
Dokter Hansen memeriksa Prita setelah Ayash memberi tahu jika Prita sudah sadar. Kondisinya masih seperti orang linglung, Prita tidak berkata apapun, hanya memandang sekelilingnya saja dalam diam. Kondisi Prita secara fisik baik-baik saja.
"Apa ada yang terasa sakit?" tanya Dokter Hansen.
Prita menggeleng.
"Apa kamu merasa baik-baik saja?" tanyanya lagi.
Kali ini Prita mengangguk. Ayash, Irgi dan Raeka yang ada di sana harap-harap cemas menunggui respon yang Prita berikan. Bisa jadi dia hilang ingatan setelah koma hampir sebulan, seperti yang biasa ada di sinetron-sinetron (biar nggak jadi tamat ceritanya).
"Apa kamu masih ingat, siapa namamu?"
Prita melirikkan mata, memandangi satu persatu wajah yang ada di sana.
"Dokter Harlan, saya tidak amnesia." ucap Prita dengan nada datar.
Mendengar jawaban dari Prita, mereka saling berpandangan lalu tertawa dengan jawaban itu. Ternyata Prita masih mengenali dokter yang menanganinya itu.
"Ah syukurlah. Kami di sini sangat mengkhawatirkan kondisimu. Aku rasa, tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi karena kondisimu baik-baik saja."
"Kalian boleh mulai mengajaknya bercerita, tapi jangan sampai membuatnya kelelahan. Aku mau kembali ke ruanganku dulu."
"Terima kasih, Om Harlan." ucap Ayash
"Terima kasih, Dok!" seru Irgi.
Harlan menepuk pundak Ayash sebelum ia keluar dari ruangan itu. Dia senang sekali melihat hubungan mereka masih baik meskipun sudah lama berpisah.
"Prita.... "
Lagi-lagi Raeka dan Irgi memeluk Prita yang masih terlihat kebingungan. Ayash sampai heran melihat pasangan suami istri itu. Raeka yang tidak biasa begitu juga ikut-ikuta seperti Irgi. Ia juga senang melihat Prita yang sudah bangun dari koma, tapi responnya tidak seperti itu.
"Pelan-pelan, ya.... Prita masih bingung. Kalian jangan kencang-kencang memeluknya, nanti tulang Prita patah."
"Sayang, jangan ikut-ikutan!" Raeka mendelikkan mata menyuruh Irgi berhenti memeluk Prita.
"Memangnya kenapa? Masih kurang aku peluk setiap malam? Aku juga kangen Prita."
"Ish!"
Prita malah jadi rebutan Irgi dan Raeka. Tubuhnya goyang ke kanan dan ke kiri sampai dia bingung sendiri.
"Aduh, tolong kalian berhenti dulu. Aku jadi pusing."
Ucapan Prita menghentikan tingkah kekanak-kanakan pasangan freak itu.
"Tuh kan, Prita jadi terganggu gara-gara kamu." Raeka mengomeli Irgi.
"Sayang, kamu yang tarik-tarik Prita duluan. Kenapa jadi menyalahkanku."
"Kamu berani menyalahkan aku?"
"Siapa yang menyalahkan, Sayang? Aku hanya mengingatkan."
"Cukup, cukup.... Kalian berdua sama-sama salah. Menyingkir sekarang!"
Ayash menarik tangan Irgi dan Raeka agar menjauhi ranjang Prita. Orang sakit juga akan pusing mendengarkan mereka. Ayash menarik mereka berdua hingga ke pintu keluar, lalu mengunci kamar itu dari dalam.
"Mereka ribut sekali. Kamu pasti sangat terganggu."
__ADS_1
Prita hanya tersenyum melihat Ayash mengusir kedua temannya itu.
"Bagaimana kondisimu?"
"Aku baik-baik saja."
"Aku senang melihatmu bisa kembali bangun."
"Yash.... Kenapa aku bisa ada di sini?"
Sangat panjang jika Ayash harus menceritakan kenapa Prita tiba-tiba ada di rumah sakit Kota S. Prita juga pasti heran, melihat dia, Irgi, dan Raeka ada di sana.
"Kapan-kapan saja kita membahas itu. Ceritanya cukup rumit, aku tidak ingin kamu jadi pusing."
"Bayu dimana? Kenapa dia tidak ada di sini?"
Ternyata Prita juga tidak lupa dengan suaminya. Padahal ada dia di sana, tapi yang dicari-cari orang yang tidak ada. Ayash belum tega kalau harus menceritakan dimana Bayu berada sekarang. Ia takut Prita akan kembali koma saat mengetahui kebenarannnya.
"Dia baru saja pergi, katanya ada urusan ke luar kota sebentar. Makanya, dia meminta tolong padaku, Irgi, dan Raeka untuk membantu menjagamu."
Prita mengerutkan dahinya, "Bayu meminta tolong padamu?" tanyanya, seakan tidak percaya dengan ucapan Ayash.
"Memangnya kenapa? Kamu kan teman baikku, juga ibu dari anak-anakku. Kalau Bayu meminta tolong untuk menjagamu, tentu saja aku mau."
Prita tertawa kecil, "Bukan.... Maksudnya aneh saja melihat kalian bisa akrab."
"Kamu dan Raeka juga bisa berteman, kan?"
Penjelasan sederhana Ayash membuat Prita berhenti bertanya tentang kebenaran ucapan itu.
"Memangnya.... Berapa lama aku koma?"
Itu waktu yang cukup lama. Segala hal bisa saja terjadi selama ia koma.
"Apa benar Bayu baik-baik saja?" Prita teringat tentang kejadian sebelum ia kehilangan kesadaran. "Apa dia juga tertembak?"
"Tidak, dia baik-baik saja. Bahkan sekarang dia sedang sibuk bekerja di luar kota. Kamu sabar saja, nanti juga dia pulang."
Prita sangat bersyukur dan lega jika Bayu baik-baik saja.
"Apa kamu ingat kejadian terakhir sebelum koma?" tanya Ayash ingin tahu.
Prita mengangguk, "Ayahnya Bayu mengejar kami saat ingin menyerahkan bukti-bukti kepada polisi. Saat kami berlari, dia menembak ke arah kami, seperti ingin membunuh anak dan menantunya sendiri. Itu hal paling menyeramkan dalam hidup yang pernah aku rasakan." Kepala Prita sampai pusing karena mengingat hal itu.
Ayash menggenggam tangan Prita, "Jangan khawatir, semuanya sudah selesai dan baik-baik saja."
"Bagaimana dengan ayahnya Bayu? Apa dia sudah ditangkap polisi?"
"Dia sudah mati ditembak polisi ketika mencoba melawan saat akan ditangkap."
"Ah.... Kenapa harus seperti itu. Sebenarnya dia hanya perlu mengakui kesalahannya saja. Kenapa ada orang seperti itu?"
"Kamu tidak perlu memikirkan hal lain, fokus saja dengan kesembuhanmu."
"Anak-anak ada dimana?"
"Daniel dan Dean masih sekolah. Nanti pulang sekolah aku akan membawa mereka kesini. Kalau Livy ada di rumah."
"Aku kangen anak-anak."
__ADS_1
"Iya, mereka juga kangen denganmu."
Srek!
Pintu samping kamar terbuka. Irgi dan Raeka masuk dari sana. Ternyata, mereka sampai menghubungi petugas kamar untuk membukakan pintu samping karena pintu utama dikunci oleh Ayash. Mereka berdua menatap sinis ke arah Ayash.
"Tidak aku sangka bisa punya teman sialan seperti dia." gerutu Irgi.
"Dudah, Ir. Salahmu sendiri ribut. Kalau dokter tahu juga pasti kamu akan diuasir."
"Salah ya, antusias melihat teman baru sadar dari koma?"
"Tebtu saja tidak.... Makasih ya, sudah menjagaku di sini."
"Hm.... "
"Raeka, terima kasih juga sudah menjagaku selama aku belum sadar."
Mendengar ucapan itu, Raeka berjalan memeluk Prita. "Aku sangat merindukanmu, Ta. Mau panahan dan jalan-jalan bareng lagi."
"Sama, aku juga." Prita juga membalas pelukan Raeka.
"Bagaimana dengan kabar Shuwan?"
"Hem, baru bangun juga sudah memikirkan dia juga."
"Ya.... Dia kan juga teman kita."
Raeka mendengus kasar, "Kasihan dia, hamil sendirian. Kak Moreno belum mau bertanggung jawab."
Prita tercengang, ia kira Moreno sudah mau menikahi Shuwan. "Shuwan sendiri bagaimana?"
"Dia bilang akan tetap mempertahankan anak itu. Aku sendiri juga khawatir kalau dia sampai depresi dan akhirnya meninggal. Seperti kasus yang belum lama ini ramai di TV."
"Kasus apa?" Prita yang baru keluar dari goa sudah tentu tidak tahu perkembangan informasi apapun.
"Sayang, tidak usah membahas berita yang berat-berat dengan pasien yang baru bangun dari koma deh.... Nanti beban pikirannya tambah banyak." ucap Irgi.
"Kenapa sih ikut nyambung. Sana duduk di pojokan bareng Ayash, aku hanya mau bicara berdua saja dengan Prita."
Irgi merasa terusir oleh istrinya sendiri. Ia memilih untuk bergabung dengan Ayash yang sudah lebih dulu duduk di sofa ruang tamu.
"Kasus apa?" tanya Prita lagi.
"Ada seorang wanita yang diajak pacarnya jalan-jalan lalu diberi minuman mengandung obat tidur, terus diperk*osa, hamil, disuruh gugurin kandungan. Yang cowok tidak mau tanggung jawab, keluarganya juga tidak mau tanggung jawab malah membela anaknya. Dia sudah berusaha lapor polisi, tapi laporannya juga tidak ditanggapi karena ayah dari cowok itu anggota DPRD. Dan cowoknya juga anggota polisi. Karena sudah terlalu depresi, akhirnya dia memutuskan untuk bunuh diri di samping pusara ayahnya yang sudah meninggal."
"Uh.... Itu sangat menyedihkan. Cara mengakhiri hidupnya salah, tapi orang-orang yang menyebabkan dia mengambil langkah seperti itu juga salah."
"Apa polisi terlalu lemah untuk menghadapi kasus seperti itu, apalagi jika melibatkan anak pejabat, bahkan oknum dari kepolisian sendiri."
"Aku juga tidak tahu, Ta. Memang paling benar kalau ada masalah lapornya dengan netizen saja, soalnya kalau lapor polisi prosesnya lama dan belum tentu diusut juga."
"Kalau beritanya sudah viral, baru ditangani."
"Aku juga tidak mau Shuwan mengambil langkah yang sama seperti wanita itu."
"Jangan tinggalkan dia, Ra. Dia pasti sangat butuh teman. Jangan sampai dia merasa sendirian."
"Iya, Ta. Selama ini kita juga masih sering jalan bareng."
__ADS_1
"Nanti aku juga akan ikut bergabung dengan kalian. Kita jalan lagi bertiga."