
"Apa ini cukup?"
"Ya, aku rasa cukup segini dulu. Nanti kalau ada yang kurang kita bisa mengambilkannya lagi."
Raeka dan Irgi saat ini berada di apartemen Ayash. Mereka sedang membereskan pakaian ganti yang akan mereka bawa ke rumah sakit. Irgi sengaja membawa Raeka bersamanya karena dia pasti lebih tahu kebutuhan pakaian wanita dan anak-anak. Ayash dan Prita sudah sibuk mengurusi ketiga anaknya di rumah sakit, jadi meminta bantuan Irgi untuk membawakan pakaian ganti.
"Kenapa mereka tidak tinggal di mansion? Aku baru tahu mereka sudah pindah ke apartemen." tanya Raeka.
"Aku juga tidak tahu. Mungkin supaya lebih dekat dengan kantor dan sekolahan anak-anak. Sudahlah, lebih baik kita berangkat sekarang."
Ada dua koper pakaian yang hendak mereka bawa ke rumah sakit. Irgi membawa koper yang berukuran besar, sedangkan Raeka membawa koper yang berukuran lebih kecil. Keduanya membawa koper itu menuju private lift dan langsung menekan tombol lantai satu atau lobi utama apartemen.
"Apa kata mereka tentang kondisi Daniel?"
"Mereka bilang Daniel belum sadar."
"Kenapa lama sekali belum sadar juga. Ini sudah dua hari, kan. Apa dia koma?"
"Aku juga belum tahu karena ini hari pertama aku akan menjenguknya."
"Anak itu terlalu lucu untuk terus tertidur. Wajahnya itu loh, ganteng banget."
Ting
Pintu lift terbuka. Mereka melanjutkan perjalanan melewati lobi. Tiba-tiba Irgi menghentikan langkah.
"Kenapa?" tanya Raeka penasaran.
"Itu Shuwan, kan?"
Raeka memandang ke arah yang dituju Irgi. Benar, itu Shuwan. Dia sedang duduk di lobi apartemen bersama dengan Moreno. Posisi mereka sangat mesra layaknya orang yang sedang berpacaran.
"Bukannya lelaki di sampingnya itu pelatihmu? Siapa namanya? Aku lupa."
"Kak Moreno."
"Ya, Moreno. Di tempat publik mereka bisa dekat begitu, ya. Apa mereka juga pacaran?"
"Entahlah. Aku tidak tertarik untuk mencari tahu hubungan orang."
"Hah! Kalau dipikir kasihan juga Bayu. Bisnisnya hancur, pacarnya juga punya lelaki idaman lain."
"Bayu bangkrut?"
__ADS_1
"Kayaknya sih akan bangkrut. Aku juga sudah memutuskan kerjasama dengannya. Skylight Bar tidak jadi dibangun di Greenland Paradise."
"Hah, tapi kenapa?" Raeka agak kecewa karena klab itu adalah salah satu yang dari favoritnya. Ia akan senang jika klab itu ada di hotelnya.
"Ini masalah bisnis, Ra. Aku tidak bisa menjelaskannya secara detil. Yang jelas, beberapa klub milik Bayu sedang bermasalah. Dan Skylight Bar juga ikut kena imbasnya."
"Apa salah satu dari mereka tinggal di apartemen ini?"
Irgi menaikkan kedua bahunya, "Aku juga baru melihat mereka di sini."
Keduanya lantas bergegas keluar dari area lobi menuju parkiran.
Sementara, Shuwan dan Moreno masih bercanda ria di salah satu sudut ruangan lobi apartemen. Shu bergelayut manja pada Moreno tanpa sungkan lagi. Alasannya, Moreno akhirnya telah resmi bercerai dari istrinya. Jadi, tidak masalah bagi Shuwan jika menunjukkan kemesraan bersama duda keren satu itu.
Setelah resmi bercerai, Moreno pindah ke apartemen yang tanpa mereka tahu satu komplek dengan apartemen Irgi.
"Mau masuk ke apartemenku sekarang?"
"Boleh."
"Tapi aku belum selesai membereskan barang. Di dalam masih sangat berantakan."
"Aku bisa membantu membereskan."
Perbincangan mereka terganggu oleh kehadiran Sekertaris Sugeng, orang kepercayaan ayah Shuwan. Raut wajah Shuwan langsung berubah. Pasti ayahnya menginginkan sesuatu darinya. Mungkin juga dia disuruh kembali menjauhi Moreno, karena ayahnya tidak menyukainya.
"Ada apa, Pak Sugeng?"
"Saya diminta memanggil Nona dan Tuan ini untuk menemui Tuan Zetian di restoran depan."
"Untuk apa, Pak?"
"Saya tidak tahu, Nona. Saya hanya menjalankan perintah."
"Kalau begitu, ayo temui ayahmu. Aku juga ingin menyampaikan sesuatu pada ayahmu."
Shuwan menggeleng. Ia tak ingin Moreno menemui ayahnya, khususnya untuk sekarang.
"Kamu kembali saja dulu ke apartemen. Biar aku yang menyelesaikan urusanku dengan ayahku. Nanti aku akan menemuimu lagi."
"Tapi.... "
"Ayo, Pak Sugeng."
__ADS_1
Shuwan tetap melarang Moreno ikut dengannya. Ia hanya pergi dengan Pak Sugeng untuk menemui ayahnya.
"Kamu sendirian? Mana dia?" tanya Tuan Zetian yang sedang asyik menyantap steak di hadapannya.
Shuwan duduk di hadapan ayahnya.
"Pesankan makanan untuk Shu, samakan dengan makananku." perintahnya.
"Baik, Tuan." Pak Sugeng pergi menemui pelayan untuk memenuhi permintaan Zetian.
"Kenapa kamu tidak mengajaknya?"
"Untuk apa aku mengajaknya? Apa urusan Papa ingin bertemu dengannya?"
Zetian meletakkan pisau dan garpunya. Tatapannya mengarah tajam pada Shuwan yang ada di hadapannya.
"Papa sudah bilang, Shu. Papa tidak suka kamu berhubungan dengannya. Kalau kamu tidak bisa papa beri nasihat, papa akan menasihati Moreno agar menjauhimu."
"Papa!" seru Shuwan.
auntunglah saat ini mereka berada di ruangan private. Jika tidak, suara Shuwan pasti sudah menarik perhatian orang.
"Papa bilang kalau aku menurut, Papa tidak akan ikut campur kan dengan kehidupanku? Kalau begitu jangan ganggu hubunganku dengan Moreno."
"Apa kamu sudah gila mau menjalin hubungan dengannya? Papa membesarkanmu dengan susah payah dan secantik ini hanya untuk mendapatkan orang seperti Moreno? Fokus saja pada hubunganmu dengan Bayu. Aku tidak mau hubungan kalian berakhir hanya karena permainanmu dengan duda beranak satu itu."
"Aku sudah tidak bisa lagi melanjutkannya, Pa."
"Belum selesai, Shu. Kamu harus menunggu sampai semuanya berakhir."
"Aku sudah melakukan semua yang Papa minta. Dari mendekatinya sampai kami berpacaran, meminta uang dalam jumlah besar untuk perusahaan, sampai mengunjungi klubnya dan membuat masalah. Bukankah Bayu sudah cukup hancur dan rencana Papa sudah tercapai?"
"Kamu tahu kan, apa yang papa inginkan?"
Shuwan memejamkan mata sambil menghela nafas. Ia jadi teringat saat itu, ia pura-pura mabuk agar bisa menghabiskan waktu di apartemen milik Bayu. Shuwan menggoda Bayu, mengajaknya bercinta. Tentu saja Bayu tergoda. Mereka saling bergumul mesra hingga saat ingin melakukan hubungan puncak, ternyata Bayu impotens*. Mereka gagal melakukannya.
Saat itu, Shuwan sudah mempersiapkan sebilah pisau yang hendak ia gunakan untuk menikam Bayu saat mereka berhubungan sek*. Tapi karena mereka tidak jadi melakukan hal itu, Shuwan mengurungkan niatnya. Ya, Shuwan ingin membunuh Bayu atas permintaan ayahnya. Dia tidak tahu alasan ayahnya ingin membunuh Bayu, tapi jika ia menolak, ayahnya mengancam akan menyingkirkan Moreno dari hidupnya.
Shuwan tak punya pilihan selain memenuhi keinginan ayahnya. Dia sudah cinta mati pada Moreno hingga apapun mau ia lakukan. Termasuk untuk menyingkirkan Bayu.
Saat itu, ketika Bayu masuk kamar mandi, ia bergegas pergi dari apartemen Bayu karena takut Bayu akan menyadari niatnya. Seharusnya setelah hari itu hubungan mereka sudah berakhir karena Shuwan gagal membunuh Bayu. Tapi, ayahnya mendesak untuk terus melanjutkan hubungan itu. Ayahnya bilang tak perlu Shuwan sendiri yang membunuh Bayu. Ia hanya perlu mematuhi kata-kata ayahnya.
Seperti saat perusahaannya membutuhkan cukup banyak uang untuk menjaga kestabilan, Shuwan diminta merayu Bayu agar mau memberikannya uang. Dan ternyata semudah itu Bayu memberikannya. Bukan hanya sekali itu saja, beberapa kali Shuwan pernah meminta uang ratusan miliyar kepada Bayu. Bayu seperti orang yang sudah cinta buta padanya, mau memberikan uang sebanyak itu padanya.
__ADS_1
Permintaan ayahnya bukan hanya sampai di situ. Sebenarnya, sudah sejak lama Shuwan diperintahkan ayahnya untuk menyelidiki klab-klab milik Bayu. Dia yang melaporkan detail situasi dan karakter setiap klab kepada ayahnya. Shuwan menduga yang menyebabkan kekacauan pada klab Bayu juga ulah ayahnya.