
Shuwan menatap kagum kepada Moreno yang sedang melatih salah satu anak didiknya di lapangan memanah. Dulu, Moreno adalah kakak kelasnya di SMA. Mereka sempat pacaran selama satu tahun tapi akhirnya harus berpisah saat Shuwan harus melanjutkan sekolah di Tiongkok.
Keduanya hilang kontak selama enam tahun, tanpa kata putus yang terucap di antara keduanya. Setelah menyelesaikan kuliahnya hingga mendapatkan gelar magister di jurusan manajemen bisnis, Shuwan kembali ke Indonesia. Mulai saat itulah ia kembali bertemu dengan Moreno. Namun sayangnya, ternyata Moreno telah menikah.
Shuwan merasa sakit hati. Ia kembali menjauh dari kehidupan Moreno. Shuwan fokus belajar bisnis bersama ayahnya. Dia sibuk bekerja dan menjadi wanita karir mengesampingkan dunia percintaannya.
Setelah tujuh tahun berlalu, Moreno tiba-tiba menemuinya lagi. Dia mengatakan kalau dia menyesal sudah buru-buru menikah tidak sabar menunggu kepulangan Shuwan dari Tiongkok. Dia bilang masih mencintainya. Moreno sedang dalam tahap perceraian dengan istrinya.
Rasa sakit hati yang Shuwan rasakan tak sebanding dengan rasa cintanya pada Moreno. Akhirnya, keduanya menjadi dekat. Terlebih lagi karena Shuwan ikut masuk dalam klub memanah milik Moreno. Ya, dulunya Moreno merupakan atlit memanah nasional. Dia sudah berhenti dan membangun sendiri klub memanahnya serta menjadi pelatih di sana.
"Giliranmu, Shu.... " panggil Moreno.
Shuwan langsung bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiri Moreno sambil membawa perlengkapan memanahnya.
Momen paling indah bagi Shu adalah seperti saat ini, bisa dekat kembali dengan Moreno. Belajar memanah bersama lelaki yang masih ia cintai begitu terasa romantis dan membuat hatinya berdebar-debar. Apalagi ketika punggungnya bersentuhan dengan dada Moreno, tangannya dibimbing mengarahkan anak panah pada sasaran. Instruksi-instruksi yang diberikan di dekat telinganya bagaikan kata-kata erotis yang mampu membuat wajahnya memerah.
"Shu.... "
"Hmmm?"
"Apa setelah ini kamu ada waktu?"
"Kenapa?"
"Mau nonton bareng?"
"Boleh."
Syut!
Anak panah yang Shuwan lepaskan dari busur melesat jauh mengenai sasaran.
"Sepertinya kamu sudah ada kemajuan."
"Tentunya berkat pelatih hebat sepertimu." Shuwan menyunggingkan senyum mendengar pujian dari Moreno.
__ADS_1
"Bagaimana dengan hotelmu?"
"Hotelku baik-baik saja."
"Syukurlah kalau begitu. Aku lega mendengarnya. Beberapa waktu lalu aku lihat di berita saham hotelmu sempat turun. Aku kira ada masalah."
"Ah, itu biasa. Masalah kecil memang kadang datang dan nilai saham tidak selalu naik. Tapi semua sudah teratasi dengan baik."
Tentunya semua itu berkat suntikan dana yang Bayu berikan. Tapi tidak mungkin juga Shuwan menyebut-nyebut nama Bayu di hadapan Moreno. Bayu baginya ibarat kehidupannya di dunia lain yang tidak bisa disatukan dengan kehidupannya bersama Moreno saat ini.
"Kalau ada yang bisa aku lakukan, jangan sungkan meminta bantuanku, ya. Aku mungkin memang tidak terlalu kaya, tapi kalau kamu yang meminta bantuanku, aku akan mengusahakannya, Shu." Moreno mengusap puncak kepala Shuwan.
"Terima kasih, Kak. Kamu sudah mau menjadi teman bicaraku saja sudah cukup."
"Kenapa kamu yang malah berterima kasih? Seharusnya aku kan? Kamu sudah mau dekat lagi denganku itu suatu keajaiban. Aku kira kamu akan sangat membenciku karena keputusanku dulu."
"Ah, iya. Sudah sejauh apa proses perceraian kakak?"
"Dua minggu lagi sidang putusan."
"Ya, tentu saja. Dia sudah sepakat setelah syarat yang dia ajukan aku penuhi. Dia meminta rumah, mobil, villa dan hak asuh anak jatuh padanya."
"Kakak tidak menyesal?"
"Tidak. Yang aku sesalkan adalah menikah dengannya. Seharusnya aku tak pernah menikahinya. Sampai kami punya anak juga aku tidak pernah bisa mencintainya. Daripada kami berdua tersiksa, lebih baik kami berpisah."
"Bagaimana dengan anakmu?"
"Dia akan tetap mendapatkan kasih sayang dari ayah dan ibunya walaupun kami sudah berpisah. Itu lebih baik untuknya daripada setiap hari melihat kami bertengkar di rumah. Itu tidak bagus untuk perkembangannya."
Dari arah yang tak terlalu jauh dari keduanya, ada Raeka yang memperhatikan. Dia lihat Shuwan begitu nyaman dan bahagia berada di sebelah pelatihnya. Meskipun sudah janji tidak akan mengurusi masalahnya, tapi Raeka masih heran saja. Shuwan bisa bertingkah seperti tipe-tipe 'pick me girl' di hadapan lelaki. Wanita yang ingin diakui lebih baik dari wanita lainnya, wanita yang merasa lebih pantas jadi pilihan daripada wanita lain. Dia tidak segan merendahkan wanita lain agar terlihat lebih baik. Raeka juga pernah menjadi korbannya.
Raeka belum mengerti, siapa yang sebenarnya Shuwan suka. Dia pacaran dengan pengusaha sukses seperti Bayu, di lain sisi dia mendekati lelaki lain yang masih dalam proses perceraian. Apa Shuwan juga penyebab pelatihnya memutuskan bercerai? Apa Shuwan bisa sejauh itu?
*****
__ADS_1
"Aku bilang juga apa.... lebih baik memang kalian tetap di Singapura saja. Sekarang, kamu khawatir sendiri kan kalau anak dan istrimu bertemu si om-om itu."
Irgi memang selalu berbakat memberikan ceramah jika Ayash sedang menceritakan masalah padanya. Yah, meskipun Irgi teman yang paling menyebalkan, tapi hanya dia yang bisa diajak bicara.
"Aku selalu merasa Prita menyembunyikan banyak hal dariku. Sejak dulu dia tidak pernah mau berterus terang, tidak mau membahas masalah terutama yang menyangkut dirinya. Aku walaupun sudah lima tahun menikah dengannya, terus terang tak terlalu memahaminya."
"Mungkin dia hanya tidak ingin membebanimu. Dia kan orangnya begitu."
"Kecuali padamu, ya? Sepertinya dia lebih mau terbuka padamu daripada aku."
"Nggak juga.... "
"Seharusnya dia percaya padaku, aku bisa membantunya menyelesaikan masalah, selalu saja dipendam sendiri. Bagaimana aku bisa tahu kalau dia tidak cerita apa-apa. Ya termasuk tadi itu, Bayu sering menemui Daniel juga dia tidak mengatakannya."
"Sudahlah, Prita kan bukan wanita seperti itu. Manamungkin juga dia mengkhianatimu, aku saja tahu kalau sejak dulu dia hanya mencintaimu. Yah... walaupun mau diakui atau tidak, di antara Bayu dan Prita memang ada Daniel. Tapi aku rasa itu tidak merubah apapun, ya. Prita bukan tipe yang segampang itu tergoda."
"Aku memang percaya pada Prita, tapi tidak dengan Bayu. Dia mungkin saja menggunakan cara yang sama, membuat Prita terpaksa meninggalkanku karena ancaman."
"Kali ini lalor saja ke polisi kalau dia berani macam-macam."
"By the way, katanya Om Reonal sudah pulang, ya?"
"Ya, kemarin juga sempat mampir ke perusahaan. Dia bilang kalau bisa perusahaannya di-merger dengan perusahaan miliknya yang ada di Pulau S."
"Wah, jauh banget. Kamu mau?"
"Ya nggak, lah! Itu jatahnya Kak Arga karena dia yang anak kandungnya. Milikku ya hanya PT Prayoga Grup saja peninggalan ayahku."
"Hais.... rejeki nomplok kok ditolak. Kak Arga nggak bakal miskin juga kali kalau Om Reonal memberikan satu perusahaannya padamu."
"Nggak perlu, aku sudah cukup dengan perusahaanku yang sekarang. Kalaupun harus melakukan ekspansi, aku akan melakukannya sendiri nanti."
"Bagus bagus.... kamu memang anak buah yang bisa diandalkan." Irgi menepuk-nepuk pundak Ayash.
"Jangan lupa ya, aku masih presiden direkturnya walaupun pemegang saham terbesar adalah dirimu. Hahaha.... "
__ADS_1