ANTARA CEO DAN MAFIA 2

ANTARA CEO DAN MAFIA 2
Perjalanan Menuju Dermaga


__ADS_3

Kemarin jumlah views sampai 15ribu sehari. Kayaknya banyak yang lagi baca marathon. Makasih sudah mampir. Jangan lupa tinggalin jejaknya, ya.... Bisa kasih like atau komen 🥰


-------‐----------------------------------------------------------------------


"Ta.... Prita.... "


Ayash menggoyangkan tangan di depan Prita yang sedang melamun. Wanita itu sampai kaget dan tersadar dari lamunannya.


"Dari tadi aku bicara kamu tidak mendengarkan sama sekali?" Ayash menggelengkan kepala heran. Prita ada dibdepannya, tapi pikirannya entah kemana.


Siang ini, Ayash mengajak Prita dan anak-anak makan siang di restoran dekat Minata Food. Tentu saja ada Alex dan Leta juga ikut bersama mereka. Sebelum memulai lagi mengurus masalah di perusahaan, setelah menjemput Dean dan Daniel mereka mampir makan siang dulu.


"Maaf ya, aku sedikit tidak fokus." Prita memang kurang tidur karena setiap malam memikirkan suaminya yang belum pulang. Karena itu pikirannya ikut kacau.


"Tadi kamu tanya apa?"


"Katanya kamu mau membawa orang yang mau dijadikan kandidat manager pengganti."


"Ah, maksumu Ejaz dan Edo.... Aku sudah menyuruh mereka datang ke kantor siang ini. Fredi juga sepertinya datang hari ini."


"Benar kan, Alex?"


"Iya, katanya urusan Kak Fredi sudah selesai. Dia sudah kembali." sahut Alex.


"Baguslah, semakin banyak orang, semakin mudah untuk menyelesaikan permasalahan ini."


"Apa menurutmu perusahaan ini bisa dipertahankan?"


Ayash tersenyum melihat ekspresi khawatir di wajah Prita. Tanpa sadar, ia mengusap rambut mantan istrinya. Hal itu membuat semua mata memandang ke arahnya, termasuk Leta, Alex, dan anak-anak mereka. Prita juga terkejut dengan perlakuan Ayash padanya.


"Ah, maaf. Aku tidak sengaja." Ayash langsung mengambil tangannya dan mengusap rambutnya sendiri. Ia jadi salah tingkah.


"Kamu tidak usah khawatir, perusahaanmu masih bisa dipertahankan. Jangan termakan oleh ucapan Irgi."


"Syukurlah kalau begitu."


"Kenapa Daniel senyum-senyum begitu? Kamu lagi senang?" tanya Prita melihat ekspresi wajah Daniel yang tiba-tiba terlihat sangat ceria.


Anak itu menggeleng, sambil terus tersenyum ia menggulung spagetti di piring dengan garpu lalu melahapnya. Tidak ada yang tahu apa yang dipikirkan anak itu. Tapi, memang dia sedang merasa senang.


"Irgi mana?"


"Hari ini dia ada rapat, jadi tidak bisa ikut."


"Tumben dia sibuk."


"Dia itu sebenarnya sangat sibuk, hanya saja pembawaannya yang santai jadi orang menganggapnya tidak serius dan hanya main-main."


"Ngomong-ngomong, apa anak-anak tidak membuatmu repot di rumah?"


"Tidak, mereka kan sudah cukup besar. Aku malah senang ada anak-anak di rumah."


"Kamu ya, yang sekarang jadi kesepian?"

__ADS_1


"Iya, sudah biasa ramai oleh suara anak-anak, sekarang hanya Livy saja."


"Memangnya kamu beri mereka apa sampai tidak mau pulang ke rumah mamanya?"


"Hahaha.... Aku tidak memberikan mereka apa-apa. Mereka main dengan mainan yang sudah ada di apartemen. Mungkin karena anak cowok jadi lebih memilih ayahnya."


"Mama Maya tidak marah, kamu mengasuh Daniel?"


"Tidak." jawab Ayash dengan tersenyum.


"Syukurlah, aku jadi lega."


Ayash tidak mungkin mengatakan kalau sampai sekarang mamanya juga masih tidak menyukai Daniel.


"Aku dengar dari Andin sekarang kamu rutin ikut olahraga kick boxing. Apa itu benar?"


"Iya, aku dan Andin sekarang ikut kick boxing tiga kali seminggu. Kami juga ikut latihan menembak. Raeka kadang ikut, tapi paling hanya menonton."


"Andin pasti senang ada teman yang memiliki hobi sama dengannya."


"Olahraga bareng Andin menyenangkan juga."


"Apa hari-harimu sekarang lebih menyenangkan?"


"Aku rasa iya. Sekarang aku sudah punya banyak teman."


Ayash merasa senang melihat senyum yang terkembang di wajah Prita. Namun, dia juga merasa iri. Selama dengannya, mungkin Prita tak seceria dan sebebas sekarang.


*****


"Sudah siap semuanya, kan?" tanya Bayu kepada Ben.


"Sudah, Bos."


Tengah malam ini, Bayu dan rombongannya akan memulai perjalanan mengantarkan kayu-kayu gelondongan berisi ganja ke pelabuhan.


Bayu mengecek lagi kondisi barang yang ada di barisan truk. Kayu-kayu gelondongan itu tertata rapi, terlihat seperti kayu pada umumnya kalau dilihat dari belakang. Jika dilihat dari sisi depan, terlihat lubang kayu bekas dilubangi karena memang sengaja untuk tempat memasukkan ganja-ganja ke dalamnya.


Total ada lima truk yang akan mereka kawal. Dari posisi mereka sekarang butuh waktu sekitar lima jam untuk sampai pelabuhan. Jadi, diperkirakan mereka sampai pelabuhan saat subuh.


Bayu dan Ben menaiki mobil jeep paling depan. Ada dua mobil jeep di depan rombongan truk dan satu mobil jeep di bagian belakang. Rombongan kendaraan mereka mulai bergerak di tengah kesunyian malam hutan.


Di sepanjang area hutan tidak ada penerangan sama sekali bahkan dari lampu jalan. Apalagi perumahan penduduk yang dilewati sangat jarang. Kendaraan hanya mengandalkan penerangan dari lampu sorot saja.


Medan jalan yang tidak rata, samping kanan kiri ada jurang yang terjal, membuat kendaraan berjalan cukup pelan. Bayu sampai kebosanan melalui perjalanan malam yang tidak mengenakkan. Untuk beristirahat juga tidak nyaman karena guncangan.


Perjalanan selama lima jam berjalan lambat serasa memakan waktu lima abad. Apalagi ada rasa rindu, perjalanan itu serasa bagai sebuah siksaan yang berat. Tidak ada hal lain yang ingin ia tuju setelah pulang selain kembali dan memeluk istrinya.


"Ben, kalau sudah sampai dermaga, aku akan langsung ke bandara pulang ke kota S. Sisanya aku serahkan padamu ya untuk mengawal sampai Kota J."


"Tapi ayah Anda berpesan agar Anda mampir sebentar ke mansionnya di Kota J."


"Itu kapan-kapan saja. Aku perlu pulang lebih dulu sebelum ada yang ngambek."

__ADS_1


"Baik, Bos."


Perjalanan terus berlanjut masih melewati jalanan berliku dan terjal. Mereka hanya pasrah merasakan badan yang terguncang-guncang selama perjalanan.


Bug!


Prang!


Kaca jendela mobil yang Bayu tumpangi pecah dilempari batu. Sopir otomatis mengerem kendaraannya. Di tengah jalan ada sekelompok orang yang berseragam loreng seperti anggota tentara membawa senjata laras panjang menghadang perjalanan mereka.


"Ada pemeriksaan tentara di daerah ini?" tanya Bayu.


"Bukan, Bos. Mereka bukan tentara, tapi kelompok pemberontak."


"Ah.... Kenapa mereka turun ke jalan? Mau mencari gara-gara dengan kita?"


"Biasanya memang merek tidak menyukai pendatang apalagi yang mengangkut hasil hutan dari wilayah mereka."


"Maksudmu mereka ingin merebut kayu-kayu milik kita?"


"Sepertinya begitu. Katanya, kekayaan alam dari wilayah mereka tidak boleh dibawa keluar pulau, apalagi ke Pulau J."


"Hah! Mereka benci orang-orang dari Pulau J?"


"Iya, karena menurut mereka orang-orang dari Pulau J adalah penjajah."


"Maklum, biasanya memang yang berkuasa di daerah-daerah seluruh negeri ini kebanyakan dikuasai orang-orang dari Pulau J."


"Halah! Kalau mereka sukses juga paling maunya tinggal di Pulau J."


Dor!


Satu tembakan dilayangkan dari depan.


"Jadi bagaimana, harus kita habisi mereka semua?"


"Terpaksa." jawab Ben.


Bayu mengambil senjata laras panjang dari bawah jok, diikuti oleh Ben dan anak buahnya yang lain.


Dor!


Tembakan kembali dilayangkan dari arah depan. Tidak perlu berlama-lama, Bayu membalas tembakan yang mereka berikan dengan membabi buta. Seluruh anak buahnya ikut turun menembakkan senjata mereka yang dibalas oleh pasukan pemberontak hingga menimbulkan deru suara tembakan yang saling bersahutan di keheningan malam.


Tembak menembak terus berlangsung tak peduli dari kedua pihak ada yang mati ataupun terluka. Jalan sudah terbuka, sebagian pemberontak itu terpaksa mundur ke semak-semak karena terdesak.


"Ben, pergi duluan bawa rombongan tetap melaju sampai dermaga. Biar aku dan anak buah yang lain menahan mereka di sini."


"Anda saja yang berangkat lebih dulu, biar saya yang menahan mereka."


"Siapa pemimpinnya di sini, Ben? Patuhi aku! Cepat pergi!"


Bayu memaksa Ben menaiki mobil jeep satunya untuk memandu truk-truk yang membawa barang mereka. Sementara, Bayu dan dua mobil jeep lainnya menahan serangan agar tidak ada yang mengganggu perjalanan rombongan truk.

__ADS_1


__ADS_2