ANTARA CEO DAN MAFIA 2

ANTARA CEO DAN MAFIA 2
Menyamar


__ADS_3

"Gudang perusahaan kayu Tuan Saddam di daerah XXX, dia menyembunyikan dua ton ganja. Lakukan sidak sendiri kesana, jangan memberikan pemberitahuan apapun. Buktikan kalau ucapanku ini benar."


Bayu akhirnya membocorkan salah satu informasi yang dimilikinya. Selama bolak-balik ke Kota J, Bayu menyelidiki tempat-tempat yang kemungkinan dijadikan tempat menyembunyikan ganja-ganja itu.


"Bayu, informasi seperti itu bukan sesuatu yang bisa dibuat main-main."


"Aku serius."


"Tuan Saddam pengusaha yang bersih."


Ayah Bayu juga pengusaha yang bersih. Bersih karena tidak pernah ada yang membongkar sisi kotornya. Jika ada yang mengetahui sisi buruk mereka pasti akan langsung dilenyapkan.


"Kamu tidak akan tahu sebelum membuktikannya sendiri."


"Aku bisa saja pulang dan mengajukan sidak bersama anggotaku yang lain. Resikonya jika informasi yang kamu berikan salah, aku akan mendapatkan sanksi bahkan bisa dicopot dari jabatanku dengan tuduhan fitnah."


"Jika informasiku benar, kamu akan mendapatkan promosi jabatan. Ini ganja 2 ton, jumlah yang sangat besar. Mencegah peredarannya, berarti kamu telah menyelamatkan belasan ribu remaja dari bahaya narkoba." Kata-kata Bayu terdengar sangat meyakinkan.


Bara seketika terdiam. Mungkin ia sedang mrmpertimbangkan perkataan Bayu.


"Oke, meskipun kita belum lama mengenal, aku rasa aku bisa mempercayaimu."


"Ingat, jangan sampai orang yang bernama Hanung Abimayu tahu tentang hal ini."


"Apa!? Kenapa dengan Beliau? Apa Beliau terlibat juga?"


"Nanti kamu akan tahu."


"Besok aku akan usahakan kembali ke Kota J. Sampai bertemu di sana."


"Ya, aku sangat menunggu kepulanganmu."


"Ingat perkataanku yang dulu, Bayu? Saat aku kembali, jangan mengangkat senjatamu. Warga sipil dilarang memiliki senjata api. Aku juga bisa memenjarakanmu."


"Hahaha.... Kalau polisi seperti kalian bisa melindungiku, untuk apa aku membawa senjata sendiri."


"Aku sungguh-sungguh, jangan melakukan tindakan melawan hukum."


"Akan aku usahakan."


Bayu mematikan teleponnya. Prita masih berdiri di hadapannya dengan raut muka penuh tanya. Istrinya pasti mendengar semua percakapannya.


Bayu menghubungi orang lain lagi. Kali ini yang ia hubungi adalah Fredi.


"Tuan.... "


"Aku sudah kembali, Fredi."


"Apa tugas Anda kali ini?"


"Ikut denganku ke Kota J. Kamu dan semua anak buahmu. Ayo kita bebaskan temanku, Ben."


"Nanti malam kita akan berangkat."


"Baik."


Prita meraih tangan suaminya, "Mas.... Jangan." ucapnya dengan sorot mata penuh harap.


"Ben juga termasuk orang yang penting untukku, Sayang. Aku harus pergi."


"Maksudku bukan seperti itu. Kamu boleh menyelamatkan Ben, tapi jangan menggunakan kekerasan."


"Aku tidak akan melakukannya jika tidak terpaksa. Ini hanya untuk berjaga-jaga."


"Kalau begitu aku ikut!" ucap Prita dengan nada penuh ketegasan.


Bayu mengusap puncak kepala istrinya, "Sayang, tunggu aku di rumah dan jaga anak-anak."


Prita menyingkirkan tangan Bayu darinya. Ia berjalan ke arah meja untuk mengambil ponselnya. Dengan terus menatap tajam kepada suaminya, ia menghubungi seseorang.


"Halo?" terdengar suara lelaki dari seberang sana.

__ADS_1


"Ayash.... "


Bayu langsung membulatkan mata ketika Prita menyebutkan nama itu. Sang istri sedang menelepon mantan suaminya.


"Ya, kenapa?"


"Aku butuh bantuanmu."


"Hm, katakan."


"Tolong jemput Livy dari rumahku dan jaga dia selama beberapa hari."


"Memangnya kamu mau kemana?"


"Aku ada urusan ke luar kota dan tidak bisa mengajak anak-anak. Maaf merepotkanmu."


"Ah, baiklah."


"Terima kasih."


Prita menutup teleponnya, "Aku sudah menitipkan anak-anak kepada ayahnya."


"Bolehkah sekarang aku menemani suamiku pergi?"


Bayu langsung menarik Prita ke dalam pelukannya. Perasaannya saat ini campur aduk antara bahagia dan khawatir. "Memilih ikut denganku bukan pilihan yang aman meskipun aku sangat senang mendengarnya."


"Aku ingin ikut karena aku merasa aman di sampingmu."


Bayu melepaskan pelukannya, menatap istrinya dari ujung kaki hingga kepala. "Sebelum pergi, kamu harus merubah penampilan dulu."


Ia mengajak Prita check out dari hotel dan membawanya masuk ke sebuah mall.


"Semua yang ikut denganku laki-laki, kamu juga harus seperti mereka supaya tidak terlalu menarik perhatian."


Bayu memilihkan pakaian yang sekiranya pantas dikenakan oleh istrinya.


"Apa aku harus menyamar?"


Bayu menyerahkan wig pria warna coklat gelap agar dikenakan Prita.


"Aku harus memakai ini semua?"


Bayu mengangguk, "Cobalah."


Prita bergegas masuk ke dalam ruang ganti. Hal pertama yang ia lakukan melepaskan pakaian yang dikenakan, lalu membalutkan selembar kain panjang di area dada untuk menyamarkan tonjolan yang ada di sana. Ia tutupi dengan kaos hitam polos dirangkap hoody abu-abu agar badannya tampak lebih berisi. Bagian bawah ia mengenakan straight jeans dan sneaker berwarna serba hitam. Masih terlihat seperti perempuan.


Ia ikat rambut panjangnya, menutup kepalanya dengan hairnet, lalu memasangkan rambut palsu pilihan suaminya.


Seketika ia terpana melihat dirinya sendiri di dalam cermin. Ternyata dia bisa menjadi tampan berpenampilan seperti itu. Prita merasa dirinya kini mirip dengan biasnya sendiri, Baekhyun EXO.


Segera ia hapus warna lipstik pink yang menempel di wajahnya lalu menggantinya dengan lipstik warna bibir agar terlihat lebih natural. Riasan mata juga ia halus, lalu memulaskan warna coklat yang lebih soft di sekitar agar tidak terlihat memakai make up. Tidak lupa ia membuat aegyo di bawah mata supaya tampak lebih muda. Lalu melengkapinya dengan softlens warna abu-abu.


Kini ia jadi jatuh cinta pada dirinya sendiri. Serasa bisa menggapai bias-nya.


"Oh, Baekhyun.... " gumamnya sembari memuji dirinya sendiri di depan cermin.


"Sayang, apa masih lama?"


Suara panggilan dari luar membuat kehaluan Prita berakhir. Segera ia bereskan perlengkapan make up ke dalam tas, lalu baju milliknya yang tadi dikenakan dirapikan dalam paper bag.


"Kenapa lama seka.... li." Bayu sampai tercengang melihat siapa yang keluar dari dalam sana. Istrinya benar-benar sudah tampil beda, persis laki-laki hanya saja postur tubuhnya rendah.


"Apa ini bagus?" tanya Prita.


"Iya, Sayang. Aku sampai tidak mengenalimu."


Bayu menggaruk kepalanya. Rasanya aneh melihat istrinya berpenampilan seperti itu. Dia lebih suka istrinya tampil sek*si apalagi kalau memakai lingerie.


"Coba tebak aku mirip siapa?" Prita iseng bertanya. Dia tahu suaminya tidak akan tahu penampilan siapa yang ia tiru.


Bayu terlihat berpikir, pertanyaan sederhana itu seperti ujian masuk perguruan tinggi yang sangat sulit untuk dicari jawabannya.

__ADS_1


"Aku tidak tahu, tapi sepertinya mirip dengan artis yang sering kamu tonton di kamar sambil menangis."


Prita mengerutkan dahi, kenapa suaminya bisa tahu kalau dia sering menonton video klip EXO?


"Penyanyi Korea, ya?"


Prita menggangguk, "Dari mana Mas tahu?"


"Bukannya selama aku pergi kamu selalu menonton mereka? Penyanyi yang wajahnya hampir sama semua itu, kan?"


"Aku sampai bingung setiap malam kamu menangis sebenarnya karena merindukan aku atau karena merindukan mereka?"


"Masa setiap menonton lagunya, kamu ikut menangis?"


Prita tertawa kecil, "Aku menangisi kalian berdua. Soalnya Mas pergi lama hilang tanpa kabar, lalu Baekhyun juga pergi wamil. Aku kan jadi kesepian.... "


"Hem, jadi begitu ya, sainganku bertambah lagi.... "


"Itu bukan saingan, Mas. Tapi simpanan. Kamu jangan khawatir, aku hanya akan menyimpannya di dalam lemari." Prita berpose dengan mengedipkan satu mata dan mengacungkan dua jari.


"Oke, aku maafkan karena dia pasti tidak mengenalmu." Bayu menepuk pelan puncak kepala Prita.


Prita memanyunkan bibir.


"Kita berangkat sekarang, ya? Fredi sudah datang menjemput."


Prita mengangguk.


Bayu hendak memeluk pinggang Prita namun tangannya justru dipukul keras.


"Hah, kenapa?"


"Aku kan sedang menyamar, masa kita mau jalan sambil gandengan tangan? Kan aneh dilihat."


"Hahaha.... Benar juga. Lalu kita harus jalan bagaimana?"


"Ya tidak perlu pegang-pegangan segala, jalan sendiri-sendiri."


"Oke. Tapi, pakai dulu ini."


Bayu memasangkan topi di kepala Prita. Tampak lebih bagus.


"Namaku bukan 'Sayang' atau 'Prita', ya. Panggil aku Eki."


"Kenapa harus Eki?"


"Karena aku mau.... "


"Oke, oke.... Adek Eki.... " Ledek Bayu.


Prita menyulurkan lidahnya untuk mengejek balik.


Mereka berjalan keluar toko sambil berjalan beriringan. Seperti yang Prita minta, tidak ada gandengan tangan meskipun sepertinya Bayu gatal untuk sekedar menggenggam tangan istrinya.


"Mas, apa kamu tahu lagu yang sering aku dengarkan setiap malam sampai ingin menangis?"


"Jangan panggil aku 'Mas', kamu lupa? Panggil aku 'Tuan Muda'."


"Ah, iya. Maafkan aku, Tuan Muda."


"Suaranya harus maskulin. Kenapa lembut begitu."


"Ehm! Baik, Tuan Muda."


Bayu hampir tertawa mendengar suara berat yang berusaha dibuat-buat istrinya. "Bagus, bagus.... Pertahankan seperti itu."


Prita membenahi cara jalannya agar terlihat lebih seperti laki-laki. Ternyata sangat sulit. Seharusnya ia belajar dulu kepada Andin. Dia ahlinya kalau untuk bertingkah seperti laki-laki.


"Lagu yang sering kamu dengarkan itu berbahasa Jepang. Judulnya Paper Cuts. Aku sampai hafal nadanya padahal aku tidak menyukai mereka."


Prita senyum-senyum sendiri. Ternyata benar, selama ini suaminya selalu memperhatikannya saat ia menganggapnya menghilang.

__ADS_1


__ADS_2