ANTARA CEO DAN MAFIA 2

ANTARA CEO DAN MAFIA 2
Galau


__ADS_3

Bayu termenung di atas ranjangnya. Beberapa botol alkohol kosong berserakan setelah isinya ia habiskan. Bayu mencoba untuk mabuk agar bisa melupakan masalahnya.


Bertemu Prita membangkitkan serpihan-serpihan rindu yang telah lama hilang. Seharusnya ia membenci Prita tapi kenyataan berkata sebaliknya. Dia masih menginginkannya. Ingin sekali ia melabuhkan pelukan kepada wanita yang setiap hari ia rindukan. Mengingat wanita itu kini telah memiliki suami, ia sekuat tenaga menahan diri.


Bayu membatasi kontak mata saat berjumpa dengan Prita. Sikapnya terkesan dingin dan kaku untuk menutupi kegugupannya. Ya, ia bagaikan lelaki yang kembali merasakan jatuh cinta. Sungguh memalukan jika mengatakan dengan jujur. Prita terlihat sangat cantik di matanya. Bahkan dari jarak jauh, sosoknya sudah menarik Bayu untuk mendekatinya.


Andaikan Bayu masih sebangsat dulu, ia pasti sudah membawa lari istri orang dan menyekapnya untuk dirinya sendiri. Bayu kini tak terlalu ingin bersikap arogan. Ia ingin menjadi orang yang lebih baik meskipun belum bisa sepenuhnya lepas dari kehidupan gelapnya. Bayu masih berharap Prita akan memilihnya. Meskipun pilihan itu sudah tidak ada lagi. Prita sudah jauh membuangnya dan sama sekali tak memilihnya.


"Wah, apa-apaan ini? Kamu berencana mati malam ini?" celetuk Jimmy ketika mendapati kamar Bayu yang sangat berantakan dan bau alkohol menyengat.


Bayu tak menghiraukan kedatangan Jimmy, ia terus menenggak minumannya.


"Sudah, hentikan! Kamu sudah tak berwujud seperti manusia normal. Hentikan minumnya!" Jimmy merebut paksa botol dari tangan Bayu.


Jimmy merasa saat ini Bayu sedang menghadapi masalah berat. Tidak biasanya dia minum banyak.


"Apa ada masalah?" tanyanya.


Sebenarnya Jimmy ingin mengatakan kalau dia sempat bertemu Prita beberapa hari lalu. Tapi, dia takut Bayu akan lebih kacau jika mendengarnya. Apa jangan-jangan Bayu seperti orang gila karena sudah Prita?


"Jim.... "


"Hm?"


"Aku sudah punya anak?"


"Hah?" Jimmy merasa omongan Bayu rancau karena mabuk.


"Aku punya seorang anak, namanya Daniel." Bayu berkata sambil tersenyum-senyum.


"Anak apa maksudmu? Anakmu kan Alex. Kemana dia? Kenapa tidak menemani bosnya."


"Jim.... " Bayu memberikan ponselnya yang berisi foto-fotonya bersama Daniel.


Mata Jimmy langsung melotot, melihat potret Bayu menggendong seorang anak lelaki yang sangat mirip dengannya. Ia scroll layar, galeri ponsel Bayu penuh dengan foto anak yang sama. Bahkan, terdapat beberapa video yang menampakkan kebersamaan mereka. Jimmy mulai paham, jadi selama ini Bayu selalu meminta ijin keluar ruang rapat di pertengahan pertemuan untuk menemui anak yang dikatakan sebagai anaknya.

__ADS_1


"Namanya Daniel, dia anakku yang selama ini Prita sembunyikan."


"Apa!? Prita?" Jimmy tak paham dengan ucapan Bayu. "Sepertinya kamu terlalu mabuk, lebih baik kamu tidur, istrirahat karena besok kita akan pulang."


"Hah! Mabuk? Hahaha... Aku bukan orang yang mudah mabuk hanya karena beberapa botol alkohol. I'm sober."


"Lalu apa maksudnya mengatakan ini anak Prita dan anakmu? Ingat Bayu, Prita sudah menikah dan memiliki suami."


"Dia sedang mengandung anakku saat menikah dengan lelaki lain."


"Hah! Mengada-ada... mana mungkin Prita seperti itu."


Bayu mendekatkan mulutnya pada telinga Jimmy, "Kamu tidak tahu, kan? Aku dan Prita pernah tinggal bersama lebih dari satu bulan. Tidak mungkin aku menyia-nyiakan keberadaan wanita cantik seperti Prita di sampingku. Aku sering mengajaknya tidur bersama, kau tahu? bahkan setiap malam. Wajar kan kalau dia akan mengandung anakku. Hahaha.... "


Jimmy menelan ludah mendengar pengakuan Bayu. "Jadi benar, dulu kamu pernah menculik Prita?"


"Menculik? No.... Prita sendiri yang suka rela ikut bersamaku. Aku tak pernah memaksanya. Dia memilih sendiri untuk ikut denganku. Kamu bisa bertanya padanya."


"Aku tidak percaya. Kamu pasti mengancamnya sampai dia mau bersamamu."


"Kamu membuat semuanya menjadi runyam. Prita sudah berkeluarga, tidak baik kalau kamu masih mengganggunya."


"Aku tak ingin mengganggunya. Aku menginginkan anakku. Aku ingin dia tahu kalau aku ayahnya. Rasanya sakit ketika dia menyebut orang lain sebagai ayahnya dan dia menyebutku sebagai paman."


"Kamu bisa lihat sendiri kan dari fotonya, dia sangat mirip denganku. Dia anakku, tapi Prita tak mau jujur mengatakannya."


"Lalu apa yang mau kamu lakukan kalau dia memang anakmu? Apa kamu akan membawanya dengan paksa? Kamu pikir nanti anakmu akan bahagia tinggal bersamamu? Dia masih kecil, masih membutuhkan ibunya. Jangan karena keegoisanmu kebahagiaan anak itu hancur."


"Bagaimana denganku? Apa aku harus terus menderita? Apa aku tidak boleh merasa bahagia bersama anakku sendiri?"


"Kita bicarakan ini kapan-kapan lagi. Kamu perlu mendinginkan kepala. Jangan gegabah."


Jimmy memunguti sisa-sisa botol yang masih berisi. "Aku akan membawa ini supaya kamu tidak lagi minum. Beristirahatlah."


Setelah mengucapkan itu, Jimmy keluar dari kamar Bayu.

__ADS_1


*****


Prita menatap kosong pada halaman samping rumah melalui kaca jendela. Malam ini turun gerimis, membuat suhu udara terasa lebih dingin. Ketiga anaknya sudah tidur dan suaminya masih berada di ruang kerja menyelesaikan beberapa pekerjaan yang tidak sempat disentuh di kantor.


Prita merenungkan perkataan Bayu. Bayu memintanya mencoba membayangkan hidup sebagai dirinya, yang memiliki anak tanpa tahu memiliki anak. Saat besar, anaknya memanggil orang lain dengan sebutan 'papa' dan ayah kandungnya disebut 'uncle'. Kata-kata itu menohok perasaannya. Dia menjadi merasa bersalah telah menyembunyikan ayah kandung dari Daniel.


Apakah anak sekecil Daniel harus tahu, siapa ayah kandungny? Apa dia akan paham? Lantas, apa dia tidak akan bertanya mengapa ayahnya berbeda dengan Dean dan Livy? Bagaimana dia akan menjawabnya saat Daniel bertanya tentang itu.


Kehadiran Daniel memang bukan sesuatu yang pernah diharapkan. Dia hadir tanpa rasa cinta. Tapi, Prita tulus mencintai dan menyayangi anak itu. Apa ayah kandung sebegitu penting saat ia telah memberikan sosok Ayash sebagai ayah yang sempurna? Prita tahu, Ayash mencintai Daniel sepenuh hati. Jikalau Bayu tak pernah ada, kehidupan mereka juga akan tetap bahagia.


"Sayang.... "


Tiba-tiba Ayash datang memeluk pinggangnya membuat Prita sedikit kaget.


"Kamu sudah selesai?"


"Ya, aku berusaha menyelesaikan pekerjaanku secepat mungkin agar bisa bersamamu. Anak-anak sudah tidur, kan?"


"Sudah."


Ayash menciumi area pipi hingga ke telinga Prita. Ciumannya turun perlahan ke arah leher seakan memberi sinyal untuk meminta lebih.


"Kalau begitu sekarang giliranmu menemaniku tidur." bisiknya.


Tanpa aba-aba, ia langsung menggendong Prita dan memindahkannya ke atas ranjang. Ayash memberikan ciuman bertubi-tubi pada setiap inchi wajah Prita.


"Apa malam ini juga? Katanya besok banyak kerjaan?"


"Urusan kantor biar aku selesaikan di kantor. Sekarang, aku harus menyelesaikan urusan kamar kita sebelum tidur."


"Besok kamu bisa kelelahan, Sayang.... "


"Mana mungkin aku lelah hanya karena bercinta denganmu? Justru ini yang selalu membuatku semangat kerja."


Ayash langsung melepaskan pakaian yang menempel di tubuhnya tanpa perasaan malu sedikitpun. Justru Prita yang malu dengan sifat agresif suaminya. Malam itu mereka menikmati malam dengan kegiatan yang menyenangkan.

__ADS_1


__ADS_2