ANTARA CEO DAN MAFIA 2

ANTARA CEO DAN MAFIA 2
Perusahaan Milik Ayah


__ADS_3

Prita mendapat telepon dari pengasuh Dean katanya Dean sudah lebih dulu dijemput oleh Bayu. Padahal saat Bayu akan mengantarkan Dean ke sekolah, Prita sudah mengingatkan kalau pulangnya Dean akan dijemput pengasuhnya. Tapi lelaki itu memang terkadang suka semaunya sendiri. Dean dia jemput tanpa memberitahu sampai membuat pengasuhnya kebingungan.


Sementara, Livy sudah lebih dulu dijemput pengasuhnya tadi pagi di rumah sakit. Livy sudah kembali ceria. Dia mau diajak pengasuhnya pulang tidak seperti kemarin yang menempel terus dengan Prita.


"Leta, kamu tau dimana kantornya Pak Bayu?"


"Memangnya Nyonya Prita tidak tahu?"


Prita menggeleng. Leta terheran-heran, bagaimana bisa majikannya itu tidak tau perusahaan pacarnya sendiri. Diambilnya sebuah kartu nama dari dalam dompetnya dan diberikan kepada Prita.


Prita memicingkan matanya, membaca secara detail informasi yang tertulis pada kartu nama itu. Bayu Bagaskara, Direktur PT Minata Food? Dia seperti familiar dengan nama perusahaan itu. Ada pula alamat perusahaan yang tertera di sana.


"Leta, saya mau ke kantor Bayu dulu, ya. Dia membawa Dean ke sana dan pengasuhnya kebingungan."


Leta mengangguk.


"Daniel, Mama pergi dulu ya, kamu baik-baik dengan Kak Leta."


"Iya, Ma."


Sebelum pergi, Prita mencium anaknya. Sekarang Daniel semakin terlihat sehat. ***** makannya meningkat.


Prita menaiki taksi dan memberikan alamat kantor yang akan dituju kepada sopir taksi. Jarak perusahaan itu hanya sekitar 15 menit dari rumah sakit. Sesampainya di depan alamat yang dimaksud, Prita mengernyitkan dahinya. Bangunan yang ada di hadapannya itu perusahaan yang dulu dimiliki ayahnya. Kenapa Bayu bisa menjadi direktur utama perusahaan itu? Kebetulan yang sangat aneh.


Memasuki lobi perusahaan serasa nostalgia bagi Prita. Dulu, dia sering mampir ke perusahaan itu sepulang sekolah untuk menemui ayahnya. Mengingat hal itu ia jadi merasa kembali masa lalu. Dimana kehidupannya masih sangat indah sebagai seorang anak yang tinggal bersama kedua orangtuanya.


Bentuk bangunan perusahaan itu hampir tak berubah, masih sama seperti dulu. Hanya tata letaknya saja yang sedikit berbeda dan tentunya orang-orangnya juga sudah berbeda.


Prita mendekati area resepsionis. Seorang wanita menyambutnya dengan senyuman ramah.


"Selamat siang, Ibu. Ada yang bisa kami bantu?"


"Saya ingin bertemu Pak Bayu Bagaskara."


"Maaf, Ibu. Apa sebelumnya sudah membuat janji dengan Pak Bayu?"


"Belum."


"Kalau begitu maaf, Ibu. Anda tidak bisa bertemu dengan Pak Bayu kalau belum membuat janji."

__ADS_1


"Kalau begitu, apa bisa panggilkan agar Pak Bayu turun menemui saya di sini?"


"Maaf, Ibu. Saat ini Pak Bayu sedang menerima kunjungan tamu penting. Beliau tidak bisa diganggu."


Prita memegangi dahinya. Bertemu Bayu lebih sulit daripada bertemu Ayash. Jika ia bertandang ke perusahaan Ayash yang jauh lebih besar itu, dia akan langsung dipersilakan ke ruangannya. Sekarang, untuk menemui Bayu dia harus membuat janji terlebih dahulu.


"Ini Nona Prita, ya?"


Prita menoleh ke arah suara orang di sampingnya. Tampak seorang lelaki yang sudah berusia sekitar 50 tahunan berdiri di sebelah kirinya. Ia perhatikan lekat-lekat lelaki itu. Wajahnya tidak asing, hanya saja dia sudah sulit untuk mengenali.


"Kamu pasti sudah lupa, saya Giyanto, staff HRD perusahaan yang dulu juga pernah bekerja untuk ayahmu."


Prita ternganga, ia seketika ingat dengan karyawan ayahnya yang satu itu. Dulu, Pak Giyanto yang sering menemaninya bermain saat dia diajak ayahnya ke perusahaan. Pak Giyanto sudah tampak menua dibandingkan dengan sosok yang pernah ia ingat dulu.


"Oh, Ya Tuhan, Pak Giyanto. Senang bertemu Bapak di sini." Prita langsung mencium punggung tangannya sebagai bentuk penghormatan.


"Saya juga senang bertemu kamu di sini. Senang melihatmu tumbuh dengan sangat baik. Prita yang sekarang semakin cantik, ya."


"Bapak bisa saja! Jadi, selama ini Bapak masih bekerja di perusahaan ini?"


"Iya. Sudah empat kali berganti bos dan saya masih juga dipakai di sini. Katanya saya itu sesepuh dan juru kunci yang patut dilestarikan."


"Kamu kenapa ada di sini?"


"Ehm, saya mau bertemu Pak Bayu, tapi katanya tidak boleh bertemu sebelum membuat janji."


"Kalau boleh tau, ada urusan apa mau bertemu Pak Bayu?"


Prita terdiam. Ia tidak mungkin mengatakan kalau dia pacarnya atau anaknya bersama Bayu. Mungkin beliau akan syok mendengarnya, karena setahu mereka, Pacar Bayu adalah Shuwan, bukan dirinya.


"Ini masalahnya sedikit pribadi, Pak. Saya tidak bisa menjelaskannya secara mendetail." Prita menjelaskan tanpa melepas senyumannya.


"Jihan, tolong panggilkan satu security untuk mengantar Nona ini ke ruangan Pak Bayu, ya." pinta Pak Giyanto.


Prita tidak menyangka akan mendapatkan pertolongan yang tidak diduga-duga.


"Tapi, Pak.... "


"Dia putri dari pendiri perusahaan ini yang terdahulu. Saya sangat mengenalnya. Jadi biarkan saja dia masuk ke ruangan Pak Bayu."

__ADS_1


"Baik, Pak."


Akhirnya resepsionis itu mengalah dan membiarkan Prita naik ke lantai atas ditemani oleh seorang security. Prita merasa sangat berterima kasih kepada Pak Giyanto. Berkat beliau, dia tidak jadi mengalami kesulitan untuk bertemu Bayu.


*****


"Apa yang tadi Shuwan katakan padamu?" tanya Bayu.


Ia khawatir Shuwan membisikkan kata-kata jahat yang akan membuat Prita jadi membencinya. Shuwan itu wanita licik, wajahnya manis tapi ucapannya sangat beracun.


"Tidak ada. Dia tidak mengatakan apapun." kilah Prita.


"Kamu jangan berbohong, aku lihat dia membisikkan padamu sesuatu."


Sepertinya Prita tidak bisa berbohong dari Bayu, "Untuk apa dia datang menemuimu? Apa kalian masih memiliki hubungan?"


Bayu mengangkat dagu Prita hingga kepalanya terangkat. "Apa kamu cemburu?"


"Aku hanya memastikan, apa aku berkencan dengan lelaki single atau lelaki yang sudah memiliki pacar. Aku tidak mau sampai disebut sebagai perebut milik orang."


"Aku tidak pernah benar-benar berpacaran dengannya. Kami hanya saling memanfaatkan untuk kepentingan masing-masing. Seperti untuk membersihkan skandalnya yang waktu itu."


"Kemari, duduklah dulu."


Bayu menarik Prita menuju sofa. Dia mendudukkan Prita di pangkuannya. Dengan mesra ia lingkarkan tangannya di sekeliling pinggang Prita yang langsing itu.


"Aku mau duduk sendiri."


"Tidak boleh."


"Ada Dean di sini."


Bayu melirik ke arah Dean. Anak itu hanya peduli dengan mainannya. "Dia juga tidak protes mamanya aku peluk begini. Biar nanti anak-anak terbiasa melihat kita bermesraan seperti ini setelah menikah."


Percuma berdebat dengan Bayu. Dia selalu bisa membalas kata-katanya dan melakukan seenaknya sendiri. Usianya jauh lebih tua darinya, tapi terkadang tingkahnya lebih kekanak-kanakkan dibanding dengannya. Bayu itu seperti lelaki yang kekurangan kasih sayang. Ia suka memeluk bergelayut manja padanya.


"Apa kamu tau, dulu ini adalah perusahaan milik ayahku."


"Ya, aku sudah tahu."

__ADS_1


Prita terkejut dengan jawaban Bayu. Jadi, selama ini dia berhubungan dengan orang yang menjadi pemilik baru bekas perusahaan ayahnya? Dan Bayu tidak pernah menceritakan hal itu padanya? Bahkan Leta bisa lebih tau tentang Bayu dibandingkan dengan dirinya. Dia tak mengenal secara pasti siapa Bayu sebenarnya selain kenyataan bahwa dia adalah seorang mafia.


__ADS_2