
Bayu memandangi Daniel yang masih asyik menyantap spagettinya. Mulutnya belepotan oleh saus. Dia sangat lucu.
Entah mengapa kehadiran Daniel rasanya membuat hidupnya lebih berwarna. Seorang mafia yang hari-harinya dipenuhi kekejaman, kejahatan, bisa merasakan kehangatan cinta dan kasih sayang terhadap seorang anak.
"Kenapa Uncle tidak memakan spagettinya?" tanya Daniel ketika melihat piring milik Bayu masih terlihat utuh.
"Ah, ini Uncle makan." Bayu kembali menyuapkan spagetti ke mulutnya.
"Daniel.... "
"Ya?"
"Kenapa kamu memanggil orang yang tadi dengan sebutan papa?"
"Papa Irgi?"
"Ya, kenapa kamu memanggilnya papa?"
Daniel melirikkan matanya ke atas, berpikir. "I don't know... Papa Irgi suka dipanggil begitu. Dia seperti papaku, dia baik."
"Kalau Uncle Yu? Apa Uncle Yu juga baik?"
"Ya, Uncle Yu baik. Aku suka Uncle."
"Kalau begitu, apa Daniel mau memanggil Uncle Yu dengan sebutan daddy?"
"Daddy?" Daniel sedikit bingung.
Bayu mengangguk. Ia sangat berharap Daniel mau menyebutnya dengan panggilan itu.
"But.... why?"
"Karena Uncle Yu juga ingin menjadi ayah Daniel. Apa Daniel tidak mau?"
"Mmmm... kalau Papa Mama marah bagaimana?"
"Kalau begitu ini cukup menjadi rahasia kita. Panggil 'daddy' saat kita berdua. Oke?"
Daniel mengangguk. "Now, I have three dads." Daniel tersenyum lebar.
"Coba panggil aku 'daddy'."
"Daddy." ucap Daniel.
Satu kata itu akan dikenang seumur hidup oleh Bayu. Hari ini pertama kalinya Daniel memanggilnya daddy. Dia usap kepala Daniel dengan penuh rasa sayang.
"Kapan-kapan kamu mau main ke rumah daddy?"
"Apa rumah Daddy dekat dari sini?"
"Ya, lumayan dekat."
"Tapi aku harus minta ijin Mama Papa kalau mau main."
__ADS_1
"Nanti daddy yang akan membantumu mendapatkan ijin dari mereka."
"Ya, aku rasa Mama Papa akan mengijinkan karena Daddy orang baik."
"Di rumah daddy ada kamar main yang sangat bagus. Di sana ada banyak lego dan robot-robot super hero."
"Benarkah?" Daniel tertarik mendengarnya.
"Pokoknya kamu harus melihatnya sendiri nanti. Daddy yakin Daniel pasti suka."
"Bayu....!"
Terdengar seruan keras seseorang yang mengagetkan seisi restoran. Bayu dan Daniel menengok ke arah suara. Ayash sudah ada di sana dengan wajah yang tampak murka. Ia berjalan cepat menghampiri meja mereka.
Tanpa basa-basi, Ayash langsung memberikan satu pukulan keras ke wajah Bayu hingga sudut bibirnya sobek mengeluarkan darah.
"Papa.... "
Ayash membawa Daniel ke dalam gendongannya. Tatapan matanya penuh kemarahan, tajam bagaikan elang yang siap mencabik-cabik tubuh Bayu. Berani-beraninya Bayu mendekati anaknya tanpa seijinnya.
Setelah menyelesaikan rapat, Ayash langsung menelepon Irgi. Dia menanyakan apakah Daniel tidak mengganggunya bekerja. Ia ingin menjemput Daniel. Awalnya Irgi tak mau memberitahu yang sebenarnya. Bicaranya terbata-bata, membuat Ayash penasaran pasti ada sesuatu yang terjadi dengan Daniel.
Akhirnya Irgi mengatakan kalau Daniel sedang makan bersama Bayu. Mendengar hal itu, Ayash sangat kaget dan marah, mengapa Irgi bisa membiarkan Daniel bertemu dengan Bayu. Irgi menjelaskan agar Ayash tidak perlu khawatir, Bayu tak akan macam-macam kepada Daniel. Irgi sudah menyuruh orang untuk mengawasi keduanya saat makan di restoran.
Tapi, sebagai ayah Ayash tidak bisa tinggal diam. Dia bergegas keluar kantor menuju hotel Irgi. Perasaannya tetap khawatir, sesuatu akan terjadi kepada Daniel.
Sesampainya di restoran hotel, dia melihat Daniel sedang duduk menikmati makanan bersama Bayu. Amarahnya langsung meledak. Ia ingin menghajar habis-habisan lelaki brengsek yang berusaha mendekati anaknya.
"Papa... kenapa Papa marah dan memukul Uncle?" tanya Daniel polos.
Ayash mencoba menenangkan emosinya di depan Daniel, "Daniel, kamu lupa pesan mama papa? Tidak boleh pergi bersama orang yang tidak dikenal."
Ayash terkejut mendengar perkataan Daniel. Sering bertemu? Mereka sering bertemu? Selama ini Bayu sering menemui Daniel tanpa sepengetahuannya? Apa Prita juga mengetahuinya?
"Hah! Dengar sendiri apa yang dikatakan anakku?"
"Dia anakku!" Ayash marah sekali Bayu menyebut Daniel sebagai anaknya.
"Ayash, kita pergi dari sini. Kalian jadi tontonan sekarang." nasihat Irgi.
Ayash memandang ke sekeliling. Semua mata tertuju ke arahnya. Ia benar-benar sudah tidak berpikir apapun karena terlalu emosi melihat anaknya bersama Bayu.
Akhirnya ia mengalah, mengikuti Irgi masuk ke ruangannya. Ia menenangkan sejenak pikirannya di sana.
"Papa kenapa tadi memukul Uncle Yu?" Daniel menanyakan hal itu lagi.
"Daniel, bisa kamu mendengarkan papa?"
Daniel menatap lekat wajah Ayash. Ia ingin mendengarkan apa yang akan papanya itu katakan.
"Daniel, jangan temui orang itu lagi."
"Maksud Papa Uncle Yu?"
"Ya, apa kamu bisa janji, tidak akan menemuinya lagi?"
__ADS_1
"Tapi kenapa, Papa?"
"Dia bukan orang baik."
"No, Uncle Yu orang baik."
"Daniel, listen to me! Kamu tidak boleh bertemu dengan orang itu lagi. Kalau Daniel bertemu lagi dengan orang itu, papa akan marah."
Daniel menunduk. Ia tak mengerti kenapa papanya melarang dia bertemu dengan Uncle Yu. Padahal Uncle Yu menurut Daniel orang yang baik, sama seperti papanya.
"Yash, jangan terlalu keras pada Daniel."
"Kamu juga sama saja, Irgi. Kenapa kamu biarkan mereka bersama?"
Ayash membawa Irgi sedikit menjauh dari Daniel. Ia berbicara dengan nada lirih agar Daniel tak mendengarnya. Ayash saat ini juga marah kepada Irgi.
"Bagaimana aku bisa mencegahnya kalau Daniel sendiri yang berlari dan memeluk orang itu? Kamu tahu apa yang membuatku syok? Daniel bilang dia sering bertemu Bayu. Apa kamu juga tahu hal itu?"
Ayash terdiam. Ia sama sekali tak tahu bagaimana Daniel dan Bayu bisa sering bertemu tanpa sepengetahuannya.
"Kamu sebagai ayahnya juga baru tahu hal ini kan?"
"Darimana juga Bayu tahu kalau dia punya anak? Apa selama ini dia menempatkan mata-mata di dekat kalian."
"Aku tidak tahu."
"Kenapa orang itu yakin sekali kalau Daniel anaknya. Sumpah! Tanganku juga gatal ingin menghajarnya habis-habisan. Kenapa dia masihbsaja mengganggu kalian."
"Ir, sepertinya aku harus pulang dulu. Kepalaku rasanya mau pecah!"
"Ya, sebaiknya kamu menenangkan diri dulu di rumah."
"Daniel, ayo kita pulang."
"Aku antar kalian sampai ke lobi."
Ayash menggendong Daniel. Dengan perasaan yang masih kurang baik, ia turun ke lantai bawah ditemani Irgi. Irgi tak berkata apapun, dia masih merasa bersalah.
Sesampainya di depan pintu lift menuju lobi, langkah Ayash terhenti. Dia melihat Bayu masih ada di sana.
"Irgi, jagakan Daniel untukku!"
Ayash langsung memberikan Daniel pada Irgi. Dengan langkah cepat ia berjalan ke arah Bayu berdiri.
Ayash mencengkeram kerah jas Bayu dan menatap nyalang padanya, "Jangan berani-berani mendekati anakku lagi!" tegasnya.
Bayu menyingkirkan tangan Ayash dari lehernya, "Apa hakmu melarang seorang ayah menemui anaknya sendiri?"
"Dia bukan anakmu!" teriak Ayash.
"Cih! Kamu kira aku akan percaya kata-katamu? Aku sudah melakukan tes DNA dan hasilnya menyatakan Daniel adalah anakku. Kamu bisa apa?"
"Bangsat!"
Bug! Bug! Bug!
__ADS_1
Ayash melayangkan beberapa pukulan hingga Bayu jatuh terjerembab ke lantai. Tak terima dengan perlakuan yang diterimanya, Bayu balas memukul Ayash. Akhirnya keduanya terlibat baku hantam.
Irgi bingung antara mau melerai atau menyembunyikan Daniel. Anak kecil tidak seharusnya melihat adegan itu. Akhirnya dia memutuskan berlari. Dia segera memanggil beberapa security untuk melerai perkelahian yang terjadi.