ANTARA CEO DAN MAFIA 2

ANTARA CEO DAN MAFIA 2
Daniel ingin Menginap


__ADS_3

"Sejak kapan kamu merokok? Katanya dulu aku tawari tidak tertarik." ejek Irgi.


Setahu Irgi, Ayash orang yang paling anti dengan rokok. Waktu SMA juga dia paling enggan untuk diajak merokok di sekolah. Jangankan hanya merokok, membolos atau bikin onar sedikit saja dia tidak mau. Pokoknya imej dia di sekolah adalah anak baik-baik. Ditambah lagi dia tidak suka berdekatan dengan cewek yang tidak dekat dengannya. Ketampanannya disia-siakan. Sikapnya sangat dingin kepada orang lain terutama cewek centil yang sengaja mau mendekatinya. Paling dia akan langsung hina sampai cewek itu malu dan kapok mendekatinya.


Kalau Irgi, Si Pangeran Sekolah, dia lebih ramah pada orang. Walaupun bukan playboy, tetap dia dicap sebagai cowok yang suka main cewek karena sikap ramahnya pada orang-orang.


Satu-satunya wanita yang pernah Ayash suka sampai bucin itu hanya Prita. Sekarang, dia sudah menikah dengan lelaki lain. Tidak bisa dibayangkan bagaimana gilanya dia sekarang.


"Sekali-kali camping, yuk! Aku temenin orang yang lagi patah hati biar pikirannya lebih fresh."


"Pekerjaan masih numpuk, Ir. Aku belum ada waktu luang."


Ayash tetap fokus pada tumpukan berkas di mejanya. Ia mengecek hasil pekerjaan karyawannya sambil sesekali menyesap rokok yang ada di tangan.


"Bayar orang lah, buat gantiin sementara pekerjaanmu. Ngapain juga kerja terus kalau bikin stres bisa cepat mati lho."


"Nggak bisa apa jadi pengusaha yang sedikit santai sepertiku?"


"Kamu nggak usah kerja juga masih bisa hidup enak, Ir. Menantu kesayangan Keluarga Wijaya."


"Sialan! Memangnya aku tipe menantu seperti itu?"


"Sudahlah! Kerja lagi kerja lagi. Kalau mulutmu sudah bersuara itu cuma bikin aku emosi. Kerja yang benar, kalau nggak benar aku pecat!"


"Papa.... "


Seruan dari Daniel mengalihkan perhatian keduanya. Ternyata anak itu datang bersama Prita. Seketika Ayash langsung panik! Ia sedang memegang rokok. Buru-buru ia ingin mematikan rokoknya, namun malah mengenai punggung tangannya.


"Ah!" pekiknya ketika panasnya bara rokok menyentuh permukaan kulitnya. Ia kibaskan tangannya karena panik.


Prita yang masih berada di ambang pintu langsung berlari menghampiri Ayash dengan panik. Tanpa sadar ia menunjukkan rasa khawatirnya, memegang tangan Ayash yang memerah terkena sulutan rokok.


"Oh, Ya Tuhan.... Kenapa tidak hati-hati? Tanganmu sampai merah sekali." gumam Prita sembari memegangi tangan Ayash.


Apa dia tidak tahu, perlakuannya itu sedang membuat lelaki yang ia pegang tangannya jadi meleleh perasaannya.


"Aku ambilkan obat dulu."


Prita buru-buru menuju tempat penyimpanan obat. Dia sangat hafal letaknya, karena sejak dulu ruangan itu masih tertata seperti biasa.


Ia oleskan perlahan krim khusus untuk luka bakar secara perlahan dan merata pada punggung tangan Ayash.


"Papa nggak apa-apa?" Daniel ikut khawatir.


Ayash tersenyum, anak itu mengkhawatirkannyap. "Tidak apa-apa, Sayang. Papa baik-baik saja."


"Lagian kenapa kamu merokok segala? Biasanya kan enggak." omel Prita.


Ayash meneguk ludah. Ia jadi ketahuan menjadi seorang perokok sekarang. Apa dia perlu menjelaskan alasannya? Bagaimana respon Prita kalau dia mengatakan sejak bercerai dengannya dia jadi stres dan mulai merokok? Apa wanita itu akan merasa kasihan atau merasa bersalah padanya?


"Irgi memaksaku mencoba rokoknya. Sebenarnya aku juga sudah tidak mau, tapi dia memaksa." Ayash mencoba berkilah.


Rasa kesal bercongkol di dada Irgi. Dia dijadikan alasan di depan Prita. Padahal, itu rokok Ayash sendiri dan justru dia yang meminta rokok darinya.


"Ir, kamu kalau ngajak orang yang positif lah, Ayash kan nggak bisa merokok masa kamu ajak merokok." omel Prita.

__ADS_1


Irgi jadi tumbal. Ia harus menerima jadi sasaran kemarahan Prita sekarang.


"Sekali-kali, Ta. Aku kan butuh teman merokok."


"Ajak yang lain lah, memangnya harus Ayash?"


"Memangnya kenapa, Ta. Kalau Ayash merokok?" pancing Irgi.


"Aku.... "


Prita tak bisa melanjutkan kata-katanya. Dia memang bodoh, sekarang Ayash hanyalah mantan suaminya. Kenapa juga dia masih peduli? Lagipula, dia juga sudah menikah lagi. Apa dia baru saja lupa?


"Aku kenapa?" telisik Irgi lagi. Dia memang suka seperti itu. Memojokkan orang agar bisa mengatakan sesuatu dengan jujur.


Prita menghela nafas, "Ayash itu ayah dari anak-anakku. Aku tidak mau dia nantinya penyakitan karena kebiasaan merokok." Prita mencoba mencari-cari alasan.


"Kamu lagi menyumpahi perokok sepertiku, Ta?"


"Kamu juga sama, berhentilah merokok! Aku juga tidak mau sahabat kesayanganku nanti jadi penyakitan karena rokok."


"Ngomong-ngomong, suamimu mana?"


"Masih di kantor."


Irgi menaikkan sebelah alisnya, "Dia nggak marah kamu ke sini menemui mantan suami?"


Pertanyaan menohok dari Irgi.


Ekspresi Prita berubah. Dia memang tidak mengatakan pada Bayu kalau ingin mengantarkan Daniel menemui papanya. Bayu memang pasti akan marah kalau tahu dia pergi ke kantor Ayash tanpa sepengetahuannya.


Prita menguatkan alibi dalam hatinya jika perbuatannya kali ini hanya untuk Daniel, bukan untuk dirinya. Dia hanya mengantar Daniel, bukan menemui Ayash. Itu hal yang sangat berbeda.


"Yash, Daniel mau menginap di rumahmu weekend ini. Apa kamu bisa?"


Ayash sejak tadi sudah memangku Daniel di kursinya. Ia mengelus-elus puncak kepalanya.


"Tentu saja bisa. Kapan saja Daniel mau, dia boleh tinggal bersamaku."


Daniel memeluk hangat papa kesayangannya.


"Kebetulan weekend ini aku juga mau camping dan memancing dengan Irgi. Aku juga akan mengajak Daniel sekalian. Iya kan, Ir."


"Ah, hm."


Irgi tambah geram. Sejak tadi Ayash mengatakan hal-hal yang tidak benar. Jelas-jelas tadi dia menolak ajakannya. Kenapa sekarang di depan Prita dia malah berkata seperti itu? Awas saja nanti dia akan benar-benar mengajak Ayash ke tempat yang rutenya lumayan susah biar dia kewalahan apalagi harus membawa Daniel.


"Suamimu nggak ajak bulan madu, Ta?" celetuk Irgi.


"Bulan madu apaan.... "


"Masa dapat suami kaya nggak diajak bulan madu.... Suamimu pelit, ya?"


"Aku baru selesai pindahan rumah, Ir. Daniel juga sudah mulai sekolah. Tidak ada waktu memikirkan hal itu."


"Kamu pindah kemana?"

__ADS_1


"Ke daerah pusat kota dekat sekolahan Daniel dan Dean."


"Wow! Berapa miliyar harga rumah barumu?"


"Mana aku tahu, Irgi.... Memangnya aku harus se-kepo itu? Lambe Turah kali!"


"Pastikan rumahnya atas namamu, Ta. Semangat kumpulin aset dari Bayu Bagaskara."


"Tidak usah didengarkan, dia sedang menyebarkan ajaran sesat." ucap Ayash.


"Tobat kamu, Irgi.... "


"Ta.... Kalau aku dan suamimu musuhan, kamu bakalan belain siapa?"


Mulai lagi, Irgi suka cari perkara. "Yang jelas aku tidak akan belain kamu. Soalnya kamu tukang cari perkara."


"Hahaha.... Sukurin!"


"Kenapa sih, kamu sangat membencinya? Kalau dulu dia pernah salah ya sudahlah, orang kan bisa berubah."


"Nggak ada orang yang semudah itu bisa berubah, Ta. Aku yakin dia masih seperti yang dulu."


"Terserah kamu, lah! Aku pusing tidak bisa membuat kalian akur. Dia sekarang suamiku, loh. Dia baik kapadaku dan juga anak-anakku. Aku harap kita semua bisa berhubungan baik dan tidak ada perselisihan apapun."


"Kamu jangan ikut-ikutan seperti Irgi ya, Yash. Kita harus tetap akur meskipun sudah berpisah."


Ayash hanya menyunggungkan senyum.


"Oh, iya. Aku mau mengembalikan ini."


Prita menyodorkan kartu kredit yang pernah Ayash berikan padanya. Setelah bercerai, Ayash memberikan kartu itu untuk memenuhi kebutuhanya. Sekarang, dia sudah menikah dengan Bayu. Artinya, kewajiban Ayash sudah berakhir. Dia harus mengembalikannya.


"Tolong tetap simpan, Ta. Dean dan Livy kan ikut bersamamu. Gunakan untuk membelikan kebutuhan mereka."


"Kamu bisa membelikan kebutuhan mereka sendiri, Yash. Aku juga punya kewajiban untuk men cukupi mereka juga karena aku juga ibunya."


"Simpan saja meskipun kamu tidak memerlukannya. Kalau kamu tidak mau menyimpannya, buang saja." Ayash berkata dengan nada datar. Dia sangat tidak suka Prita mengembalikan pemberiannya. Baginya, itu suatu penghinaan. Apa yang ia berikan kepada Prita, itu sudah bukan miliknya lagi.


"Ah, begitu, ya. Baiklah, aku akan tetap menyimpannya kalau begitu. Nanti kalau Dean atau Livy sudah besar, aku bisa memberikannya pada mereka."


Prita tersenyum canggung. Ia kembali memasukkan kartu kredit Ayash ke dalam tasnya. Aura di sekitar Ayash cukup gelap. Dia pasti akan marah kalau ia tetap memaksa mengembalikannya.


"Kalau begitu, aku pamit dulu, ya. Titip Daniel."


Ayash mengangguk.


"Daniel, kamu jangan nakal atau merepotkan papa, ya?"


"Iya, Mama."


"Aku pulang dulu, Ir."


"Hm, hati-hati di jalan."


Prita berbalik lalu berjalan ke arah pintu. Rasa cintanya kepada Ayash memang sudah memudar. Tapi, rasa peduli terhadap lelaki itu belum bisa ia hilangkan dari pikirannya. Dia berharap baik dirinya maupun Ayash bisa menjalani kehidupan keluarga masing-masing tanpa penyesalan. Tapi, hal itu sepertinya sangat sulit.

__ADS_1


__ADS_2