
"Bagaimana dengan perkembangan rencana kita terhadap Holly Hotel?"
Bayu sedang mengecek beberapa berkas di kantornya ditemani Alex. Ia tertarik dengan laporan kondisi terkini dari hotel itu. Semakin terpuruk kondisi Holly Hotel, semakin membuatnya senang.
"Seperti yang Bos inginkan, beberapa pemegang saham kecil sudah melepaskan sahamnya kepada Anda. Kalau untuk para pemegang saham besar sepertinya sulit, karena mereka masih ada ikatan keluarga dengan Tuan Zetian."
"Apa kondisinya menguntungkan kita untuk mengakuisisi hotel mereka?"
"Sepertinya masih jauh dari harapan. Beberapa kekacauan yang kita ciptakan tidak terlalu terpengaruh pada stabilitas perusahaan mereka di pasar saham."
Bayu mengernyitkan dahinya, "Shuwan bilang cukup terguncang dengan kondisi hotelnya sekarang."
"Benarkah, nona cantik itu berkata seperti itu? Apa dia hanya ingin mendapat perhatian bos saja? Sepengetahuanku perusahaannya cukup stabil dengan isu-isu yang kita buat. Walaupun nilai sahamnya sedikit anjlok, tapi tidak terlalu parah."
Bayu terdiam sejenak. Apa benar wanita itu hanya berakting menjadi wanita yang lemah? Malam itu dia terlihat sangat frustasi membicarakan tentang perusahaannya. Dia menantikan saat Shuwan meminta bantuannya untuk membantu kondisi hotel. Dia ingin secepatnya mengambil alih hotel itu.
Ia mengusap wajahnya ketika ingat hal yang terjadi malam itu di antara keduanya. Setelah malam itu Shuwan tak pernah memberinya kabar lagi. Mungkin wanita itu kabur gara-gara masalahnya. Dan artinya rencana mengakuisisi hotel akan terhambat. Ia sengaja mendekati Shuwan memang untuk tujuan itu.
"Alex.... "
"Ya?"
"Lakukan segala cara untuk mengacaukan Holly Hotel. Kamu boleh mengambil langkah yang lebih ekstrim, pokoknya aku mau apa yang nanti kamu lakukan benar-benar berimbas pada kondisi hotel itu."
"Hm, ya, Bos. Akan aku pikirkan caranya nanti. Boleh minta bantuan Red Wine, kan?"
"Boleh, gunakan mereka sesukamu."
"Aku boleh bertanya?"
"Tanyakan saja."
"Apa Bos benar-benar tidak menyukai Nona Shu? Dia sepertinya sangat menyukai Anda."
"Aku menyukai hotelnya, Alex. Bukan pemiliknya."
"Aku jadi kasihan dengan Nona Shu."
"Kamu tenang saja, Alex. Aku hanya bermaksud mengambil hotelnya saja, bukan menyingkirkan orangnya. Aku juga akan bersikap baik padanya selama dia menjadi pacarku."
"Sebenarnya aku tidak terlalu peduli dengan semua cara licik yang Anda gunakan. Tapi, mempermainkan perasaan wanita demi melancarkan rencana rasanya terlalu tidak adil untik Nona Shu."
Bayu terdiam. Ada yang berbeda dengan Alex. Ini pertama kalinya anak itu peduli dengan wanita yang ia dekati. Bayu bisa mendekati wanita manapun tanpa rasa cinta. Mungkin wanita akan mudah jatuh cinta saat dia mencurahkan sedikit perhatian. Tapi Bayu sebaliknya, tak ada wanita yang lebih menarik dari Prita. Seumur hidup baru Prita wanita yang mampu menyita semua perhatian dan waktunya hanya untuk memikirkannya. Bahkan setelah Prita menjadi istri orang lain, dia masih memikirkan cara membuat Prita kembali padanya.
"All is fair in love and bussiness, Alex. Sepertinya kamu menyukainya, ya?"
"Siapa yang tidak menyukai wanita cantik dan lemah lembut seperti Nona Shuwan."
"Ah, kamu menyukai wanita yang jauh lebih tua darimu. Aku harap perasaanmu tidak mempengaruhi loyalitasmu padaku, Alex. Aku masih tetap percaya padamu."
"Bos tenang saja, aku bisa mengabaikan perasaan pribadi dan tetap mendukung apapun yang Anda lakukan."
__ADS_1
Tok tok tok....
"Masuk."
Reni melongok dari arah pintu setelah dipersilakan masuk oleh bosnya. Dia mengamati keadaan sebelum masuk ruangan. Tampak ada Bayu duduk di kursi kerjanya dan Alex duduk di sofa ruangan.
"Kenapa ngintip-ngintip Kak Reni? Langsung masuk saja." celetuk Alex.
Gaya Alex memang selalu santai. Bukan hanya kepada Reni dan karyawan lain, bahkan juga pada Bos Bayu yang ditakuti semua karyawan.
"Pak, saya bawakan laporan penjualan perusahaan kita bulan ini."
Reni merasa sedikit tegang duduk di hadapan Bayu. Entah mengapa sosok bos itu selalu seram jika dilihat dari dekat. Padahal kalau dari jarak jauh, dia sangat mengagumi ketampanan bosnya itu.
Hari ini hari penentuan, apakah dia dan timnya bisa terus bekerja di perusahaan atau dipecat. Performa bulan-bulan sebelumnya dianggap jelek dan Bayu sudah mengancam akan memecat mereka jika penjualan bulan ini kembali turun.
"Hm, bulan ini penjualan kita membaik."
Bayu melirik karyawannya yang masih menunduk seperti takut. "Alex, apa kamu sudah punya kandidat untuk mengganti karyawan yang tidak becus bekerja?"
Reni menegakkan kepalanya. Nafasnya terasa tercekat mendengar perkataan Bayu. "Pak, katanya kalau penjualan meningkat kami tidak jadi dipecat?"
"Tapi keuntungan yang didapat belum bisa menutupi penurunan penjulanan bulan-bulan sebelumnya."
"Pak, please... beri kami kesempatan, kami akan bekerja lebih baik lagi."
Bayu ingin tertawa melihat wajah serius Reni. Dia memang hanya berniat bercanda menakut-nakuti karyawannya.
"Alex.... "
"Pak.... hiks hiks hiks.... " Reni sampai gemetar dan menangis karena takut dipecat. Dia memikul tanggung jawab terhadap anak buahnya.
"Kak Reni ngapain nangis?"
"Bodoh banget pertanyaanmu, Alex. Masa aku harus tertawa saat akan dipecat begini. Huhuhu...."
"Memangnya Bos mau memecat Kak Reni?"
"Tidak.... " jawab Bayu enteng.
"Lah, katanya mau merekrut karyawan baru?"
"Ini untuk mengisi kekosongan di divisi lain, Kak. Sepertinya tidak ada yang membahas divisi pemasaran di sini."
Reni mengusap air matanya, "Pak... jadi bagaimana? Apa kami akan dipecat?"
"Alex, kamu harus mentraktir divisi pemasaran karena sudah menunjukkan kerja kerasnya bulan ini." Bayu memberikan kartu kreditnya pada Alex.
"Kamu boleh keluar, Reni."
"Ayo, Kak. Ikut aku." Ajak Alex.
__ADS_1
Reni terbengong-bengong dengan situasi yang dihadapi. Masih belum tahu apa yang terjadi, dia mengikuti Alex keluar dari ruangan Bayu.
"Alex, kami tidak dipecat, kan?" tanya Reni penasaran.
"Siapa yang mau memecat kalian? Bos mau mentraktir kalian ini.... "
"Tadi sepertinya dia kurang suka dengan laporannya, kenapa sekarang malah mau mentraktir kami?"
"Kak Reni ini milih dipecat apa milih ditraktir? Kok banyak komplain."
"Ya ditraktir, dong. Aku kan hanya bertanya."
"Tenang saja, Kak. Hasil kerja kalian masih aman. Bos tidak akan memecat kalian. Ini sebagai tanda terima kasihnya karena usaha kalian bisa meningkatkan kurva penjualan. Makanya bos mau mentraktir kalian."
"Bos ternyata baik, ya. Walaupun kelihatannya galak."
"Masih ingat kesepakatan kita kan, Kak Reni?"
"Kesepakatan yang mana?"
Alex menghentikan langkahnya. Ia kecewa Reni melupakan kesepakatan yang sudah mereka buat.
"Kakak janji akan mentraktirku kalau kalian tidak jadi dipecat."
"Ah, iya. Aku hampir lupa. Hehehe.... Kamu jangan marah begitu. Aku akan menepati janji, Alex. Asal jangan minta makanan yang mahal-mahal, ya." Reni menepuk-nepuk lengan Alex.
"Bagaimana, Bu Reni?" Jonan langsung bertanya ketika Reni baru saja kembali ke ruangannya.
"Aman, kita tidak jadi dipecat."
"Ye.... !" Seru Winda dan Hari kegirangan.
Tampaknya Jonan, Hari, dan Winda bisa bernapas lega dengan kabar yang dibawa Reni.
"Kita bakalan ditraktir oleh pak bos, lho.... " Reni menyeret masuk Alex.
"Sumpah?" Winda antusias.
"Benar kan, Alex?"
Alex mengacungkan jempolnya.
"Mantap... Alex, ayo kita ke restoran sushi." ujar Jonan.
"Heh! Nanti pak bos marah kalau tagihan makan siang kita kebanyakan." Hari mengingatkan.
"Jangan khawatir, kalian bebas makan apa saja. Bos tidak akan marah." jawab Alex.
"Nggak usah lama-lama, ayo langsung capcus!"
Mereka menyeret Alex ramai-ramai karena terlalu girang mendengar akan ditraktir Pak Bayu. Rasa takut mereka akan dipecat berubah menjadi kebahagiaan yang sangat luar biasa hanya karena traktiran sang bos.
__ADS_1