
"Om Zetian tidak datang, Pa?" tanya seorang wanita muda kepada ayahnya.
"Kamu itu bodoh atau bagaimana? Dia tidak mungkin datang."
"Tapi ini pemakaman putrinya sendiri."
"Dia datangpun tidak akan membuat Shuwan hidup lagi. Zetian pasti akan lebih memilih tetap bersembunyi daripada datang ke sini dengan resiko ditangkap polisi."
"Aku kasian dengan Kak Shuwan."
"Untuk apa kasihan? Dia mati itu sudah jalan yang paling baik daripada hidup tapi membuat malu keluarga besarnya."
"Perkataan Papa itu sangat jahat. Seharusnya kita merasa bersalah selama ini tidak mau membantu Kak Shuwan. Setidaknya kita harus menyelidiki penyebab kematiannya, agar dia bisa tenang di alam sana."
"Untuk apa? Itu hanya akan membuang-buang waktu saja."
"Biarlah semua orang segera lupa dengannya, kita tidak perlu memperpanjang sesuatu yang tidak ada gunanya. Shuwan tidak akan hidup lagi. Kalau bisa berita-berita buruk tentangnya juga segera hilang dan tidak mengaitkannya lagi dengan keluarga besar kita."
Tak jauh dari kedua ayah dan anak itu, ada Raeka yang berpakaian serba hitam, ikut berdiri di depan ruangan yang akan digunakan untuk upacara kremasi Shuwan sembari menggendong bayinya. Ia sangat miris mendengarkan ucapan kerabat Shuwan yang terdengar sangat jahat. Padahal, Shuwan telah meninggal dan mereka masih memperlakukannya dengan buruk.
Raeka membawa anak itu untuk melihat kremasi ibu yang telah melahirkan anak itu, sebagai tanda penghormatan sekaligus perpisahan. Raeka akan menghapus silsilah anak itu yang sebenarnya, ia tak akan menyebutkan nama Shuwan, hingga suatu saat anak itu beranjak dewasa.
Raeka menyaksikan peti jenazah dengan foto Shuwan di depannya dikelilingi oleh keluarga, kerabat, dan para sahabat Shuwan yang turut berduka cita. Ada seorang yang merapalkan doa di bagian paling depan sekaligus memberikan ceramah sebelum peti jenazah dimasukkan ke dalam ruang oven kremasi bersuhu hampir seribu derajat celsius yang mampu melebur anggota tubuh manusia hingga menjadi abu.
Proses kremasi memakan waktu sekitar dua jam lamanya. Setelah selesai, abu jenazah Shuwan dimasukkan ke dalam sebuah guci putih berbahan marmer. Guci tersebut tidak dibawa pulang oleh pihak keluarga, melainkan disimpan dalam rumah abu yang juga terdapat di tempat krematorium itu.
Abu jenazah Shuwan disimpan pada salah satu lemari kaca yang berada di rumah abu bersama dengan abu-abu dari jenazah lain yang sebelumnya telah ada. Bagi keluarga yang ingin berziarah bisa datang kapan saja untuk mengirimkan doa di depan abu jenazah di sana.
Raeka sengaja menunggu hingga pihak keluarga Shuwan telah pergi dari sana. Ia ingin membawa anak yang dibawanya mendekat pada abu jenazah milik Shuwan.
"Shuwan, aku datang bersama anakmu. Dia sangat lucu dan cantik sepertiku, tidak sepertimu, karena kamu lebih jelek dariku."
Air mata Raeka mulai menetes ketika berbicara di depan abu jenazah Shuwan.
"Jangan menyesal, ya.... Anak cantik ini akan menjadi anakku. Dia akan memanggilku mama.... dan dia tidak akan mengenalimu. Aku tidak akan menyebut namamu sekalipun di depannya, hanya aku yang akan menjadi mamanya."
__ADS_1
"Dia akan aku besarkan dengan sangat baik, sampai dia mengira aku yang telah melahirkannya ke dunia ini."
"Kamu tenang di sana, ya.... Dan jangan mengkhawatirkan anak ini. Karena ada aku yang pasti akan menjaganya."
Raeka mengusap air matanya. Ia memandangi bayi dalam gendongannya yang masih tertidur. Kasiha bayi itu, dia tidak akan tahu siapa wanita yang telah melahirkannya ke dunia.
Raeka meletakkan setangkai bunga krisan putih di dalam lemari abu Shuwan. Bunga yang melambangkan kasih sayang serta cinta dari seorang sahabat.
Dengan perasaan yang masih sedih, Raeka berbalik badan, membawa bayinya melangkah pergi meninggalkan tempat peristirahatan terakhir Shuwan. Mulai hari ini, bayi itu akan memiliki kehidupan baru, sebagai putri dari keluarga Mahesha dan keluarga Wijaya.
Irgi memeluk Raeka ketika istrinya itu telah kembali ke area parkiran. Ia tahu, saat ini istrinya sedang bersedih. Dibukakannya pintu mobil agar Raeka bisa dengan mudah masuk ke dalam. Sementara, ia memutari mobil lalu masuk dan duduk di belakang kursi kemudi.
"Setelah ini kita langsung pulang ke rumah dan langsung istirahat, ya."
Raeka mengangguk dengan saran yang Irgi berikan.
"Kamu harus langsung istirahat. Akhir-akhir ini kan kamu sering begadang semenjak ada bayi ini."
Meskipun dibantu dua orang baby sitter, tapi Raeka tetap ikut mengurusi bayi itu. Dia tampak senang dengan kehadiran sang bayi, sampai waktu tidurnya ikut berkurang.
"Hm.... "
"Apa kamu juga bisa menyayangi anak ini?"
Irgi melirik sekilas ke arah Raeka lalu kembali fokus pada kemudinya. Dia merasa aneh dengan pertanyaan istrinya.
"Kenapa kamu bertanya seperti itu, Sayang?"
"Dia bukan anak kita."
"Bukankah dia sudah menjadi anak kita?"
"Maksudku, dia bukan anak yang aku lahirkan dari rahimku sendiri."
"Lalu apa masalahnya? Kalau kamu sudah memutuskan untuk menyayanginya sebagai anakmu, berarti dia juga akan menjadi anakku."
__ADS_1
Raeka tersenyum senang mendengar jawaban dari suaminya, "Sayang.... "
"Hmm.... "
"Maaf ya, aku belum bisa mengandung anakmu."
"Kenapa harus minta maaf? Aku tidak pernah menganggap hal itu sebagai sesuatu yang salam."
"Aku menikah denganmu karena aku mencintaimu, tidak ada alasan yang lain."
"Bagiku, anak hanyalah bonus. Aku tetap merasa bahagia karena bersama denganmu."
"Apa ada dari pihak keluargaku yang memaksamu untuk cepat hamil? Siapa yang memaksamu untuk cepat hamil?"
"Tidak ada, Sayang.... "
"Kalau ada, bilang saja siapa orangnya. Biar aku yang akan memarahinya. Tidak ada yang boleh membuat istriku bersedih hati."
Raeka tertawa kecil mendengarkan suaminya akan membelanya. "Tidak, Sayang.... Tidak ada. Sekarang juga aku merasa sangat bahagia bisa merasakan repotnya mengurusi bayi tanpa aku harus bersusah payah mengandungnya." Raeka mencium pipi mungil bayi itu.
"Lakukan apa yang bisa membuatmu bahagia, Sayang. Tidak perlu mendengarkan perkataan orang yang bisa menyakiti hatimu."
"Iya.... "
*****
Bayu menikmati ritual mandinya dengan berendam di dalam bath tube berisi air hangat. Setelah seharian berkutat dengan pekerjaan, mulai dari mengurusi dokumen-dokumen penting perusahaan, hingga mengunjungi klab-klab miliknya. Akhirnya jam sembilan malam dia bisa pulang dan menikmati kesegaran air yang membuat tubunya rileks.
Air mandi yang ia gunakan tingkat kehangatannya pas. Ada aroma sabun yang wanginya enak dan membuatnya betah berlama-lama berendam di sana. Prita, istri tercintanya yang telah menyiapkan semua itu ketika ia baru pulang kerja.
Setelah dirasa tubuhnya segar, Bayu bangkit dari bath tube lalu membilas sisa-sisa sabun dari tubunnya. Ia ambil bathrobe yang tergantung pada sisi washtafel untuk menutupi tubuhnya.
Srek!
Pintu kamar mandi terbuka. Bayu langsung berhadapan dengan ruangan walk in closet. Bukan termpat itu yang membuatnya terpaku, namun wanita yang ada di sana yang mampu menjadikannya beku di tempat.
__ADS_1
Prita berdiri di sana, di depan cermin sembari mengenakan lingerie merah yang ia ingat pernah diberikannya saat hari pernikahan mereka.