
Aduh.... yang vote dan like sepi banget 😅
Sempetin like dan vote dong, sayang 😘
------------------------------------xxx---------------------------------------
Hari ini suasana di sekolah Daniel sangat ramai. Hiasan warna-warni ceria terpasang di setiap sudut sekolah. Stand makanan dan mainan berjajar memanjakan mata setiap pengunjung, terutama anak-anak. Siapa yang tidak tertarik untuk membeli permen kapas dengan bentuk lucu, pop corn aneka warna, serta berbagai makanan lainnya yang aroma dan bentuknya mampu menggoyangkan lidah.
Hari ini akan diadakan event perlombaan antara anak dan orangtua. Sudah banyak murid bersama orang tuanya yang datang. Merek bercengkrama di sekitar area pinggiran lapangan dekat dengan stand penjual mainan dan makanan.
Daniel memilih duduk sendiri di dekat pintu gerbang sekolah. Sesekali ia memanjat pagar yang tak terlalu tinggi, memandang ke arah halaman depan sekolah. Ia berharap Daddy-nya bisa datang menemaninya.
Tadi, ia berangkat ke sekolah bersama papanya dan Dean. Mereka berdua masih berada di ruang guru, sementara Daniel memilih pergi sendiri menanti kedatangan Daddy-nya di depan gerbang sekolah.
Ia iri setiap kali melihat teman-temannya turun dari mobil digandeng oleh ayah ibunya dengan wajah ceria. Baju mereka kembar, seperti satu tim gang siap bertanding memenangkan perlombaan. Daniel juga mau seperti itu dengan Daddy Bayu, bukan dengan Papa Ayash. Papa Ayash itu nanti akan berlomba bersama Dean, dia juga mau punya pasangan ayahnya sendiri.
Daniel menghela nafas. Ia menidurkan kepalanya pada bagian atas pagar sembari terus memandangi orang-orang yang berdatangan. Apa mungkin Daddy-nya bisa datang ke sana walaupun Daniel tahu ayahnya ada di tempat yang jauh dan tidak boleh kemana-mana oleh polisi.
"Daniel....!"
Seseorang melambaikan tangannya dengan penuh semangat ke arah Daniel. Itu bukan orang yang Daniel harapkan untuk datang. Tapi, orang itu tampak sangat kegirangan melihat Daniel. Siapa lagi kalau bukan Papa Irgi. Dia telah datang bersama Mama Raeka. Padahal, Daniel sudah bilang kepada mamanya, dia tidak mau kalau Irgi datang. Badan Daniel langsung lemas.
"Halo, kesayanganku.... "
Irgi menurunkan Daniel dari pagar, lalu menggendongnya dengan gemas sambil digerak-gerakkan seperti ingin melemparkannya. Diciuminya berkali-kali pipi anak yang menunjukkan raut cemberut itu.
"Papa Irgi datang kok malah cemberut sih.... Papa Irgi sudah siap ini buat lomba lari bareng Daniel."
"Siapa sih yang memberitahu Papa Irgi untuk datang ke sekolah?" Daniel berbicara sambil memanyunkan bibirnya.
Irgi mengerutkan dahi, "Memangnya kenapa kalau Papa Irgi datang? Kok Daniel sepertinya tidak senang?"
"Daniel takut kamu bakal berbuat aneh, Sayang." ujar Raeka.
"Hm? Memangnya aku pernah bertingkah aneh?"
Raeka memutar malas kedua bola matanya. Dia sendiri kadang malu dengan tingkah suaminya itu.
"Eh, orang itu siapa ya? Lucu bapak dan anak kompak rambutnya kribo kayak jamur. Hahaha.... "
Baru Raeka sudah mengingatkan, Irgi sudah mulai mengomentari orang dengan lantangnya. Kalau ada orang yang dengar bisa tersinggung. Daniel ikut geleng-geleng kepala.
"Wah, ada lagi. Ibu-ibu di sana make up-nya tebal berapa senti itu.... pakai sanggul pula. Ckckck.... " Irgi geleng-geleng kepala melihat penampilan seorang wanita paruh baya yang berjalan keluar dari suatu ruangan.
__ADS_1
"Papa Irgi.... Itu ibu kepala sekolah." ucap Daniel sembari menatap tajam ke arah Irgi.
Raeka menepuk dahinya. Sementara, Irgi berusaha menahan tawa. Menurutnya penampilan wanita yang ternyata kepala sekolah itu cukup unik untuknya.
"Papa Irgi kalau tidak bisa diam nanti Daniel suruh pulang saja, ya."
"Jangan, dong.... Papa Irgi kan mau ikut lomba bareng Daniel."
"Tapi Daniel tidak mau.... Daniel maunya sama Daddy."
"Daddy kamu belum pulang. Lain kali saja sama Daddy. Sekarang, main dengan Papa Irgi dulu. Nanti kita kalahkan Dean dan papamu."
Daniel tetap menggeleng. Ia menundukkan kepalanya. Irgi moleh ke arah Raeka, meminta pendapatnya tentang sikap yang ditunjukkan Daniel.
"Daniel.... Sini Mama Raeka gendong."
Raeka mengulurkan tangannya. Daniel menyambutnya dan berpindah dari gendongan Irgi kepada Raeka.
"Aduh.... Kamu semakin berat saja!" guman Raeka ketika Daniel ada di gendongannya.
"Daniel sedih ya, Daddy Bayu tidak bisa datang?"
Daniel mengangguk.
"Sementara, lombanya dengan Papa Irgi dulu, ya. Nanti Mama Raeka yang bersorak-sorak menyemangati kalian."
"Mama Raeka bisa lari?" tanya Daniel.
"Bisa.... Memangnya kenapa?"
"Kalau begitu, Mama Raeka saja yang jadi teman main Daniel. Takut Papa Irgi nanti sibuk bergaya waktu lari. Papa Irgi kan suka tebar pesona."
"Eh.... Kok Daniel bicara seperti itu? Papa Irgi kan pendiam dan pemalu."
"Hm, kalau sampai Papa Irgi macam-macam, biar Mama Raeka saja yang urus, oke?"
"Oh, kalian sudah sampai?"
Dari arah beberapa meter, tampak Ayash berjalan ke arah mereka sambil menggendong Dean.
"Pasti Papa yang memberi tahu Papa Irgi untuk datang, ya?" tanya Daniel dengan nada sedikit kesal.
"Iya, Sayang. Katanya kamu tidak mau bareng papa, jadi papa suruh Papa Irgi untuk datang."
__ADS_1
"Apa Daniel mau tukar pasangan, Daniel sama papa, Dean sama Papa Irgi?"
"Dean tidak mau! Dean maunya sama Papa saja!" tegas Dean.
"Hah! Kenapa anak-anakmu jadi tidak suka padaku seperti ini, ya. Padahal dulu mereka lebih mengidolakanku daripada papanya sendiri." Irgi merasa tertolak. Rasanya, tingkat kegantengannya jadi berkurang lima puluh persen akibat ditolak oleh dua anak kecil itu.
"Prita mana?" tanya Raeka.
"Tidak tahu, Ra. Dia belum datang. Katanya tadi pagi masih menunggu Livy bangun. Mungkin sebentar lagi datang."
"Panggilan kepada seluruh ayah dan anak harap segera menuju ke lapangan. Acara perlombaan akan segera dimulai. Terima kasih."
Terdengar suara pengumuman dari speaker mengenai perlombaan yang akan segera dimulai.
"Kita ke lapangan sekarang." ajak Ayash.
"Ayo, Daniel. Ikut Papa Irgi." Irgi mengambil Daniel dari gendongan istrinya.
"Jangan melawak nanti ya, Sayang." ucap Raeka mengingatkan.
"Tenang saja, Sayang. Aku sangat ambisius kalau masalah lomba. Aku dan Daniel pasti hari ini akan memenangkan semua cabang lomba. Iya kan, Daniel?" kata Irgi dengan percaya diri.
"I hope so." Daniel agak ragu dengan ucapan Irgi.
Suasanya di area lapangan menjadi sangat ramai. Daniel melihat banyak senyum ceria antara anak dan orangtuanya di sana. Semua tampak kompak bersama ayahnya. Daniel kembali melihat ke sekeliling, berharap daddy-nya tiba-tiba muncul di sana. Namun, keinginannya sangat tidak mungkin.
Irgi membawa Daniel menuju kelompok TK Besar, berbeda tempat dengan Dean yang masih masuk di kelompok TK kecil, namun tempat perlombaan masih satu area.
"Daniel, kamu tidak main bersama daddy-mu?" tanya Rayn.
"Daddy tidak bisa datang, jadi Papa Irgi yang menemani."
"Oohh.... "
"Kenapa daddy-mu tidak bisa datang?" sahut Fiko.
"Kata Mama masih sibuk, ada urusan penting." kilah Daniel.
"Rooney yang ayahnya sangat sibuk hari ini bisa datang, loh. Tuh lihat di sana." Fiko menunjuk pada kelompok TK kecil dimana Rooney akan berlomba dengan Dean juga.
Daniel iri melihatnya. Rooney bahkan hampir tidak pernah bertemu mama dan papanya. Tapi, hari ini orangtuanya bisa datang. Sementara, Daniel yang sering bertemu ayahnya, di momen penting seperti ini, justru ayahnya tidak bisa datang.
"Tidak apa-apa, Daniel. Bermain bersama Papa Irgi juga akan menyenangkan." bisik Irgi untuk menenangkan Daniel.
__ADS_1