
Bayu sedang menikmati malamnya bersama Shu di King Crown. Sejak kepulangannya dari Singapura, ia tak tahu lagi bagaimana caranya menghabiskan waktu tanpa memikirkan Daniel. Anak kecil itu telah mengalihkan perhatiannya, membuatnya merasakan yang namanya merindukan seorang anak.
Bayu tak pernah membayangkan menjadi seorang ayah. Dia takut jika memiliki seorang anak, nasib masa kecilnya akan sama dengannya. Dia yang dibesarkan oleh seorang ayah yang kasar tanpa kasih sayang seorang ibu. Masa kecilnya tak menyenangkan.
Hanya memandangi foto dan video Daniel yang bisa ia lakukan. Ia sudah mencintai anak itu. Bayu bahkan sudah membeli beberapa kotak mainan dengan harapan suatu saat bisa memberikannya pada Daniel yang tinggal jauh darinya.
"Kamu sepertinya ada masalah." Shu yang melihat Bayu melamun panjang akhirnya membuka pembicaraan.
"Hah, apa?"
"Sejak tadi aku perhatikan pandanganmu kosong. Apa ada masalah?"
"Tidak, tidak ada.... aku hanya memikirkan sedikit masalah di perusahaan."
"Apa kondisi perusahaanmu tidak baik?"
"Tidak juga. Hanya saja aku punya beberapa karyawan yang konyol. Kerjaan mereka kurang begitu bagus tapi aku juga tidak mau memecat mereka. Karena terkadang mereka bisa memberi hiburan tersendiri untukku. Aku suka menakut-nakuti akan memecat mereka. Aku suka reaksinya. Jika ditakut-takuti begitu, mereka bisa bekerja dengan baik."
"Ha... karyawan yang unik. Seharusnya kamu pecat saja mereka, ganti yang lebih kompeten. Orang seperti mereka tidak bagus untuk masa depan perusahaan."
Bayu meneguk winenya, "Itu tidak masalah. Karena mengurus perusahaan bagiku hanya iseng saja. Sekalipun keuntungannya kecil, aku tetap akan mempertahankan mereka."
"Hm, senangnya jadi dirimu yang tak pernah khawatir dengan nasib perusahaan." Shu menenggak habis minumannya. Kali ini kelihatannya dia yang memiliki masalah.
"Apa ada masalah di hotel?"
"Ya, banyak. Entah mengapa akhir-akhir ini banyak masalah yang terjadi di hotel. Dari mulai komplain pelanggan, sampai beberapa investor ingin menarik investasinya. Saham hotel terus turun. Rasanya aku ingin menangis."
Bayu merengkuh tubuh Shu dalam pelukannya, "Kenapa harus sedih? Kamu punya pacar yang bisa diandalkan. Aku bisa menyuntikkan modal agar hotelmu kembali stabil."
"Ah! Aku pasti terlalu mabuk. Kenapa aku bisa membebankan masalahku padamu." Shu menepuk-nepuk kepalanya yang sedikit pusing.
"Hentikan, Shu." Bayu memegang tangan Shu. "Kita kan pacaran, jangan sungkan meminta bantuanku. Kesulitanmu adalah kesulitanku juga."
"Terima kasih, Bayu. Kamu penyelamatku." Shu memeluk erat tubuh Bayu.
__ADS_1
Sedikit jauh dari tempat Bayu dan Shu berada, Karla sudah lebih dulu minum-minum bersama teman-temannya di klub milik Bayu itu. Ia hampir setiap malam pergi ke klub untuk menghibur dirinya sendiri yang hanya sebagai istri kedua seorang pengusaha.
Dimata orang mungkin kehidupan Karla tampak bahagia dan baik-baik saja sebagai istri kedua. Segala yang ia inginkan bisa ia dapatkan. Tapi, jauh dalam lubuk hatinya, ia merasa kehampaan. Dan ia berusaha mengisinya dengan menghibur diri di klub malam.
Tanpa sengaja sudut mata Karla menangkap kehadiran Bayu. Dia senang bisa melihat lelaki pujaannya ada di sana. Tapi kebahagiannya seketika sirna saat melihat di sebelah Bayu ada wanita cantik. Tentu saja hatinya merasa panas. Tanpa basa-basi, ia langsung menghampiri meja Bayu dan wanitanya.
"Wah, lihat kita bertemu siapa di sini." Karla tiba-tiba datang di antara mereka. Pakaiannya seperti biasa, terlihat sangat seksi. Di tangannya ia menghisap sebatang rokok dan menghembuskan asapnya dengan sengaja pada Shu. Shu tampak terganggu dengan kedatangan Karla.
"Siapa dia, Bay?" tanya Karla tanpa basa basi.
"Ini Shuwan Mey, pacarku."
Karla membulatkan matanya. Ia langsung mematikan rokoknya pada asbak yang tersedia di meja.
"Hah, pacar?"
Karla ingin terkekeh mendengar kedua kalinya Bayu mengakui wanita sebagai pacarnya. Sebelumnya ada si lugu Prita, sekarang seorang wanita seksi dan tinggi diakui sebagai pacarnya.
Ia tak habis pikir kenapa Bayu tak pernah mau pacaran dengannya. Kenapa selalu wanita lain yang bisa merebut perhatian Bayu? Rasa iri sedikit muncul di hati Karla.
"Namaku Karla. Aku teman tidur Bayu kalau kamu mau tahu. Kami sudah pernah beberapa kali tidur bersama." Karla dengan lantang memotong ucapan Bayu.
Bayu hanya bisa memegangi kepalanya. Dimana ada Karla pasti ada masalah. Berani-beraninya Karla berbicara seperti itu di depan pacar barunya.
Shu yang mendengar ucapan vulgar Karla hanya bisa ternga-nga tidak percaya. Wanita bisa sepercaya diri itu mengatakan pernah tidur dengan lelaki yang kini menjadi pacarnya.
"Sudah berapa lama kalian pacaran? Aku yakin kamu belum pernah tidur dengan Bayu, kan?"
"Karla, pulang! Suamimu menunggu di rumah. Kamu sudah terlalu mabuk, jangan kacaukan hubungan orang lain." seru Fazid saat melihat Karla ada di meja bosnya.
"Diam kamu Zid! Brengsek!" bentak Karla.
"Dengar baik-baik, Nona Shu. Kamu bukan tipe Bayu. Kalau dia bilang tertarik padamu, itu semua omong kosong. Dia hanya tertarik kepada wanita untuk teman tidur. Kalau kamu tak pernah diajak tidur olehnya, artinya dia mengincar sesuatu yang lain darimu. Bukankah ucapanku benar, Bayu?" Karla menyunggingkan senyum.
"Zid, antar Karla pulang sekarang juga." pinta Bayu.
__ADS_1
Fazid memegang lengan Karla ingin menuntunnya pergi keluar dari klub. Tapi, Karla menepis tangannya.
"Bayu itu lelaki yang pandai memuaskan wanita di ranjang. Kalau kamu pernah mencobanya sekali kamu akan ketagihan. Tapi sepertinya dia tidak akan pernah menyentuhmu, karena kamu bukanlah wanita yang menarik. Bayu hanya tertarik padaku, tubuh kami sangat cocok. Hehehe.... "
"Zid.... "
Fazid langsung menggendong Karla di pundaknya. Karla mencoba memberontak namun tenaganya tak ada bandingannya dengan Fazid. Apalagi kondisinya sedang mabuk. Bayu bisa kehilangan muka jika Karla lebih lama berada di sana.
"Jangan dengarkan kata-katanya. Dia tidak sedang begitu baik karena stres dengan kehidupan rumah tangganya."
Shu menenggak sebotol wisky yang ada di hadapannya karena dibakar rasa cemburu, "Bukannya dia seorang model? Aku sepertinya pernah melihat fotonya di majalah."
"Ya, kamu benar. Dulu dia seorang model. Sekarang dia sudah tidak aktif di dunia model lagi."
"Apa sebelumnya kalian pernah pacaran? Dia terlihat akrab denganmu."
"Kami teman kuliah. Sampai sekarang kami masih tetap berteman. Kami tak pernah pacaran."
"Tapi dia bilang kalian pernah tidur bersama."
"Dia hanya mengatakan hal omong kosong untuk membuatmu cemburu. Dia memang suka begitu saat aku memperkenalkan pacarku."
Jujur dalam hati Shu sangat terganggu dengan ucapan Karla. Dia yakin antara Karla dan Bayu memiliki hubungan khusus.
"Uh! Kepalaku pening sekali rasanya." Shu memegangi kepalanya.
"Kamu sakit?"
"Sepertinya aku terlalu mabuk. Aku tak bisa pulang kalau begini. Ayahku akan marah jika aku pulang dalam keadaan mabuk." Shu menyandarkan kepalanya di meja.
"Carikan aku hotel untuk bermalam." pinta Shu.
"Kamu menginap saja di apartemenku malam ini. Kamu mau?"
"Hm, terserah padamu. Yang penting malam ini aku tak pulang ke rumah." Shu memejamkan matanya yang rasanya sudah tak kuat untuk dibuka.
__ADS_1
Bayu mengangkat Shu dalam gendongannya. Shu tampak lemah karena terlalu mabuk. Semua ini gara-gara Karla. Kenapa wanita itu belum juga kembali ke Kota J seperti harapan Bayu.