ANTARA CEO DAN MAFIA 2

ANTARA CEO DAN MAFIA 2
Hasil Tes DNA


__ADS_3

"Bos, hasil tes DNA yang Anda minta sudah keluar."


Alex menyerahkan map berwarna coklat ke hadapan Bayu. Pada bagian depan map itu terdapat nama dan alamat rumah sakit tempat Bayu mengajukan tes DNA terhadap Daniel.


"Padahal aku bilang untuk secepatnya memberikan hasil. Kenapa lama sekali sampai tiga minggu baru keluar?"


"Kata dokter pengecekan tes DNA dengan akar rambut lebih rumit daripada lewat darah. Itu sebabnya prosesnya menjadi lebih lama."


Bayu lantas membuka map itu. Di dalamnya ada selembar kertas yang berisi informasi mengenai hasil tes DNA. Bagi orang awam tidak akan paham dengan isi tulisan yang berisikan deretan angka-angka, mungkin hanya dokter yang bisa memnacanya. Tapi, fokus Bayu tertuju pada kesimpulan hasil yang tertera di bagian bawah surat itu.


Hasil analisa menunjukkan bahwa empat belas alel Loci Marka STR terduga ayah cocok dengan alel paternal dari anak. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa probabilitas Bayu Bagaskara sebagai ayah biologis dari Daniel Hartadi adalah >99.99%. Oleh karena itu, Bayu Bagaskara tidak dapat disingkirkan dari kemungkinan sebagai ayah biologis Daniel Hartadi.


Bayu tersenyum lebar melihat hasil tes DNA di tangannya. Ia tertawa bahagia sampai hampir menangis. Rasanya lega mengetahui jika Daniel benar-benar anak kandungnya.


"Bagaimana hasilnya, Bos?"


"Daniel anak kandungku, Alex... Daniel anak kandungku."


"Selamat ya, Bos. Aku ikut senang mendengarnya."


"Terima kasih, Alex."


Bayu masih terpaku pada selembar kertas itu. Senyum di bibirnya belum juga pudar.


"Setelah ini apa yang akan Bos lakukan?"


"Apa?"


"Sekarang kan kita sudah tahu kalau Daniel adalah anak kandung Bos. Apa yang akan Anda lakukan pada anak itu?"


Bayu termenung sejenak. Kalau boleh jujur, ia ingin mengambil Daniel dari Prita. Ia ingin Daniel tinggal bersamanya. Tapi, Perkataan Jimmy waktu itu masih membekas di pikirannya. Jimmy bilang, Daniel masih terlalu kecil dan masih membutuhkan ibunya. Dia tak bisa mengambil paksa seorang anak kecil dari ibunya. Lagipula, belum tentu juga Daniel akan merasa bahagia saat tinggal bersamanya.


Ia mengusap kasar wajahnya. Satu sisi ia sangat menginginkan Daniel, sisi lain ia tak ingin membuat anaknya menderita bersamanya.

__ADS_1


"Aku tidak tahu, Alex. Aku belum memikirkan apapun tentang Daniel."


"Apa sebaiknya kita kembali ke Singapura untuk menemui Daniel? Kita harus mengatakan padanya kalau Anda ayah kandungnya."


"Dia masih sangat kecil, Alex. Dia tidak akan paham apa yang dikatakan orang dewasa."


Bayu mengepalkan tangannya. Ia tiba-tiba kesal mengingat Prita selalu menutupi fakta tentang Daniel. Sekarang, bukti tes DNA ada di tangannya. Prita tak dapat menyangkal lagi kalau dia adalah ayah Daniel.


"Alex, apa hasil tes DNA ini bisa digunakan untuk menuntut hak asuh anak?"


Alex menggaruk-garuk kepala mendengar pertanyaan bosnya. Dia tidak terlalu paham mengenai masalah hukum.


"Bos, biasanya yang mengajukan permohonan tes DNA itu dari pihak wanita agar anaknya bisa diakui oleh ayah biologisnya. Dalam kasus ini sepertinya terbalik, ya. Nona Prita tidak meminta Anda bertanggung jawab atas anak yang telah dilahirkannya meskipun itu hasil perbuatan Anda."


"Memangnya kenapa? Kalau dia mau menuntut tanggung jawab aku bersedia. Memang seharusnya seluruh biaya Daniel selama di dalam kandungan sampai lahir dan sebesar ini semua memang tanggung jawabku. Aku akan memberikan berapapun yang Prita minta karena Daniel adalah anakku."


"Em, sepertinya Nona Prita tidak akan melakukan hal itu."


"Apa yang harus aku lakukan agar dia mau menuntut tanggung jawabku? Aku ingin diakui sebagai ayah Daniel."


"Aku tidak senang. Aku ingin bertanggung jawab. Aku ingin akta kelahiran Daniel ada tulisan namaku sebagai ayahnya. Dan Aku ingin Daniel memakai nama keluarga Bagaskara di belakang namanya, bukan nama Hartadi."


"Untuk urusan itu mungkin Anda bisa mengajukan gugatan perdata ke Pengadilan Agama untuk mendapatkan pengesahan terhadap anak. Dan penggantian nama bisa di urus ke Kantor Catatan Sipil."


"Kalau begitu tolong uruskan itu untukku."


"Tapi kan Anda belum berdiakusi dengan Nona Prita."


"Untuk apa aku meminta pendapatnya, dia akan tetap mengelak. Dia tidak akan mengakui aku sebagai ayah kandung Daniel meskipun dia mengetahuinya. Dia wanita yang sangat keras kepala."


Alex melirik ke arah lain. Sebenarnya bosnya itu juga orang yang tak kalah keras kepalanya. Apa yang dia inginkan harus dilaksanakan. Rasanya Alex pusing menerima tugas bosnya kali ini. Dia benar-benar tidak paham tentang urusan anak. Dia sendiri saja masih belum pernah mengurusi anak bagaimana bisa paham.


"Anda sudah punya surat hasil tes DNA. Nona Prita tidak akan bisa mengelak lagi, Bos. Tinggal tunjukan saja padanya."

__ADS_1


"Hm, ini juga bisa aku gunakan sebagai alasan untuk bisa menemui Daniel kan? Ini kan bukti kalau aku benar-benar ayahnya."


Alex mengacungkan jempolnya.


"Alex, tolong kamu panggilkan tukang renovasi ke mansion. Aku ingin kamar atas yang dekat kamar utama direnovasi untuk kamar Daniel. Buat ruangannya sebagus mungkin dan tambahkan area bermain di dalamnya."


"Hah?"


"Kamar untuk Daniel.... "


"Bos ingin membawa Daniel ke Indonesia?"


"Ya kan aku ayahnya, sesekali boleh kan, mengajaknya menginap di mansion ayahnya? Kan ada surat ini." Bayu mengangkat kertas hasil tes DNA.


"Tapi kan dia ada di Singapura?"


"Memangnya kenapa? Aku bisa menjemputnya dengan private jet."


"Ah, ya ya ya.... "


Alex hanya cengar-cengir dengan ucapan enteng bosnya. Bayu memang selalu menggampangkan sesuatu tapi merepotkan dirinya. Padahal Daniel masih ada di Singapura, itu saja belum tentu Prita akan mengijinkan jika Bayu ingin membawa anaknya. Tapi Bayu sudah menyuruh Alex untuk mempersiapkan kamar untuk anaknya.


"Cepat lakukan sekarang! Kalau bisa kurang dari satu minggu sudah selesai, ya!"


"Bos.... " keluh Alex.


Mana ada renovasi secepat itu. Satu minggu hanya waktu untuk merancang desain ruangan. Alex saja belum menghubungi desainer interior ataupun arsitek untuk memenuhi keinginan bosnya.


"Uang tidak masalah, Alex. Berikan berapapun asal hasilnya bagus."


Alex semakin lemas. Bukan masalah uang, tapi dia lelah mengurusi banyak hal. Ia sudah kehilangan banyak waktu untuk bermain game. Sekarang ada pekerjaan tambahan lagi. Sudah dipastikan ia tak bisa menikmati kehidupan santainya seperti biasa.


"Aku permisi dulu, Bos." dengan langkah lunglai Alex pergi meninggalkan ruangan Bayu. Ia tak ingin berlama-lama di sana karena bisa jadi akan ada tugas tambahan yang akan diberikan Bayu.

__ADS_1


Bayu menghidupkan layar ponselnya. Dibukanya kembali galeri ponsel yang dipenuhi dengan potret Daniel dan dirinya.


"Anakku, sebentar lagi kita akan bertemu lagi." gumamnya. Bayu tersenyum-senyum memandangi foto Daniel.


__ADS_2