
"Bagaimana dengan berkembangan kasus klabmu?"
Jimmy menyesap cerutunya sambil duduk menyilangkan kaki di sofa ruangan Bayu. Akhir-akhir ini ia jarang bisa bertemu Bayu karena kesibukan di perusahaannya sendiri. Tapi, ketika melihat kasus di klab Bayu sampai diliput TV, Jimmy langsung menemui Bayu di kantornya.
"Masih terus berjalan."
"Polisi belum menemukan pelakunya?"
Bayu menyunggingkan senyum. Bukan polisi yang menemukan pelakunya, tapi anak buahnya. Pelakunya ada di mansionnya dan sedang dia suruh kerja rodi di sana sebagai balasan sudah merugikan usahanya.
"Kapan polisi bisa diandalkan untuk mengurusi kasus seperti ini."
"Kamu jadi tersangka nggak?"
"Kamu pengin banget aku dipenjara? Memangnya aku sudah gila apa merusak klab milikku sendiri sampai aku harus jadi tersangka."
"Ya kan biasanya kamu memang gila."
"Gila bukan karena itu, tapi usahaku harus gulung tikar. Penghasilanku berkurang drastis. Harusnya gantian kamu tolong aku kali ini." Bayu ikut-ikutan menyalakan cerutu. Merokok bersama sambil ngobrol merupakan salah satu hal yang nikmat selain merokok setelah bercinta.
"Minta tolong pada teman miskin sepertiku? Mana aku punya uang."
"Jual hotelmu dan berikan uangnya padaku."
"Ya, dan setelah itu ayahku akan menggantungku hidup-hidup."
Bayu menyesap rokoknya kemudian menghembuskan asap dari mulutnya. Pikirannya terasa lebih rileks. Dia sedang memikirkan Shuwan. Belakangan ini dia juga tidak ada wktu untuk bertemu dengannya. Urusan klab benar-benar membuatnya sibuk.
"Memang bisa semiskin apa sih kalau klabmu tutup? Usahamu kan masih banyak kok kelihatan seperti orang stres. Private jet ada, helikopter ada, mansion, apartemen, restoran, perusahaan ini, klab juga masih ada dua yang beroperasi. Kamu sedang menghinaku kalau bilang stres padahal masih lebih kaya dariku."
Bayu memicingkan senyum, "Aku biasa berenang di kolam penuh uang, Jim. Kalau kolam uangnya tinggal separuh, itu seperti hal baru untukku. Aku jadi merasa jatuh miskin."
Padahal memang uangnya lebih banyak habis untuk Shuwan. Dan sampai sekarang ia belum bisa mendapatkan hotelnya.
Tok tok tok
"Masuk."
Reni masuk ke ruangan membawa kotak mainan. Lagi-lagi Reni disuruh Bayu untuk membelikan mainan.
"Ini Pak, yang Anda minta." Reni meletakkan kotak mainan di meja Bayu.
"Terima kasih, Reni."
__ADS_1
"Sama-sama, Pak."
Bayu kembali menghisap cerutunya. Ia merasa aneh karena Reni masih berdiri di sana. Padahal biasanya ia akan segera keluar setelah melaksanakan apa yang ia perintahkan.
"Kenapa, Reni? Apa ada yang ingin kamu katakan?"
"Mmm.... boleh saya bertanya?" Reni seperti ragu-ragu. Tapi kali ini ia ingin nekad dengan tekadnya.
"Ya, tanyakan saja."
"Sebenarnya Pak Bayu selalu menyuruh saya membelikan mainan untuk siapa, ya, Pak? Maaf kalau Bapak tersinggung."
"Oh, ini untuk anak saya." jawab Bayu lugas.
"Apa?" Reni ternganga mendengar pernyataan Bayu. "Bukannya Pak Bayu belum menikah, ya?"
"Memangnya tidak boleh memiliki anak sebelum menikah?"
"Ah, tidak juga, Pak. Itu terserah masing-masing orang. Saya permisi dulu. Terima kasih sudah menjawab pertanyaan saya." Reni langsung berlari keluar dari ruangan. Ia tampak takut membuat Bayu marah.
"Jawaban macam apa itu? Siap-siap saja jadi bahan pembicaraan di kantormu sendiri." ucap Jimmy.
"Apa ada yang salah? Ini memang untuk anakku, Daniel. Aku mau menjemputnya dari sekolah siang ini. Sudah lama aku tidak menemuinya."
"Tentu. Dia kan anakku juga."
"Baguslah. Lalu, mainan untuk anakku mana? Sepertinya sejak tahu punya anak kamu tidak pernah lagi perhatian dengan Leo."
"Bukannya kamu sendiri yang melarangku terlalu perhatian dengan Leo? Katanya tidak mau tersaingi sebagai ayahnya. Kamu amnesia?"
Jimmy hanya terkekeh. Dia lupa kalau pernah protes kepada Bayu yang sering membelikannya mainan. Leo jadi suka membanding-bandingkannya dengan Bayu. Katanya Bayu itu ayah idamannya. Tentu saja itj membuat Jimmy merasa tersaingi.
"Sudahlah! Aku pergi dulu. Kamu jaga kantorku di sini, ya."
"Jangan lama-lama! Aku juga punya kantor sendiri!"
Bayu melenggang pergi mengabaikan seruan Jimmy. Dia menenteng dua tas berisi mainan memasuki lift kemudian turun ke arah lobi. Dia tidak sadar kalau anak-anak divisi pemasaran sudah memperhatikannya. Itu semua karena ucapan Bayu sendiri yang mengatakan kalau hadiah itu untuk anaknya. Secara otomatis hal itu menjadi gosip baru.
Seperti biasa, sesampainya di delan sekolah Daniel saat jam pulang, sudah banyak mobil mewah yang terparkir. Hari ini Bayu berencana mengajak Daniel jalan-jalan sepuasnya. Urusannya dengan pihak kepolisian sudah selesai, sehingga ia punya sedikit waktu untuk bersama Daniel lagi.
Bayu melayangkan pandangan ke sekitar. Belum terlihat Daniel maupun Dean yang keluar. Prita yang biasanya datang menjemput naik taksi juga belum terlihat.
Bayu berjalan mendekati arah gerbang sekolah. Siapa tahu juga mereka memang belum pulang karena tidak ada yang menjemput.
__ADS_1
"Uncle Yu!"
Terdengar seruan anak kecil. Ternyata itu Dean, bukan Daniel. Dean digandeng oleh Ayash keluar melewati gerbang sekolah. Tatapan Bayu bertemu dengan Ayash. Keduanya sama-sama melontarkan tatapan tidak suka namun tetap diam.
Ayash membawa Dean berjalan melewati Bayu begitu saja. Bayu yang tidak terima, mencekal lengan Ayash untuk menghentikan langkahnya.
"Dimana Daniel?" tanya Bayu.
Ayash menghela nafas. Sebenarnya ia sedang tidak mood untuk berbicara dengan Bayu. Tapi dia juga malas untuk ribut apalagi itu di depan sekolah anak-anak yang sedang ramai.
"Daniel tidak masuk sekolah."
"Kenapa?"
"Ikut aku."
Ayash tahu kalau pertanyaan Bayu akan semakin banyak. Ia mengajak Bayu duduk di area taman yang cukup sepi dari kerumunan orang.
"Daniel ada di rumah sakit, dia sedang sakit." ucap Ayash.
Ia begitu dewasa, menghilangkan ego di saat seperti ini demi Daniel. Kalau ingin menuruti keegoisannya, Ayash seharusnya tak mengatakan apapun tentang Daniel. Tapi, ia buang semua itu karena mau tidak mau mengakui, Bayu memang ayah kandung Daniel. Ayash tahu, Bayu juga sangat peduli dengan Daniel. Karena itu dia rasa Bayu juga berhak untuk tahu semuanya.
"Seminggu yang lalu Daniel jatuh ke jurang jadi dia harus dirawat di rumah sakit. Selain itu, Daniel juga mengidap Leukemia Limfoblastik Akut. Karena itu dia masih dirawat di rumah sakit untuk terus dilakukan observasi."
Reflek Bayu mencengkeram kerah Ayash. Saat ini ia sangat marah mendengar anaknya sakit. "Kenapa baru mengatakannya sekarang! Kalian tidak becus menjaga anakku. Seharusnya aku saja yang merawatnya!"
Ayash melirik pada Dean yang kebingungan melihat dua orang dewasa sedang bertengkar. Ia langsung menghempas cengkraman tangan Bayu. Anaknya tak boleh melihat hal seperti itu.
"Ini bukan waktu yang tepat untuk saling menyalahkan. Di sini ada Dean, jangan bertingkah seperti itu."
Bayu segera berusaha meredam emosinya. "Sudah satu minggu dan kamu baru mengatakan padaku. Itu keterlaluan."
"Kalau aku egois, seharusnya aku tak mengatakan apapun padamu."
"Daniel ada di Citra Internasional Hospital kamar nomor 404."
"Uncle, apa itu hadiah untukku?" tanya Dean.
"Ah, iya. Uncle.memang membelikan ini untuk Dean." Bayu memberikan satu tas mainan kepada Dean.
"Yeay!" seru Dean.
"Aku pergi dulu." Ayash menggendong Dean dan mengajaknya pergi.
__ADS_1
Bayu masih mematung di sana sambil menenteng satu tas mainan yang tersisa. Karena terlalu sibuk dengan masalahnya, ia sampai hampir melupakan Daniel. Ketika ia akan bertemu Daniel, ternyata anak itu sedang dirawat di rumah sakit dengan penyakit yang terbilang parah.