ANTARA CEO DAN MAFIA 2

ANTARA CEO DAN MAFIA 2
Penyerbuan 2


__ADS_3

Looser! Wkwkwk


Melihat isi chat dari Princess Charming membuat Alex geram.


"Kurang ajar emang. Beneran cewek apa nggak. Kalau cowok bisa aku hajar awas aja nanti pasti bakalan ketemu. Sialan!" gerutunya.


Alex kembali memainkan gamenya, menantang Princess Charming bermain ronde kedua. orang itu memang salah satu pemain yang sulit dia kalahkan dalam permainan satu lawan satu. Tapi, sifat songongnya yang membuat Alex geram, ingin membungkam lawan main yang jumawa itu. Sayangnya, dia memang belum bisa mengalahkan Princess Charming sekalipun.


Alex terus fokus pada layar ponselnya. Kondisi permainan membuatnya tersenyum. Kali ini ia yakin akan menang. Pahlawan yang Princess Charming pilih sudah semakin terdesak posisinya menerima serangan dari pahlawan milik Alex.


"Alex.... "


Sedang fokus bermain, tiba-tiba terdengar suara panggilan bosnya. Alex semakin mempercepat permainannya, berharap bisa segera memenuhi panggilan bosnya. Dia tidak mau kalah kali ini. Sedikit lagi dia akan menang.


"Alex! Berhenti main!" bentak Bayu yang saat ini juga sedang menahan kemarahan. Ditambah lagi Alex yang sedang asyik bermain game padahal sejak tadi dia sudah memanggilnya.


"Sebentar Bos, tanggung!"


Merasa diabaikan oleh Alex, Bayu merebut paksa ponsel yang Alex pegang.


"Oh My God... Bos.... Oh ya ampun.... Haa.... padahal sebentar lagi mau menang." keluh Alex.


Bayu mematikan permainan yang tadi Alex mainkan.


"Hubungi Red Wine, suruh mereka datang ke King Crown sekarang juga. Kondisi genting." Bayu kembali melemparkan ponsel ke arah Alex.


Alex mendesah pasrah. Padahal ia hampir menang, tapi jadi kalah karena Bayu mematikan permainannya tiba-tiba.


"Cepat ikut aku! Hubungi mereka sambil kita jalan. Ada yang menyerang klab."


"Hah, apa!"


Bayu gregetan dengan anak buahnya yang tiba-tiba jadi tolol itu. "Cepat berdiri dan ikuti aku!"


"Baik, Bos!" Alex langsung melompat bangkit dari sofa. Dia buntuti Bayu yang jalannya seperti setengah berlari, sangat terburu-buru.


"Siapa yang menyerang King Crown?"


"Tidak tahu."


Alex menggaruk-garuk kepalanya. Darimana bosnya tahu ada yang sedang menyerang klab? Dan kenapa dia tidak tahu siapa orangnya? Apa jangan-jangan hanya ancaman?


"Cepat, Alex!"

__ADS_1


"Iya."


Kedua lelaki itu terus berjalan dengan tempo yang cepat, menaiki lift yang membawa mereka turun ke basement, tempat Bayu memarkirkan mobilnya.


"Biar aku yang menyetir. Kamu hubungi yang lainnya, kita akan langsung bertemu di King Crown."


"Oke."


Bayu melajukan Ferrari Spider warna hitam kesayangannya dengan kecepatan tinggi. Dia ingin segera bertemu dengan orang yang sudah mengusiknya. Sebenarnya, malam ini dia berniat untuk menyelesaikan beberapa berkas yang perlu ia teliti, tapi ada orang yang mengancam akan menghancurkan klab jika ia tidak datang.


"Apa bos sudah membawa senjata?" Alex mengingatkan.


"Ah, iya. Aku sampai lupa. Pistolku tertinggal di kamar. Sudahlah, pakai tangan kosong juga bisa. Lagipula apa mereka berani buat keonaran pakai senjata api? Mari kita lihat siapa orangnya."


Setelah menempuh tiga puluh menit perjalanan yang terasa sangat lama, akhirnya mereka berdua sampai di depan King Crown. Suasana parkiran terlihat sepi. Bayu rasa orang-orang itu ada di dalam.


"Alex, dimana Red Wine?"


"Mereka masih dalam perjalanan, Bos. Mungkin sekitar sepuluh menit lagi mereka sampai."


"Baiklah, kamu tunggu di sini saja. Aku akan masuk sendiri."


"Hah, kenapa Bos?"


Alex menggeleng.


"Mungkin di dalam akan ada perkelahian. Kamu kan sama sekali tidak bisa bela diri. Menambah bebanku kalau kamu ikut."


Walaupun itu sebuah kenyataan, Alex tetap kesal ya mendengar ucapan bosnya itu.


"Pastikan Red Wine benar-benar datang, ya! Kalau sampai aku kenapa-napa di dalam, berarti itu salahmu, Alex! Aku tidak akan memaafkanmu."


"Iya, Bos. Aku pastikan mereka sebentar lagi datang menyusul Anda."


"Oke, aku masuk dulu."


Bayu keluar dari mobilnya. Dengan gaya cool dan penuh percaya diri ia berjalan menuju klub unggulannya. Dari arah luar klab, sudah mulai terlihat dekorasi yang dirusak dan berserakan di tanah. Kaca-kaca jendela pecah.


Tring!


Bayu membuka pintu. Pemandangan yang dilihat membuatnya tercengang. Klabnya hancur total. Meja kursi hancur, lampu-lampu hancur, deretan alkohol dari yang termurah hingga paling mahal juga hancur tak bersisa. Sementara, para pelayan dan Fazid dikumpulkan di tengah dalam kondisi babak belur dikelilingi oleh orang-orang berjas dan kemeja hitam. Satu orang menyeringai ke arahnya. Bayu tahu, dia adalah Arya pemilik klab seberang.


"Akhirnya bos kalian datang juga." Arya berjalan mendekat ke arah Bayu.

__ADS_1


"Apa-apaan ini?" Bayu antara geram dan heran melihat situasi itu. Bisa-bisanya Arya menghancurkan klabnya padahal di antara mereka tidak pernah ada masalah.


"Ini balasan untuk kecuranganmu."


"Kecurangan apa? Kapan aku pernah mengusik usahamu? Kita punya usaha di bidang yang sama, tak perlulah saling merusak begini."


"Cih! Sok bijak. Kalau kamu tidak merugikan klab ku, tentunya aku juga tidak mungkin akan melakukan ini."


"Aku tak pernah melakukan apapun pada klabmu."


"Heh! Bawakan anak buahnya kemari!" seru Arya.


Seorang anak buah Arya maju ke depan sambil menyeret seorang lelaki yang sudah babak belur. Laki-laki itu adalah salah satu karyawan di King Crown.


"Kamu menyuruh anjing ini untuk menyelinap ke klabku dan menjadi pelayan, kan?"


"Fazid.... " Bayu melirik ke arah Fazid.


"Dia memang pelayan di sini, Bos. Tapi aku tak pernah menyuruhnya menyelinap ke klabnya."


"Tidak usah mengelak! Kalian pasti tahu kan apa yang dilakukan anjing ini!"


Arya melemparkan setumpuk kertas foto kepada Bayu. "Lihat sendiri!"


Bayu memungut beberapa lembar foto itu, menampilkan gambar pelayan King Crown menjadj pelayan di klab Arya dan melakukan transaksi narkoba di sana.


"Licik! Klab ku ditutup gara-gara jebakan kalian. Ternyata begini ya gaya bisnismu selama ini. Pantas saja bisnismu cepat maju, ternyata mainnya dengan cara licik."


"Aku tidak pernah melakukan itu."


"Heh! Anjing! Katakan, siapa yang menyuruhmu berjualan narkoba untuk menjatuhkan klabku!?" Arya menjambak rambut lelaki itu hingga kepalanya mendongak.


"Bb.... Bos Bayu!" jawab orang itu dengan gemetaran.


Bayu merapatkan genggaman tangannya. Ia tak habis pikir ada orang yang berani memfitnah dirinya.


"Dengar sendiri, kan? Dasar bangsat!"


Arya melayangkan pukulan ke arah Bayu. Namun, pukulan itu bisa Bayu tepis. Arya terus melakukan serangannya dan Bayu tetap bisa berkelit. Melihat pertarungan yang sepertinya Arya tidak akan menang, beberapa anak buahnya ikut maju beramai-ramai menghajar Bayu.


Bayu yang memang ahli beladiri, menghadapi beberapa orang sekaligus masih sanggup. Tapi, lama kelamaan lawannya semakin banyak. Bahkan, di antara mereka ada yang memakai tongkat pemukul. Beberapa kali tubuh Bayu tak bisa terhindar dari pukulan. Mereka terlalu banyak untuk Bayu hadapi sendiri.


"Red Wine goblok! Kenapa belum datang juga!" gerutunya di tengah-tengah perkelahian.

__ADS_1


__ADS_2