ANTARA CEO DAN MAFIA 2

ANTARA CEO DAN MAFIA 2
Rengekan Daniel


__ADS_3

"Dimana kalian menyembunyikan client-ku? Katanya kalian mau membebaskannya, kan?"


Harlan menyesap rokoknya lalu meniupkannya ke arah Pak Ini. Kelakuannya itu memang sangat tidak sopan. Namun, semua dilatarbelakangi oleh pembohongan yang dilakukan dari pihak Pak Inu.


Harlan sudah tidak bisa menemui Bayu lagi di penjara yang sebelumnya menjadi tempat client-nya ditahan. Katanya, Bayu sudah dipindahkan ke tempat lain, namun pihak pengacara Bayu tidak diberi tahu tepatnya dimana.


"Kalian masih haus dengan pujian dari masyarakat? Bukankah sudah cukup melihat angka kepuasan maayarakat terhadap kalian meningkat?"


"Setiap hari di televisi ada berita membanggakan tentang kalian. Banyak juga yang sudah mendapatkan kenaikan pangkat, termasuk dirimu dan putramu."


"Masih belum puas memanfaatkan client-ku?"


"Apa kalian tidak merasa berdosa menjauhkan dia dari dunia dan keluarganya?"


Pak Inu orang yang sangat penyabar. Dalam kondisi seperti itu, dia masih bersikap tenang dan santai menghadapi tipe orang agresif seperti Harlan.


"Anggap saja ini sebagai pengorbanan untuk meleburkan dosanya."


Harlan terkekeh dengan jawaban dari Pak Inu, "Hahaha.... Pintar sekali kalian mencari alasan."


"Kami melakukan ini juga demi kebaikannya. Kami harus melindungi sosok informan kami dengan baik."


"Di luaran sana ada banyak yang penasaran dengan sosok yang ikut berperan dalam keberhasilan kami."


"Client-ku orang yang pandai melindungi diri. Itu alasan kalian saja agar lebih lama bisa menahannya."


Kembali, Harlan meniupkan asap rokoknya ke arah Pak Inu.


"Kenapa sulit sekali kamu untuk mempercayai kami."


Harlan berdecih, "Memberi tahu tempat kalian menahan client-ku saja tidak mau, bagaimana aku bisa memercayai kalian?"


"Aku malah jadi curiga kalian sudah menggunakannya untuk eksperimen atau bahkan telah menghabisinya."


"Kami tidak seperti itu."


"Buktikan.... Buktikan kalau dia memang aman bersama kalian."


Pak Inu bungkam. Informasi mengenai keberadaan Bayu dia sembunyikan, jangan sampai banyak pihak yang mengetahui. Dia tidak bisa memercayai pihak luar atau pihak manapun.


Sebenarnya Pak Inu juga ingin jika Bayu bisa kembali ke rumahnya tanpa harus tinggal di dalam sel. Bayu bisa datang sewaktu-waktu saat mereka membutuhkan informasi tambahan. Namun, ada pihak yang mengkhawatirkan jika Bayu akan kabur atau membocorkan rencana mereka.


"Bersabarlah sebentar lagi."


"Ini sudah lebih dari satu bulan kalian menyembunyikannya. Aku sudah tidak bisa bersabar. Aku seorang pengacara dan ingin segera kasus ini selesai."


"Kalau kalian masih seperti ini, aku bisa membuat isu kalau kalian suka menyembunyikan orang."


*****


"Ma.... Kok Mama pulang sendiri? Katanya mau jemput Daddy." tanya Daniel ketika menemui mamanya yang baru pulang dari Kota J.


Prita menghela nafas. Ia mendudukkan dirinya di atas sofa lalu menyandarkan tubuhnya.

__ADS_1


"Daddy belum boleh pulang, Sayang.... "


"Kenapa, Ma?" Daniel ikut duduk di samping mamanya.


Prita mengusap kepala anak lelakinya sembari menyimpul senyum tulus di sudut bibir. "Sayang, nanti kalau sudah waktunya daddy juga akan pulang."


"Tapi minggu depan kan ada lomba lari di sekolah. Masa aku tidak ditemani Daddy.... Semua teman-temanku mau datang bersama ayah mereka."


Wajah Daniel berubah cemberut. Di akhir semester ini, sekolah Daniel mengadakan kegiatan lomba untuk ayah dan anak. Teman-temannya sudah antusias bercerita tentang ayah mereka yang akan ikut menghadiri even lomba tersebut. Sementara, Daniel hanya bisa terdiam. Ia tahu ayahnya saat ini ada di penjara dan tidak akan bisa menemaninya nanti di sekolah.


Waktu mamanya bilang akan ke Kota J untuk menjemput ayahnya pulang, dia sangat senang. Berarti nanti dia juga punya ayah yang menemaninya saat lomba sama seperti teman-temannya yang lain. Tapi, melihat mamanya pulang sendiri, ia kembali bersedih. Teman-temannya pasti akan mengolok-oloknya tidak punya ayah.


"Kan ada Papa Ayash, Sayang.... "


Daniel mencebikkan bibirnya, "Papa kan menemani Dean, Ma."


"Kan bisa gantian, Papa Ayash menemani kamu dan Dean di sekolah."


"Mama.... Lombanya kan bareng.... Masa Papa lari sambil gandeng aku dan Dean.... "


"Ya, tidak apa-apa. Kalian kan memang anak Papa Ayash."


"Ah.... Mama.... " Daniel langsung berguling-guling di lantai seperti anak yang sedang tantrum. "Tidak mau, Ma.... Tidak mau.... "


Daniel menggeliatkan tubuhnya tidak beraturan seperti cacing di lantai. Prita hanya bisa senyum-senyum. Ini pertama kalinya anaknya bertingkah seperti itu. Seolah Prita harus menuruti keinginan anaknya apapun yang terjadi.


"Nanti mama hubungi Papa Irgi ya, supaya menemanimu." bujuk Prita.


"Memangnya kenapa, Sayang? Papa Irgi kan juga ganteng, tidak malu-maluin kalau jadi timnya Daniel."


"Apa.... Papa Irgi itu kan lemah, Ma. Tidak bisa lari cepat."


"Siapa bilang? Papa Irgi juga jago lari kok.... "


"Tapi kalau balapan lari sama Papa selalu kalah. Papa Irgi itu payah."


"Papa Irgi juga malu-maluin, Ma. Jangan ajak dia ke sekolah, ya. Daniel tidak mau."


Daniel punya kenangan buruk dengan Irgi. Lelaki itu memang menyayanginya, tapi kelakuannya terkadang melebihi anak kecil.


"Lagipula.... Yang mirip dengan Daniel kan cuma Daddy. Nanti Daniel dibilang anak pungut lagi kalau sama Papa atau Papa Irgi ke sekolah.... Katanya aku tidak mirip Papa.... "


Prita memegangi kepalanya. Dia ikutan pusing menghadapi anaknya. Seharusnya saat ia pergi, ia tidak mengatakan akan menjemput Bayu supaya Daniel tidak menagih ucapannya.


"Mama.... Bilang pak polisi suruh pulangin Daddy sehari saja!"


"Jangan begitu, Sayang.... Nanti kalau sudah waktunya pulang, Daddy juga akan pulang."


"Kalau begitu, nanti mama saja ya, yang menemani Daniel. Mama bisa lari cepat, kok."


"Tidak mau! Kan yang diajak harus ayah, bukan ibu.... Daniel tetap maunya Daddy yang datang!"


"Daniel juga mau nunjukin ke teman-teman kalau Daniel punya ayah yang mirip!"

__ADS_1


Beberapa kali teman-teman Daniel memang mempertanyakan tentang ayahnya. Daniel lebih sering tinggal dengan Ayash, berangkat dan pulang sekolah dijemput Ayash. Kata teman-temannya, dia anak pungut karena tidak mirip dengan papanya. Yang mirip itu Dean. Daniel juga ingin memperlihatkan Daddy-nya kepada teman-temannya supaya tidak membanding-bandingkan lagi dengan Dean. Mereka memang memiliki ayah yang berbeda, namun ibunya sama.


"Kalau Daddy tidak pulang, Daniel tidak mau sekolah lagi!"


*****


"Coach.... mau sampai kapan mau mengabaikan Shuwan?"


Moreno menyunggingkan senyum sinis, "Kenapa tiba-tiba kamu memperdulikannya, Raeka? Bukankah hubungan kalian tidak cukup baik?"


"Hubungan kami tidak ada kaitannya dengan masalah yang ingin aku tanyakan."


"Mau sampai kapan kamu mau mengabaikan Shuwan? Dia sedang mengandung anakmu, sebentar lagi dia akan melahirkan dan kamu masih belum mau bertanggung jawab!?"


Sore itu, Raeka yang berlatih memanah di lapangan seperti biasa, mendapat kesempatan bertemu dengan pelatihnya, Moreno. Memang, dia tidak punya urusan dengan Moreno. Tapi, setelah sekian lama mengenal Shuwan, jalan bareng dengannya hampir beberapa kali seminggu, melihat kondisi kehamilannya yang semakin besar, Raeka rasanya sudah tidak tahan untuk menegur pelatihnya. Lelaki pengecut yang tidak mau bertanggung jawab atas apa yang sudah dilakukannya.


"Shuwan sudah tahu kalau kondisiku tidak memungkinkan untuk menikah dengannya. Isu yang berkembang sekarang sudah cukup membuat namaku buruk. Apalagi jika aku nekad menikahi Shuwan."


"Itu resiko, Coach! Orang kalau sudah berhubungan se*ksual, resikonya terjadi kehamilan. Kalau tidak mau menghamili orang, jangan tidur dengan perempuan. Atau akan lebih baik pe*nismu dioperasi saja supaya tidak sembarangan menabur benih kesana kemari."


Plak!


Moreno melayangkan satu tamparan keras ke pipi Raeka. Baru kali ini ia tidak bisa menahan emosinya. Mendengar perkataan Raeka yang begitu kasar, ia jadi hilang kesabaran.


"Jaga ucapanmu!" bentak Moreno.


Raeka masih berdiri tegak di sana. Pelatih yang selama ini ia hargai, seketika menjadi orang yang sangat ia benci sekaligus membuatnya kecewa. Pelatihnya bukan sosok baik hati yang patut dijadikan panutan. Dia sosok arogan dan pengecut yang bersembunyi di balik topeng ketenarannya.


"Dia sendiri yang memutuskan untuk mempertahankan anak itu. Aku sudah menyuruhnya untuk aborsi."


Raeka menatap nyalang ke arah Moreno, "Aku harap anak yang dikandung Shuwan merupakan bibit terakhir darimu. Semoga tidak ada bayi-bayi lain yang kehadirannya tidak diharapkan dari lelaki pencari kesenangan sesaat sepertimu."


"Kamu sudah terlalu jauh untuk ikut campur sesuatu yang bukan urusanmu, Raeka."


"Dan aku akan lebih jauh lagi untuk ikut campur."


"Selama kamu belum berlaku baik kepada Shuwan dan anaknya, aku pastikan tidak ada kebaikan yang akan kamu dapatkan dimanapun juga. Kamu akan menyesal."


Prak!


Raeka membuang busur dan quiver miliknya ke bawah kaki Moreno.


"Mulai hari ini aku akan berhenti.... Coach."


Setelah itu, Raeka berjalan cepat pergi meninggalkan pelatihnya.


Sementara, Moreno mendengus kasar. Ia baru sadar telah menampar Raeka, putri kesayangan keluarga Wijaya. Setelah masalah besar yang dihadapinya selama ini, ia merasa masalahnya akan semakin bertambah karena telah berani menyakiti Raeka.


Padahal Moreno berharap isu yang beredar tentangnya segera hilang. Ia sementara dinonaktifkan sebagai salah satu atlet nasional karena isu tersebut. Dia selalu membantah kalau video itu bukan dirinya, mungkin ada orang yang mirip dengannya dan ingin merusak nama baiknya. Dia juga bilang tidak mengenal Shuwan dan tidak memiliki hubungan apapun dengannya. Foto bisa saja editan.


Kalau saja Shuwan masih mau bertahan sedikit lagi, Moreno juga pasti akan kembali lagi padanya. Tapi, menunggu saat yang tepat, jika dirinya sudah tidak lagi menjadi sorotan media. Namun, dia selalu mendesak untuk segera menikahinya mengingat kandungannya yang semakin membesar.


Kabar terakhir dari Shuwan, kehamilannya sudah memasuki usia tujuh bulan. Sebentar lagi anak itu akan segera lahir. Namun, Moreno tidak bisa mengakuinya untuk menjaga nama baiknya sebagai seorang publik figure.

__ADS_1


__ADS_2