
Ayash menyambar jas yang tergeletak di lengan sofa. Buru-buru ia pergi meninggalkan ruang kerjanya setelah berpikir beberapa saat. Ia akan menemui Prita, menanyakan sendiri kebenaran ucapannya. Sekaligus mencari tahu apa hubungan mereka masih bisa diperbaiki.
Bayu merupakan saingan terberatnya untuk mendapatkan Prita. Lelaki yang lebih matang itu terlihat lebih kompeten memenuhi apa yang memang Prita butuhkan. Dia pandai membuat wanita merasa nyaman dan terlindungi.
Berbeda dengan dirinya. Mungkin kelebihannya ia memiliki cinta yang besar untuk Prita dan Prita juga memiliki perasaan yang sama padanya. Akan tetapi, saat mereka menghadapi kesulitan yang salah satunya berasal dari keluarganya sendiri, ia tak bisa membuat keputusan dengan tegas. Begitupula saat Daniel sakit, ia merasa sebagai lelaki yang paling tidak berguna. Bayu bisa mendonorkan darahnya untuk Daniel, Bayu juga yang bisa mendapatkan donor sumsum tulang belakang untuk Daniel. Semua itu hal-hal yang tidak bisa ia lakukan.
Saat hubungannya sendiri sedang bermasalah, ia sok menjadi pahlawan menyelamatkan nama baik keluarga dengan menikahi Andin. Keputusan insidental yang ia ambil tanpa memberi tahu Prita apalagi meminta pendapatnya. Kala itu dia sudah menyakiti hati Prita. Kali ini, gilirannya yang terluka. Rasanya pasti sama dengan yang Prita rasakan saat ia memberitahunya telah menikah dengan Andin, sahabatnya sendiri.
Ayash memasuki mobilnya, memasang sabuk pengaman dengan kencang lalu melajukannya dengan kencang. Pikirannya kosong, hanya tertuju pada satu hal: secepatnya menemui Prita. Dia tidak tahu apakah ia akan bisa menahan rasa sakit ketika Prita benar-benar menikah dengan Bayu. Dia tidak rela. Selamanya tidak rela.
Sesampainya di Hotel Catra, ia bergegas menuju resepsionis untuk menanyakan perihal tempat Prita menikah. Namun, baru sampai di depan pintu lobi, sudah ada dua petugas keamanan yang menghentikannya. Prita bilang memasukkannya ke dalam list tamu yang boleh masuk, kenapa dia malah ditahan?
"Maaf, Pak. Anda tidak boleh masuk ke dalam." kata salah seorang dari mereka.
"Kenapa? Saya salah satu tamu undangan. Kalau tidak percaya, tanyakan saja kepada resepsionis."
Ayash kesal sekali. Kedua orang itu semakin membuat waktunya terulur.
Kedua orang itu saling berpandangan, salah seorang di antara mereka mengeluarkan ponsel, seperti mengecek antara foto yang ada di layar ponsel dengan orang yang ada di depan mereka.
"Maaf, Pak. Anda tidak diperkenankan masuk."
"Kenapa? Katakan apa Alasannya?" Ayash semakin tidak sabar.
"Siapa nama Bapak?"
"Ayash Hartadi!" tegasnya.
__ADS_1
"Kami mendapat perintah untuk tidak mengijinkan Anda masuk, Pak."
Ayash memicingkan sebelah mata, "Siapa yang memerintahkan kalian?"
"Tuan Bayu."
Ayash mengepalkan tangannya. Otot-otot di seluruh tubuhnya serasa menegang dan amarahnya sudah sampai puncaknya. Dia sudah menduga Bayu akan melakukan itu padanya.
"Minggir!"
Ayash menyingkirkan paksa kedua penjaga itu. Dia menerobos masuk ke dalam area hotel. Kedua penjaga itu berusaha menghentikan Ayash, namun tubuh mereka justru dibanting keras ke lantai. Ayash masih meneruskan jalannya. Penjaga lain yang melihat hal itu, buru-buru menghampiri Ayash, beramai-ramai mencegahnya memasuki tempat acara. Mereka benar-benar harus mengamankan tempat tersebut jika tidak mau kedua bos mereka murka dan mereka sendiri yang akan kehilangan nyawa.
Perkelahian tidak bisa terhindarkan. Ayash melawan banyak sekali orang. Amarah yang menghinggapi jiwanya memberi tambahan kekuatan untuk bisa mengalahkan belasan orang yang menyerangnya beramai-ramai.
Namun, ia masih belum bisa bernafas lega. Ada lebih banyak penjaga lain yang datang menghalangi jalannya. Ayash merasa terpojok. Jumlah mereka terlalu banyak dan ia sudah cukup kelelahan.
Ayash melirikkan mata ke samping kanan kiri dan belakang. Ia sudah tidak bisa melawan lagi. Merek sudah mengepungnya. Akhirnya, dengan berat hati ia memilih pergi keluar hotel. Dilajukannya kembali mobil meninggalkan area hotel. Ia putar sebentar ke arah belakang. Tentu saja tidak semudah itu ia menyerah.
Ayash kembali memasuki area hotel melewati pintu belakang. Diam-diam ia memasuki ruang dapur dan tempat ganti karyawan. Di sana ia menemukan satu seragam pelayan. Buru-buru mengganti bajunya dengan seragam itu, lalu menyempurnakan penampilannya dengan memakai masker.
"Heh! Kamu!" seorang wanita paruh baya berpakaian koki datang dari arah dapur menghampiri Ayash. Dia mendorong troli makanan ke arahnya.
"Antarkan ini ke kamar 34, ya. Pesanan anak-anak dari pengantin wanita katanya. Saya masih sibuk di dapur, yang lain juga sedang sibuk semua."
Ayash hanya mengangguk. Berarti yang dimaksud anak-anaknya. Pasti Daniel, Dean, dan Livy. Ia mendorong troli itu menyurusi lorong hotel. Sesekali ia berpapasan dengan pelayan yang tampaknya sangat sibuk. Mungkin karena acara pernikahan itu.
Ayash memandang ke area taman, masih tampak beberapa orang. Ada Bayu di sana yang sedang berbincang-bincang mungkin dengan temannya. Sepertinya acara telah selesai, Prita tidak tampak ada di sana. Ia meneruskan jalannya menuju kamar yang dimaksud. Diketuknya pintu kamar nomor 34. Leta yang membuka pintu itu. Ia mengintip ke arah dalam, ada ketiga anak-anaknya di sana. Daniel dan Dean memakai setelan jas, sementara Livy mengenakan baju princess warna putih. Anak perempuannya itu sangat cantik dan imut.
__ADS_1
Ayash memindahkan makanan yang ada di atas troli ke meja satu per satu. Setelah selesai, ia membawa kembali troli itu keluar.
"Terima kasih ya, Mas." ucap Leta.
"Em, kamar pengantinnya dimana, ya? Saya mau mengangarkan laundry." Ayash menggunakan nada bicara yang dibuat-buat agar Leta tidak mengenali.
"Oh, ada di kamar nomor 30 lorong kiri." balas Leta.
Setelah keluar dari kamar anak-anaknya, ia meletakkan troli yang tadi ia bawa ke lorong yang ada di sekitar sana. Ia lanjut mencari kamar nomor 30. Tak berapa lama ia menemukannya. Ia melihat ke sekeliling, sepi. Pelan-pelan dibukanya pintu kamar yang ternyata tidak terkunci.
Kamar bercat krem dengan pemerangan lampu warna kuning yang memancarkan kehangatan. Ranjang putih masih tertata rapi dengan hiasan taburan kelopak mawar merah di atasnya. Serta dua handuk yang dibentuk angsa sedang berciuman di tengahnya. Benar, itu kamar pengantinnya. Tapi, sepi. Tak tampak ada orang di sana.
Sayup-sayup terdengar suara kucuran air di kamar mandi. Mungkin Prita masih ada di dalam. Ayash akan menunggunya sebentar untuk bicara. Ia mengunci pintu itu agar tidak ada orang lain yang masuk. Ia duduk di atas ranjang bertabur bunga. Meskipun sudah terlambat, ia tetap akan menjelaskan semua padanya. Ia akan mengatakan kalau dia masih mengharapkan Prita. Ia menikahi Andin hanya untuk menolongnya, bukan karena mencintainya. Dia tidak ingin Prita terus salah paham apalagi menggunakan pernikahannya ini sebagai ajang balas dendam karena merasa tersakiti.
Srek!
Pintu kamar mandi terbuka. Muncul Prita dari dalam sana dengan penampilan yang mencengang.
Baik Prita maupun Ayash sama-sama tertegun saking kagetnya. Suasana seketika menjadi canggung.
Prita keluar dari dalam kamar mandi mengenakan lingerie merah yang transparan hingga lekuk tubuhnya bisa terlihat dengan jelas. Sebagai lelaki normal, tentu saja hasrat Ayash bangkit melihat penampilan mantan istrinya begitu tampak menggoda di hadapannya.
Rasa marah dan cemburu seketika menguasainya. Ia tidak rela wanita itu akan dijamah lelaki lain. Dia masih mencintai wanita itu. Tingkat keegoisannya meninggi, tidak boleh ada yang memilikinya selain dirinya.
----‐-------------------------------------------------------------------------
Lanjut besok 😁
__ADS_1