ANTARA CEO DAN MAFIA 2

ANTARA CEO DAN MAFIA 2
Aku Baik-Baik Saja


__ADS_3

"Loh, Daniel mau kamu ajak kemana?" tanya Bayu ketika melihat Prita sudah memindahkan Daniel ke atas kursi roda.


Seperti biasa, siang ini Bayu juga datang mengunjungi Daniel. Apalagi Prita harus merawat ketiga anaknya di rumah sakit karena Ayash dan keluarganya menghadiri acara di Kota J.


"Hari ini jadwal Daniel kemoterapi. Aku mau mengantarnya ke sana."


"Dean dan Livy dimana?" Bayu melihat perbedaan ruangan itu kini tampak sepi. Biasanya ramai oleh suara berisik mereka dan juga para pengasuh yang membuat suasana makin ramai.


"Tadi pagi dijemput sopir. Katanya nenek mereka sudah pulang."


"Ooh.... " Bayu mangguk-mangguk. Sekitar empat hari ruang kamar Daniel menjadi ramai, kini membali sepi.


"Kalau begitu biar aku saja yang mengantar Daniel. Kamu bisa istirahat dulu." Bayu mencoba menggantikan Prita mendorong kursi roda.


"Tidak usah, biar aku saja."


Prita tak mau mengalah. Ia ngeyel ingin mengantar Daniel sendiri. Daniel jadi bingung melihat mereka berdua berebut mendorong kursi rodanya seperti anak kecil.


"Kalau tidak mau lepas aku akan menciummu!"


Ancaman Bayu membuat Prita mundur perlahan. Ia menyerahkan Daniel pada Bayu. Lelaki itu memang selalu menyebalkan. Sementara, Bayu tersenyum penuh kemenangan. Prita mudah sekali untuk digoda.


Setelah Bayu dan Daniel keluar, Prita merebahkan dirinya di sofa. Ia menghela nafas panjang. Padahal pekerjaannya hanya menjaga Daniel, itupun masih dibantu oleh Leta. Tapi, rasanya setiap hari ia merasa kelelahan. Setiap hari tenaganya seperti terkuras habis.


Bayu sebenarnya baik, tujuannya ingin membantu. Tapi, seringkali cara yang digunakan suka aneh dan membuat Prita kesal.


Klek!


Prita menoleh ke arah pintu. Ia kira Bayu kembali lagi. Ternyata Ayash yang datang. Dibelakang Ayash juga ada Andin, yang membuat Prita sangat girang melihat kedatangannya.


"Hua.... Andin!" seru Prita seraya berlari dan memeluk sahabatnya.


Penampilan Andin yang sekarang sudah sangat feminim, jauh berbedan dengan saat SMA.


"Duduk dulu, Andin, Ayash. Akan aku ambilkan minuman."


Prita dengan hati riang langsung berlari ke pantry mengambilkan dua gelas jus dari dalam kulkas. Bertemu dengan sahabat lama membuatnya mengingat kembali kenangan-kenangan indah yang mampu membangkitkan mood-nya. Padahal tadi ia merasa sangat kelelahan. Tapi, ketika Andin datang, rasa lelah itu seketika hilang.


"Daniel dimana?" tanya Ayash.

__ADS_1


"Hari ini dia jadwal kemoterapi. Baru saja dimulai."


"Uhh.... Aku sudah tidak sabar mendengar cerita dari pengantin baru ini." ucap Prita seraya meletakkan minuman di depan Ayash dan Andin.


Ayash dan Andin bertatapan sekilas. Mereka berfua tampak bingung dan ragu untuk menyampaikan kabar yang mungkin akan membuat Prita terkejut. Walaupun Ayash dan Prita sudah bercerai, tetap saja kelihatannya tidak etis jika tiba-tiba mendengar kabar mantan suaminya telah menikah lagi setelah beberapa bulan bercerai.


"Gimana-gimana.... Kok Kak Arga tidak diajak kemari?"


Prita masih antusias untuk mendengarkan cerita langsung dari Andin sendiri. Prita sebenarnya sedih, tidak bisa menghadiri pernikahan dua sahabatnya, yang pertama Irgi, dan sekarang Andin.


Andin kembali menoleh ke arah Ayash, seakan meminta pendapat kepadanya tentang apa yang harus dikatakan. Ayash menganggukan kepala. Tandanya, Andin boleh mengatakannya kepada Prita.


Andin memegang kedua tangan Prita. Tatapan matanya begitu serius. Ia seperti ingin mengatakan suatu hal yang sangat penting.


"Ta, sebelumnya aku minta maaf jika hal yang akan aku sampaikan membuatmu terkejut dan mungkin akan membencinku."


Senyuman Prita sedikit memudar berganti ekspresi penasaran, "Ih.... Kok ngomongnya begitu. Katakan saja, aku akan mendengarkannya."


"Ta, sebenarnya aku tidak jadi menikah dengan Kak Arga."


"Apa!?" Prita terkejut mendengarnya.


"Kak Arga kabur saat malam pernikahan kami. Dia hanya meninggalkan sepucuk surat yang mengatakan kalau dia tidak bisa menikah denganku."


"Ta.... maafkan aku."


Andin tak kuasa meneruskan kata-katanya. Ia justru menangis tersedu-sedu sambil memeluk Prita. Prita tampak heran. Ini pertama kalinya ia melihat Andin menangis. Dulu, Andinlah wanita tangguh yang biasa membantunya memukul anak lelaki yang menggodanya sampai menangis.


"Ta, sebenarnya aku menggantikan Kak Arga menikah."


"Aku dan Andin sudah menikah."


Perkataan Ayash membuat Prita mematung. Mendengar hal itu rasanya sangat menyakitkan. Tangisan Andin dalam pelukannya semakin kencang terdengar. Prita jadi sadar, dia tidak seharusnya merasa cemburu. Dia dan Ayash sudah bercerai. Jika Ayash memilih menikah lagi dengan Andin, dia tak berhak kecewa. Pilihan Ayash sudah tepat, Andin memang wanita yang baik dan pantas untuk Ayash.


"Maafkan aku, Ta.... Aku sahabat yang tidak tahu diri. Huhuhu.... "


Prita mengusap punggung Andin untuk menenangkannya. Ia memandang ke arah Ayash yang sudah tak berani untuk menatap matanya. Baik Andin maupun Ayash, mereka adalah sahabatnya. Jika mereka menikah, sudah selayaknya ia turut bahagia.


Prita menyunggingkan senyum di bibirnya, "Ndin, untuk apa kamu meminta maaf? Aku dan Ayash sudah bercerai. Aku tidak marah mendengar kabar pernikahan kalian. Aku justru merasa lega, karena wanita yang Ayash pilih adalah kamu."

__ADS_1


Andin melepas pelukannya. Ia menatap dalam-dalam mata Prita, melihat ketulusan yang terpancar dari kedua bola mata itu.


"Ta, aku benar-benar minta maaf."


Prita tertawa kecil. Wajah Andin yang seperti itu menurutnya lucu. Andin yang ia kenal adalah cewek tomboy, sekarang dia seperti wanita cengeng yang sedikit-sedikit nangis.


"Selamat ya, Ndin, Yash, atas pernikahannya. Semoga kalian berdua bahagia."


"Kamu beneran nggak marah, Ta?" Andin masih merasa bersalah.


Prita menggeleng, "Aku hanya kaget sedikit. Tapi aku tidak marah."


"Maaf ya, Ta. Mau tidak mau kami harus mengatakannya padamu. Kami tidak ingin kamu tahu dari orang lain."


"Iya, Yash. Aku paham dengan maksudmu. Aku tidak apa-apa sekarang."


"Ta, aku dan Andin boleh bertemu Daniel, kan?"


"Tentu saja boleh. Tapi mungkin masih lama karena dia baru saja pergi ke tempat kemo."


"Aku dan Andin akan ke sana melihat Daniel. Sekalian aku ingin bertanya-tanya dengan Om Hansen."


"Ah, boleh. Tempat kemoterapinya masih sama kok. Maaf ya, aku tidak bisa ikut ke sana menemani kalian. Aku masih harus membereskan ranjang Daniel sebelum dia kembali."


"Kalau begitu, kami keluar dulu, ya."


Ayash menggandeng tangan Andin, membawanya berjalan menuju pintu keluar.


Bayu yang sejak tadi berdiri di depan pintu reflek langsung berlari mencari tempat bersembunyi. Ia berjongkok di samping tong sampah besar yang nerada di area dekat lift. Setelah melihat Ayash dan Andin menjauh, Bayu keluar dari persembunyiannya.


Bayu sudah bisa menebak apa yang sedang dilakukan Prita di dalam saja. Prita pasti sedang menangis setelah mendengar mantan suaminya menikah dengan sahabatnya sendiri. Bayu terkadang heran, Prita terlalu mudah menangis, padahal ia tak perlu menangisi mantan suaminya. Lelaki masih banyak, ia juga bisa menikah lagi dengan siapa saja, salah satunya dirinya.


Ketika ia membuka pintu kamar, ruang tamu kosong. Ia menebak Prita masuk ke dalam kamar. Selangkah demi selangkah ia mendekat ke arah kamar. Lamat-lamat terdengar suara tangisan. Sudah pasti itu Prita.


Srek!


"Katanya mau menemani Daniel, kenapa malah kesini? Huhuhu.... " Prita masih sempat mengumpat di sela-sela tangisannya.


"Aku haus, jadi mau ambil minum dulu tadi." kilah Bayu.

__ADS_1


Sebenarnya, Bayu diusir oleh perawat agar tidak perlu menemani Daniel. Dia terlalu ribut di ruangan itu saat mendampingi Daniel. Memang, itu pertama kalinya Bayu mengantarkan Daniel ke ruang kemoterapi. Bayu tidak tega ketika melihat perawat hendak menyuntik Daniel. Ia bersikeras melarang perawat menyakiti Daniel. Padahal, hal itu sudah menjadi rutinitas bagi Daniel. Karena dianggap mengganggu, akhirnya Bayu diusir dari sana.


Saat hendak masuk kamar, Bayu mendengar percakapan antara Andin, Ayash, dan Prita. Ia mengurungkan niat untuk masuk tapi menguping dari luar. Ia ikut terperangah mendengar cerita bahwa Ayash ternyata sudah menikahi sahabat Prita. Ayash benar-benar hebat. Ia pamit untuk menghadiri pernikahan kakaknya, tapi justru dia sendiri yang menjadi pengantinnya.


__ADS_2