ANTARA CEO DAN MAFIA 2

ANTARA CEO DAN MAFIA 2
Pergi Ke Club


__ADS_3

Prita dan Ayash masih saling bertatap-tatapan. Kedua mata mereka seakan mengobarkan bara api yang siap membakar lawannya.


"Kita sudah bercerai. Apa masih perlu aku selalu merespon telepon dan pesanmu? Aku juga punya kehidupan pribadi."


"Kita sudah sepakat untuk tetap menjaga hubungan baik, kan?"


Prita menyunggingkan seulas senyum, "Justru aku seperti ini untuk menjaga hubungan baik kita. Ingat Ayash, di antara kita ada Andin. Selain kamu, aku juga sangat menyayanginya. Aku tidak mau dia salah sangka dengan kedekatan kita."


"Tujuanmu bukan itu. Kamu sengaja menghindariku."


"Memangnya kenapa kalau aku menghindarimu?"


Prita mencoba untuk kembali pergi. Namun Ayash lebih dulu menghalanginya dengan kedua tangan yang mengapit sisi-sisi tubuhnya. Prita tak bisa kemana-mana.


"Apa-apaan kamu? Bagaimana kalau ada orang lain yang melihat? Kamu harus tahu batasanmu!"


"Aku tahu batasanku. Kamu juga harus tahu bagaimana caranya bersikap. Sebelumnya kamu tidak pernah seperti ini. Hubungan kita masih sangat baik. Kenapa sekarang seperti ini?"


"Kamu pikir ini semua salah siapa? Kamu sendiri yang membuat semua jadi seperti ini."


"Tapi maksudku tidak seburuk itu."


"Memintaku menikah dengan lelaki lain kamu bilang tidak buruk? Kamu pikir aku apa? Wanita penghibur yang bisa pindah dari satu lelaki ke lelaki lainnya?"


Ayash melihat amarah sekaligus kekecewaan yang besar dari sorot mata Prita. Dia memang salah. Mungkin jalan yang diambil memang sudah salah dan dia pantas menyesal.


Ayash merengkuh tubuh Prita dalam pelukannya. Kata maaf mungkin tidak akan cukup mengekspresikan penyesalannya telah menyakiti hatinya.


"Ini sudah kelewat batas." Prita mendorong tubuh Ayash menjauh darinya.


"Jika memang itu yang kamu inginkan, maka akan aku lakukan. Aku akan menggoda lelaki lain agar mau menikahiku sesuai harapanmu."


"Ingat, kamu punya Andin yang harus kamu jaga."


Prita melewati Ayash dan kembali masuk ke dalan kamar rawat Daniel. Ayash masih diam di tempatnya. Ia memukulkan satu tangannya ke arah tembok yang tidak memiliki salah apapun.


*****


Prita mengenakan dress hitam lengan panjang yang hanya menutupi sampai setengah pahanya. Outfit itu dia padukan dengan high heels hitam simpel, kacamata hitam, dan tas tangan warna senada. Riasan wajahnya tipis dengan pemilihan lipstik warna merah yang sedikit gelap agar terkesan elegan. Penampilannya tetap tampak seksi meski pakaiannya tidak terlalu terbuka.


Malam ini ia bulatkan tekad untuk menemui Bayu di club. Prita penasaran kenapa orang yang hampir setiap hari membuatnya kesal di rumah sakit tiba-tiba sudah tidak pernah lagi datang berkunjung. Mungkin tanpa dia tahu Bayu sudah meninggal atau dalam kondisi kritis karena kecelakaan.


Seumur hidup, ini akan menjadi malam pertamanya masuk ke dalam tempat hiburan malam. Dulu, waktu SMA dia pernah mendengar beberapa temannya yang pernah masuk ke klab malam. Katanya tempatnya mengasyikan. Sayangnya, circle pertemanannya tidak senakal itu. Tidak ada yang pernah mengajaknya ke tempat seperti itu, meskipun mungkin Vino, temannya yang paling gaul itu mungkin juga sudah akrab dengan dunia clubbing. Prita hanya tau masa SMA nya menyenangkan karena sering menghabiskan waktu di taman hiburan.

__ADS_1


Baru sampai di tempat parkir, suara dentuman musik sudah mulai terdengar. club malam itu tampak ramai. Mungkin juga setiap malam selalu ramai. Prita juga tidak tahu. Tujuannya hanya satu ingin bertemu Bayu di sana. Dia tidak berniat meninggalkan anaknya untuk mabuk-mabukan atau menggoda lelaki di sana.


Ya, meskipun tindakannya kali ini memang juga dipengaruhi oleh sikap Ayash padanya. Ia seperti ingin membuktikan kalau dia bisa jadi wanita nakal dan menggoda lelaki manapun.


"Halo cantik.... minum bareng, yuk!" baru masuk saja sudah ada orang mabuk yang mau menggoda Prita.


"Maaf ya, temanku mabuk berat." ucap lekaki yang memapah pria mabuk itu.


Prita hanya tersenyum kemudian melanjutkan langkahnya. Sepertinya ia akan kesulitan menemukan Bayu. Ada begitu banyak orang di sana. Tempatnyapun sangat bising. Dentuman musik terdengar keras mengiringi orang-orang yang berjoget sambil mabuk. Karena belum terbiasa, kepala Prita serasa mau pecah. Benar-benar berisik.


Ia memutuskan untuk duduk di area meja bar yang sedikit jauh dari area musik dan memesan segelas mocktail. Matanya tetap berkelana menyusuri tiap sudut tempat itu mencari keberadaan Bayu.


"Boleh aku duduk di sini?"


Seorang lelaki berwajah tampan dengan setelan jas dan kemeja datang menghampiri Prita. Sepertinya lelaki itu baru pulang dari tempat kerja. Dari pakaian yang dikenakan, bisa dipastikan dia bukan pegawai sembarangan. Setidaknya gajinya harus cukup besar untuk berpenampilan seperti itu.


"Silakan." Prita tentu saja tidak melarang karen itu tempat umum siapa saja boleh duduk di sana.


"Terima kasih."


"Apa kamu datang sendiri?"


Prita enggan berbasa-basi dengan orang yang baru dikenal. Tapi dia harus menjaga sikapnya di tempat yang baru pernah ia datangi.


"Kalau begitu sama. Aku juga datang sendiri."


"Perkenalkan, namaku Rafa."


Lelaki itu mengulurkan tangannya. Prita membalas uluran tangan itu dengan berjabat tangan.


"Prita."


"Baru pertama kali kesini?"


"Ya, apa sangat terlihat?"


Rafa mengangguk, "Sepertinya kamu juga bukan wanita yang suka main ke club." Ia menyimpulkan dari jenis minuman yang dipesan Prita. Itu hanya air sirup, bukan minuman beralkohol. Biasanya orang datang ke club untuk mabuk dan bersenang-senang bukan hanya untuk duduk-duduk saja.


"Apa tujuanmu datang ke club ini?"


"Aku sedang mencari seseorang."


"Boleh aku tahu? Mungkin aku kenal. Aku sering main di club ini."

__ADS_1


"Kamu kenal dengan pemilik club ini?"


"Pemilik club? Kamu mencari Roy?"


"Roy?" Prita mengernyitkan dahinya. Yang ia cari adalah Bayu, bukan Roy. Apa mungkin informasi dari Irgi salah?


"Iya, pemilik tempat ini namanya Roy. Biasanya dia ada di ruangan VIP. Kalau kamu mau bertemu dia, aku bisa membawamu ke sana."


Prita berpikir sejenak. Mungkin saja nama lain Bayu di club ini adalah Roy. Dia harus memastikan sendiri apa benar orang itu adalah Bayu atau bukan.


"Baiklah, tolong antar aku ke sana."


Prita menenggak minuman yang ada di gelasnya kemudian meletakkan uang pembayaran beserta tip di meja bar.


Prita mengikuti arah langkah Rafa yang membawanya ke lantai dua untuk bertemu dengan orang yang bernama Roy.


"Apa setelah ini aku bisa meminta nomor teleponmu? Terus terang kamu tipeku." ucap Rafa secara terus terang.


Prita tersenyum. Seandainya lelaki itu tau dia seorang janda dengan tiga orang anak apa dia masih mau mendekatinya.


"Tapi aku sedang tidak tertarik untuk menjalin hubungan dengan siapapun."


"Oh, baiklah. Mungkin kita bisa jadi teman dulu."


Sesampainya di lantai dua, Rafa membukakan pintu ruangan nomor 31. Ketika pintu terbuka, terpampang pemandangan beberapa lelaki yang sedang menikmati minuman keras ditemani oleh beberapa wanita penghibur.


"Yo, Bro. Tumben masuk ke sini? Ada apa?" tanya lelaki yang duduk di posisi paling tengah.


"Siapa yang kamu bawa? Dia cantik."


"Ajak dia masuk kemari. Ayo kita bersenang-senang."


Tidak ada Bayu di sana. Semua yang ada di sana merupakan wajah-wajah asing yang baru pertama kali Prita lihat. Rafa menyuruh Prita untuk duduk bergabung dengan mereka. Meskipun risih, ia tetap menahan diri.


"Namanya Prita. Dia ingin bertemu denganmu, Roy."


Roy melongo mendengar ucapan Rafa. Baru kali ini ada wanita cantik yang terlihat anggun datang menemuinya. Biasanya wanita-wanita yang menemuinya berpenampilan murahan seperti ******.


"Hai, namaku Roy. Kamu ada urusan denganku?"


Prita mengangguk.


"Baiklah, kalau begitu kita duduk di sebelah sana." Roy menunjuk sofa yang sedikit jauh dari tempat mereka duduk.

__ADS_1


Prita mengikuti saja kemauan Roy. Sementara, Rafa sudah bergabung dengan teman-temannya yang lain.


__ADS_2