ANTARA CEO DAN MAFIA 2

ANTARA CEO DAN MAFIA 2
Karla Perusak Mood


__ADS_3

"Bayu.... Tunggu!"


Karla menghentikan langkah Bayu. Ada hal yang masih mengganjal dalam pikirannya. Mereka baru saja bertemu setelah sekian lama, tapi sikap Bayu sangat buruk padanya. Biasanya, Bayu selalu bersikap baik. Meskipun tingkahnya kadang menyebalkan, Bayu akan tetap bersikap baik kepadanya, mengingat mereka memang teman baik.


"Karla, sudah, ya.... Jangan ganggu kami." ucap Bayu.


Wanita nekad itu membuat Bayu khawatir. Dia bisa saja melakukan hal yang tidak baik kepada istrinya. Apalagi saat ini ia tidak membawa bodyguard untuk mengusirnya.


Karla memandangi perut buncit Prita dengan saksama, "Apa benar kalian sudah menikah?" tanya Karla penasaran.


Prita ingin sekali menertawakan pertanyaan bodoh dari Karla. "Kamu tidak bisa lihat perutku sebesar ini? Masih bertanya kami sudah menikah atau belum."


"Hahaha.... Dasar perempuan murahan! Anak lelaki mana yang ada di dalam perutmu itu? Tidak mungkin itu anak Bayu." Karla terkekeh.


Sementara, Prita tercengang dengan perkataan Karla. Bisa-bisanya dia meragukan kalau anak yang ia kandung adalah anak Bayu.


"Kenapa kamu berkata seperti itu? Tentu saja ini anak Mas Bayu."


"Karla.... Maksudmu apa bicara seperti itu? Ini memang anakku."


"Jangan bohong, Bayu. Aku tahu kalau kamu impotensi. Tidak mungkin orang yang burungnya saja tidak bisa bangun tiba-tiba bisa menghamili seorang wanita."


Prita kembali kaget karena Karla membahas masalah impotensi. Memang, Bayu pernah bercerita kalau ia sempat mengalami hal tersebut selama lima tahun. Tapi, Prita tidak pernah percaya. Mengingat setiap bersama dengannya ia rasa milik Bayu selalu ereksi hanya karena ciuman atau pelukan sebelum mereka menikah. Kalau saat itu mereka khilaf, mungkin juga bisa kebablasan melakukannya.


Setelah menikah, saat malam pertama, Prita juga masih ingat betapa agresifnya sang suami terhadapnya. Seolah dia sudah lama menahan hasratnya hingga semalaman terus mengajaknya bercinta sampai membuatnya kelelahan.


Apa itu impotensi? Rasanya Prita tidak menemukan bekas-bekas itu dalam diri Bayu. Dia lelaki yang sangat sehat apalagi untuk urusan ranjang.


"Mas.... "


Rasanya Prita ingin maju menjambak Karla saat itu juga. Entah mengapa semasa hamil dia jadi cepat untuk emosi, termasuk juga saat menghadapi Karla. Namun, Bayu mencegahnya.


"Karla, jangan campuri urusan rumah tanggaku, oke? Mari kita hidup masing-masing dan aku juga tidak akan mengganggumu."


"Kamu bilang mau membuat hidup wanita ini menderita, kan? Kamu pernah berkata seperti itu."


Karla iri sekali. Dulu, katanya Bayu ingin menikahi Prita agar dia menderita karena Bayu yang impoten. Tapi, nyatanya mereka terlihat begitu bahagia. Sangat berbeda dengan kehidupan yang dijalaninya.


"Kamu bohong padaku, kan? Ternyata kamu sudah sembuh.... "

__ADS_1


Mau tidak mau Bayu harus mengatakan yang sebenarnya. "Iya, Karla. Aku melakukannya agar kamu tidak menggangguku lagi."


Kalau saja Karla tahu sejak awal, dia tidak akan membiarkan Bayu menikah dengan wanita itu.


"Bayu.... "


"Cukup." Bayu menyuruh Karla berhenti berbicara, "Kalau masih kamu lanjutkan, kali ini aku tidak akan membiarkannya, Karla. Sekarang aku sudah menikah, jadi tolong jangan ganggu aku lagi."


"Oh, iya? Memangnya seorang Bayu bisa puas hanya dengan satu wanita?"


"Apalagi dia sedang hamil seperti ini, sebentar lagi dia akan melahirkan dan tidak bisa melayanimu lagi. Aku rasa lelaki sepertimu pasti akan mencari pelampiasan di luar."


"Aku siap menjadi orang itu, Bayu." ucap Karla dengan nada yang menggoda.


Prita sampai membelalakkan mata, wanita seperti Karla tidak ada malu-malunya mengatakan hal seperti itu tepat di depannya.


Kesabaran Bayu sudah habis. Karla memang tukang membuat masalah. Dia sudah merinding dengan istrinya, sepertinya Prita sedang marah sekarang. Masalah kecil saja bisa jadi besar apalagi dengan ucapan Karla seperti itu.


Bayu mengeluarkan ponselnya, menghubungi nomor seseorang. "Kamu akan menyesal Karla, sudah menggangguku." ucapnya sembari menempelkan ponselnya ke telinga.


Karla masih tersenyum-senyum karena berhasil membuat Prita tampak kesal. Kalau dia tidak bisa mendapatkan Bayu, maka wanita manapun juga tidak boleh mendapatkannya.


"Halo, Pak Andriyanto.... Apa kabar?" Bayu berbicara di telepon sambil tersenyum.


Karla berusaha menghentikan telepon yang sedang dilakukan Bayu. Ia mencoba merebut ponselnya, namun Bayu berkelit sembari terus berbicara dengan Pak Andri di telepon. Prita juga merasa heran melihat Karla yang tampak seperti ketakutan hanya karena Bayu menghubungi seseorang.


"Bayu, hentikan. Aku akan sangat marah padamu kalau kamu meneruskannya." ucap Karla dengan nada setengah berbisik sambil melotot.


Bayu semakin menjadi-jadi. Ia tak mau menuruti apa kata Karla. Perbuatan Karla kali ini sudah kelewat batas. Besok-besok ia yakin Karla akan mendatanginya lagi kalau tidak dihentikan sekarang. Sangat bahaya, hubungannya dengan Prita akan jadi buruk kalau Karla terus membuntutinya.


"Bayu.... " geram Karla.


"Pak Bayu, istri Anda ada di sini. Dia mencoba menggodaku. Tolong Anda jemput dia dan kalau bisa jangan disuruh keluar rumah. Jauh-jauh dia datang ke sini katanya untuk menemui saya. Saya jadi merasa sangat risih. Tolong sekali ya, Pak."


Muka Karla menjadi merah padam. Bayu akhirnya melaporkan kelakuannya kepada suaminya. Dia pasti akan mendapat hukuman.


"Kamu jahat, Bayu." mata Karla berkaca-kaca menahan amarah sekaligus kecewa karena Bayu melakukan hal itu padanya.


Bayu sudah tahu bagaimana sikap posesif suaminya. Dia tidak akan segan-segan menyiksanya jika tidak mau patuh. Apalagi nakal dengan lelaki lain di belakangnya.

__ADS_1


"Aku sudah memperingatkanmu agar tidak menggangguku, kan? Kamu sendiri yang tidak mau mendengarkan."


"Kamu tega kalau aku disakiti?"


"Sebenarnya aku peduli padamu. Tapi kamu sendiri yang tidak peduli pada dirimu sendiri."


Bayu menggandeng tangan istrinya, "Aku tidak bisa lagi memaafkan kelakuan orang-orang yang bisa menyakiti istriku. Aku sudah berubah, Karla. Bayu yang dulu kamu kenal sudah mati."


"Aku harap hidupmu bisa menjadi lebih baik."


Bayu kembali membawa istrinya pergi. Kali ini, Karla tidak lagi mencegahnya. Ia masih berdiri terpaku di sana. Sebentar lagi orang suruhan suaminya akan datang dan menjemputnya. Jika dia kabur, maka hukuman yang akan diberikan suaminya lebih berat.


"Karla kenapa, Mas? Kenapa sepertinya dia ketakutan? Kamu telepon siapa tadi?" Prita memberikan serentetan pertanyaan saking penasaran.


"Aku menelepon pawangnya, Sayang?"


"Pawang? Memangnya dia binatang, butuh pawang segala." Prita tertawa dengan lelucon yang diucapkan Bayu.


"Dia kan memang ular, Sayang. Jadi butuh pawang. Makanya aku telepon orang yang bisa menjinakkannya."


"Siapa?"


"Suaminya."


"Apa, suami? Karla sudah menikah?" Prita kira Karla belum menikah karena masih belum bisa move on dari Bayu.


"Dia sudah lama menikah, dengan Pak Andriyanto, pengusaha restoran dan hotel yang terkenal itu. Tapi sebagai istri kedua."


Penjelasan Bayu semakin membuat Prita terkejut. Orang secantik Karla mau dijadikan sebagai istri kedua?


"Tapi, kenapa dia takut dengan suaminya? Bukannya biasanya istri kedua itu lebih disayang?"


Bayu terdiam sebentar, "Ah, itu aku juga tidak tahu. Yang jelas Karla takut dengan suaminya."


Bayu tidak mau menjelaskan sifat pengusaha itu kepada Prita. Terlalu buruk untuk diketahui istrinya. Sebenarnya Pak Andri menikah lagi dengan Karla juga untuk memuaskan fantasi yang tidak bisa ia lakukan dengan istri pertamanya.


"Tapi aku kesal bertemu dengannya. Mood-ku jadi buruk." keluh Prita.


"Maaf, Sayang. Ini tidak akan terulang lagi. Karla tidak akan berani lagi muncul di hadapan kita."

__ADS_1


"Itu baru satu! Pasti wanita yang pernah dekat denganmu ada banyak! Hari ini Karla, mungkin besok juga ada yang lain!"


Sepertinya Prita sedang menunjukkan sisi kecemburuannya. Bayu memilih diam dan mendengarkan ocehannya. Dia yakin kalau berani bersuara, Prita akan lebih marah lagi.


__ADS_2