ANTARA CEO DAN MAFIA 2

ANTARA CEO DAN MAFIA 2
Kembali ke Indonesia


__ADS_3

"Papa Irgi.... " seru Daniel dan Dean.


Kedua anak itu langsung berlari menghampiri Irgi dan Raeka yang sengaja datang ke bandara untuk menjemput kepulangan mereka. Ya, akhirnya Keluarga Prita dan Ayash kembali lagi ke Indonesia.


Daniel dan Dean tampak sangat senang bertemu dengan Irgi. Kedua anak itu meminta digendong bersamaan. Raeka yang tampak cemberut karena mendapat saingan baru anak-anak kecil.


"Kok mereka memanggilmu Papa sih?"


"Ya, karena mereka sudah seperti anak-anakku sendiri. Mereka lucu-lucu, kan?" Irgi sibuk menciumi kedua anak itu.


"Papa Irgi, Kakak cantik ini siapa?" tanya Daniel.


Raeka sedikit tersipu dengan pujian dari anak kecil yang manis itu.


"Ah, ini calon istrinya Papa Irgi. Nanti kalian panggil Mama Raeka ya.... "


"Halo, Mama Raeka. Namaku Daniel."


Daniel mengulurkan tangannya, ingin menjabat tangan. Raeka sedikit bingung.


"Dia ingin bersalaman denganmu."


"Oh.... " Raeka baru paham setelah Irgi mengatakannya.


Raeka menjabat tangannya Daniel. Ia kembali kaget saat Daniel mencium tangannya. Anak sekecil itu tampak sangat sopan menyapa orang yang lebih tua. Dean mengikuti kakaknya bersalaman dengan Raeka.


"Hm, siapa ini om-om yang membuat kedua anakku lari meninggalkan orangtuanya?" Ayash berjalan menggandeng tangan Prita sambil mendorong stroller Livy.


"Papa kesayangan mereka dong tentunya. Iya kan anak-anak?"


Kedua anak itu mengangguk-angguk.


"Apa kabar, Ta?" Raeka memeluk Prita.


"Baik, makasih ya, sudah ikut menjemput kita."


"Hai, Yash."


"Hai, Ra. Masih aktif panahannya?"


"Masih.... " pandangan Raeka beralih ke stoller. Ada seorang anak kecil yang manis dan imut sedang tidur.


"Ini juga anak kalian?"


"Iya, Namanya Livy, usianya baru 14 bulan."


"Wah, sepertinya Ayash tidak pernah membiarkanmu bersantai, ya. Kalian produktif sekali."

__ADS_1


"Banyak anak banyak rejeki, Ra."


"Modus, Yash! Paling kamu yang nafsuan."


"Papa ayo pulang... aku mengantuk." keluh Dean yang sudah tampak lemas di gendongan Irgi.


"Iya, Dean. Ayo kita pulang."


Irgi mengajak mereka menuju parkiran mobilnya. Irgi dan Raeka duduk di kursi depan. Ayash dan Prita duduk di kursi tengah, sedangkan Dean dan Daniel duduk di deretan kursi paling belakang.


"Kalian mau pulang ke mana?" tanya Irgi yang sudah mulai mengemudikan mobilnya.


"Antar kami ke mansion."


"Tapi Tante Maya dan Om Reonal sepertinya masih di Kota J, ya? Apa mereka sudah kembali?"


"Belum. Besok mereka baru kembali."


"Kafemu masih ramai loh, Ta. Kamu masih berniat mengurusnya lagi?"


"Sepertinya sudah tidak bisa, Ir. Aku sudah sibuk dengan tiga anak kecil ini."


"Kayaknya bakal nambah lagi kalau kerjamu hanya di rumah, Ta."


"Hahaha.... Bapak Ayash tipe-tipe suami yang aktif ya, Ta. Hobi berkembangbiak."


"Kak Raka belum rela adiknya aku nikahi tuh."


"Iih... apa... yang penting kan papa mama sudah setuju."


"Sogokanmu kurang banyak, Ir... Harusnya kasih hadiah ke kakaknya Raeka, bawain mobil sport gitu... biar restunya cepet turun."


"Nyogok orang yang sudah kaya dari lahir itu nggak bakalan mempan kalau pakai uang. Nggak tahu juga apa maunya Kak Raka. Padahal semua keinginannya juga sudah aku turuti. Kadang dia ajak main golf, mancing, sampai manjat gunung juga aku temani. Tapi ya begitu, satu kakak yang itu susah.... "


"Kak Raka kayaknya punya sister complex tuh."


"Kayaknya begitu, Ta."


"Susah kalau sudah begitu. Saking sayangnya sama adik, nggak rela adiknya menikah."


"Kakakku tidak seperti itu... sumpah, daripada dibilang sayang lebih tepat dibilang suka mengganggu. Nggak pernah Kak Raka baik padaku, yang ada dia selalu menyusahkan aku."


*****


Butuh waktu sekitar satu jam untuk bisa sampai ke mansion keluarga Ayash. Anak-anak sudah tertidur semua karena kelelahan. Prita masih menggendong Livy. Ayash menggendong Daniel dan Irgi menggendong Dean. Ketiga anak itu pelan-pelan mereka pindahkan ke kamar anak yang memang telah dipersiapkan sebelumnya. Kamar anak-anak berada di sebelah kamar Ayash dan Prita.


Pelayan di mansion terlihat senang menyambut kedatangan tuannya. Mereka sibuk kesana kemari mempersiapkan segala keperluan yang mungkin akan dibutuhkan, termasuk makan siang.

__ADS_1


Raeka turut memandangi ketiga anak kecil yang tertidur di masing-masing ranjang. Mereka semua tampak imut dan lucu. Ia jadi membayangkan ingin segera menikah dan memiliki anak bersama Irgi. Memiliki anak akan menjadi pengalaman baru baginya. Dia akan punya kesibukan baru mengurusi anaknya dan tidak ada lagi kata bosan dalam hidupnya. Raeka sudah jenuh dengan rutinitasnya sehari-hari yang diisi dengan belanja atau jalan-jalan.


Raeka memperjeli penglihatannya pada Daniel dan Dean. Dua anak lelaki Ayash itu memiliki ciri fisik yang berbeda. Dean memiliki rambut hitam lurus, kulit cerah yang cenderung kuning langsat, dan hidungnya sedikit pesek seperti umumnya orang Indonesia. Livy tidak berbeda jauh dengan Dean. Sedangkan Daniel memiliki rambut bergelombang, kulit putih, hidung mancung, dan bulu matanya sangat lentik.


"Ir.... " l


"Hm?" Irgi juga ikut memperhatikan anak-anak bersama Raeka di depan pintu. Sementara Ayash dan Prita masih membenahi posisi tidur anak-anaknya.


"Kenapa kalau diperhatikan ada yang aneh dengan Daniel, ya? Dia tidak seperti anak Ayash."


Irgi membulatkan matanya. Ia langsung menarik tangan Raeka dan membawanya menjauh dari kamar anak-anak. Dia harap Ayash dan Prita tak mendengar perkataan Raeka.


Sesampainya di taman samping yang sepi, Irgi menghentikan langkahnya. Selama ini Irgi memang tak pernah menceritakan apapun pada Raeka. Wajar jika ia bisa melontarkan pertanyaan seperti itu. Kini Irgi jadi bingung untuk menjawab pertanyaan Raeka. Raeka tipe orang yang akan terus bertanya jika tidak diberi penjelasan yang masuk akalnya.


"Aduh, tanganku sakit sekali. Kenapa menarikku sampai kuat begitu?"


Raeka memegang pergelangan tangannya yang memerah.


"Ra.... "


"Ya?"


"Katakan padaku di sini, menurutmu Daniel itu seperti siapa?"


"Daniel terlalu tampan untuk menjadi anak Ayash. Dia lebih mirip anak bule-bule Eropa seperti Jerman atau Kanada."


"Jangan pernah mengatakan hal itu di depan Ayash dan Prita."


"Apa?"


"Mereka akan sedih kalau mendengar perkataan seperti itu."


"Tapi kalau dilihat memang Daniel yang paling berbeda. Dean dan Livy masih mirip dengan Ayash dan Prita. Sedangkan Daniel.... "


"Selama hamil Prita hobi menonton Drama Korea dan film-film barat. Jadi, anaknya memang mirip dengan apa yang dia tonton. Lumayan kan untuk perbaikan keturunan."


"Ah, bisa begitu ya.... " Raeka mengangguk-angguk.


"Nanti kalau kamu hamil tidak usah ikutan nonton Drama Korea segala. Cukup pandangi aku setiap hari agar anakmu nanti mirip denganku."


"Apaan sih, kenapa malah bahas anak. Menikah saja belum."


"Memangnya membuat anak harus menunggu menikah? Kita bisa buat sekarang kalau kamu mau. Ayo kita pulang dan buat anak... mau di apartemenku atau apartemenmu?" goda Irgi.


"Heh, kalian sedang apa di sana? Ayo makan siang dulu." seru Ayash dari arah ruang tengah.


Irgi dan Raeka menghentikan obrolan dan segera kembali ke dalam mansion.

__ADS_1


__ADS_2