
"Daniel kenapa sikapnya seperti itu kepada Daddy Bayu? Bukannya Daniel selalu suka dengan Daddy?"
"Ya, Daddy baik. Tapi Daniel tidak suka dia sama Mama. Maunya Mama sama Papa."
Sepulang dari mansion, Prita mencoba memberi pengertian pada Daniel tentang sikapnya yang kurang baik terhadap Bayu. Memberi tahu anak kecil tidak semudah yang dibayangkan. Mereka cenderung mengedepankan egonya.
"Tapi mama papa berpisah bukan karena Daddy Bayu, kenapa Daniel marahnya sama Daddy?"
Daniel menoleh ke arah Prita, "Daddy tidak merebut Mama dari Papa?"
Prita tertawa mendengar pertanyaan seperti itu, "Tidak, Sayang. Mama dan papa berpisah karena kami yang menginginkannya. Daniel juga tahu kan, Oma tidak terlalu suka dengan mama dan Daniel. Papa tidak mau melihat mama dimarahi terus sama Oma. Makanya kami berpisah."
"Oma tidak suka Daniel karena Daniel bukan anak Papa, ya?"
Prita tersenyum kecut, tapi itu memang alasan sebenarnya.
"Pantas saja Papa jarang nemenin Daniel ya, Ma. Daniel bukan anaknya." mata Daniel berkaca-kaca. Ia kembali teringat saat akan operasi papanya tidak bisa dagang.
"Tidak, Papa Ayash itu sangat sayang dengan Daniel, seperti sayangnya terhadap Dean dan Livy."
"Papa itu bohong.... Katanya Daniel anak yang paling Papa sayang."
"Memangnya selama ini Papa pernah tidak menyayangi Daniel? Daniel pernah dimarahi papa?"
Daniel menggeleng. Papanya memang tidak peenah memarahinya. Sekalipun ia membuat kesalahan, dia hanya akan dinasehati dengan cara yang sangat lembut.
"Itu artinya, Papa Ayash sayang banget sama Daniel. Papa Irgi, Mama Raeka, Mama Andin, Daddy Bayu, dan juga mama, semua sayang Daniel. Jadi, Daniel tidak boleh membenci siapapun, oke?"
Daniel mengangguk.
"Kamu harus minta maaf nanti pada Daddy sudah bersikap buruk sejak kemarin."
"Sepertinya ada yang sedang berbicara serius."
Belum sempat Daniel merespon perkataan Prita, mereka sudah dikejutkan dengan suara Bayu. Dia datang sendirian membawa sekotak besar mainan.
"Ini lego yang semalam kamu mainkan bersama Opa Sam. Katanya Daddy harus memberikannya untukmu."
Bayu meletakkan mainan itu di ranjang Daniel. Ia kecup kening anaknya dan mengusap rambutnya.
"Thank you, Daddy." jawab Daniel.
Bayu tersenyum.
"Daddy.... "
"Ya?"
"I'm sorry."
Bayu memicingkan sebelah alisnya mendengar Daniel meminta maaf. Ia menoleh ke arah Prita, namun direspon dengan mengangkat kedua bahunya.
"Kenapa minta maaf? Memangnya Daniel salah apa sama Daddy?"
__ADS_1
"Sejak kemarin Daniel sudah bersikap buruk kepada Daddy." Daniel menundukkan kepalanya.
"Sebenarnya Daniel marah mendengar cerita Opa Sam kalau ayah Daniel adalah Daddy, bukan Papa."
Bayu mengambil duduk di damping Daniel. Dia dekatkan wajahnya untuk melihat wajah anaknya yang tertunduk dengan rasa bersalah.
"Apa sekarang kamu masih membenci Daddy?"
Daniel menggeleng.
"Apa mulai sekarang Daddy bisa jadi ayahnya Daniel juga?"
Daniel mulai mengangkat wajahnya. Ia masih ragu untuk memberikan jawaban.
"Daddy tahu, pasti Daniel sangat menyayangi papanya, kan? Tapi, apa boleh, kalau Daddy juga ingin disayang Daniel juga seperti Daniel menyayangi papa?"
Bayu tak memaksa Daniel untuk hanya menganggapnya sebagai satu-satunya ayahnya. Dalam kondisi seperti ini, dia memang sangat pintar mengambil hati anak kecil.
Tentu saja mata Daniel berbinar-binar. Bagi Daniel, itu artinya dia masih tetap bisa menganggap Ayash sebagai ayahnya juga. Dia akan memiliki dua orang ayah yang sangat menyayanginya.
Selain berhasil mengambil hati Daniel, ada orang yang ikut terkesima mendengar ucapan bijaksana Bayu. Prita. Dia merasa lelaki itu semakin terlihat baik di matanya. Dia bukan lagi lelaki egois dan pemaksa. Ada sisi lembut di balik sosok yang selalu terlihat gagah itu.
"Daniel akan menyayangi Daddy." ucap Daniel.
Bayu langsung melabuhkan pelukan dan menciumi puncak kepala anak kesayangannya. Prita ikut senang mendengar perkataan Daniel. Dia sudah bisa menerima Bayu sebagai ayahnya.
"Daniel, kalau Daddy ingin menikah dengan mama, apa Daniel mengijinkan?" tanya Bayu.
"Mama juga kemarin tanya seperti itu."
"Lalu, jawaban Daniel apa?"
"Boleh."
Satu kata dari Daniel mengembangkan senyuman termanis di wajah Bayu. Kebahagiaannya tak bisa terukur, bagaimana rasanya direstui oleh anak sendiri. Sebentar lagi mereka bertiga akan berkumpul menjadi satu keluarga.
"Tapi ada syaratnya, Daddy." Daniel melanjutkan kata-katanya.
"Apa syaratnya?" Bayu penasaran. Jangan sampai keluar syarat yang aneh-aneh dari anak itu.
"Jangan jadi orang jahat lagi."
Bayu mengerutkan dahinya, "Memangnya, Daddy pernah jahat, ya?"
"Kata Mama dulu Daddy jahat."
Bayu menelan ludah. Tidak bisa dipungkiri kalau dulu dia memang orang yang jahat di mata Prita (di mata semua orang kali, Bayu....).
"Kata Mama sekarang Daddy sudah jadi orang baik. Daddy banyak membuat Mama tersenyum dan tertawa. Jangan jadi jahat lagi ya, Daddy."
"Iya, Sayang. Daddy akan jadi ayah yang baik untuk Daniel dan suami yang baik juga untuk mamamu."
"Daddy juga harus sayang dengan Dean dan Livy."
__ADS_1
"Tentu."
"Janji?" Daniel mengacungkan jari kelingkingnya.
Bayu mengaitkan jari kelingkingnya pada jari kelingking Daniel, "Janji."
"Sini sini sini.... Daddy ingin memeluk kalian berdua."
Bayu merentangkan kedua tangannya untuk merengkuh tubuh Prita dan Daniel bersamaan. Ketiganya sudah tampak seperti keluarga kecil yang harmonis.
"Daniel, boleh Daddy ajak mama ke dalam sebentar? Ada yang harus kami bicarakan."
Daniel memicingkan sebelah alisnya, "Bilang saja kalau Daddy mau mencium mamaku, kenapa pakai alasan mau bicara segala."
Bayu dan Prita sama-sama melongo mendengar perkataan Daniel. Kenapa dia jadi ceplas-ceplos? Sudah persis seperti gaya Irgi.
"Daniel.... " Tegur Prita.
"Daniel sering lihat Daddy begitu ke Mama. Suka cium-cium dimana-mana."
Bayu malah terkekeh mendengar ucapan Daniel. Anak itu ternyata diam-diam memerhatikannya.
"Oke, Daniel, kamu benar. Daddy memang secinta itu pada mamamu. Jadi, Daddy tidak bisa menahan untuk menciumnya."
"Kalau begitu, kami ciuman dulu, ya. Anak kecil tidak boleh mengintip."
Bayu malah semakin meladeni perkataan Daniel dengan candaannya. Dia tarik tangan Prita untuk mengikutinya masuk ke dalam kamar.
"Oh, Ya Tuhan.... Kenapa kamu menjawab seperti itu di depan anak kecil?" Prita memegangi dahinya sendiri.
"Memangnya kenapa? Dia kan anak kita, wajar kalau melihat orangtuanya bermesraan."
Secepat kilat Bayu memagutkan bibirnya, sehingga Prita terperanjat kaget. Lelaki itu benar-benar mengajaknya berciuman di dalam kamar.
Prita memundurkan langkahnya menjauh, namun Bayu terus maju tanpa melepaskan pagutan bibirnya. Hingga punggung Prita harus membentur dinding, memberi kesempatan yang lebih bagi Bayu untuk menguasai wanita itu. Prita gak bisa kemana-mana lagi selain menerima ciumannya.
Setelah beberapa saat, Bayu melepaskan ciumannya dan beralih memeluk Prita dengan erat.
"Aku senang sekali Daniel bisa menerima hubungan kita."
"Mulai hari ini aku akan bisa memelukmu setiap hari seperti ini."
"Tadi aku sudah menemui dokter. Besok Daniel sudah boleh pulang."
"Benarkah?" mata Prita berbinar-binar.
"Iya. Kita akan kembali ke Kota S."
Bayu menyibakkan helaian rambut Prita yang menutupi wajahnya, "Sampai di sana, kita langsung menikah saja, ya?"
Prita mengangguk kecil lalu berlari ke dalam pelukan Bayu. Kali ini dia sudah yakin akan menikah dengan lelaki itu.
------------------------------------------------------------------------------
__ADS_1
Maaf ya, tidak bisa update seperti biasa 😳