ANTARA CEO DAN MAFIA 2

ANTARA CEO DAN MAFIA 2
Extra Part: Trip to Japan 2


__ADS_3

Malam telah menjelang. Rombongan keluarga Bayu sudah berkumpul di ruang makan yang telah disewa pada sebuah Ryokan. Mereka menggunakan pakaian tradisional Jepang, yaitu kimono, yang menjadi pakaian wajib ketika berada di ryokan.


Ryokan merupakan hotel bergaya tradisional Jepang. Ryokan biasanya terdapat di daerah yang banyak bangunan bersejarah, seperti tempat wisata yang memiliki onsen atau pemandian air panas.


Makanan yang telah terhidang sangat banyak memenuhi meja. Semua dimasak dari bahan-bahan yang khas di daerah setempat dengan tampilan cantik yang menggugah selera. Tidak ada batasan antara atasan dan bawahan, semuanya duduk sama rendah dan menikmati bersama hidangan yang tersedia.


Canda tawa riang sesekali terdengar mengiringi acara makan mereka. Bayu baru kali ini bisa merasakan acara makan bersama banyak orang dengan perasaan yang bahagia. Ternyata memiliki banyak keluarga merupakan hal yang patut untuk disyukuri.


Prita melepaskan kain yang menutupi Dylan. Sedari tadi ia memakainya untuk menutupi bagian dada karena sedang menyusui Dylan. Anak itu sudah tertidur setelah disusui. Sayang sekali, Dylan masih terlalu kecil untuk bisa mengingat dan menikmati perjalanan mereka kali ini. Udara yang dingin di Hokkaido juga membuatnya lebih sering harus tinggal di dalam penginapan.


Seperti saat mereka main salju tadi siang, Dylan tinggal bersama pengasuhnya di dalam Ryokan. Tapi, orang yang menjaga Dylan juga gantian, tujuannya agar semua orang yang Prita ajak bisa ikut menikmati liburan meskipun tetap harus menjaga anak-anaknya, terutama Dylan.


"Nyonya Prita, saya akan memindahkan Dylan ke kamar. Saya dan Ruti yang akan menjaganya." ucap Santi.


"Apa kalian sudah selesai makan?" tanya Prita memastikan.


"Sudah, Nyonya."


"Kalau kalian mau melihat-lihat dulu pemandangan sebelum masuk kamar juga boleh. Atau coba dulu mandi di onsen."


"Aku masih bisa menggendong Dylan."


Santi dan Ruti saling berpandangan seolah ingin menyamakan jawaban.


"Kami sudah mandi di onsen tadi sore dan kami juga sudah jalan-jalan." jawab Santi.


"Kami memang sudah ingin istirahat di kamar, Nyonya." imbuh Ruti.


"Baiklah kalau begitu. Terima kasih ya, sudah mau menjaga Dylan." Prita menyerahkan Dylan kepada Santi.


Sepertinya kedua pengasuh itu juga peka kalau Prita sedari tadi belum makan karena sibuk menyusui. Oleh karena itu, mereka sengaja makan lebih cepat agar bisa gantian menjaga Dylan dengan Prita.


"Sayang, ayo ke sini.... "


Bayu menepuk tempat di sebelahnya. Dari tadi istrinya duduk di pojokan untuk menyusui. Setelah Dylan dipindahkan, barulah Bayu menyuruhnya untuk duduk di sebelahnya.


"Mas, kamu minum alkohol?" tanya Prita ketika mencium aroma menyengat dari mulit Bayu.


"Ah, aku minum sake. Tidak lengkap makan makanan Jepang kalau tidak ada sake."

__ADS_1


Minuman tak berwarna yang terbuat dari fermentasi beras itu sekilas mirip dengan air putih biasa, namun bisa memabukkan jika meminumnya.


"Itu kan alkohol juga.... Nanti kamu mabuk."


"Hanya sedikit, Sayang. Aku juga kuat minum." sekali lagi Bayu meneguk cangkir berisi sake yang ada di hadapannya.


Prita hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan suaminya.


"Kamu mau makan apa, Sayang?"


"Mama.... Mama.... Tonkatsunya enak. Mama makan juga sama kayak Dean. Cobain, Ma."


Prita mendekatkan mulutnya ke arah sumpit yang disodorkan Dean. Ia menerima suapan dari anak anaknya itu. Daging sapi bagian sirloin yang digunakan untuk membuat tonkatsu itu teksturnya lembut, renyah, dan enak. Pantas saja Dean menyukainya.


"Mama.... Cobain ramennya juga. Ini juga enak." Daniel ikut-ikutan menawarkan makanannya.


Prita tak bisa menolak. Ia juga menerima suapan yang diberikan oleh Daniel.


"Enak kan, Ma?"


"Enak.... " Prita mengangguk. "Kalian habiskan makan dan setelah itu langsung tidur, ya. Besok kita akan lanjutkan perjalanan lagi yang lebih seru."


"Ke Kebun Binatang Asahiyama. Kalian mau lihat pawai pinguin, kan?"


"Yes! Hore.... " Daniel dan Dean tampak kegirangan.


Prita mencari-cari Livy yang sedari tadi tidak terdengar suaranya. Ternyata anak itu sudah tidur di pangkuan Leta.


"Livy sudah tidur, Nyonya. Sepertinya dia kelelahan bermain seharian dan tidak tidur siang."


"Kamu selesaikan saja dulu makannya baru pindahkan Livy ke kamar."


"Baik, Nyonya."


"Sayang, kamu mau tonkatsunya?" Bayu mengambilkan tonkatsu untuk Prita.


"Terima kasih."


"Makan yang banyak, ya. Biar kuat." kata Bayu setengah berbisik.

__ADS_1


Prita sudah mematung lebih dulu mendengar ucapan dari suaminya. Sementara, Bayu hanya senyum-senyum setelah mengatakan hal itu.


Acara makan kembali berlanjut. Satu persatu dari mereka kembali ke kamar masing-masing, terutama anak-anak Prita bersama para pengasuhnya. Mereka sudah mengantuk. Bayu turut mengajak Prita kembali ke kamar setelah selesai makan. Tersisa rombongan lelaki yang masih betah berada di ruang makan untuk menikmati sake. Katanya, mumpung di Jepang jadi mereka akan minum sake sepuasnya. Alex yang tidak terbiasa minum-minum juga jadi ikut-ikutan.


Bayu mempersilakan Prita masuk ke dalam kamar ryokan. Perbedaan kamar di ryokan dengan kamar hotel yang biasa adalah adanya ruang tamu bergaya Jepang. Kamar di sini memiliki tikar tatami, pintu shoji, dan area tokonoma.


Kamar di ryokan memiliki meja berkaki pendek dan zaisu atau kursi tanpa kaki dan hanya memiliki sandaran. Zaisu-nya juga dilengkapi dengan bantal zabuton yang bisa digunakan untuk duduk bersantai. Tempat tidur yang disediakan beralaskan futon atau kasur tidur ala Jepang di atas tikar tatami. Hampir mirip dengan tempat tidur jaman kerajaan yang sering Prita lihat di drama korea.


"Eh, ada TV juga ternyata." guman Prita yang baru menyadari kalau di kamarnya juga disediakan televisi.


Klik!


"Ah! Astaga!"


Prita menjerit dan langsung menutup mata ketika televisi itu menyala. Bukan karena film horror yang muncul, tapi adegan dua orang yang sedang bercinta yang muncul. Hal itu benar-benar membuatnya kaget karena tidak menyangka program televisi akan menayangkan hal seperti itu. Bahkan suara desa*han dari pemainnya masih terdengar memenuhi ruang kamarnya. Sementara, ia tidak berani lagi melihat ke arah televisi.


Bayu yang baru keluar dari kamar mandi juga kaget mendengar jeritan istrinya. Dia kira ada apa. Ternyata, istrinya menyalakan TV. Bayu menahan tawanya. Ia lupa memberitahu kalau acara TV yang ada di penginapan, terutama untuk pasangan memang lebih sering menayangkan adegan dewasa seperti itu.


"Kenapa, Sayang?" Bayu sengaja menggoda istrinya dengan memeluknya dari belakang.


"Mas.... Matikan TV-nya." Prita masih belum berani membuka mata.


"Kenapa mau dimatikan? Bukannya kamu sendiri yang menyalakannya, hm? Mau memancingku, ya?"


Bayu sudah mulai menciumi tengkuk leher Prita dengan sensual.


"Aku tidak tahu kalau ada film seperti itu." Prita sangat malu harus mendengarkan suara dari televisi, apalagi untuk melihat gambarnya, ia tidak bisa. Rasanya lebih baik pura-pura hilang ingatan.


"Wah, ini bagus juga.... Sepertinya kita juga harus praktik gaya seperti ini. Coba buka matamu.... "


"Mas.... Aku tidak mau.... " rengek Prita.


"Hahaha.... Memangnya kenapa? Mungkin sengaja pemilik penginapannya supaya kamu belajar." goda Bayu.


"Mas.... Matikan.... "


Prita berbalik badan dan menyembunyikan wajahnya pada dada Bayu. "Kalau tidak mau matikan, aku pindah kamar, ya.... " ancamnya.


"Iya, iya.... Aku matikan." Bayu meraih tombol remot dan mematikannya. "Sudah."

__ADS_1


Prita menoleh ke arah televisi, benar sudah mati. Ia malu sekali sudah menyalakan televisi. Lain kali ia bersumpah tidak akan mencoba menyalakan televisi kalau pergi ke luar negeri. Acara yang ditampilkan benar-benar membuatnya jantungan sekaligus malu.


__ADS_2