
Ayash berdiri di balkon kamarnya sambil memegang sepuntung rokok. Sesekali ia menyesap pangkalnya, kemudian menghembuskan asap dari mulut dan hidungnya. Ia ulangi kegiatannya itu sembari memikirkan banyak hal. Salah satunya tentang Prita.
Kata orang, lelaki itu makhluk yang lebih kuat dari wanita. Dia lebih tegar dan tidak cengeng saat menghadapi masalah. Pola pikirnya selalu mengedepankan akal daripada perasan.
Tapi, bagi Ayash, baik wanita dan lelaki sama saja. Sama-sama bisa terluka karena masalah cinta. Mungkin dari luar terlihat biasa saja. Tidak tau jika hatinya juga bisa terluka. Saking dalamnya luka itu, sampai seperti mati rasa.
Seumur hidup, Ayash salah satu orang yang paling anti dengan rokok. Baik di masa SMA maupun kuliah, sekalipun ia tak mau mencoba yang namanya rokok meskipun beberapa kali ditawari rokok gratis oleh temannya. Menurutnya, merokok hanya perbuatan sia-sia dan tak bermanfaat.
Setelah merasakan pahitnya perceraian, ia harus menelan ludahnya sendiri. Ternyata, merokok bisa sedikit mengalihkan kesedihannya. Pikirannya jadi lebih santai ketika memikirkan hal-hal yang dirasa berat.
Kalaulah ingin menangis, mungkin ia akan menangis berhari-hari sampai rumahnya kebanjiran. Atau dia bisa menjerit sampai ayam-ayam tetangga mati kebisingan. Tapi imej lelaki tidak seperti itu. Lelaki itu makhluk yang tegar, tidak boleh mengeluarkan air mata kecuali buaya.
Jadi, paling tepat ia lampiaskan dengan merokok. Masih lebih baik daripada ia mengisap ganja, sabu-sabu, atau sejenisnya.
"Malam-malam merokok sendirian. Bagi-bagi dong." seloroh Andin.
Wanita itu tanpa ijin mengambil sebatang rokok dari dalam bungkusnya kemudian menyalakannya dengan korek api. Ia sesap dengan santai batang rokok di mulutnya. Tak ada ekspresi canggung seperti seorang yang sudah biasa melakukannya.
"Stres mikirin Prita, ya?" ucap Andin di sela-sela hisapan rokoknya.
"Apa masih perlu aku jawab?" Ayash meneruskan aktivitasnya tanpa terganggu dengan kehadiran Andin di dekatnya.
"Tidak perlu. Kita juga sudah sama-sama tau masalah kita masing-masing."
"Kamu sendiri ngapain kesini? Kenapa tidak tidur?"
"Cari teman galau."
"Hah! Salah cari teman kalau begini. Seharusnya kamu kumpul dengan teman-temanmu sesama wanita. Biasanya mereka suka cerita galau."
"Masalahnya aku tidak bisa merokok di depan mereka."
Bukan rahasia lagi jika Andin sejak dulu memang sudah suka merokok. Tepatnya setelah kematian ibunya. Sejak SMP wanita itu sudah mulai merokok. Apalagi ada Vino, mereka partner merokok sejati. Hanya Ayash yang tidak terpengaruh mengikuti mereka saat itu.
Katakanlah mereka memang pengecut. Merokok tidak bisa menyelesaikan masalah, karena memang mereka hanya bisa lari dari masalah. Pelariannya melalui rokok.
"Aku kira kamu sudah berubah, Ndin. Setelah berteman dengan banyak teman wanita."
"Setidaknya penampilanku saja yang berubah, Yash. Selebihnya aku masih sama. Masih serapuh dulu dan aku juga pengecut."
Ayash dan Andin memang tidur sekamar, tapi di tempat tidur yang berbeda. Ayash memilih tidur di area ruang kerjanya, sementara ranjang utamanya ia berikan kepada Andin. Keduanya masih menjaga kesepakatan seperti dulu.
Mereka menikah hanya untuk menyelamatkan muka kedua keluarga besar. Tidak ada rasa cinta di antara keduanya, kecuali rasa saling peduli karena sudah belasan tahun mereka berteman.
"Apa yang akan kamu lakukan dengan Prita? Kalau kamu terus diam saja, lelaki itu bisa mengambil Prita darimu selamanya."
"Aku juga tidak tahu. Sejak awal memang sepertinya sudah tidak ada harapan lagi untuk bersama dengannya."
__ADS_1
"Kamu mau menyerah?"
"Bukan menyerah.Tapi aku sadar diri, aku sendiri yang sudah melepaskannya."
"Hah! Heran aku dengan Prita. Seharusnya dia punya sedikit keberanian supaya bisa melawan orang yang menindasnya."
Ayash menyebulkan asap tepat di wajah Andin.
"Heh! Apa-apaan, sih!?" Andin berusaha menghalau asap yang hendak masuk ke matanya.
"Kamu sendiri bagaimana? Apa sudah bertemu dengan Kak Arga?"
"Belum. Aku harap bisa segera bertemu dengannya."
"Apa yang mau kamu lakukan kalau bertemu dengan kakakku?"
"Boleh aku membunuhnya?" canda Andin.
Ayash terkekeh, "Boleh, bunuh saja dia. Lagipula juga dia manusia tidak berguna." Ia menekan puntung rokoknya yang hampir habis di atas asbak hingga baranya mati.
"Kakakmu benar-benar sampah!" umpat Andin.
"Arga bajingan! Waktu pacaran doang gigih banget deketin aku. Bolak-balik ke luar negeri dilakuin sampai aku ikutan bucin. Giliran mau nikah malah kabur. Gila, kan?"
"Ya, memang gila. Lelaki seperti itu memang pantas dibinasakan."
"Lalu, kalau dia kembali lagi, apa kamu mau memaafkannya?"
"Hah! Tidak sudi."
Andin menyandarkan punggungnya pada pagar balkon. Tatapannya mengarah pada Ayash yang sibuk memerhatikan ponselnya.
"Jadi kamu mau terus berstatus sebagai istriku?" katanya, tanpa mengalihkan pandangan dari layar ponselnya.
"Apa kamu keberatan?" pancing Andin.
"Tidak. Aku sudah pernah bilang kan, kamu bisa tetap menjadi istriku selama kamu mau."
"Kita sebenarnya cocok jadi teman, bukan jadi suami istri."
"Teman merokok?"
"Hahaha.... Ya, salah satunya itu. Tapi kamu memang bukan tipeku. Rasanya anjing banget tiba-tiba bisa nikah sama kamu."
"Memangnya aku suka?"
"Cih! Setidaknya kamu bisa memakaiku untuk bisa bertemu dengan Prita, kan? Kamu takut akan dicueki kalau menemuinya sendiri?"
__ADS_1
Ayadlsh melirik ke arah Andin. Wanita itu mengacungkan jari tengah kepadanya, seakan mengejek jika dia pecundang.
"Aku membawamu agar sikapku bisa dikendalikan. Takut nafsusaurusku bangkit kalau hanya berdua dengannnya."
"Hahaha.... memangnya kamu bisa seagresif itu?"
"Mau aku buktikan?"
"Najis!" Andin membalikkan tubuhnya, memandangi pekatnya malam yang berhiaskan titik-titik bintang. Sesapan demi sesapan ia reguk untuk melupakan kegundahannya.
"Kalau begitu aku masuk duluan. Jangan lupa tutup pintu." Ayash beranjak dari duduknya. Ia kembali masuk ke dalam kamar.
"Ya, pergilah!"
Andin masih ingin menikmati rokoknya. Ia belum mengantuk. Hampir setiap malam tidurnya terganggu, terlalu stres semenjak pernikahannya gagal.
"Arga bangsat!" pekiknya.
*****
"Saya sudah menemukan donor sumsum tulang belakang yang cocok untuk putra Anda." ucap Fredi.
Kata-kata itu mampu mengalihkan perhatian Bayu yang sedari tadi sibuk melihat-lihat koleksi senjatanya di dalam banker rahasia.
"Darimana kamu mendapatkannya?"
"Dari pasar gelap."
"Siapa orang itu? Siapa yang akan menjadi donor untuk anakku."
Fredi terdiam.
"Kenapa kamu diam?"
"Saya tidak tau, Tuan. Informasi donor dirahasiakan."
Sebenarnya Fredi tau identitas pendonor itu. Tapi, dia tidak akan memberitahu bosnya. Tugasnya hanya mencarikan donor yang cocok, bukan membeberkan informasi pendonornya. Kalau sampai Bayu tau caranya mendapatkan donor itu, mungkin dia sendiri yang akan dibunuh. Dengan ia diam, setidaknya bisa menyelamatkan dua nyawa, nyawa anak bosnya dan nyawanya sendiri.
"Saya juga sudah menghubungi rumah sakit dan dokter terbaik yang bisa segera melaksanakan operasi untuk Daniel."
"Dimana?"
"Di Kota J, Primary Hospital."
Mendengar kata Kota J bukan sesuatu yang menyenangkan untuk Bayu. Ia sudah lama ingin melupakan kota terlaknat itu dengan segala masa lalunya. Apalagi di sana pusat kerajaan ayahnya. Dia sudah tak mau lagi berhubungan dengan lelaki tua bangsat itu.
"Persiapkan tempat tinggal untukku di sana. Pilih beberapa anak buahmu agar mengawal selama Daniel dirawat. Kalau bisa, tempatkan juga di rumah sakit itu. Jangan sampai ada celah untuk orang berbuat jahat, terutama ayahku. Jangan sampai dia tau."
__ADS_1
"Baik, Tuan."