
"Sejak kapan kamu tau? Dan sejak kapan kamu...."
"Sejak pertama kali bertemu denganmu." Bayu memotong pertanyaan Prita yang belum selesai.
"Sejak malam itu, ketika ada wanita polos yang menolong seorang lelaki brengsek di depan rumahnya. Mulai saat itu aku tau semua tentangmu."
Prita menelan ludah. Itu sudah sangat lama mungkin sekitar enam tahun lalu.
"Kamu.... Tau semuanya?"
"Iya."
"Kenapa?"
"Karena aku menyukaimu. Makanya aku ingin tau semua tentangmu."
"Holly Hotel juga sekarang sudah menjadi milikku."
Mata Prita membelalak. Itu adalah hotel yang dulu juga milik ayahnya. Bahkan, ada satu kamar khusus yang ayahnya buatkan untuknya di sana.
"Ada lagi. Laziz restoran? Itu milikku juga."
Prita lebih terkejut. Seolah semua aset kedua orang tuanya kini beralih kepada Bayu. Padahal semua itu dulunya sudah direbut oleh pamannya, tapi bisa Bayu dapatkan kembali.
"Ah, ada satu yang belum bisa aku dapatkan. Perusahaan asuransi milik ayahmu. Tapi nanti juga pasti aku dapatkan."
"Kenapa kamu mengambil alih semua aset yang pernah ayahku miliki? Bukankah Om Robi sudah menjualnya?"
"Memang. Aku sudah mengeluarkan banyak waktu, tenaga dan biaya untuk mendapatkannya kembali. Makanya, hargai usahaku. Aku tidak menuntutmu untuk melakukan apapun, cukup cintai aku saja jika kamu ingin berterima kasih."
"Aku sudah berjanji padamu untuk mengembalikan semua yang pernah kamu miliki. Dan aku akan menepati janji itu."
Prita heran ada orang seperti itu. Orang yang bisa peduli padanya hanya karena pertemuan pertama. Bayu, orang yang tau jika kedua orangtuanya bukan kecelakaan melainkan dibunuh oleh pamannya sendiri. Bahkan, semua polisi tidak tau akan hal itu. Bayu, yang baru mengenalnya bisa mencari informasi sedetail itu sampai menemukan bukti-bukti pembunuhan orang tuanya. Ia sendiri tidak akan pernah tau jika bukan Bayu yang memberitahunya.
Sampai perusahaan-perusahaan milik ayahnya serta aset-aset lainya, Bayu bisa lebih hafal darinya. Totalitas Bayu mencintainya terasa begitu besar. Entah berapa lama dan seberapa keras perjuangannya untuk mendapatkan semua itu. Dia sendiri hanya bisa berangan-angan untuk mendapatkan kembali perusahaan milik ayahnya. Justru Bayu yang bisa merealisasikan semua angan-angannya.
"Kenapa kamu bisa tetap mencintai orang yang tidak mencintaimu?"
"Karena kita tidak dapat mengatur kepada siapa kita jatuh cinta."
"Begitu kan yang sering kamu ucapkan?"
__ADS_1
Prita terdiam sejenak. Segala effort yang sudah Bayu lakukan bisa-bisa membuat hatinya luluh. Siapa yang tidak terharu melihat seseorang memperjuangkan haknya secara diam-diam? Selama ini ia tidak pernah tau kalau Bayu sebegitu peduli terhadap dirinya.
"Ah, iya. Aku sampai lupa bertanya. Kenapa kamu datang ke kantorku?"
Prita juga hampir lupa. Tujuannya datang untuk mengambil Dean dan mengantarnya pulang ke mansion keluarga Ayash.
"Aku mau menjemput Dean dan mengantarkannya pulang."
"Kamu sudah aku ingatkan untuk tidak menjemput Dean kenapa masih kamu lakukan? Pengasuhnya kebingungan mencarinya."
Bayu mengeratkan pelukannya. Diciumnya sebelah pipi Prita yang dekat dengan bibirnya. Wanita itu bagaikan candu baginya. Membuatnya betah berlama-lama bermesraan hingga melupakan segalanya.
"Aku kebetulan lewat depan sekolahan dan Dean memanggilku. Katanya dia sudah selesai sekolah makanya aku ajak pulang ke kantorku."
"Ya sudah, kalau begitu aku mau antar dia pulang dulu." Prita berusaha menyingkirkan tangan Bayu.
"Biar aku antar."
"Tidak perlu. Kamu kan masih harus bekerja."
"Keberadaanku di sini hanya formalitas. Tidak terlalu berpengaruh jika aku tidak ada."
"Aku lebih khawatir membiarkanmu sendirian pergi ke sana dibandingkan dengan meninggalkan perusahaanku."
"Kenapa kamu khawatir? Aku tidak akan kembali lagi padanya."
"Tapi rasa cintamu bisa tumbuh lagi kalau kalian sering bertemu. Aku tidak mau itu terjadi. Kamu harus tetap fokus padaku dan mulai mencintaiku."
"Kalau begitu, terserah padamu. Yang penting antarkan aku sekarang sebelum Mama Maya marah-marah."
"Oke."
Bayu akhirnya mau melepaskan Prita. Dia berjalan menuju ke arah Dean yang masih sibuk bermain.
"Dean, ayo uncle gendong lagi di pundak."
Dean langsung meletakkan mainannya dan berlari ke arah Bayu. Ia sangat senang bisa duduk di bahu Bayu. Sementara, Prita memasukkan kembali mainan Dean ke dalam kantong.
Mereka bertiga menaiki lift yang membawa mereka ke lantai dasar.
Saat pintu lift terbuka dan berpapasan dengan beberapa orang yang hendak menaiki lift, perhatian mereka tertuju pada Pak Bayu yang menggendong seorang anak di pundaknya dan tangannya menggandeng seorang wanita.
__ADS_1
Perhatian itu tidak sampai di situ. Saat mereka berjalan melewati lobi, ada lebih banyak mata yang mengarah padanya. Prita agak risih karena menjadi pusat perbatian. Ia ingin melepaskan genggaman tangan Bayu namun lelaki itu tidak mau melepaskannya. Bayu dan Dean tampak santai bercanda tanpa mempedulikan sekitar. Hanya Prita yang merasa tidak nyaman.
Pasti mereka semua akan bertanya-tanya, mengapa Bayu bisa bersama dirinya dan anaknya. Prita punya firasat buruk. Bisa jadi mereka berpikir buruk tentangnya, karena seharusnya Shuwan wanita yang bersama Bayu, bukan dirinya.
"Tadi aku bertemu dengan Pak Giyanto."
"Oh, iya? Dia karyawan terlama di sini."
"Benar. Saat aku masih sekolah dia juga sudah bekerja di sini. Katanya sampai berganti empat bos dia masih bertahan."
"Kinerjanya bagus. Makanya tetap dipertahankan oleh perusahaan."
"Dia yang membantuku untuk bisa masuk ke ruanganmu. Kalau tidak, mungkin aku hanya bisa menungguku di lobi. Resepsionis tidak bisa mengininkanku masuk jika belum membuat janji."
"Ah, iya. Aku sampai lupa. Aku harus memasukkanmu ke dalam daftar orang khusus yang bisa menemuiku kapan saja."
"Setara dengan Shuwan, ya?" sindir Prita.
"Kamu cemburu?"
"Tidak."
"Nanti akan aku blacklist namanya agar dia tidak bisa lagi sembarangan masuk ke perusahaan."
"Aku kan tidak bilang aku cemburu. Kamu bebas bertemu dengannya."
"Aku juga tidak mau bertemu dengannya. Aku hanya mau bertemu denganmu. Dan aku juga mau kamu melakukan hal yang sama sepertiku. Membatasi hubunganmu dengan lawan jenis selain aku."
"Itu namanya posesif."
"Ya, aku memang sangat posesif. Apalagi kamu sendiri yang menyetujui untuk berkencan denganku. Kamu harus siap-siap, karena aku tidak akan melepaskanmu."
Bayu mengeratkan genggaman tangannya. Mereka terus berjalan menuju pintu keluar lobi meskipun banyak pasang mata yang memperhatikan langkah mereka.
"Apa kamu tidak risih? Sepertinya para karyawan sejak tadi memperhatikan kita."
"Biarkan saja."
"Apa mereka tidak akan berpikir yang macam-macam? Belum lama kamu keluar di TV bersama Nona Shuwan dan mengaku sebagai pasangan. Bukankah aneh kalau sekarang kamu menggandeng tanganku dan membawa seorang anak?"
"Aku memang sengaja. Biar mereka semua tau kalau sekarang kamu pacarku supaya nanti saat kita menikah mereka tidak kaget. Apalagi calon istriku sudah memiliki tiga anak."
__ADS_1
"Aku yakin mereka akan terus membahasmu."
"Aku tidak peduli. Kalau mereka sangat mengganggu, aku bisa memecat mereka kapan saja."