
"Bagaimana dengan Tante Maya?"
"Masih sama. Mama sudah tak memperdulikanku. Dia sibuk mempersiapkan acara pernikahan Arga."
Membahas tentang ibunya sendiri membuat Ayash menjadi sedih. Maya sudah tak terlalu mau bicara dengannya, apalagi jika menyangkut masalah Prita. Maya hanya merespon jika membahas tentang Dean dan Livy. Sepertinya Maya benar-benar tidak bisa lagi bersikap seperti dulu kepada Prita.
Bukan hanya Maya yang seperti itu. Prita juga selalu menghindar jika ada Maya. Prita menganggap Maya tidak ada. Keduanya seperti orang asing.
Ayash selalu berusaha berada di tengah-tengah menjadi pihak yang netral. Dia ingin kembali memperbaiki hubungan yang rusak itu. Namun, justru dia sendiri yang terjepit di tengah-tengah.
"Kenapa sih tidak mengatakan semuanya secara jujur pada tante? Kesannya jadi Prita yang salah kan. Aku ikut sakit hati kalau mendengar Prita dimarahi Tante Maya."
"Bicarapun tidak akan mengubah masa lalu, kan? Tidak menjamin juga bisa merubah pola pikir Mama. Apalagi ada keterlibatan Kak Arga juga. Belum tentu Mama percaya."
"Lalu, kamu akan terus seperti ini?"
"Belum ada penyelesaian lain selain seperti ini. Sebagai suami, aku akan terus melindungi anak dan istri semampuku. Sebagai anak, aku akan terus menghormati Mama. Bagaimanapun juga, Mama adalah orang yang paling berjasa melahirkan dan membesarkanku."
"Kamu sendiri, bagaimana persiapan pernikahanmu?"
"Aku serahkan pada keluarga Raeka. Orangtuaku juga masih di Singapura."
"Kak Arga beneran ya, mau menikah dengan Andin?"
"Katanya begitu. Aku juga belum bertemu Kak Arga maupun Andin. Mereka masih berada di Kota J."
Suasana hening. Irgi masih ragu untuk menceritakan kejadian beberapa hari yang lalu yang sempat ia lihat. Ia menimbang-nimbang dampak jika ia mengatakannya. Tapi, sebagai teman? rasanya tidak adil juga jika ia tidak mengatakan hal yang diketahuinya.
"Aku pernah bertemu dengan Bayu di rumah sakit." akhirnya Irgi mengatakannya juga.
"Terus?"
Irgi sedikit ragu dengan respon yang Ayash berikan. Ia tampak santai. "Kamu tidak masalah dengan itu?"
"Bagiku yang terpenting sekarang adalah kesembuhan Daniel."
__ADS_1
Ayash kembali berkutat pada tumpukan berkas di hadapannya. Sebenarnya membahas tentang masalah keluarganya membuat dadanya sesak. Meskipun ia terlihat santai dan tenang, sebenarnya pikirannya tak bisa lepas dari Prita dan Daniel. Ia sangat mencemaskan keduanya.
Brak!
Pintu ruangan Ayash dibuka secara paksa. Tampak Gino, security perusahaan muncul dari balik pintu dengan nafas terengah-engah.
"Pak! Dean hilang!"
Sontak Irgi dan Ayash langsung bangkit dari duduknya. Mereka berjalan menghampiri security itu.
"Terakhir kali Dean ada di mana?" tanya Ayash.
"Tadi sedang bermain dengan saya di lobi bawah."
"Irgi, tolong ajak security yang lain mengecek seluruh sudut kantor. Biar aku dan beberapa security lainnya mengecek di area luar kantor."
Irgi mengangguk.
Ayash segera berlari memasuki lift menuju lantai bawah. Dean memang biasanya selalu membuat ribut di kantornya. Tapi, ini kali pertama Dean sampai menghilang.
Sesampainya di lobi bawah, ia mengajak dua orang security untuk menemaninya berkeliling sekitar area perusahaan untuk mencari Daniel. Setiap sudut bangunan dan semak-semak diteliti sedetail mungkin. Namun, Dean belum juga terlihat. Ayash melayangkan pandangan ke arah jalan raya. Siapa tahu Dean nekad menyeberang sendiri menuju taman kota. Dean memang tipe anak yang semaunya sendiri dan tidak pernah takut akan bahaya.
Setelah lima belas menit mencari Dean belum juga ketemu. Ayash kembali ke area lobi perusahaan menyuruh security mencari Daniel lagi di dalam area kantor.
Tak berselang lama, Irgi tampak berlari menggendong Dean dari arah sisi kiri bangunan. Dean menangis meraung-raung dengan tangan kiri yang berlumuran darah.
"Cepat kita bawa Dean ke rumah sakit. Dia jatuh dari tangga darurat!"
Nafas Ayash rasanya tercekat. Satu lagi masalah datang yang membuat jantungnya hampir lepas. Ayash ikut berlari mengikuti Irgi menuju parkiran.
Ayash segera menghidupkan mobilnya sementara Irgi duduk di kursi belakang masih terus menggendong Dean. Tangisan Dean tak berhenti juga. Malah suaranya jeritannya meninggi karena rasa perih pada lukanya.
Mereka membawa Dean ke Citra International Hospital. Irgi kembali berlari membawa Dean menuju IGD. Di sana, luka Dean langsung mendapat penanganan. Baik Irgi maupun Ayash rasanya hampir tumbang gara-gara Dean.
Ayash dan Irgi masih harus memegangi Dean karena anak itu menolak dipegang dokter dan perawat. Dia terus menjerit-jerit ketika lukanya dibersihkan dan akan dijahit. Karena kewalahan, akhirnya dokter memberikan obat penenang hingga Dean dalam kondisi tak sadarkan diri baru mereka melanjutkan proses menjahit luka.
__ADS_1
"Kenapa tangan Dean bisa robek seperti itu?"
"Sepertinya tergores besi saat jatuh dari tangga darurat."
"Oh, Ya Tuhan.... Rasanya lututku sudah tidak ada tenaga lagi untuk berdiri. Anak itu benar-benar membuatku khawatir."
Ayash berkali-kali menghela nafas menenangkan dirinya sendiri. Detak jantungnya masih berdenyut kencang gara-gara Dean.
"Anak itu memang sangat mengkhawatirkan. Meleng sedikit dari pengawasan dia sudah hilang. Untung saja aku dan security menyusuri tangga darurat dan mendengar dia sedang menangis. Area itu kan sepi jarang ada orang lewat."
Salah satu perawat menghampiri mereka, "Permisi, luka anak Bapak sudah selesai kami jahit. Dia bisa dipindahkan ke ruang perawatan."
"Ah, iya. Suster. Tolong tempatkan anak saya di kamar 404 seruangan dengan anak saya juga yang sedang dirawat di sana. Bisa, kan?"
"Baik, Pak. Akan kami pindahkan anak bapak ke kamar tersebut."
Beberapa perawat mendorong ranjang Dean menuju kamar rawatnya. Ayash dan Irgi mengambil jalur berbeda menuju ke sana. Karena lift yang ada di dekat ruang IGD dikhususkan untuk tenaga medis dan pasien sehingga mereka harus menggunakan akses lift lainnya.
Sesampainya di kamar Daniel, Dean sudah lebih dulu sampai daripada Ayash dan Irgi. Prita tampak pucat melihat kehadiran Dean di sana. Ia yang sedang menyuapi Daniel haris berhenti karena kepalanya pusing. Satu anak saja sakit sudah membuatnya lemas, ditambah lagi Dean juga sakit.
Ayash duduk di sebelah Prita, memeluk wanita itu agar tidak panik.
"Kenapa bisa begini? Dean kenapa?"
"Kamu tenang saja, Dean tadi hanya terjatuh dan tangannya tergores besi. Tapi sudah dijahit oleh dokter."
"Oh, Ya Tuhan.... kalau tidak apa-apa kenapa Dean sampai pingsan begitu?"
"Tadi dia tidak bisa diam jadi dokter memberinya obat penenang. Kamu tenang saja."
"Bagaimana aku bisa tenang? Rasanya aku mau pingsan. Ada apa dengan anak-anak kita? Aku jadi merasa tidak becus sebagai seorang ibu."
Baru saja mengatakan mau pingsan, Prita akhirnya pingsan betulan di pangkuan Ayash.
Ayash hanya bisa menghela nafas. Akhir-akhir ini Prita sering pingsan saat mendapat kabar yang membuat dirinya syok.
__ADS_1