
"Kaget?" Bayu masih meledek perkara televisi tadi. Ia suka melihat ekspresi kesal istrinya.
"Kan sudah biasa praktik juga untuk apa malu." lanjutnya sembari terkekeh.
Prita bangkit dari pangkuan suaminya. Ia memilih masuk ke dalam selimut tempat tidur futon miliknya. Menyelimuti badannya hingga rapat dari ujung kaki sampai ujung kepala.
"Sayang.... " Bayu berusaha menggoyangkan tubuh istrinya.
"Aku mau tidur, Mas.... "
"Yah, kok tidur.... " Bayu tampak kecewa mendengar jawaban itu. "Ini kan waktu yang tepat untuk berduaan.... "
"Besok kan bisa.... Ngantuk!"
"Ngantuk apa ngambek?"
"Ngantuk!"
Bayu menggaruk kepalanya. Ia tak ingin kehilangan momen malam ini. Sejak tiba di Jepang, keduanya belum sempat bermesraan. Padahal niatnya ke Jepang salah satunya untuk menikmati bulan madu bersama istrinya.
"Ah!"
Prita memekik ketika selimut yang menutupi tubuhnya ditarik paksa oleh Bayu.
"Mas.... " keluhnya.
"Kamu belum boleh tidur sebelum menemaniku malam ini." Bayu sudah lebih dulu mengungkung Prita di bawahnya agar ia tidak bisa kabur.
"Tapi ngantuk."
"Nanti kamu tidak akan mengantuk."
Dengan cekatan Bayu menarik tali pengikat kimono istrinya. Lalu, bagian obi yang mengelilingi pinggang juga ikut dilepaskan hingga kimono yang Prita kenakan terbuka.
"Mas.... Nekad ya.... " Prita berusaha menahan agar belahan bajunya tidak terbuka.
Bayu tertawa kecil, "Anggap saja kita akan berbulan madu di sini."
"Itu sudah sangat telat."
"Tidak ada kata telat, Sayang. Setiap hari bersamamu selalu terasa seperti pengantin baru."
Kedua tangan Prita disingkirkan ke atas kepala karena menurut Bayu mengganggunya. Ia sibakkan kimono yang masih menutupi tubuh hingga pemandangan yang sangat ingin ia lihat terpampang di depannya.
"Mas.... Malu.... " Prita berusaha berontak, namun badannya tidak bisa digerakkan ia risih dipandangi seperti itu meskipun oleh suaminya sendiri.
"Kenapa harus malu? Kita kan sudah biasa melakukan ini."
"Tapi jangan dilihat terus.... "
"Maunya langsung dipegang, ya? Sudah tidak sabar?" godanya sembari memegang payu*dara Prita sebelah kiri dengan tangan kanannya. Sementara tangan kirinya masih menahan tangan Prita supaya tidak berontak.
"Mas.... "
"Nakal ya kamu, berarti sejak tadi tidak pakai bra?"
Di balik kimono itu Prita hanya memakai dalaman bertali yang menutupi bagian bawahnya. Sementara bagian atas tidak mengenakan apa-apa.
"Tadi kan menyusui Dylan, susah kalau pakai bra."
"Kayaknya sih cuma alasan. Ini namanya tetap nakal, ya.... Mau menggoda suami di kamar. Kalau ingin bilang dong, Sayang."
Tangannya beralih ke bawah membuka tali dalaman lalu membuangnya sembarang. Bayu menyunggingkan senyum, seperti baru pertama kali melihat tubuh istrinya hingga ia tampak begitu senang.
__ADS_1
Prita sudah pasrah saja mengikuti kemauan suaminya. Ditolakpun pasti Bayu akan tetap memaksa dan sama saja ia tak akan bisa tidur dengan tenang.
Bayu mendudukan Prita, melepaskan bagian lengan kimono sehingga pakaian itu lolos sempurna menampilkan tubuh polos istrinya. Gilirannya membuka kimononya sendiri dengan cepat hingga menampilkan tubuh atletisnya. Dengan bagian bawah yang sudah ikut menegang, membuat Prita tidak berani menatapnya.
"Ah!"
Secara tiba-tiba Bayu mengangkat tubuh polos Prita dalam gendongannya. Reflek Prita mengalungkan tangannya ke leher Bayu. Dalam kondisi tanpa busana seperti itu, ia diajak berjalan ke arah belakang.
"Mau kemana, Mas?" tanya Prita.
Suaminya itu punya kecenderungan yang aneh-aneh yang membuatnya bisa spot jantung.
"Kita mandi dulu biar segar."
"Tadi sore aku sudah mandi." 5
"Tidak apa-apa, kita akan mandi lagi supaya lebih bersih dan segar."
Jantung Prita berdegup kencang. Ia kira Bayu akan membawanya ke kamar mandi, mengajaknya bercinta di dalam seperti biasa. Tapi, dugaannya salah. Jantungnya berdegup semakin kencang ketika Bayu semakin mendekati arah pintu.
Suaminya pasti punya ide macam-macam.... Apa lelaki itu sudah gila mau membawanya keluar dalam kondisi seperti itu.
"Mas, jangan gila, ya!"
Bayu hanya tersenyum-senyum melihat kekhawatiran Prita. Ia terus melangkah pintu.
Srek!
Pintu bagian belakang kamar terbuka. Pemandangan hutan yang sunyi langsung menyambut mereka. Hanya cahaya temaram dari beberapa lampu bohlam yang menerangi area belakang.Ternyata, bagian belakang terdapat private onsen, tempat berendam air panas. Prita kira akan seterbuka yang ia bayangkan. Meskipun begitu, karena menyatu dengan alam, tetap saja membuat perasaan was-was jika sewaktu-waktu ada orang datang dari arah hutan.
"Mas.... Kalau ada orang bagaimana?"
"Siapa yang malam-malam kurang kerjaan main di hutan, hm?"
Bayu membungkam kekhawatiran istrinya dengan ciumannya. Ia pagut bibir manis itu dengan lembut, membuat wanita itu terlena dan tak memikirkan apapun yang mengkhawatirkannya. Keduanya sama-sama terhanyut menikmati kemesraan malam itu.
"Hnggh.... Ahhh.... Ughh.... "
Prita terus mendesah selama Bayu menyibukkan diri pada area dadanya. Selain memiliki seorang bayi, ia juga memiliki bayi besar yang tak akan mau jika disuruh berhenti menyusu. Seakan bagian itu tak akan pernah luput menjadi sasaran setiap kali mereka bercinta.
"Aku masukkan sekarang ya, Sayang." bisiknya mesra.
Prita mengangguk. Ia membalikkan badannya sembari bersandar pada sebuah batu. Sementara suaminya berada di belakangnya bersiap melakukan penyatuan.
Sunyinya malam dengan suara-suara dari alam seperti gemericik air, dedaunan yang saling bergesekan, serta suara binatang malam menyatu dengan desa*han demi desa*han yang keluar dari mulut kedua insan yang sedang dimabuk cinta. Dunia serasa milik mereka berdua sementara yang lain hanya mengontrak.
Keduanya berpelukan sembari menikmati kehangatan onsen setelah mendapatkan pelepasan. Malam ini akan menjadi malam yang tak terlupakan untuk mereka. Malam menyenangkan, dimana mereka merealisasikan bulan madu yang tertunda.
"Sayang, payu*daramu sepertinya bengkak sebelah." Bayu masih saja curi-curi pegang setelah dipuaskan. Tangannya seakan sangat jeli dengan tubuh istrinya.
"Dylan lebih suka menyusu yang kiri, Mas. Makanya yang kanan sering penuh dan bengkak. Biar nanti aku pumping saja."
"Tidak usah, biar nanti aku yang hisap supaya besarnya sama."
"Mas.... punyamu bangun lagi itu loh.... Bahasnya begitu terus." ucap Prita ketika merasakan ada yang mengganjal di bagian belakang tubuhnya.
"Tugasmu kan, untuk membuatnya tidur? Nanti dikamar diulangi lagi, ya?" Bayu semakin mengeratkan pelukannya, bermanja pada istrinya.
"Ih.... Mas.... "
"Hahaha.... Tidak apa-apa, nanti kalau kamilu lelah, kamu tidur saja, biar suamimu yang aktif di malam hari. Oke?"
"Kamu manusia apa kelelawar, kok aktifnya malam-malam."
__ADS_1
"Tidak tahu, pokoknya kalau ada kamu aku maunya aktif terus." Bayu mengecup gemas pipi istrinya. "Sayang, mau aku ceritakan sesuatu tentang tradisi orang Jepang di masa lalu yang berkaitan dengan hutan? Kebetulan kita juga sedang ada di dekat hutan, kan?"
"Apa? Tapi jangan cerita seram.... Aku tidak suka."
"Tidak.... Ini cerita tentang tradisi Ubasute."
"Ubasute? Apa itu?" Prita sepertinya tertarik dengan apa yang ingin Bayu ceritakan padanya.
"Jaman dulu, katanya di Jepang ada sebuah tradisi Ubasute, yaitu tradisi membuang orang tau atau anggota keluarga yang renta dan tidak berdaya ke dalam hutan lalu dibiarkan disana hingga mati."
"Ah, ada ya tradisi seperti itu. Menyeramkan."
"Biasanya dilakukan saat musim paceklik, jadi mereka harus membuang anggota keluarga yang dianggap sudsh tidak berguna untuk mengurangi beban hidup. Tempat yang paling terkenal dengan tradisi itu adalah di hutan lebat kaki Gunung Fuji yang dikenal dengan sebutan Aokigahara."
"Kenapa ada anak yang tega kepada orangtuanya yang masih hidup seperti itu? Aku saja seandainya masih bisa, ingin kembali melihat ayah dan ibuku. Meskipun sudah tua, aku akan merawat mereka dengan penuh kasih sayang."
"Tidak semua orang baik sepertimu, Sayang. Orang yang jahat kepada keluarganya sendiri juga ada."
"Lalu, apa tradisi itu masih ada sampai sekarang?"
"Aku tidak tahu. Menurut berita masih ada meskipun tidak seperti dulu. Mungkin juga karena tingkat perekonomian yang semakin meningkat, jadi praktik seperti itu lambat laun ditinggalkan."
"Tapi ada juga kisah tentang anak yang sangat berbakti pada ibunya."
"Seperti yang penduduk desa biasa lakukan untuk meninggalkan orang tua di dalam hutan, ada seorang pemuda yang berniat membuang ibunya ke hutan. Saat tengah malam tiba, pemuda itu menggendong ibunya ke dalam hutan. Katanya, ia ingin mengajak ibunya jalan-jalan, sehingga ibunya mau mengikuti kemauan anaknya."
"Sepanjang perjalanan, wanita tua itu sibuk meraih ranting-ranting lalu dijatuhkan sepanjang perjalanan mereka."
"Setelah sampai di tengah hutan, pemuda itu berniat meninggalkan ibunya di sana. Namun sayang, dia sendiri lupa arah jalan pulang karena terlalu masuk ke dalam hutan."
"Dalam kebingungannya itu, ibunya mengatakan bahwa dia sudah tau apa niat anaknya yang sebenarnya. Tapi wanita tua itu tidak marah meskipun niat anaknya ingin membuangnya karena ia sangat menyayangi anaknya."
"Bahkan, ia mengatakan kepada anaknya untuk mengikuti jejak ranting yang ia jatuhkan sepanjang perjalanan agar dia tidak tersesat saat pulang."
"Pemuda itu menangis menyadari kesalahannya dan tahu betapa tulusnya sang ibu menyayanginya."
"Akhirnya ia mengurungkan niatnya untuk membuang ibunya. Ia menggendong kembali ibunya untuk mengajaknya pulang, lalu merawat ibunya dengan baik hingga ibunya meninggal.,"
Prita terharu mendengarkan cerita yang dikatakan Bayu. "Meskipun anak itu punya niat jahat, tapi pada akhirnya ia mengurungkan niatnya."
"Bagaimana kalau suatu saat anak-anak kita juga menyia-nyiakan kita?"
"Anak-anak tidak mungkin seperti itu.... " protes Prita. Dia tidak ingin anak-anaknya disamakan dengan cerita yang baru saja ia dengar.
"Ini kan hanya perumpamaan.... "
"Menurutku, jika orang tua memperlakukan mereka dengan penuh kasih sayang, maka anak juga akan memperlakukan hal yang sama kepada orang tua."
"Sikap anak tergantung didikan orang tuanya."
"Ah, iya. Aku sampai lupa sedang berbicara dengan mantan guru TK."
"Kamu masih ingat?"
"Tentu saja masih ingat.... Wanita pertama yang bisa membuatku jatuh cinta adalah seorang guru TK. Tapi sayang.... Galak!"
Prita membulatkan mulutnya, "Kapan aku galak?"
"Setiap kali kita bertemu kamu selalu galak, masa lupa?"
"Tidak mungkin aku galak kalau kelakuanmu normal."
"Apa dulu aku separah itu?"
__ADS_1
"Parah!"
Prita dan Bayu masih melanjutkan debatnya membahas banyak hal sampai akhirnya kulit mereka mulai keriput karena terlalu lama berendam. Akhirnya, mereka melanjutkan perdebatan di dalam kamar, di bawah futon yang sama, dalam satu selimut tebal yang nyaman.