
"Ma.... Ayo dong liburan lagi ke luar negeri. Aku mau pergi ke Jepang.... " rajuk Dylan.
Si anak bungsu itu sedang bergelayut manja memeluk mamanya di ruang tengah. Padahal Prota sedang fokus menonton TV bagian paling seru dari sinetron azab yang sedang ditontonnya. Dari tadi anak itu tidak bisa diam, mengganggu konsentrasinya.
"Kita baru bulan lalu jalan-jalan ke New Zealand waktu liburan kenaikan kelas. Kamu kan baru masuk sekolah, sebentar lagi ujian kelulusan juga, kenapa yang dipikirkan liburan terus.... "
"Halah, Ma.... Ini penting.... "
"Mana ada yang lebih penting daripada sekolah."
"Ada, Ma.... " Dylan tetap ngotot mempertahankan pendapatnya.
"Apa coba?"
"Ada Comiket di bulan Agustus ini...."
"Apa itu, Sayang?"
"Itu loh, Ma.... Event untuk penggemar manga dan anime jepang. Banyak cosplayer yang datang juga dari luar negeri. Dylan juga mau lihat."
"Untuk apa jauh-jauh ke sana. Kalau mau main cosplay di rumah juga bisa. Ajak juga kakak-kakakmu biar ramai. Bukannya daddy juga sudah pernah membelikan jubah Attact on Titan untukmu?"
"Bahkan jubah dan tongkat sihir Harry Potter milik Kak Daniel juga kamu minta."
"Dipakai dong, jangan hanya dikoleksi."
"Ah, Mama....! Dylan kan mau lihat cosplay, bukan main cosplay sendiri."
"Pokoknya harus ke Jepang, titik!"
"Tidak bisa, Sayang. Daddy sibuk kerja, kakak-kakakmu juga pasti sibuk di sekolah."
"Ya sudah. Aku dan Mama saja yang pergi ke Jepang."
"Daddy nanti nangis kalau mama tinggal."
"Satu minggu saja, Ma.... "
"Coba bilang sendiri dengan Daddy. Mama yakin dia tidak akan menyetujui."
"Mama.... Ya Mama bujuk dong.... Ah! Mama tidak sayang Dylan nih!"
Prita senyum-senyum melihat Dylan berguling-guling di depannya sambil terus merajuk. Ia jadi ingat dengan Daniel yang pernah melakukan hal yang sama ketika ia bilang daddy-nya tidak bisa datang ke acara lomba di sekolah.
Mungkin karena Dylan anak terakhir, meskipun sudah besar, dia masih sangat manja kepada mamanya. Tubuhnya saja yang bertambah besar, tapi sifat ngeyel dan suka ngambek belum juga hilang.
Dylan juga pernah nangis-nangis minta dibelikan baju Iron Man yang sangat mirip dengan aslinya. Bayu sampai harus memesannya khusus dari luar negeri menyesuaikan ukuran Dylan. Harganya juga cukup fantastis, 100juta hanya untuk membeli kostum yang bahkan mungkin sekarang sudah Dylan lupakan.
"Heh! Anak kecil! Ngapain guling-guling di situ? Lagi mengemis perhatian Mama, ya?"
Dari arah ruang tamu, Livy datang langsung berkata dengan nada keras ketika melihat adiknya bertingkah seperti itu. Bahkan Prita juga sampai kaget mendengar suara sopran princess-nya.
"Sayang, katanya mau pergi jalan-jalan bareng teman. Kok pulang cepat?"
Livy mencium mamanya lalu memeluknya. Sementara Dylan sudah berhenti berguling. Ia duduk di lantai karena tempatnya direbut Livy. Livy menjulurkan lidah mengejeknya.
"Aku tidak jadi pergi bareng teman, Ma. Katanya Kak Daniel mau ajak aku nonton film. Sama Kak Dean juga."
"Jadi kamu pulang dengan kakakmu?"
"Iya."
"Kak, aku juga mau ikut nonton." ucap Dylan.
"Anak kecil tidak boleh ikut!" sekali lagi Livy mengejek adiknya.
"Mama.... Tuh lihat Kak Livy begitu, jahat terus sama Dylan."
"Iihh.... Tukang ngadu.... "
"Jangan begitu dong, Sayang.... Dylan kan adikmu."
"Kita juga mau ke taman hiburan, Ma. Mau masuk rumah hantu. Repot kalau bawa anak kecil. Nanti dia nangis."
__ADS_1
"Ye.... Aku tidak takut hantu. Kak Livy sendiri itu yang penakut."
"Ma! Dylan tadi kenapa? Minta apa dia?" tanya Livy penasaran. Dia memang sudah paham kalau Dylan guling-guling pasti ada yang dia inginkan.
"Katanya mau minta liburan ke Jepang, mau lihat pesta cosplayer atau apa tadi."
"Halah! Paling di sana juga bakal nangis-nangis lagi minta action figure Levi Acherman yang besar."
"Anak kecil bukannya belajar malah pikirannya anime terus!"
"Kak Livy juga sukannya ke mall terus, nonton film terus.... Memangnya Kak Livy juga suka belajar?"
"Hu.... "
"Hu.... "
"Apasih ini, tikus sama kucing bertengkar terus.... " guman Dean.
Dean dan Daniel masuk bertepatan saat Dylan dan Livy sedang saling ejek.
"Halo, Sayang.... Kok kalian tidak langsung masuk?"
Dean dan Daniel mencium pipi mamanya bersamaan.
"Bantu Pak Ahmad di luar, Ma. Katanya Mobilnya agak bermasalah." jawab Daniel.
"Akinya soak, Ma."
"Kalian sudah makan bekal yang Mama buat, kan?"
"Sudah dong, Ma.... Masakan Mama kan yang terbaik." puji Dean.
"Kok tumben Hari Selasa kalian sudah kemari? Mau menginap di sini?"
"Ituloh, Ma.... Livut maksa minta nonton ke bioskop."
Livy memanyunkan mulutnya ke arah Dean. "Tidak, Ma. Kak Daniel sendiri yang mau mengajakku nonton kok.... Iya kan, Kak Daniel?"
"Wek!" Livy sempat meledek ke arah Dean sebelum berlari ke kamarnya.
"Mentang-mentang anak cewek satu-satunya di rumah tuh, Ma.... Dia jadi berani sama kakaknya sendiri."
"Kamu juga berhenti ganggu adikmu dong, Dean.... Dari dulu sukanya membuat Livy menangis."
"Aduh, Ma.... Aku ini kakak yang paling menyayangi Livy kok.... " giliran Dean yang meminta dipeluk mamanya menggantikan Livy.
"Dylan kenapa duduk di lantai?" tanya Daniel.
"Biasa, adikmu tadi ngambek katanya minta ke Jepang."
"Mama.... Jangan bilang-bilang dong!"
Dylan itu paling gengsi kalau kelakuannya diketahui kakak laki-lakinya. Kalau dengan Livy, dia sudah biasa bertengkar. Pokoknya dia tidak ingin harga dirinya jatuh di depan mereka. Dia juga merasa sudah besar seperti kakak-kakaknya.
"Dylan mau ikut kakak nonton ke bioskop?" sebagai kakak yang baik, Daniel juga mengajak adik laki-lakinya.
"Katanya Dylan tidak boleh ikut.... "
"Siapa bilang?" tanya Dean
"Kak Livy?"
"Yah, Livy kamu dengerin. Cepat sana ke kamar ganti baju!"
"Memangnya Dylan diajak?" tanya Dylan antusias dengan mata berbinar-binar.
"Ya diajak dong. Makanya buruan ganti baju yang bagus, dandan yang ganteng!" perintah Dean.
"Mama, Dylan boleh ikut, ya.... "
Prita mengangguk sebagai tanda setuju.
"Hore.... " Dylan berteriak kegirangan lalu berlari menuju kamarnya.
__ADS_1
"Kalian jaga adik-adik kalian dengan baik, ya."
"Tenang, Ma.... Aku dan Kak Daniel ini bisa diandalkan kalau hanya untuk menjaga mereka berdua. Mama tenang saja, semuanya pasti beres."
"Jadi kalau Mama mau pergi bulan madu lagi berdua dengan Daddy, tidak perlu khawatir dengan Dylan dan Livy. Ada Dean dan Kak Daniel yang siap siaga 24 jam menjaga mereka."
"Hahaha.... Dean, Dean.... Mama dan daddy juga sudah tua. Untuk apa lagi bulan madu segala."
"Siapa coba yang berani bilang Mama sudah tua? Kalau kita jalan berdua juga bisa dikira kakak adik, Ma.... "
"Lebay!" Prita mencubit pipi Dean dengan keras. Anak itu memang paling bisa memuji orang lain.
"Apa yang dikatakan Dean benar loh, Ma.... Kalau Mama dan Daddy mau liburan berdua saja juga tidak masalah. Sejak dulu kan kita liburan ke luar negeri ramai-ramai terus. Mama pasti tidak pernah bisa menikmati liburan dengan tenang karena repot mengurusi kami."
"Kalau bisa pulang liburan hamil lagi, Ma.... Biar kami dapat adik baru. Hahaha.... " ujar Dean
"Halah!" Prita kembali mencubit Dean. Ucapannya ada-ada saja. "Mama sudah cukup punya empat anak saja. Lagipula Dylan pasti nangis kalau mama tinggal ke luar negeri."
"Dylan sudah besar, Ma.... Biarin nangis lah kalau dia mau nangis. Nanti aku pukul biar nangisnya cepat berhenti."
"Nah, Mama malah lebih takut meninggalkan adik-adikmu. Kamu suka jahil. Kenapa sih kamu jahil sekali, Sayang.... "
"Keturunan kali, Ma.... "
"Keturunan siapa? Papamu dulu di sekolah sangat pendiam tidak sepertimu."
"Berarti Mama.... Mama pasti dulu nakal waktu sekolah."
"Tidak.... Mama anak yang baik waktu sekolah."
"Dean mirip Papa Irgi, Ma." ucap Daniel. Dia kalau ingat tentang Irgi, pasti selalu bagian-bagian konyolnya. Kalau bersama Irgi, Daniel suka malu sendiri dibuatnya.
"Ah, iya. Kamu benar juga, Sayang. Dean memang mirip Papa Irgi waktu SMA."
"Ih, jangan mirip-miripin aku dengan Papa Irgi, Ma! Aku tidak segila dia dan aku tidak pernah membuat malu diri sendiri, ya.... "
"Halah! Bolos lompat pagar memangnya tidak membuat malu.... " sindir Daniel.
Saat itu Daniel masih menjabat sebagai ketua OSIS. Melihat kelakuan adiknya seperti itu yang sering masuk ke ruang konseling juga membuatnya malu. Punya adik susah banget diatur.
"Itu dulu, Kak.... Sekarang sudah insyaf."
"Benar ya, Sayang. Jangan ulangi seperti yang dulu lagi."
"Iya, Ma.... "
Sebenarnya Dean sering kabur dari sekolah karena merasa bosan. Ia kurang suka dengan pelajaran apalagi kalau sudah berbau matematika, fisika, dan kimia. Rasanya kepalanya mau pecah. Makanya dia memilih kabur terutama saat jam-jam pelajaran itu.
Saat kabur, ia akan pergi ke tempat gym, latihan kick boxing. Menurutnya lebih gampang olahraga daripada harus memikirkan pelajaran.
Untunglah sekarang ia juga punya kesibukan di klab basket dan kick boxing sekolah. Penjurusan yang ia pilih juga IPS, sehingga tidak terlalu membuatnya pusing memikirkan pelajaran.
"Kakak.... Ayo berangkat.... !" seru Livy dari arah tangga. Ia berlari kecil menuruni tangga. Penampilannya benar-benar anak gaul metropolitan.
"Tunggu aku.... " di belakangnya ada Dylan yang juga baru selesai berganti pakaian. Model rambutnya sedikit di-styling dengan gel rambut.
Daniel dan Dean hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kedua adiknya yang penampilannya lebih gaul daripada mereka. Kalau diingat-ingat, waktu seumuran itu, mereka masih awut-awutan penampilannya. Boro-boro memperhatikan penampilan, mereka lebih sibuk rebutan mainan atau berkelahi dengan teman.
"Heh! Anak kecil ngapain ikut?"
"Ye.... Aku disuruh Kak Dean ganti baju mau diajak juga, wek!"
Dylan mempercepat lari lalu memeluk Dean sekaligus meminta perlindungan. Dia tau kalau Livy itu takut kepada Dean. Sementara, Livy juga ikut-ikutan memeluk lengan Daniel. Karena Daniel pasti selalu membelanya.
"Ma, kita pergi dulu, ya." pamit Daniel.
"Iya, Sayang. Hati-hati mengemudinya. Jam tujuh usahakan sudah pulang, oke?"
"Oke, Ma."
"Ma, jangan lupa telepon Daddy suruh cepat-cepat pulang. Mumpung pengganggu-pengganggunya kami bawa pergi, kalian bisa berduaan di rumah." goda Dean sembari mengerlingkan sebelah matanya.
Prita hanya tertawa-tawa mendengar perkataan Dean. Ia juga senang keempat anaknya bisa akur meskipun sesekali tetap bertengkar. Ia berharap sampai kapanpun hubungan mereka berempat akan tetap baik meskipun berbeda ayah.
__ADS_1