ANTARA CEO DAN MAFIA 2

ANTARA CEO DAN MAFIA 2
Di Tempat Panahan


__ADS_3

Thank you Bunda cantik yang sudah vote.


Yang belum vote, ayo dong gerakan jarinya. Masa cuma baca doang. Support author lah 😘


------------------‐--------------------‐-----------------------------‐--------


"Jam berapa latihannya selesai?"


"Seperti biasa, mungkin jam lima sore."


"Oke, nanti aku akan datang lagi menjemputmu."


"Memangnya kamu mau kemana?" tanya Prita penasaran.


"Aku mau ke kantor, ada beberapa hal yang perlu aku cek."


"Hem, baiklah."


"Semangat latihan, jangan dekat-dekat dengan pelatih cabul itu."


Bayu menarik tengkuk Prita lalu melu*mat lembut bibirnya beberapa saat. Setelah dirasa cukup, baru ia mengijinkan istrinya turun dari mobil.


Sore ini Bayu mengantarkan Prita ke tempat latihan memanah. Katanya Andin dan Raeka juga sudah menunggunya di sana. Setidaknya dia tidak terlalu khawatir karena istrinya bersama teman-temannya.


Prita melambaikan tangan melepas kepergian mobil yang Bayu gunakan untuk mengantarnya. Setelah lama libur latihan memanah, akhirnya dia bisa aktif kembali di klab. Tentu saja semua itu juga berkat dorongan Andin dan Raeka yang memaksanya untuk ikut.


"Hai, Ta." sapa Andin yang menghampirinya di tempat parkir. Ada Raeka juga. Mereka memang berangkat bersama memakai mobil Raeka.


"Loh, wajahmu kenapa?" tanya Raeka yang menyadari sebelah wajah Prita terlihat bengkak.


Prita tertawa kecil, "Ah, ini. Aku kemarin latihan kick boxing dan kena pukul."


"Serius kamu ikut kick boxing?" Andin tampak antusias mendengar nama olahraga yang Prita sebutkan.


"Iya, Ndin. Aku ikut suamiku latihan kick boxing."


"Wah, gila! Akhirnya aku punya teman sefrekuensi." Andin mengungkapkan dengan kagum.


"Kamu juga suka kick boxing?"


"Nggak juga, sih. Aku kan dulu pernah belajar muay thai waktu SMP, waktu SMA ganti belajar karate bareng Ayash. Tapi hampir sama lah, kick boxing dan muay thai."


"Kangen juga praktik muay thai. Kapan-kapan bertarung, yuk!"


"Kayaknya aku belum siap kalau melawanmu. Aku kan baru sehari belajar. Yang ada nanti aku habis kamu pukul-pukul."


"Kamu kok mau ikut olah raga seperti itu, Ta. Dipaksa suami, ya?" selidik Raeka.


"Nggak, Ra. Ini kemauanku sendiri. Anakku juga suka tinju, jadi sekalian menemaninya berlatih."


"Ya sudahlah, aku jadi lega mendengarnya. Aku kira alasanmu saja untuk menutupi KDRT suamimu."


"Ish! Kamu kira aku begini dipukul suami? Hahaha.... "


"Ya siapa tahu, kan.... Suamimu itu kan kelihatannya menyeramkan."


"Nggak kok, dia baik."


"Eh, Ndin, Daniel ngapain aja di mansion? Kok dia betah banget nggak mau pulang ke rumah."


"Ah, dia tidak di mansion. Dia menginap di apartemen."

__ADS_1


"Kok begitu?"


"Biasalah Tante Maya ribut terus dengan Ayash."


"Masih begitu, ya?"


"Ya, dia marah-marah Ayash pulang membawa Daniel ke mansion. Jadi, Ayash membawa dia ke apartemen."


"Kata Irgi, Ayash dan Daniel mau ikut naik ke gunung."


"Apa!?" Prita kaget mendengar ucapan Raeka.


"Kamu belum tahu? Irgi bilang mau camping bareng Ayash. Dia juga mau ajak Daniel."


"Ayash belum bilang apa-apa, sih. Aku hanya khawatir kalau Daniel nanti kelelahan dan sakit lagi."


"Aku juga diajak, tapi aku tidak mau. Kamu sendiri, Ndin, Ayash tidak mengajakmu?"


"Tidak.... Dia tidak bilang apa-apa tentang camping." Andin mengangkat kedua bahunya.


"Para lelaki memang suka kegiatan yang menyusahkan diri sendiri. Untuk apa repot-repot naik gunung, coba? Sudah melelahkan, buang-buang waktu pula."


"Eh, kita jadi latihan nggak? Kok malah ngobrol terus di sini? Kalau mau lanjut ngobrol, bagaimana kalau kita pindah ke kafe saja?" usul Andin.


"Ye.... Jauh-jauh ke sini mau ke kafe. Ayolah ke dalam ganti pakaian." ajak Prita.


Setelah selesai dari ruang ganti, mereka berjalan memasuki area lapangan dengan membawa perlengkapan memanah. Tak jauh dari arah mereka ada Shuwan Mey yang sedang menatap mereka dengan raut tidak suka.


"Orang itu kenapa sih, kalau bertemu kita bawaannya kayak orang punya dendam." gerutu Andin. "Kalau mau berantem bilang aja, aku juga sudah siap menghajarnya."


"Sabar, Ndin. Dia memang sudah biasa begitu. Masih mending dia cuma memandangi kita. Biasanya dia suka playing victim loh di depan orang-orang. Pokoknya, sesalah apapun dia, dengan muka duanya, dia bisa membuat orang jadi kasihan. Jauh-jauh deh dari dia, mending jangan cari masalah." nasihat Raeka yang sudah pernah punya pengalaman buruk dengan Shuwan.


"Sudahlah, mending kita latihan."


"Oke. Yang paling buruk traktir makan."


"Siapa takut?"


"Kita main sepuluh anak panah, ya. Yang lebih banyak poinnya yang menang."


"Siap."


Ketiganya bersiap mengangkat busur dan anak panah masing-masing. Sepertinya jiwa kompetitif sudah mengusai, mereka sangat fokus pada target yang ada di depannya.


Satu per satu anak panah dilesakkan menuju target. Tak ada satupun obrolan di antara mereka. Masing-masing berkonsentrasi pada target yang ada di depan mata.


Setelah sepuluh anak panah habis diluncurkan ke target, mereka menghitung skor perolehan yang di dapat. Tentu saja hasil terbaik didapatkan oleh The Queen, Raeka. Kesepuluh anak panahnya mengenai papan target. Sementara hasil terburuk diperoleh oleh Prita. Dari sepuluh anak panah, hanya tiga yang bisa menancap pada target, itupun hanya mengenai tepi. Raeka dan Andin puas menertawakan muka pasrah Prita.


"Jangan lupa, traktirannya.... " ucap Andin dengan nada mengejek.


"Siap-siap ya, Ta. Aku kalau makan pilihnya yang mahal-mahal."


"Ya, ya.... terserah kalian mau makan di restoran manapun, aku ikut."


"Sekalian bayarin belanjaan juga nggak?"


Prita melotot ke arah Raeka. Wanita itu terkenal sebagai ratu belanja yang bisa menghabiskan waktu dari pagi sampai malam hanya untuk belanja di mall.


"Kamu mau merampokku, Ra? Aku hanya ibu rumah tangga biasa, loh, anakku tiga masih kecil-kecil."


"Masih mending ibu rumah tangga, Ta. Kalau Raeka istri pengangguran."

__ADS_1


"Hahaha.... " Prita dan Andin tertawa terbahak-bahak.


"Siapa bilang aku pengangguran? Pekerjaanku banyak kalau kalian ingin tahu. Aku juga bekerja di salah satu marketplace ternama di negeri ini."


Prita dan Andin saling berpandangan, mereka baru tahu kalau ternyata Raeka sudah bekerja. Tuan Putri itu mau bekerja?


"Masa sih? Perasaan setiap hari kamu mengajakku pergi terus seperti orang tidak punya kerjaan." tanya Andin tidak percaya.


"Beneran.... Aku kerja di MyShoppa."


"Perusahaan milik Irgi? Bagian apa?" Prita ikut penasaran.


"Bagian check out. Hahaha.... " Raeka tertawa kencang karena sudah berhasil mengerjai kedua temannya. Mereka kesal karena sudah serius mendengarkan ternyata Raeka hanya bercanda.


"Yah, bagian check out. Semua orang juga bisa!" gumam Andin.


"Udah serius-serius nyimak ternyata hoax, Ra. Pokoknya kalau orang sepertimu mau bekerja, sepertinya negeri ini bisa dilanda gempa bumi. Aku sudah tidak mau percaya lagi." Prita geleng-geleng kepala.


"Prita, bisa kita bicara berdua?"


Canda tawa ketiga wanita itu terhenti karena Shuwan datang. Tiba-tiba saja Shuwan mengajak Prita untuk bicara berdua.


"Mau bilang apa? Kenapa harus berdua? Bicara saja sekarang di depan kami." kata Andin dengan nada sedikit ketus.


"Ini urusanku dengan Prita, aku tidak mau melibatkan kalian."


"Perasaan kalian baru kenal ya, Shu. Ada urusan apa dengan Prita?"


"Maaf, Ra. Aku tidak bisa mengatakannya padamu. Aku hanya ingin mengatakannya pada Prita." Shuwan tetap kukuh pada keinginannya.


"Sudahlah, aku bicara dulu dengan Shuwan. Kalian tunggu di sini, ya."


Prita mengikuti Shuwan mencari tempat yang sepi untuk bicara berdua. Mereka memilih tribun penonton sebagai tempat yang tepat untuk berbicara.


"Ada apa, Nona Shu?"


"Bisakah kamu melepaskan Bayu untukku?"


Prita mengeryitkan dahinya. Shuwan mengatakan hal itu dengan sorot mata penuh harap dan nada bicara yang putus asa. Melepaskan Bayu? Maksudnya apa?


"Kamu tahu kan, sebelum Bayu bersamamu, dia sudah berpacaran denganku lebih dulu."


"Ya, aku tahu."


Tentu saja Prita tahu. Bahkan Bayu sudah menjelaskan hubungannya dengan Shuwan hanya sebatas urusan bisnis. Dia tidak pernah mencintai wanita itu, dia hanya membantunya saat diterpa gosip perselingkuhan.


"Sampai sekarang juga kami terkadang masih bertemu walaupun tidak sesering dulu."


Bertemu? Bayu masih menemui wanita itu? Dia selingkuh di belakangnya?


"Itu gara-gara cintanya terbagi untukmu juga."


Bayu poligami? Atau punya satu pacar dan satu istri?


"Please, lepaskan dia. Aku mau dia fokus padaku karena sekarang aku sedang hamil."


Prita terkejut mendengar perkataan Shuwan. Dia sedang hamil? Apa dia sedang meminta Bayu untuk bertanggung jawab?


"Maaf ya, Nona Shuwan. Dulu, kalau tidak salah dengar, kamu sendiri yang mengatakan kalau Bayu itu impoten. Lalu, kenapa lelaki yang impoten bisa menghamili seorang wanita?"


"Apa aku pernah berkata seperti itu? Bayu seorang lelaki sehat yang sangat kuat saat di ranjang. Dan hasil dari perbuatannya, sekarang aku sedang hamil tiga bulan."

__ADS_1


"Bukankah kita sama-sama wanita? Seharusnya kamu mau mengalah padaku, kamu seorang janda, dan aku masih berstatus wanita yang belum menikah. Bagaimana kalau aku nanti melahirkan anak tanpa ayah? Apa kata orang-orang?"


Prita merasakan ada yang aneh dengan wanita itu. Sepertinya dia sedang akting. Ucapannya tidaj ada yang konsisten. Tapi, meskipun ucapan Shuwan hanya kebohongan, hal itu tetqp membuatnya kesal. Dia jadi tidak percaya sepenuhnya pada suaminya sendiri.


__ADS_2