
Thanks kakak-kakak, bunda-bunda, dan emak-emak yang masih setia ngikutin cerita ini. Vote, like, komen jangan lupa ya 😁
--------‐-‐------------‐‐-----------------------------------------------------
"Nama Anda Bayu Bagaskara?"
"Benar."
"Apa hubungan Anda dengan Dean Hartadi?"
"Dia anak pacar saya."
"Bagaimana Anda bisa ada di lokasi itu?"
Bayu menghela nafas. Di ranjang pesakitan dia harus bertahan menghadapi pertanyaan dari polisi. Padahal tubuhnya masih terasa sakit, namun harus tetap kooperatif. Inilah kerepotan yang paling dia hindari, berurusan dengan polisi.
"Pacar saya bilang anaknya hilang, jadi saya bantu cari, Pak."
"Darimana Anda tau lokasi penyekapan ada di sana?"
"Bapak sendiri tau darimana?"
Bayu heran, untuk apa juga mereka perlu bertanya-tanya lagi? Seharusnya mereka berterima kasih dia sudah meringankan tugas mereka untuk menyelamatkan seorang anak yang diculik. Apa mereka merasa tersaingi karena tugasnya ada yang menggantikan? Salah siapa juga datang lambat.
"Mohon kerjasamanya, Pak. Silakan Anda jawab pertanyaan kami, bukan dengan balik memberikan pertanyaan."
"Saya bisa tau dengan cara yang juga kalian lakukan." tukas Bayu.
Dia tidak mengatakan kalau sebenarnya penjahat itu salah culik anak. Dia juga tidak mengatakan kalau sebenarnya dia tau tempat itu langsung dari penculiknya.
"Apa Anda ikut melacak nomor kendaraan yang digunakan penculik itu?"
"Ya, tentu saja." jawab Bayu sekenanya. Dia ingin sesi interogasi itu segera berakhir.
"Apa saat itu Anda datang sendiri?"
"Apa saya terlihat datang bersama teman-teman saya? Memangnya kami mau datang ke kondangan? Ini penculikan, Pak! Kalau datang ramai-ramai mana mungkin babak belur seperti ini." gerutu Bayu.
"Sekali lagi, tolong jawab saja pertanyaan yang diberikan."
"Iya, Pak. Saya datang sendiri."
Bayu menyembunyikan fakta juka Red Wine juga datang membantunya. Dia tak ingin Red Wine terkena masalah sehingga identitas mereka bisa teebongkar.
"Apa Anda ingat siapa saja wajah-wajah orang yang menculik Dean? Atau ada salah satu yang Anda kenali?"
"Saya tidak kenal tapi tau orangnya. Dia Zetian Yan. Pengusaha terkenal yang mengelola restoran dan hotel.
"Berapa orang mereka?"
"Tidak tau. Sepertinya lebih dari sepuluh orang."
"Di tempat kejadian ada jejak yang menunjukkan telah terjadi perkelahian yang melibatkan banyak orang."
__ADS_1
"Saya menghadapi mereka sendiri makanya tempatnya tampak kacau."
"Kenapa Anda bertindak sendiri? Kenapa tidak memberitahu pihak kepolisian terlebih dulu?"
"Karena polisi lambat!"
Perkataan Bayu yang barusan membuat polisi di depannya itu seperti menahan marah. Seandainya bukan di rumah sakit, mungkin Bayu audah dia hajar. Ucapannya sangat pedas dan menyakitkan perasaan.
"Lihat saja, kalian datang setelah aku babak belur. Kalau kalian lebih telat lagi, mungkin aku dan anak itu akan mati. Tolong perbaiki sistem dan kinerja kalian sebagai pelayan masyarakat."
"Kami menjalankan tugas sesuai prosedur yang ada, tidak seenaknya mengambil tindakan sendiri."
"Keselamatan dalam menjalankan tugas juga sesuatu yang harus diutamakan, bukan bertindak tanpa arah dan tujuan serta perencaan. Itu sama saja dengan sebuah kegagalan."
Bayu yang bebal hanya menganggap ucapan itu seperti angin lalu. Pantas saja mereka selalu telat datang ke tempat kejadian perkara, karena prosedur kerjanya juga berbelit-belit.
"Iya, Pak. Maafkan saya. Silakan dilanjutkan."
"Apa mereka bersenjata?"
"Ada beberapa dari mereka yang membawa pistol. Sisanya mereka tidak bersenjata."
"Siapa yang menembak Anda?"
"Tuan Zetian Yan."
"Apa Anda yakin kalau orang itu adalah pelakunya?"
"Sangat yakin."
"Saya pernah bertemu dengan Tuan Zetian. Dan saya hafal raut muka serta mimik wajahnya.
"Menurut Anda, apa yang menjadi pemicu kasus penculikan itu?"
"Mungkin hanya seputar urusan bisnis. Ayah Dean dan Tuan Zetian sama-sama pengusaha. Lebih jelasnya tanyakan sendiri pada penculiknya."
"Kondisi saya sedang tidak baik, Pak. Pertanyaan-pertanyaan Anda justru mengarah kalau sebenarnya Anda menuduh saya yang sudah menculik Dean?"
"Kalau saya yang ingin menculiknya, untuk apa juga saya mengalami luka-luka seperti ini bahkan terkena luka tembakan pula."
Seandainya kondisi Bayu tidak seperti ini, mungkin dia sudah mengajak duel polisi itu. Pertanyaan yang diberikan menurutnya berbelit-belit dan menempatkannya pada posisi si penculik. Sungguh menggelikan jika mereka berpikir dia yang menculik Dean.
"Maaf jika interogasi kami mengganggu. Tapi, ini sangat penting sebagai penguat bukti nanti di persidangan. Karena, pihak keluarga Hartadi tidak ingin berdamai sekalipun pelakunya merupakan rekanan bisnis. Mereka ingin semua diusut tuntas."
Bayu menyeringai, 'Mampus sekarang, dasar tua bangka! Kamu terjebak di lubang yang Anda gali sendiri. Selamat menikmati masalah panjang yang tak akan mudah terselesaikan.' gumamnya dalam hati.
"Itu bagus. Penegakan hukum di negara ini memang harus ditegakkan tanpa pandang bulu."
Bayu berbicara seolah-olah sebagai orang paling bijak di negeri ini. Mungkin ia lupa kalau dia juga sering melakukan tindakan kriminal seperti pembunuhan.
"Baik, kalau begitu saya permisi dulu. Terima kasih atas waktunya. Selamat siang." pamit polisi itu.
Bayu bisa bernapas lega setelah polisi itu pergi. Dia mengangkat punggungnya perlahan karena ingin berada pada posisi setengah duduk. Tubuhnya masih terasa sakit ketika digerakkan, terutama pada bagian bahu yang terkena tembakan.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, Fredi bersama dua anggotanya masuk. Mereka berdiri berjajar di samping Bayu.
"Carikan Private Jet sekarang juga. Aku mau terbang ke Kota J." perintah Bayu.
"Kondisi Anda masih seperti ini, Tuan. Lebih baik Anda banyak beristirahat hingga pulih." bujuk Fredi. Dalam hati, Fredi juga masih merasa bersalah karen telah meninggalkan bosnya malam itu.
"Aku sudah tiga hari terbaring di sini. Aku tidak mau lebih lama lagi. Kalaupun aku harus kembali dirawat, aku akan memilih dirawat bersama anak dan calon istriku." Bayu mengerlingkan sebelah matanya.
Fredi hanya bisa terdiam mendengar ucapan bosnya. Kalau bahasanya sudah bucin begitu, artinya kemauan bos tidak bisa ditunda-tunda. Fredi harus segera menyiapkan jadwal keberangkatan bosnya membali ke Kota J.
"Kenapa tingkah kalian seperti tidak pernah melihatku begini? Aku sudah terbiasa menjalani operasi pengambilan peluru. Ini bukan pertama kalinya. Tampang kalian seperti keheranan begitu."
"Baik, Tuan. Akan kami persiapkan penerbangannya secepatnya."
"Kenapa buru-buru? Kita bisa berangkat bersama." sahut Ayash yang baru masuk dari arah pintu.
Ayash menggendong Dean serta di sampingnya ada Andin, istrinya.
"Kami juga akan ke Kota J untuk melihat Daniel. Kamu bisa ikut bersama kami."
"Halo, Uncle.... " sapa Bayu.
Anak itu masih terlihat antusias jika melihat Bayu.
"Hai, Dean."
"Bagaimana? Apa kamu mau ikut dengan kami?"
"Kapan kalian pergi?"
"Besok pagi."
Bayu berpikir sejenak. Besok itu terasa masih lama. Dia ingin hari ini juga berangkat.
"Baiklah, aku akan ikut kalian." jawabnya.
"Katanya tadi polisi kesini?"
"Ya, begitulah. Apa Zetian sudah mereka tangkap?"
"Aku dengar belum. Dia tidak ada di rumahnya. Sekarang masih jadi buronan."
"Hah! Tua bangka itu. Mau kabur kemana dia." kekeh Bayu.
"Apa kamu tau, gara-gara dia polisi juga mencurigaiku sebagai pelaku penculikan Dean. Sudah gila mereka! Hanya karena aku lebih dulu datang, aku dikira penculik."
"Kenapa kamu bisa lebih dulu tau tempat itu?"
Pertanyaan yang Ayash tanyakan sama dengan yang ia dengar dari polisi.
Bayu menyeringai, "Karena aku lebih pintar dari kalian semua."
Klek!
__ADS_1
"Bayu!"