
"Selamat siang, Pak Bayu.... "
"Siang Pak Bayu.... "
"Pak Bayu.... "
"Pak Bayu mau jemput Daniel, ya?"
Bayu sibuk memperlihatkan senyumannya kepada setiap orang yang menyapanya ketika memasuki sekolahan Daniel. Banyak wali murid yang datang untuk menjemput anaknya. Mereka yang tahu tentang Bayu, sering menyapa saat bertemu di sekolahan.
Sebenarnya Bayu bukan orang yang suka berbuat ramah seperti itu. Di kantornya sendiri saja dia cuek meskipun ada yang menyapanya. Tapi, di sekolah ia merasa harus menjaga imej sebagai ayah dari Daniel. Kalau muncul sifat arogan dan ketidakpeduliannya, bisa saja Daniel dicap sebagai anak dari orang yang sombong.
Kebanyakan yang menyapa Bayu adalah ibu-ibu muda yang kebetulan anaknya juga bersekolah di sana. Sepertinya semua bermula sejak lomba ayah dan anak yang dilaksanakan saat Daniel masih TK. Setelah ia naik ke atas panggung menerima hadiah bersama Daniel, tiba-tiba jadi banyak ibu-ibu yang sok akrab dengannya.
Sementara, Prita yang berjalan di sebelah Bayu merasa menjadi makhluk kasat mata. Jelas-jelas dia ada di samping Bayu, tapi orang-orang yang lewat hanya menyapa suaminya. Terlebih yang menyapa suaminya itu kebanyakan ibu-ibu muda yang masih cantik.
Dia tidak tahu kalau suaminya begitu populer di kalangan mama muda International School itu. Perasaan curiga jadi muncul. Jangan-jangan Bayu sangat senang menjemput anak-anak karena bisa bertemu dengan mereka. Kehadiran suaminya di sana seperti idol yang sangat dinantikan penggemarnya.
Prita memang jarang menjemput anaknya. Bahkan ini pertama kalinya Prita masuk ke dalam sekolahan Daniel di SD. Kalau sekolah TK Prita sudah hafal. Karena Daniel sudah kelas satu SD, jadi bangunan sekolahnya juga berbeda dengan Dean yang masih TK.
Kehamilannya sudah memasuki bulan kesembilan. Dengan perut sebesar itu, masa orang-orang masih tidak menyadari keberadaannya. Setidaknya mereka menyapa keduanya, bukan hanya Bayu.
"Sepertinya kamu terkenal sekali di sini, Mas." ucap Prita dengan nada tidak suka. "Memangnya harus ya, kamu tersenyum kepada setiap wanita yang lewat?"
Bayu jadi bingung. Ia hanya berusaha bersikap sopan, namun istrinya tidak menyukai apa yang diperbuatnya. Seketika ia berhenti tersenyum.
Bukankah sesuatu hal yang normal untuk membalas senyuman dari orang yang tersenyum kepadanya? Bukankah itu yang namanya sikap sopan? Kalau ia memasang wajah arogan, tentu saja orang-orang akan membencinya. Selain membencinya juga jadi benci kepada istrinya dan juga anaknya. Menurutnya, Prita memang aneh.
"Pantas kamu senang sekali kalau menjemput Daniel. Pasti alasanya karena banyak ibu-ibu cantik di sini."
Bayu tersenyum getir. Ingin sekali ia berkata kasar. Sejak istrinya hamil tua, bawaannya seperti selalu ingin memarahi dirinya. Apa yang dia perbuat selalu salah, Prita selalu memandangnya dengan sudut pandang negatif.
__ADS_1
Bayu mengajak Prita duduk di bangku taman yang terlindung dengan pohon di dekatnya. Mereka akan menunggu di sana sampai jam pulang Daniel tiba. Dean sudah lebih dulu pulang karena jam belajar di TK berbeda dengan di SD. Sementara Daniel, sekolahnya bisa pulang jam dua atau jam tiga sore jika ada kegiatan tambahan.
"Sayang, menurutku wanita yang cantik itu hanya kamu. Bahkan jika dibandingkan dengan Livy sekalipun, kamu masih jauh lebih cantik."
"Gombal!"
Padahal Bayu sudah mengutarakan isi hatinya yang sebenarnya. Memang hanya Prita yang menurutnya cantik. Tapi, istrinya malah mengatakannya gombal. Apa dia tidak tahu kalau itu sebuah kejujuran?
"Ah, nasib wanita hamil besar seperti ini jadi kelihatan gendut dan tidak menarik lagi." gumam Prita.
"Menurutku kamu tetap cantik."
Prita melirik tajam ke arah Bayu. Dia sedang tidak bisa memercayai perkataan suaminya. Lelaki memang titisannya buaya, suka membual di depan saja.
"Pantas saja dandannya lama tadi. Pasti bingung pilih outfit yang bagus. Padahal hanya mau jemput Daniel sampai memikirkan penampilan serapi ini." Prita membuang pandangan ke arah lain. Ia masih kesal suaminya menjadi idola di sekolah Daniel.
"Aroma minyak wanginya sampai terlalu menyengat. Seminggu kayaknya botol minyak wanginya bisa kosong." sindirnya lagi.
Bayu melongo dengan penilaian istrinya terhadap penampilannya. Ia meneliti penampilannya sendiri. Hari ini ia hanya memakai kaos polos abu-abu dan celana jeans. Penampilan seperti itu istrinya bilang berlebihan?
Sementara, masalah minyak wangi, ia hanya memakai beberapa semprot saja seperti biasanya. Minyak wanginya juga sangat awet, berbulan-bulan juga belum habis. Kenapa Prita mengira ia memakai terlalu banyak minyak wangi? Apa penciuman orang bisa terganggu karena kehamilan?
"Sayang, menurutmu aku harus memakai apa kalau menjemput anak-anak?" tanya Bayu dengan nada penuh kesabaran.
"Ya pakaian yang biasa-biasa saja! Parfum juga jangan berlebihan!" Prita menjawabnya dengan nada ketus.
Memang sudah Prita kira. Wanita menyebalkan itu bukan hanya Karla, tapi ada banyak. Kemarin memang Karla yang membuatnya badmood. Sekarang, malah lebih banyak lagi mama muda yang berani menyapa suaminya padahal ada istri di sampingnya. Wanita jaman sekarang terlihat sangat mengerikan. Prita tidak bisa membayangkan kalau dia tidak ikut bersama Bayu, mungkin mereka sudah mengerumuni suaminya itu.
"Lihat dulu, hari ini aku hanya memakai kaos, tidak memakai pakaian ke kantor. Apa seperti ini juga termasuk berlebihan?"
Bayu memastikan istrinya agar bisa melihatnya. Mungkin juga kehamilan berpengaruh pada penglihatan Prita.
__ADS_1
Prita memandang penampilan suaminya. Memang tampak biasa, tapi tetap saja dia tidak suka.
"Kalau mau pergi, tanya dulu pendapatku, apa pakaiannya nanti pantas atau tidak." Prita tak mau mengalah meskipun salah. "Kalau yang seperti ini ya menurutku masih berlebihan dan mencolok. Membuatmu jadi pusat perhatian orang-orang."
Melihat wajah ngambek istrinya yang terlihat lucu itu Bayu jadi tersenyum, "Iya, Sayang. Maafkan aku. Besok-besok kamu yang siapkan pakaianku, ya." Bayu mengusap puncak kepala istrinya. Ia memilih untuk mengalah.
"Besok-besok jangan menjemput anak-anak sendiri lagi. Lebih baik sopir atau Ayash saja yang menjemput mereka!"
Bayu menahan tawa dengan perkataan Prita. Sepertinya istrinya itu hanya tidak suka kalau ia disukai oleh ibu-ibu di sana.
"Iya, Sayang. Aku akan mendengarkan kata-katamu."
"Aku masih heran, bisa-bisanya kamu mengenal semua ibu-ibu di sini. Genit banget sih!"
Bayu kira semuanya sudah selesai. Ternyata hal itu masih berlanjut.
"Siapa yang kenal, Sayang? Aku tidak kenal mereka sama sekali. Nama mereka juga tidak tahu."
"Buktinya mereka bisa menyapamu. Mereka bisa tahu kalau namamu Bayu."
"Ya, mungkin karena aku bapak-bapak yang sering datang ke sekolah. Biasanya yang datang menjemput kan ibu-ibu semua. Mereka juga kenal Ayash, kok."
"Kalau Ayash wajar, dia masih single." kilah Prita.
"Tapi kebanyakan ibu-ibu itu kan sudah punya suami juga, Sayang. Masa wajar?"
"Ya.... wajar-wajar saja! Yang sedang aku bahas di sini kan kamu, sudah punya istri tapi masih dekat-dekat dengan wanita lain. Itu namanya genit." Prita tetap ngotot kalau dirinya yang paling benar.
"Tapi aku tidak pernah dekat-dekat dengan mereka. Mereka hanya sebatas menyapa, dan aku hanya tersenyum untuk menghormati."
"Irgi juga begitu kalau datang ke sekolah ini. Mereka juga suka menyapa Irgi."
__ADS_1
"Ih, kok jadi bawa-bawa yang lain. Yang sedang dibahas kan kamu!"
Bayu menggaruk kepalanya karena bingung. Harus bagaimana lagi agar bisa meyakinkan istrinya itu.