ANTARA CEO DAN MAFIA 2

ANTARA CEO DAN MAFIA 2
Extra Part : Meminta Restu


__ADS_3

Plak!


Pak Suryo, ayah Andin, memberikan tamparan keras kepada Arga yang sudah berani menginjakkan kaki di rumahnya lagi. Ia sampai berlutut meminta maaf sekaligus meminta ijinnya untuk menikahi Andin. Padahal, sebelumnya dia juga sudah pernah ditolak. Pak Suryo tidak sudi menerima Arga menjadi menantunya.


"Yah, beri Kak Arga kesempatan, ya.... " Andin berusaha merayu ayahnya. Dia tidak tega melihat lelaki itu menjadi bulan-bulanan ayahnya.


"Andin, kamu masih muda.... Masih ada banyak lelaki di luaran sana yang mau denganmu. Kenapa kamu lagi-lagi terlibat dengan lelaki brengsek seperti dia."


"Kamu sudah lupa dengan apa yang dia perbuat padamu dulu?"


Andin menghela nafas panjang, "Aku tidak pernah lupa, Ayah. Aku juga masih kesal dan kecewa jika mengingatnya. Ayah jadi ikut malu karena aku."


"Itu bukan karenamu, Andin. Tapi karena dia."


Pak Suryo menunjuk ke arah Arga yang masih berlutut di sana. Wajahnya sudah babak belur karena sebelumnya dihajar oleh Pak Suryo. Tapi, Arga sangat kukuh untuk mendapatkan restu dari orangtua Andin.


"Ayah, tolong beri Kak Arga kesempatan, ya." rayu Andin.


Sebenarnya Andin juga masih ragu dengan keputusannya. Ia masih sangat sakit hati dengan perbuatan Arga di masa lalu. Namun, ada rasa yang mengiringinya selain rasa sakit hati, yaitu rasa cintanya yang tidak bisa terlupakan kepada Arga. Karena itulah ia memberanikan diri untuk menghadapi rasa sakitnya itu. Jikapun nanti Arga membuatnya kecewa lagi, maka itu bukan sesuatu yang baru untuknya.


Pak Suryo menggelengkan kepala, "Ayah tidak mengerti dengan jalan pikiranmu, Andin. Lelaki yang pernah memperlakukanmu dengan buruk, bisa saja mengulangi perbuatannya di masa depan. Ayah tidak ingin kamu terluka lagi."


"Kenapa lagi-lagi harus Keluarga Hartadi?"


"Saya berjanji tidak akan menyakiti Andin, Om."


"Tidak ada yang menyuruhmu bicara!" Pak Suryo membentak Arga yang berani bersuara.


"Ayah, Andin sudah dewasa. Merasakan kekecewaan juga sudah hal yang biasa. Tolong, beri kesempatan kepada Andin untuk menentukan masa depan Andin sendiri. Andin janji akan berusaha bahagia dalam menjalani hidup ini."


Pak Suryo membuang nafasnya dengan kasar, "Dia sudah memiliki seorang anak, Andin. Apa kamu siap memiliki anak tiri?"


Andin kaget, ternyata ayahnya sudah tahu kalau Arga sudah memiliki anak. Entah siapa yang mengatakan hal itu kepada ayahnya, sedangkan dirinya tidak pernah bercerita.


"Iya, Ayah. Andin sudah tahu. Dan Andin juga cukup dengan dengan anak itu. Dia anak yang baik."


"Baiklah, kalau itu maumu. Tidak ada yang bisa ayah katakan lagi selain menyetujui kemauanmu." Pak Suryo akhirnya mengalah.


"Arga.... Aku setujui niatmu untuk menikahi putriku. Aku harap ini menjadi pernikahan terakhir untuk putriku. Kalau sampai aku dengar kamu menyakiti atau menyia-nyiakannya, aku tidak akan mengampunimu."


Dalam kondisi terluka, Arga bisa tersenyum. Akhirnya kegigihannya memperjuangkan Andin bisa membuahkan hasil. Cintanya direstui oleh Pak Suryo, calon mertuanya.


"Terima kasih, Om.... Saya pasti akan menjaga Andin dengan baik." matanya berkaca-kaca ketika mengatakan hal itu. Ia merasa sangat gembira sekaligus terharu hingga ingin menitihkan air mata.


"Ada satu syarat yang harus kalian lakukan."


"Kalau kalian mau menikah, lakukan saja pemberkatan secara sederhana dan laporkan ke KUA. Tidak usah menggelar pesta yang mewah. Asalkan pernikahan kalian bisa langgeng, itu sudah cukup."

__ADS_1


Arga dan Andin sepertinya paham jika Pak Suryo masih trauma dengan kejadian yang dulu. Meskipun Arga sudah menyiapkan pesta yang begitu mewah, ternyata mereka bisa gagal menikah. Mungkin ayah Andin tidak mau hal itu terulang kembali.


"Menikahlah secepatnya, tidak perlu mempersiapkan hal yang macam-macam."


"Iya, Om. Tapi saya nanti minta ijin untuk memberitakan pernikahan kami di media. Apa hal itu diijinkan?"


"Kenapa harus begitu? Apa tidak bisa yang tahu keluarga dan kerabat saja."


"Saya.... Orang yang cukup di kenal di kota ini. Saya ingin orang-orang terutama rekan bisnis tahu jika saya sudah memiliki istri. Agar tidak ada kesalahpahaman kedepannya."


"Terserah kamu saja. Asalkan Andin juga setuju, aku juga akan setuju."


"Terima kasih, Om."


"Kalau sudah tidak ada hal lain yang ingin dibicarakan, segeralah pergi. Kalian sudah menyita waktu istirahatku di akhir pekan."


"Ayah.... " Andin berjalan ke arah ayahnya lalu memberikan pelukan penuh cinta, "Terima kasih." ucapnya.


"Ayah hanya berharap kamu bisa bahagia."


Pak Suryo mengelus belakang kepala Andin. Lalu, ia melepaskan pelukannya dan berjalan pergi menuju halaman belakang. Biasanya, akhir pekan dihabiskan oleh Pak Suryo untuk mengurusi ikan dan burung peliharaannya.


"Ayo kita pulang, Kak." ajak Andin.


Arga menggenggam erat tangan Andin, "Terima kasih sudah memberiku kesempatan, Sayang."


"Kenapa melotot begitu? Kamu marah?"


"Jangan sok akrab, ya."


"Tapi kita kan sudah mau menikah."


Arga heran, Andin terlihat sangat membelanya di hadapan ayahnya, namun ketika mereka kembali berdua, sifat galaknya kembali keluar.


"Baru mau menikah kan? Belum tentu juga jadi." sindir Andin. Ia melepaskan genggaman tangan Arga lalu berjalan mendahuluinya.


Arga menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Mau menikah saja sikap Andin masih seperti itu padanya. Entah harus bagaimana lagi caranya untuk benar-benar membuat Andin bersikap seperti dulu yang penuh dengan cinta kepadanya.


Ia segera menyusul Andin ke luar. Wanita itu sudah lebih dulu masuk ke dalam mobilnya.


"Sayang.... Setelah ini kita mau kemana?"


"Sumpah ya, berhenti memanggilku begitu. Aku geli mendengarnya."


"Dulu kamu tidak begini.... "


"Itukan dulu. Bedalah dengan sekarang." ucapan Andin terdengar ketus seperti orang yang mengajak bermusuhan.

__ADS_1


Arga menggigit jarinya, "Aku jadi bingung untuk menghadapimu, Andin.... Katanya kamu mau menikah denganku tapi sikapmu masih memusuhiku begini."


"Cepat jalankan mobilnya! Katanya mau makan siang bareng Arsya."


"Kita ke tempat gym dulu, yuk!"


"Hah? Untuk apa?" ajakan Arga membuatnya tercengang. Kenapa dia tiba-tiba membahas tentang masalah gym? Apa hubungannya?


"Kamu masih bisa Muay Thai, kan?"


"Masih.... Memangnya kenapa?"


"Hajar aku sampai puas ya, seperti yang ayahmu lakukan tadi."


"Aku lebih baik kamu pukuli daripada kamu cueki seperti ini."


"Aku sadar pernah berbuat salah dan aku memang layak untuk kamu hajar sampai puas."


Andin langsung terdiam mendengar perkataan Arga.


"Ndin.... Andin.... "


"Sudah, sudah.... Lupakan saja!"


"Apanya yang dilupakan?"


"Aku sudah tidak marah padamu." ucap Andin seraya membuang pandangan ke sisi jendela.


"Tidak marah tapi kok buang muka?"


"Ya maunya apa!?" Andin kembali menatap ke arah Arga.


"Pukul, Andin. Pukul aku sekarang."


Arga memajukan wajahnya agar bisa dijangkau oleh Andin. Wajah yang sudah banyak luka lebam itu masih saja minta dihajar lagi?


"Itu.... Sudut bibirmu sampai berdarah, ya?"


"Iya, pukul saja supaya tambah robek. Nanti juga bisa diobati. Ini tidak sebanding dengan luka batinmu yang bahkan sampai sekarang belum juga sembuh."


Perkataan Arga sangat menohok perasaan Andin. "Aku bilang jangan bahas itu lagi."


"Lakukanlah yang bisa meringankan kemarahanmu padaku. Termasuk memukulku kalau kamu mau." Arga menatap lekat mata Andin meyakinkannya bahwa ia bersungguh-sungguh.


Andin hanya diam terpaku.


"I'm sorry, Andin. Aku benar-benar minta maaf."

__ADS_1


Tiba-tiba Andin memberikan respon yang sangat tidak Arga duga. Wanita itu memeluknya. Padahal, ia paling benci kalau Arga menyentuhnya. Andin tak berkata apapun, ia hanya memeluk Arga untuk beberapa saat.


__ADS_2