menunjukkan bahwa dia seorang karyawan perusahaan yang tak jauh dari area itu.
"Iya, ada yang bisa saya bantu?" pak satpam membukakan gerbang agar bisa berbicara dengan orang itu.
"Ini, saya mau bertemu dengan ibu kepala sekolah. Ada titipan untuk Beliau." lelaki itu menunjukkan kantong berisi kotak hadiah di tangannya.
"Oh, Beliau ada di ruangannya. Mari, saya antar ke ruangan Beliau." ucap pak satpam dengan sopan.
"Tidak perlu, Pak. Tolong panggilkan Beliau saja. Saya akan menunggu di ruangan Anda."
"Baik, kalau begitu silakan duduk dulu biar saya panggilkan Ibu Kepala sekolah."
Satpam itu kemudian berlari menuju ruang kepala sekolah.
Sementara, lelaki tadi duduk di ruangan satpam bersama salah seorang rekan satpam yang tadi.
"Dari perusahaan depan, ya, Pak?" tanya si satpam itu.
"Iya."
"Ada urusan apa ingin bertemu dengan ibu kepala sekolah?"
"Bos saya menyuruh memberikan ini kepada Beliau. Katanya oleh-oleh dari luar negeri."
"Oh, begitu."
"Ini saya juga punya minuman dikasih bos saya. Katanya sih bisa bikin badan segar. Bapak mau coba?" Lelaki itu memberikan sebotol minuman kepada satpam.
"Wah, terima kasih, ya. Ini benar-benar minuman dari luar negeri. Mahal ini." gumannya.
Satpam itu langsung membuka botol dan meneguk isinya hingga tersisa setengah.
"Bagaimana rasanya, Pak?"
"Enak sekali. Mantap! Apalagi gratis."
"Hahaha.... Bapak bisa saja."
"Anu, saya ke toilet dulu ya, sebentar." pamit satpam itu.
"Iya, silakan, Pak."
Setelah suasana sepi, mata lelaki itu berkelana ke arah kerumunan anak-anak yang sedang bermain. Tampak beberapa guru ikut mengawasi mereka bermain. Lelaki itu mencari-cari anak yang diincarnya. Dia mengincar Dean yang sedang bermain pasir di pojokan bersama dua orang temannya.
Tanpa berlama-lama, lelaki itu mendekati Dean.
"Halo.... " sapanya.
"Siapa kamu?" Dean langsung waspada ketika ada orang asing mendekatinya.
"Saya membawakan mainan dari Pak Bayu. Katanya untuk kamu." lelaki itu mengeluarkan mainan robot-robotan dari dalam kantong.
"Kamu sering diberi mainan kan sama Pak Bayu?"
Dean mengangguk-angguk.
"Kata Pak Bayu, Dean disuruh datang ke kantor bareng om, nanti diberi mainan yang lebih banyak. Apa kamu mau ikut om?"
Dean mengangguk-angguk.
__ADS_1
Lelaki itu mengulurkan tangannya dan disambut oleh Dean. Anak itu terlalu kecil untuk memahaki situasi jika saat ini dia dalam bahaya.
"Dean, kamu mau kemana?" tanya salah seorang temannya.
"Aku mau ke tempat Uncle Yu. Dia akan memberiku banyak mainan."
"Kamu harus bilang dulu sama bu guru sebelum pergi."
"Om sudah ijin ke bu guru tadi. Kamu jangan khawatir."
"Sudah ijin." ucap Dean.
"Kalau begitu hati-hati, ya."
"Iya."
Dean menuruti lelaki itu berlajan keluar gerbang. Lelaki itu menyeringai, bisa membawa anak Bayu keluar dari sekolahan dengan mudah.
*****
Bayu menatap langit Kota J dari balik jendela kaca apartemen yang baru dibelinya. Tempat itu sengaja ia pilih karena bersebelahan dengan rumah sakit tempat Daniel dirawat.
Kota itu sudah banyak berubah. Sekian lama ia tinggal, makin banyak gedung-gedung pencakar langit yang berdiri di pusat kota. Kemacetan masih menjadi masalah utama yang tak pernah biaa terselesaikan sejak dulu. Asap pabrik yang membumbung membuat kota diselimuti kabut. Udara di sana lebih buruk kualitasnya jika dibandingkan dengan Kota S.
Rencananya operasi Daniel akan segera dilaksanakan besok malam. Dokter Hansen tidak mengalami kendala bekerjasama dengan dokter-dokter lain yang nantinya akan menangani Daniel. Dokter Hansen menjadi orang yang ikut senang mendengar Daniel bisa menemukan donor yang cocok. Karena dia sendiri juga sudah menghubungi sana-sini untuk mencari donor yang cocok tidak kunjung mendapatkannya. Mencari donor sumsum tulang belakang lebih sulit jika dibandingkan dengan mencari donor darah.
Kondisi Daniel saat perawatan sebelumnya sangat baik. Tingkat kecocokan donor yang akan ia terima sekitar 60%. Hansen optimis nantinya operasi akan berjalan dengan baik dan sukses.
"Kamu belum siap-siap? Katanya mau ke rumah sakit sekarang?"
Prita yang baru keluar dari kamarnya sembari menggendong Livy kaget karena Bayu belum mengganti pakaiannya sama sekali. Padahal, tadi dia mendesaknya untuk cepat bersiap-siap, tapi dia sendiri malah seperti orang sedang galau.
"Ini ada Livy, kamu lupa? Jangan berbuat yang aneh-aneh."
Tatapan mata Bayu seperti orang yang galau dan stres.
"Alex.... " panggil Bayu.
"Iya, Bos." Alex keluar dari arah kamarnya dengan tergesa-gesa setelah mendengar Bayu memanggilnya.
"Ajak Livy main sebentar. Aku ada perlu dengan Prita."
Alex dan Prita sama-sama heran mendengar perintah itu. Urusan apa sampai Livy harus dibawa Alex?
"Livy, ikut Kak Alex, Yuk!" ucap Alex.
Entah mengapa Livy langsung mau diajak Alex. Prita juga heran. Mungkin Livy sudah tau cowok ganteng, makanya gampang banget waktu Alex mengajaknya. Biasanya juga dia susah kalau diajak sembarang orang.
Setelah Livy digendong Alex, Bayu lantas menarik tangan Prita dan membawanya ke dalam kamar. Prita sudah mendelik ketika Bayu pakai acara mengunci pintu kamar segala. Pikirannya sudah yang tidak-tidak.
Apalagi ketika Bayu tiba-tiba melabuhkan pelukan padanya.
"Ih, kamu apa-apaan sih? Masih ingat kan dengan kesepakatan kita? Jangan macam-macam ya, aku nggak suka." ucap Prita sembari berusaha melepaskan pelukan Bayu.
Tangan kokohnya itu tetap bergeming, tidak bergerak sedikitpun.
"Bayu.... " sekali lagi Prita mengeluh.
"Biar seperti ini dulu. Aku janji tidak akan kelewatan."
Akhirnya Prita membiarkan posisi mereka tetap dalam kondisi berpelukan sambil berdiri. Ia tidak tau sebenarnya apa yang Bayu rasakan. Tapi, sejak tiba di Kota J lelaki itu memang jadi lebih diam.
__ADS_1
Tiba-tiba Bayu menganggat tubuhnya. Ia sampai membelalakkan mata. Apalagi ketika Bayu menidurkannya di atas kasur dengan posisi dia berada di bawah Bayu dengan kedua tangan yang mengungkung tubuhnya. Ia tidak bisa bergerak. Sepertinya dia tidak bisa memercayai kata-kata Bayu sebelumnya.
"Mau apa?"
Bayu tak menjawabnya. Pandangan matanya menampilkan tatapan sayu dan penuh kegelisahan. Tanpa berkata-kata, ia mendaratkan bibirnya di atas bibir Prita. Awalnya ia memberikan kecupan kecupan kecil. Semakin lama, ia mulai menghisap dan mel*mat bibir atas dan bibir bawah secara bergantian.
Tak bisa dipungkiri jika ciuman yang Bayu berikan mampu membangkitkan gairahnya. Perlahan Prita itu membalas ciuman yang ia terima. Lidah mereka saling bertaut, menghasilkan bunyi decapan dan ******* yang memenuhi seluruh ruangan. Seakan keduanya tak mau keintiman mereka berakhir.
Bayu baru mau melepaskan ciumannya ketika Prita hampir kehabisan nafas. Ekspresi wajah wanita yang ada di hadapannya terlihat sangat seksi. Mukanya memerah dan nafasnya masih tersengal sengal karena ulahnya. Ia sendiri justru tersenyum puas melihat semua itu.
"Thanks." ucapnya singkat.
Prita masih tidak mengerti, mengapa Bayu menariknya ke kamar, mengajak berpelukan hingga berciuman. Tapi, Bayu yang nakal sudah kembali. Muka murung dan sendunya yang tadi entah sudah hilang kemana.
Bayu mendudukkan Prita di atas ranjang. Ia kembali memeluk hangat wanita itu, seolah dengan memeluknya bisa menghilangkan rasa gelisahnya.
"Apa kamu tau, kenapa aku tiba-tiba memperlakukanmu seperti ini?"
"Tidak."
"Aku sebenarnya sedang kacau."
Prita menaikkan sebelah alisnya. Ia tak tau jika Bayu juga bisa merasakan hal semacam itu.
"Kenapa? Apa kamu tidak suka kembali ke kota ini."
"Iya." jawabnya singkat.
"Kembali ke sini membuatku mengingat kejadian-kejadian tidak menyenangkan di masa lalu."
"Aku lebih suka di Kota S, tempat pertama kita bertemu."
"Kamu tau apa yang terparah saat pertama kali tiba di kota ini?"
"Apa?"
"Aku ingin membunuh ayahku sendiri."
Prita menelan ludah. Bagaimana bisa dia mau membunuh ayahnya sendiri?
"Kenapa?"
"Karena dia yang menghalangiku untuk mendapatkanmu. Dia membuat jalan hidupku lebih susah dan menjadi semakin jauh darimu. Aku ingin ayahku sendiri mati."
"Tapi, sekarang kamu sudah bersamaku."
"Apa kamu bisa menjamin kita tetap bersama? Di sini ayahku punya banyak orang. Dia bisa melakukan apapun padamu atau padaku. Atau bahkan Daniel. Jujur aku takut hal itu terjadi."
"Aku pernah bertemu ayahmu. Aku rasa dia tidak seburuk itu."
"Kamu tidak pernah hidup lama dengannya. Kamu tidak akan mengerti sifat aslinya."
"Pokoknya, selama di sini, jangan pergi sendirian tanpa aku atau anak buahku."
"Iya, aku tau."
"Ah, sudahlah! Lebih baik kita ke rumah sakit sekarang." ajak Bayu.
"Kamu tidak mengganti baju dulu?"
"Tidak perlu."
__ADS_1