
Malam jum'at 😅
Ini episode aman kok, santai saja 😁
####################################
Rafa memandangi sepasang sepatu di atas meja kerjanya. Dia memang sudah seperti orang gila, membawa-bawa sepatu milik Prita ke kantornya. Mungkin dia kira sedang berperan sebagai tokoh pangeran yang hendak mengadakan sayembara untuk menemukan Cinderella. Barang siapa yang kakinya pas memakai sepatu indah itu, dia akan menikahinya.
Sayangnya, cerita seperti itu hanya ada dalam dongeng. Cerita hidup yang ia harapkan mustahil bisa berakhir seperti yang dia inginkan. Apalagi, wanita yang membuatnya tertarik itu posisinya sudah memiliki pacar. Meskipun semalam mereka sedang bertengkar, bisa jadi hari ini mereka baikan.
Rafa memang berharap lebih. Dia baru dua kali bertemu dengan wanita itu. Kenapa dia bisa merasa setertarik itu? Padahal, biasanya wanita yang lebih dulu mendekatinya. Kali ini, dia benar-benar sudah terjerat pesona wanita yang baru ditemuinya.
Rafa bingung, akan dia apakan sepatu itu. Ingin mengembalikannya, namun tidak tahu dimana alamat Prita. Bahkan nomor teleponnya juga dia tidak tahu. Ia mengacak-acak rambutnya sendiri.
Rafa menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi sembari mengingat kembali kenangan yang masih tersisa semalam. Meskipun hanya semalam, hanya duduk sambil makan di alun-alun, rasanya seperti sebuah kenangan yang berharga. Semalam masih seperti kencan untuknya. Kencan termurah yang pernah ia rasakan.
"Selamat siang, Pak GM."
Suara dari arah pintu mengganggunya, "Oh, kalian." Rafa memberi respon datar melihat kedatangan Irgi dan Raeka.
"Kenapa, Kak? Sepertinya ada masalah." tanya Raeka melihat perbedaan sikap yang ditunjukkan kakaknya. Biasanya, dia sangat ceria kalau melihatnya datang.
"Tidak, tidak ada masalah apa-apa." kilah Rafa.
"Wah, sepatu siapa itu?" celetuk Irgi melihat sepatu di atas meja Rafa. Rafa segera mengamankan sepatu itu dengan menyembunyikannya di bawah meja.
"Itu sepatu wanita, kan? Atau itu sepatumu, Kak?"
"Sepatu kuda!" seru Rafa. "Duduk sana kalian di sofa. Jangan banyak tanya!"
Raeka dan Irgi menurut, sepertinya kakak mereka sedang sensitif, tidak bisa disenggol.
"Tumben kalian datang kesini? Mau minta apa?" ucapan Rafa tidak ada basa-basinya. Dia sudah menebak kedatangan adik-adiknya ingin meminta sesuatu darinya. Biasanya kan mereka sangat menghindari dirinya, katanya dia mengganggu. Jarang-jarang mereka mau menemuinya duluan.
"Kak Rafa ucapannya frontal, ya. Kami ini hanya khawatir dengan kakak iparku, kok sudah lama tidak pernah main ke apartemen. Aku kira kakak sakit."
"Cih!" Rafa terkekeh. Menggelikan mendengar adik iparnya berkata seperti itu.
"Kakak lagi mikirin cewek, ya?" tebak Raeka.
Rafa terdiam. Ucapan adiknya memang benar.
"Siapa sih? Itu sepatu milik cewek itu, ya?"
"Kepo banget sama urusan orang. Sudah, bilang apa yang kalian mau dan cepat pergi dari sini!" Rafa tidak punya niat membahas masalah wanita yang dia suka dengan adiknya.
__ADS_1
"Oh, ya sudah! Tumben saja Kakak memikirkan perempuan. Biasanya kan mereka yang mengejar-ngejar Kakak."
"Tapi terserah, lah. Itu kan urusan Kakak. Aku juga tidak terlalu ingin tahu."
"Kami datang hanya mau bertanya, apa kira-kira bisa meminjam lapangan golf milik apartemen? Aku mau mengundang teman-temanku main golf."
"Kamu punya teman?"
Rafa tercengang mendengar adiknya mengatakan tentang teman. Biasanya, dia tidak punya teman. Kalaupun ada, tidak akan bertahan lama. Dia tidak terlalu suka dengan orang lain.
"Sekarang dia sudah bisa berteman, Kak. Aman." Irgi turut menjawab.
"Ya ya ya. Aku turut senang."
"Kapan kamu butuh?"
"Kalau bisa akhir pekan ini."
"Oke, nanti aku atur supaya tidak ada yang melakukan reservasi di akhir pekan."
Di saat yang bersamaan, di area lobi perusahaan Bayu datang untuk menemui Rafael Wijaya di kantornya. Seorang staff menemani Bayu menuju ruangan Pak Rafa. Bayu masih tidak terima dengan kejadian semalam.
"Ini ruangan Pak Rafael."
"Terima kasih."
Rafa juga kaget dengan kedatangan Bayu, lelaki yang semalam ia lihat bersama Prita, lelaki yang katanya adalah pacarnya itu. Kenapa dia ada di kantornya? Apa dia mau menanyakan tentang keberadaan Prita?
Bug!
Satu pukulan keras mendarat di pipi Rafa. Ia sampai bangkit dari kursinya karena ada orang gila yang tiba-tiba memukulnya. Irgi dan Raeka di sana tak kalah terkejut. Ada masalah apa antara Bayu dan Rafa?
""Hey! Apa-apaan ini!?" bentak Rafa tidak terima.
Bayu mencengkeram erat kerah baju Rafa lalu mendorongnya mundur. Rafa berusaha mengelak, namun posisinya menyulitkan untuk membela diri.
Brak!
Rafa terjungkal ke lantai. Bayu menindih perutnya dan memberikan pukulan bertubi-tubi.
Irgi yang merasa posisi Rafa sudah gawat, ia berlari berusaha memisahkan keduanya. Bayu bersikeras tetap melanjutkan pukulannya. Akhirnya Irgi menggunakan tenaganya untuk menarik kuat Bayu agar menjauh dari kakak iparnya.
Ketika Bayu hendak mendekati Rafa kembali, Irgi menghalanginya.
"Jangan ikut campur!" tegas Bayu.
__ADS_1
"Tingkah kekanakan macam apa lagi yang dibuat oleh om-om sepertimu? Mengacau di kantor orang?"
Rafa di belakang bangkit berdiri, ia menyeka darah pada sudut bibirnya.
"Aku tidak ada urusan denganmu, aku tidak perlu menjelaskan apapun."
"Menyingkir!"
Bayu mendorong Irgi ke samping. Ia kembali melayangkan pukulan pada Rafa. Kali ini, Rafa tidak tinggal dia. Ia menangkis setiap serangan yang Bayu berikan. Bahkan, ia juga menjadi berhasrat untuk menghajar Bayu. Keduanya saling pukul dengan kekuatan yang berimbang.
"Hentikan! Ini kantor!" Irgi kembali menjadi penengah.
"Kalau mau bar-bar cari tempat lain! Usia doang sudah tua tapi kelakuan masih anak-anak!"
"Aku juga tidak mau cari ribut, orang ini saja yang tidak tahu diri!" Rafa menjawab dengan nyolot. "Datang-datang langsung main pukul." keluhnya.
"Hah! Pura-pura bodoh! Aku yakin kamu pasti tahu kenapa aku datang ke sini."
"Apa? Mau membahas yang semalam." Rafa berbicara dengan nada menantang.
"Sudah jelas-jelas kamu yang salah, wanita mana yang tidak akan marah jika melihat suaminya diapit wanita lain?"
"Kenapa jadi menyalahkanku kalau pacarmu kabur? Itu salahmu sendiri!"
"Pacar katamu!?" Bayu melotot.
Bayu kembali ingin maju. Irgi menahannya. Posisi Irgi sudah seperti wasit berada di tengah mereka.
"Dia yang bilang sendiri kalau kamu adalah pacarnya dan dia sangat membencimu."
"Wanita yang bersamamu semalam adalah istriku, bang*sat!"
Bayu mengatakannya dengan nada setengah berteriak. Ucapannya membuat Rafa mematung. Sementara, Irgi dan Raeka yang ada di sana masih belum paham apa yang sedang dibicarakan. Apa mungkin mereka sedang membahas tentang Prita?
Bayu mengambil ponsel dari dalam sakunya. Ia buka-buka sesuatu di sana lalu memperlihatkan layar ponselnya kepada Rafa.
"Ini kan wanita yang semalam bersamamu?" Bayu memperlihatkan foto Prita.
Rafa tercengang, ternyata wanita yang semalam bersamanya sudah bersuami.
"Kalau kamu masih tidak percaya, tanyakan pada kedua orang ini."
"Mereka sudah sangat mengenal istriku."
Rafa masih tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
__ADS_1
"Aku datang ke sini hanya untuk memperingatkanmu, jangan sekali-kali mendekati istriku lagi. Kalau kamu masih melakukannya, aku akan datang kembali dan memastikan kamu mati di tanganku." ancamnya.
Setelah mengutarakan ancamannya, Bayu pergi. Ia baru merasa lega setelah menghajar lelaki sialan itu. Kalau ingat lagi yang semalam, ia ingin berbalik lagi dan kembali menghajarnya.