
Bayu mengintip ke dalam kamar anak-anaknya. Dilihatnya Prita sedang meny*usui Livy yang hampir tertidur. Dean tampaknya sudah tidur lebih dulu di samping mereka dengan posisi kepala sudah menghadap ke bawah. Entah bagaimana gaya tidur Dean, tapi posisi tidurnya memang suka berputar-putar.
Prita yang belum tertidur mengarahkan pandangan ke arahnya, "Mau kemana?" tanyanya.
Bayu sudah tidak kaget jika pertanyaan seperti itu Prita lontarkan. Meskipun bosan, di lain sisi dia juga merasa senang melihat istrinya perhatian.
"Aku mau pergi ke klab sebentar. Kamu tidurlah bersama anak-anak."
Bayu mengulaskan senyum di bibirnya sebelum menutup kembali pintu kamar yang tadi di bukanya.
Prita tertegun. Dia ingin ikut tapi kondisinya Livy belum benar-benar tertidur nyenyak. Anak itu masih menyesap put*ingnya dengan kuat.
Ia menghela nafas. Entah kenapa akhir-akhir ini dia seperti penguntit, selalu ingin tahu kemana Bayu pergi. Kali ini juga sama. Walaupun dia bilang mau pergi ke klab, tapi dia ingin ikut. Bukan karena takut ada wanita lain yang akan menempel padanya, tapi lebih pada pertemuannya dengan orang-orang seperti Ben yang ingin ia ketahui. Bayu selalu hati-hati saat berbicara dengan Ben jika ada dirinya. Pasti hal yang dibicarakan sesuatu yang penting dan tidak boleh ia ketahui. Itu membuatnya semakin merasa penasaran.
Setelah Livy tertidur lelap, ia meninggalkan kamar anak-anaknya lalu masuk ke dalam kamarnya sendiri. Ia melihat-lihat koleksi pakaian yang berderet di ruang walk in closet, menimbang-nimbang pakaian mana yang pantas ia kenakan ke klab malam.
Ia memutuskan untuk mengenakan mini dress hitam yang hanya menutupi separuh pahanya dengan bagian atas model sabrina membuat pundaknya terekpose dengan indah. Rambut panjangnya ia ikat ke belakang seperto ekor kuda.
Berdasarkan pengalaman pertamanya masuk ke dalam klab malam, pakaian yang ia kenakan malam ini masih terhitung sopan. Umumnya para wanita di sana berpakaian lebih terbuka.
Setelah selesai berdandan, ia keluar menemui pengasuh anak-anaknya agar menjaga mereka tidur. Lalu, memanggil salah seorang sopir untuk mengantarnya sampai depan perumahan. Dari sana, dia memesan taksi. Sopirnya ia suruh pulang lagi, karena ia tidak tahu nanti akan pulang jam berapa, ia tak ingin melibatkan sopirnya.
Prita mendatangi klab yang sama dengan sebelumnya, Skylight Bar. Suasananya masih sama, ramai dan bising. Mungkin bagi yang sudah terbiasa, tempat itu sangat nyaman. Tidak bagi Prita, baru masuk saja sudah membuatnya pusing.
Ia duduk di meja bar, lalu memesan segelas moctail untuk menyegarkan tenggorokannya. Matanya masih berkelana ke setiap sudut, mencari sosok yang mungkin dikenalnya. Tidak ada Bayu. Mungkin saja dia ada di salah satu ruangan yang ada di lantai atas. Nanti dia akan naik ke atas setelah minumannya datang.
"Nona Prita?" sapa seseorang dari arah samping. Prita hampir tak mengenalinya, tapi kemudian ia ingat tentang pengalaman pertamanya di sana.
"Rafa, kan?" tebaknya.
"Aku kira kamu sudah lupa."
"Wine." ucapnya pada pelayan lalu duduk di samping Prita.
"Wajahmu termasuk tipe yang sulit dilupakan."
__ADS_1
"Hahaha.... Begitukah?"
"Ngomong-ngomong, apa kamu ada keperluan lagi datang ke tempat seperti ini?"
"Minuman Anda, Nona." pelayan yang datang menyela pembicaraan mereka sebentar.
"Terim kasih." ucap Prita sembari meneguk minuman yang menyegarkan itu.
"Memang ya, kamu datang pasti bukan untuk mabuk atau nge-dance. Ini kedua kalinya kamu memesan minuman semacam itu di tempat seperti ini."
"Apa uruanmu yang waktu itu belum selesai?"
"Bisa dibilang seperti itu."
"Aku penasaran, kenapa waktu itu kamu langsung menghilang tanpa memberitahu aku? Aku khawatir sekali terjadi sesuatu yang buruk padamu. Secara, kamu seorang wanita yang menarik."
Prita menyunggingkan senyum, "terima kasih sudah mengkhawatirkanku."
"Aku buru-buru karena telah menemukan orang yang aku cari. Maaf tidak sempat memberitahumu."
Prita mengernyitkan dahinya, "Untuk apa?"
"Supaya kita berteman."
Prita menggaruk kecil kepalanya. Andaikan lelaki di hadapannya tahu bahwa ia sudah menikah dan memiliki anak, dia pasti tidak akan seperti itu. Tapi, Prita tak lantas menjawabnya hanya untuk menghargai agar dia tidak merasa malu.
"Maaf ya, aku lupa tidak membawa ponselku." ucapnya dengan raut wajah seperti merasa bersalah.
"Ah, oke, tidak apa-apa."
"Kalau begitu, simpan kartu namaku. Hubungi saat kamu ada waktu. Kita bisa makan bersama lain waktu."
Rafa memberikan kartu namanya kepada Prita. Prita memperhatikan dengan seksama nama, jabatan, serta tempat kerja lelaki itu.
Greenland Paradise Apartement
__ADS_1
Nama : Rafael Wijaya
Jabatan : General Manager
Deg!
Prita langsung membeku. Ia alihkan pandangan ke sosok lelaki di hadapannya sambil memperhatikan kartu nama itu.
Prita baru tahu kalau dia ternyata adalah kakak Raeka. Pantas saja dia merasa familiar, dia melihat kemiripan antara wajah Rafa dengan Raeka. Pokoknya, keluarga Wijaya memang tidak pernah gagal dalam menghasilkan keturunan. Semua anak-anaknya cantik dan ganteng.
"Rafael Wijaya, berarti kamu.... "
Belum sempat menyelesaikan ucapannya, mata Prita sudah menangkap sosok Bayu yang sedang berjalan dengan Fredi, Alex, Ben, dan beberapa orang yang tidak Prita kenal. Mereka menaiki tangga menuju lantai atas. Tidak mau menyia-nyiakan kesempatan, Prita bergegas menyusulnya.
"Kamu mau kemana? Kenapa buru-buru."
"Ah, maafkan aku. Ada orang yang harus aku ikuti."
"Kenapa kamu malah mengikutiku?" Prita menghentikan langkahnya mensihati agar Rafa tidak mengikutinya lagi.
"Aku mau membantumu."
"Oke, terserah, yang penting jangan membuat keributan."
Rafa mengacungkan jempolnya sebagai tanda sepakat. Keduanya mengendap-endap menaiki satu persatu anak tangga. Sambil bersikap biasa berpura-pura sebagai tamu, mereka mencari-cari ruangan yang sekiranya mereka gunakan.
Satu per satu kamar mulai ia buka. Ada banyak pemandangan yang mereka saksikan. Ada yang sedang bernyanyi-nyanyi, ada pula yang sedang memadu kasih dengan gaya-gaya liar.
Akhirnya, mereka sampai pada kamar yang terletak paling ujung dan sepertinya merupakan ruangan yang mewah.
Dengan rasa keberanian yang telah ia kumpulkan, Prita membuka sedikit celah pintu itu. Ia mengintip ke dalamnya. Benar, Bayu ada di sana.
Di dalam sana seperti ada semacam perkumpulan. Mereka memperbincangkan sesuatu dengan serius, namun Prita tak bisa mendengarnya dengan jelas.
Hal yang lebih mengganggu pikirannya, saat ini di dekat Bayu ada dua orang wanita seksi dengan pakaian bik*ini sedang duduk di samping kanan dan kirinya. Begitu pula dengan lelaki yang lain, mereka juga memiliki wanita-wanita cantik di sampingnya. Bahkan, sampai ada yang memangku manja wanitanya.
__ADS_1
Padahal dari rumah dia sudah bertekad akan bersikap biasa saja jika melihat Bayu dekat dengan wanita murahan seperti mereka. Tapi, kenyataannya saat melihat secara langsung, ia menjadi geram. Ingin rasanya ia segera masuk ke dalam dan memarahi Bayu habis-habisan. Katanya dia sudah berubah, tidak lagi bermain dengan wanita lain. Tapi, hari ini dia duduk di antara dua wanita berbikini.