
Sebuah mobil sedan hitam mewah terparkir tepan di depan bangunan PT Minata Food. Seseorang dadi dalam mobil terus memperhatikan ke arah kantor itu. Penampilannnya rapi, memakai setelan baju kerja dan jas berwarna hitam senada. Tak lupa kacamata hitam juga menjadi pelengkap penampilan sehingga dia tampak lebih gagah dan misterius.
Beberapa saat kemudian, matanya terpaku pada sosok yang baru saja keluar dari dalam kantor itu. Sosok yang dia tunggu-tunggu sejak tadi. Bayu Bagaskara. Orang yang akan menjadi targetnya. Bonus hari ini ia mendapatkan sesuatu yang baru. Orang-orang yang mungkin sangat berarti bagi Bayu. Mereka yang bisa menjadi kelemahannya.
Lelaki itu tersenyum seringai melihat ke arah Bayu. Bayu yang tampak bahagia menggendong seorang anak di pundaknya serta menggandeng seorang wanita di sampingnya. Ia bersumpah senyum itu tidak akan bertahan lama. Akan ia hapus senyum itu dari wajahnya seperti yang pernah ia lakukan terhadap dirinya dan keluarganya. Dendam harus diselesaikan dengan pembalasan yang setimpal.
"Cari tau siapa anak dan wanita itu." perintahnya.
"Baik, Tuan." ucap si sopir.
"Jalankan mobilnya. Kita pergi dari sini."
Mobil itu segera melaju meninggalkan tempatnya semula berada.
Sementara, di depan sana Bayu tidak tau sama sekali jika ada orang yang sedang memperhatikannya untuk rencana yang kurang baik. Dia sibuk bercanda dengan Dean dan Prita sepanjang jalan menuju parkiran.
"Masih memakai mobil?"
Prita protes dengan mobil sport hitam yang biasa Bayu bawa.
"Hahaha.... Baru kali ini ada wanita yang protes saat melihat mobilku."
"Aku tidak melihat bentuk atau merk mobilmu. Yang penting fungsinya. Sudah tau kan, kalau aku punya tiga anak?"
"Oke. Bagaimana kalau kita ke showroom sekarang juga? Pilih mobil yang kamu suka."
"Tidak ada waktu, aku harus segera mengantar Dean pulang. Kalau tidak, neneknya nanti akan marah."
"Kamu takut dengan mantan mertuamu itu?"
"Tidak."
"Jadi tidak masalah kan, kalau Dean kita telat antar?"
Prita menghela nafas, "Aku rasa menghindari masalah masih lebih baik daripada sengaja membuat masalah."
"Wanitaku memang yang terbaik." puji Bayu dengan nada penuh kekaguman.
Prita memasuki mobil Bayu dengan memangku Dean di depannya.
"Jadi kita langsung mengantar Dean?"
"Iya.... " jawab Prita.
"Jawabnya jangan begitu dong. Jadi kelihatan sedang marah."
__ADS_1
"Lalu aku harus menjawab bagaimana?"
"Iya, Sayang.... "
"Iya, Sayang.... " Prita menirukannya dengan nada dan senyum terpaksa. Bayu terkekeh melihat itu.
Sesampainya di depan gerbang mansion, seorang satpam menghampiri mereka.
"Ah, Nona Prita." satpam rumah itu ternyata sudah kenal dengan Prita.
"Selamat siang, Pak. Saya mau mengantar Dean." ucapnya dengan senyum penuh ketulusan.
Tanpa berlama-lama, satpam tersebut langsung berlari membukakan pintu gerbang. Bayu melajukan kembali mobilnya dan berhenti di depan bangunan utama.
"Biar aku yang menggendong Dean."
Bayu menghentikan Prita yang akan turun dari mobil sendiri. Ia lebih dulu turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Prita. Dean yang sedang tertidur dalam gendongan Prita ia angkat agar Prita mudah turun. Pengasuh Dean yang bernama Rahma terlihat berlari menghampiri mereka. Ia hendak meminta Dean dari gendongan Bayu, tapi Bayu menolak.
"Biar aku saja." ucap Bayu.
Akhirnya Rahma mempersilakan Bayu dan Prita masuk, membawa Dean menuju kamarnya. Saat memasuki area ruang tengah, Prita bertemu tatap dengan Maya yang sedang berjalan menuruni anak tangga. Maya langsung membuang muka ketika menyadari tamu yang datang ke rumahnya adalah Prita. Seakan kebencian itu tetap abadi bercongkol dalam hatinya. Padahal Prita sudah melepaskan Ayash. Tapi, Maya masih terlihat membencinya.
Maya memilih berjalan menuju arah dapur. Sementara, Prita dan Bayu tetap melangkah menuju lantai atas di mana terdapat kamar anak-anak.
"Jangan dihiraukan. Anggap kamu tidak melihatnya." bisik Bayu.
Di kamar sudah ada Livy yang sedang tertidur. Bayu merebahkan Dean secara hati-hati di atas ranjangnya.
"Rahma, apa Dean dan Livy bertingkah aneh akhir-akhir ini?"
"Kalau Dean menurut saya baik-baik saja, Nyonya. Dia aktif bermain dan ceria seperti biasanya. Hanya saja Livy kemarin memang agak sedikit murung."
"Kemapa Livy murung?"
Rahma menundukkan kepala, seolah dia tak berani untuk berbicara.
"Katakan saja, Rahma."
"Tapi jangan dilaporkan kepada Tuan Ayash."
"Iya, saya akan jaga rahasiamu."
"Sebenarnya beberapa hari yang lalu Livy sempat dimarahi Nyonya Maya karena merusak rangkaian bunga yang sedang ia kerjakan."
"Setelah itu dia jadi murung dan tidak mau bicara. Tapi, Tadi setelah pulang dari rumah sakit dia sudah ceria lagi seperti biasa."
__ADS_1
"Padahal Nyonya Maya juga menjewer telinga Livy hanya main-main saja, tidak betulan."
"Iya, Rahma. Terima kasih infonya. Mungkin Livy saja yang sedang sensitif jadi gampang nangis kalau dimarahi." ucap Prita.
"Nanti kalau ada apa-apa dengan mereka, jangan lupa hubungi saya, ya."
"Baik, Nyonya."
"Kalau begitu kami pulang dulu."
Prita bersyukur mendapatkan pengasuh ketiga anaknya yang baik hati. Mereka tetap bersikap baik meskipun Prita sudah bercerai dengan Ayash. Mungkin Ayash juga yang menyuruh mereka untuk tetap menghormati dan memanggilnya 'nyonya'.
"Oh, Prita, kamu kemari?"
Mereka bertemu dengan Andin dan Ayash yang baru saja kembali. Andin seperti biasa, tampak ceria bisa bertemu dengan Prita. Sementara, Ayash memberikan tatapan sendu ke arah Prita.
Bayu buru-buru menggenggam tangan Prita agar wanita itu tetap sadar kalau sekarang ada dirinya di sisinya. Jangan sampai Prita khilaf dan kembali pada perasaannya terdahulu. Genggaman gangan itu juga memberikan isyarat kepada Ayash agar tidak berani mendekati Prita, karena sekarang Prita adalah miliknya. Sesuatu yang sudah Ayash lepaskan, akan Bayu ambil dan pergahankan sampai akhir. Dia tak akan melepaskan Prita.
"Iya, aku mengantar Dean pulang. Tapi dia ketiduran di mobil."
"Bukannya ada Rahma atau Mia yang menjemputnya?"
"Ini gara-gara Bayu menjemput Dean tanpa bilang padaku. Jadi, Rahma kebingungan."
"Ternyata Bayu mengajak Dean ke kantornya."
"Bagaimana kalau kalian duduk dulu? Kita bisa makan siang bersama sekalian?" ucap Andin.
"Tidak perlu, Ndin. Aku harus kembali lagi ke rumah sakit. Takut Daniel rewel sendirian."
"Baiklah kalau begitu, hati-hati di jalan, ya."
"Terima kasih, Ndin."
Bayu menarik tangan Prita pergi. Sekilas mata Prita kembali bertemu pandang dengan Ayash. Dia hanya menyunggingkan senyum kecil.
Bayu lebih cepat menarik tangannya. Seolah ia tidak mau Prita berlama-lama di sana. Apalagi ada Ayash yang merupakan ancaman terbesar bagi Bayu.
"Sadar, sadar.... yang kamu lihat itu suami sahabatmu sendiri." sindir Bayu.
"Iya, aku juga tau. Memangnya aku kelihatan sedang menggodanya?"
"Ya, senyummu termasuk salah satu godaan terbesar. Tidak usah senyum-senyum, apalagi kepada mantan suami."
"Aku hanya menghargainya."
__ADS_1
"Ya itu menurutmu. Bisa jadi di matanya itu adalah sebuah harapan."